Kelahiran Kembali Raja Legendaris

Kelahiran Kembali Raja Legendaris
Hadiah Terimakasih


__ADS_3

Setelah menemui Chen Wu, Ling keluar dari wilayah Chen Company. Matahari sangat terik, tapi ia tetap berjalan santai seolah ada awan pelindung di atasnya.


Saat dia keluar gerbang, mobil hitam berhenti di depannya.


"Tuan Muda Chen, berhentilah bolos sekolah. Jika kau terus seperti ini, Paman Qian akan memarahiku lagi," ucap sopir dengan tatapan memohon.


Ling masuk ke mobil dan meletakkan tasnya. Ia menatap sopir itu dari cermin dan berkata dengan tegas, "Jalankan mobilnya ke sekolah."


Sopir itu merinding mendengar perintah Ling. Ia tidak berkata apa-apa lagi dan segera menginjak gas. Mereka pergi ke Sekolah Menengah Guxian.


Setelah perjalanan beberapa saat, mereka sampai di sekolah. Ling membuka pintu mobil dan turun dari sana. Ia memakai tas di bahu dan memasukkan satu tangan ke saku.


"Ling akhirnya kau datang. Ayo cepat. Seminar sudah akan dimulai," ucap Liam yang sudah menunggunya. Di sebelahnya Yuan mengangguk setuju.


Hari ini sekolah mereka mengadakan seminar yang akan dihadiri orang dari Kota Bayangan. Untuk menghadiri seminar itu perlu biaya yang cukup mahal bagi orang biasa. Jadi kebanyakan yang hadir adalah anak orang kaya. Namun Liam sudah membayar tiket untuk Yuan, jadi ia bisa hadir bersama mereka.


Ling mengangguk sebagai jawaban. Ia memutar ponsel dan mereka mulai berjalan ke ruangan khusus untuk seminar.


"Ling kau sangat keren! Gerakan tinjumu beberapa hari lalu sangat luar biasa. Kau bahkan bisa mengalahkan buronan itu," ucap Liam dengan mata berbinar.


Brak!


Ling melempar tasnya ke meja. Mereka sudah sampai di kelas dan duduk bertiga. Ia sedikit menyisir rambutnya. Kemudian menatap Liam dan berkata, "Cukup. Aku tahu kau ingin aku mengajarimu, kan? Aku sudah mengerti."


Liam sedikit membeku. Namun, ada kilatan harapan muncul dari matanya. Ia tak bisa menyembunyikan tatapan gembiranya.


*


Wuzhou dan Lu Yan yang duduk di sudut memperhatikan Ling dan Liam. Mereka masih saja tidak mengerti mengapa Liam yang terkenal sombong bisa patuh dengan Ling. Mereka berpikir Liam hanya memerlukan sesuatu dari Ling saat di arena pelatihan, tapi ternyata Liam masih saja patuh dengan Ling sampai sekarang.


"Lu Yan, apakah kita harus mengingatkan Tuan Muda Zhuo?" tanya Wuzhou menatap kasihan ke arah Liam.


"Tidak perlu. Biarkan dia menanggung akibatnya sendiri," jawab Lu Yan. Sejak dia memutuskan pertunangannya dengan Ling, ia semakin tidak peduli dengan hal-hal yang berhubungan dengan pria itu. Adapun tentang Liam, ia sudah pernah mengingatkannya sekali. Jika Keluarga Zhuo mendapat bencana, ia tidak akan disalahkan untuk itu.


*


Seorang pemuda tampan memasuki ruangan. Semua orang menatapnya penuh kekaguman dan gairah. Dia berasal dari Kota Bayangan.

__ADS_1


"Sebelumnya aku akan memperkenalkan diri. Nama keluargaku adalah Yuan. Kalian bisa panggil aku Tuan Yuan. Tema seminar hari ini adalah 'Cerdas Dalam Pasar Saham'," ucap Yuan Ming memperkenalkan diri. Ia menyalakan proyektornya.


"Aku akan mulai menjelaskan," ucap Yuan Ming. Ia sudah menyiapkan beberapa materi yang akan dibawakan. Para siswa yang hadir mendengarkan dengan baik. Beberapa dari mereka juga mencatat.


Setelah satu jam menjelaskan, ia kembali bicara, "Aku sudah menyiapkan pertanyaan. Pertanyaan ini bahkan siswa dari Sekolah Internasional Kota Bayangan belum tentu bisa menjawabnya. Pertanyaan ini tetap berkaitan dengan materi yang tadi sudah aku jelaskan. Namun fokus pertanyaanku adalah tentang kehancuran pasar saham lima tahun yang lalu."


"Ini adalah pelajaran Sejarah Wajib di Sekolah Internasional Kota Bayangan. Saat itu, negara A tidak mematuhi peraturan saham yang ada di Kota Bayangan. Namun ada seseorang yang menghancurkan pasar saham mereka sehingga orang di negara A mengakui kesalahan mereka. Mereka bahkan memintanya untuk memberi belas kasihan," ucap Yuan Ming kembali menjelaskan. Setelah itu ia memberi pertanyaan.


Saat itu muncul dua kata di layar proyektornya.


Ling X.


Prang!


Liam menjatuhkan penanya saat melihat nama itu. Semua siswa yang semula semangat, menatapnya heran. Ling membantunya mengambil pena.


Yuan Ming melanjutkan, "Baiklah siapa yang akan menjawab pertanyaan?"


"Tuan, biarkan Wuzhou saja yang menjawab," usul Lu Yan.


Yuan Ming mengangguk. Ia melihat Wuzhou berdiri dan menjawab pertanyaan dengan semangat. Namun sayangnya, jawabannya agak berantakan dan kurang bijak.


Dia mengalihkan pandangannya dari Wuzhou. Ia melihat seorang pria duduk di kursi paling ujung. Teman-temannya yang lain berekspresi gembira, sedangkan dia hanya duduk santai dan memutar pena di tangannya. Ia terlihat yang paling tenang diantara yang lain. Kemudian ia melengkungkan bibir, sepertinya mengejek siswa lain.


Yuan Ming menertawakan ini. Saat itu ponselnya bergetar. Setelah mengangkatnya, ia memberi beberapa poin terakhir dan keluar kelas.


*


Di depan pintu, seorang wanita cantik sudah menunggu. Ekspresinya terlihat sedikit dingin.


"Nona Zhuo," sapa Yuan Ming.


"Ayo berbicara dan cari tempat lain," ajak Yuan Ming.


"Ya," jawab Zhuo Xia singkat. Ia mengedarkan pandangannya dan menunjukkan ekspresi tenang.


Yuan Ming mengikuti arah pandang Zhuo Xia. Ia melihatnya memperhatikan Ling. Dia menatapnya heran dan berkata, "Aneh, bukan? Seseorang yang benar-benar jenius menyembunyikan bakatnya dari siswa lain. Sedangkan orang yang biasa-biasa saja dengan tidak sabar ingin menonjolkan diri."

__ADS_1


Mereka berdua berdiri tak jauh dari arena pelatihan. Zhuo Xia menggunakan blus yang berwarna senada dengan roknya. Jari-jarinya yang ramping memainkan ponsel. Ia menundukkan kepala.


"Cukup menarik," ucapnya santai.


Zhuo Xia tak melanjutkan pembicaraan. Ia hanya bersandar di mobil dan menatap kerumunan yang ada di depannya. Sekolompok anak kaya berdiri tak jauh dari mereka. Mereka terlihat saling dorong.


"Aku adalah penggemar Dewi Sin. Ia pernah mengatakan bahwa di Kota Bayangan memiliki tingkatan derajat. Di sana sangat kejam dan mereka harus bergantung pada diri sendiri. Lihat mobil hitam di belakang wanita itu. Itu adalah mobil tanpa plat dengan burung phoenix terlukis di atasnya. Meskipun aku tidak mengenalnya, tapi aku tahu itu adalah simbol khusus dari Kota Bayangan," ucap seseorang dengan ekspresi gembiranya.


Setelah orang itu selesai bicara, Wuzhou dan Lu Yan saling tatap. Mereka pernah bertemu dengan Zhuo Xia di arena pelatihan. Memang semua orang dari Kota Bayangan sangat hebat, tapi dia tidak menyangka Zhuo Xia lebih hebat dari yang mereka pikirkan.


Karena tidak ingin menyia-nyiakan kesempatan ini, mereka berjalan menghampiri Zhuo Xia. Namun saat sudah tiga meter di depan Zhuo Xia, mereka dihentikan oleh dua pengawal. Pengawal itu memberi tatapan tak bersahabat.


Melihat hal itu, Lu Yan dan Wuzhou memilih untuk kembali.


Zhuo Xia menundukkan kepala dan tak memperhatikan dua orang yang ingin mendekatinya. Saat ia mengangkat kepala, ia menatap kerumunan dan menyipitkan mata. Ia melihat Ling di sana.


Dengan santai, ia melempar suatu benda yang ada di tangannya ke arah Ling.


*


Seorang pria perlahan melewati kerumunan. Ia memakai tasnya di sebelah bahu dan satu tangannya dimasukkan ke saku. Ia dengan santai berjalan melewati semua orang.


Namun tiba-tiba dia berhenti.


Liam dan Yuan yang melihat ini sedikit bingung. Mereka pun ikut berhenti.


Ling mengarahkan tangannya ke atas dan menangkap benda yang dilemparkan padanya. Ia mengernyit heran.


Zhuo Xia melihat Ling menangkap benda itu. Wajah pria itu berkilau di bawah sinar matahari. Hembusan angin sedikit menerbangkan rambutnya sehingga wajah tampannya semakin jelas. Zhuo Xia sedikit membeku melihat pemandangan itu.


Setelah itu, dia berkata, "Hadiah terimakasih untukmu."


Hadiah terimakasih? batin Ling heran.


Kemudian ia teringat sesuatu. Ia menyisir rambutnya yang berantakan karena angin. Ia menatap Zhuo Xia.


"Hanya masalah kecil," ucapnya tersenyum lembut.

__ADS_1


__ADS_2