
Saat mendengar kata 'usir' Ling tertawa kecil.
Ia menatap Paman Cai Hao tanpa mengatakan apa pun. Namun, aura yang dikeluarkannya sangat mengintimidasi. Tidak ada juga ketakutan di matanya.
"Jika aku berkata aku akan menembakmu, apa kau percaya?" tanya Mei Mengyi. Ia mengeluarkan pistol kecil dari sakunya. Ia menatap penjaga-penjaga berseragam hitam di sana. Wajahnya santai, tidak mengancam apa pun. Namun, pistol di tangannya seolah berkata dia yang mengancam.
Semua orang mundur ketakutan. Terutama Paman Cai Hao, ia berkata dengan gemetar, "Siapa kau? Mengapa kau memiliki senjata? Mengapa kau bisa masuk dengan membawa senjata? Keamanan! Apakah kalian semua bodoh?"
"Cai Hao! Apa kau sudah gila? Apa karena aku mengusirmu dari Bronze Company membuatmu gila? Mengapa kau membawa dua pembunuh ke jamuan ini? Kau sengaja ingin mengacaukan acaraku, kan?" tanya Paman Cai Hao. Ia yang tadinya takut menjadi marah saat melihat Cai Hao biasa saja.
Kemudian, ia mencoba menghibur Tuan Jansen. Ia berkata, "Tuan, jangan khawatir. Aku akan menghubungi pusat keamanan di Kota Bayangan. Anda akan aman dan baik-baik saja."
Paman Cai Hao pun menelepon pusat keamanan di Kota Bayangan. Telepon itu langsung di angkat. Ia segera menjelaskan tentang hal yang sedang terjadi.
Berita tentang kerjasamanya dengan orang luar negeri sudah menyebar hampir di seluruh Kota Bayangan. Jadi, ia memiliki relasi dengan beberapa orang di pusat keamanan.
"Cai Hao, awalnya aku ingin membiarkanmu keluar dengan baik-baik. Aku tidak ingin kau mati. Namun, kau malah ingin kami mati dengan membawa dua pembunuh. Apa kau pikir kau masih Tuan Muda seperti dulu? Cai Hao, kau masih sangat kecil, tidak tahu mana yang benar dan mana yang salah," ucap Paman Cai Hao sambil menggelengkan kepala.
Di Kota Bayangan, tidak ada yang boleh memegang senjata selain pasukan militer dan keamanan. Bahkan jika itu adalah orang besar. Namun sekarang malah orang biasa yang memegang senjata.
Dia pasti tidak akan selamat kali ini.
"Apa nama keluargamu?" tanya Paman Cai Hao sambil menatap kasihan ke arah Ling.
"Chen," jawab Ling singkat.
"Baiklah, Tuan Chen. Kau sebentar lagi akan menemui malaikat mautmu," ucap Paman Cai Hao dengan percaya diri.
Saat ini mereka dikelilingi oleh penjaga yang ada di sana. Namun, mereka sama sekali tak merasa takut, terutama Ling. Ia malah bisa menerima panggilan dari Wei Lang.
"Kau ada di distrik B-1?" tanya Wei Lang.
__ADS_1
"Benar sekali," jawab Ling sambil tertawa saat melihat penjaga-penjaga yang mengelilinginya.
"Panglima Tinggi sudah tahu keberadaanmu. Aku tidak bisa lagi melindungimu karena dia sudah menuju ke sana," ucap Wei Lang.
"Dia ingin Bom Besar 2? Tidak apa. Biarkan dia datang. Aku perlu meningkatkan kekuatan militer di Kota Bayangan. Biarkan aku melatihnya," jawab Ling.
Tak lama, beberapa jet tempur mendekati restoran.
"Ada apa ini?" tanya panglima saat melihat restoran yang penuh itu.
"Lapor Panglima! Ketua 01 sedang menangkap seorang Tuan Muda dari Keluarga Chen," ucap salah satu bawahan panglima.
Wajah panglima menjadi serius. Ia bertanya, "Keluarga Chen?"
Kemudian, ia melihat video dari kamera CCTV yang disiapkan di restoran. Ia melihat Ling dan Mei Mengyi sedang dikelilingi penjaga bersenjata.
"Apa yang dilakukan Ketua 01? Dia berani menodongkan senjata pada Tuan Muda Chen? Apa dia tidak tahu siapa yang ada di depannya?" tanya panglima yang sangat terkejut saat melihat video itu.
Sedangkan di dalam restoran, Paman Cai Hao sedang berbincang dengan Ketua 01.
"Ketua 01, maaf merepotkanmu," ucap Paman Cai Hao.
Ketua 01 melirik Jansen sebentar. Kemudian, ia melambaikan tangan dan menyuruh orang untuk menangkap Ling dan Mei Mengyi. Kemudian, ia berkata, "Tidak masalah. Ini memang tugasku untuk ...."
Belum selesai kalimatnya, pintu ditendang. Masuk segerombolan orang berseragam dengan senjata di tangan mereka. Kemudian, mereka membuat barisan rapi di kedua sisi dan memberi jalan di tengah-tengah.
Lalu, masuk panglima bersama dengan pasukan khususnya.
Semua orang yang ada di sini adalah pebisnis. Mereka tidak pernah bertemu langsung dengan panglima. Mereka hanya pernah melihat lewat televisi.
Mereka yang bingung langsung melihat ke arah Jansen, Paman Cai Hao, dan Ketua 01. Tidak mungkin panglima datang ke sini tanpa tujuan yang pasti.
__ADS_1
Paman Cai Hao terlihat bergetar. Begitu juga dengan Ketua 01. Ia tak menyangka akan bertemu dengan panglima di sini. Bisa bertemu langsung adalah suatu kehormatan. Dengan mata berbinar ia bergumam, "Panglima ...."
Namun, ia belum sempat menyelesaikan gumamannya. Panglima menendangnya hingga tersungkur ke tanah. Panglima berkata, "Kau masih memiliki muka untuk memanggilku Panglima?!"
Setelah itu, panglima lanjut berjalan. Ia menghampiri Ling.
"Tuan Muda Chen," ucap panglima dengan hormat dan sopan.
Ling belum pernah bertemu dengan panglima sebelumnya. Sebenarnya tidak baik bertemu tiba-tiba begini. Untungnya, Wei Lang sudah memberitahunya sebelumnya.
"Panglima, aku tahu mengapa Anda mencariku. Kita bisa membicarakan hal ini nanti. Sekarang aku masih mengurus perusahaan keluargaku," ucap Ling sambil tersenyum.
Awalnya panglima tidak tahu mengapa Ling bisa ada di sini. Namun setelah mendengar pernyataannya, ia baru tahu jika Ling adalah bagian dari Chen Company. Perusahaan yang diledakkan di wilayahnya. Sekarang ia merasa agak canggung.
"Tuan Muda Chen, selesaikan masalahmu. Aku akan menunggu di sini. Aku ingin melihat siapa yang berani menyentuh bahkan ujung rambutmu di wilayahku," ucap panglima.
Ruangan ini menjadi sunyi. Mereka merasa aneh saat mendengar panglima memanggilnya Tuan Muda Chen.
Ketua 01 merasa sangat terkejut setelah ia ditendang oleh panglima. Saat ia bangun, ia melihat atasannya yang wajahnya terlihat sangat marah.
Atasannya berbicara, "Beraninya kau menangkap Tuan Muda Chen! Apa kau tahu siapa dia? Dia adalah orang yang bahkan panglima tertinggi harus bicara hormat padanya. Namun kau malah menangkapnya? Nyalimu sungguh besar!"
Ketua 01 masih bingung. Ia bergumam, "Paman ...."
Ia tidak lagi memanggilnya tuan, tetapi paman. Namun, pamannya mengabaikannya dan kembali berkata, "Kau tahu Keluarga Wei, Keluarga Zhuo? Dia bisa mengalahkan keluarga besar sendirian. Sebaiknya kau berhati-hati sekarang.
Paman Cai Hao juga mulai tersadar. Ia bertanya pada Ketua 01, "Ketua, siapa dia sebenarnya?"
Kapten 01 hanya menatapnya dingin. Kemudian, ia menjawab, "Dia adalah orang yang bisa membunuhmu hanya dengan satu kata, bahkan ia tak perlu mengangkat jarinya."
Paman Cai Hao bergetar ketakutan. Ia mundur selangkah dan bersembunyi di belakang Jansen. Ia melihat Cai Hao yang sangat tenang, seolah tahu ini akan terjadi.
__ADS_1
"Tuan Jansen, tolong selamatkan aku," ucap Paman Cai Hao ketakutan.