Kelahiran Kembali Raja Legendaris

Kelahiran Kembali Raja Legendaris
Ikatan Janji Darah


__ADS_3

Penampilan Ling sangat memukau. Tak hanya orang yang ada di ruangan yang terpesona dengannya. Bahkan tiga wanita yang hanya menonton lewat video merasa sangat takjub.


"Raja benar-benar gila!" seru Mei Mengyi dengan mata membesar. Sedangkan Lingxi tetap diam di tempatnya. Baru kali ini ia melihat penampilan Ling secara langsung. Biasanya dia hanya mendengar ceritanya.


"Wah! Dia tidak disebut Raja tanpa alasan," ucap Lingxi setelah lama terdiam.


A Shui berada di tempat persembunyiannya. Ia hanya tersenyum tipis saat melihat Ling.


"Raja tak pernah berubah. Ia selalu saja dapat menimbulkan keterkejutan pada siapapun," gumam A Shui. Ia mengetik serangkaian angka di laptopnya dan lanjut menonton video.


Ling masih duduk dengan santai. Ia tak terkejut dengan hal ini. Kecuali nilai dia rendah, mungkin ia akan terkejut. Soal seperti ini dia bisa dengan mudah membuatnya. Bahkan untuk menulis jawaban sempurna ia tak perlu diskusi dengan dosen-dosen lain.


Dosen di depan hanya bisa menelan ludah. Ia sudah mendengar tentang Ling dari Rektor Xiang. Ia pikir Rektor Xiang bertingkah seperti itu hanya karena ia tuan muda dari Keluarga Bo. Namun nyatanya ia tak berlebihan. Memang Ling yang sangat sempurna.


"Aku peringatkan pada seluruh anggota Keluarga Bo. Jangan sebarkan hal ini kemanapun. Kalian harus membuat ikatan janji darah," ucap Bo Minghao yang langsung menyayat tangannya. Ia meneteskan darahnya disebuah arloji kuno. Saat darah itu menyentuh permukaan arloji, semua orang merasa dingin di sekujur tubuh. Termasuk Ling dan Chen Lin. Meski mereka belum melakukan upacara, tapi mereka sudah tercatat.


Alat kuno itu mencatat semua darah anggota keluarga. Jadi saat Bo Minghao meneteskan darahnya, mereka semua langsung terhubung.


Ikatan janji darah ini mengikat mereka semua dalam satu perjanjian. Mereka setuju ataupun tidak, mereka harus menepati janji. Jika tidak, darah mereka akan terserap habis ke dalam arloji. Kemudian mereka mati kehabisan darah.


Saat keadaan masih hening, tiba-tiba sekelompok wartawan datang. Mereka berbondong-bondong memasuki rumah Keluarga Bo. Dengan langkah pasti, mereka berjalan menuju ruangan tempat Ling tes kecerdasan.


"Apa benar dia adalah anak haram dari Tuan Besar Bo?" tanya salah satu wartawan sambil memegang mic.

__ADS_1


"Apakah benar dia hanya orang biasa?" tanya wartawan yang lain lagi.


Para wartawan itu sangat rusuh. Mereka saling dorong tanpa mempedulikan ada orang lain di sana.


Belum beres tentang kerusuhan wartawan, para kepala keluarga besar datang ke Kediaman Bo. Untuk hal ini sudah diprediksikan oleh Bo Minghao. Karena mereka pasti tertarik dan ingin tahu dengan cahaya yang terus-menerus muncul dari sana.


"Memang benar dia adalah anak haram dari Tuan Besar Bo. Kalian tidak salah orang," jawab Bo Hongyun yang merendahkan Ling ke seluruh orang. Saat ini, wawancara itu disiarkan secara langsung.


"Kakak Pertama pasti berbuat curang. Ia adalah orang biasa dari kampung. Ia tak pernah mendapat pelajaran tambahan ataupun yang lain. Bisa menjawab lima soal dengan sempurna, bukankah berarti dia berbuat curang?" ucap Bo Hongyun dengan percaya diri di depan kamera.


Kamera langsung menyorot wajah angkuh Bo Hongyun. Saat ini, ia tersenyum dengan sangat bangga. Dagunya terangkat dan dadanya dibusungkan. Meski tadinya ia merasa tertekan dengan pencapaian Ling, kini ia dapat bangkit untuk merendahkan Ling. Lagipula, kali ini tak akan ada yang membela Ling. Tak akan ada anggota Keluarga Bo yang berani mengingkari ikatan janji darah.


"Apakah garis keturunannya bercampur?" tanya wartawan lagi.


Bo Minghao merasa sangat geram. Ia sangat ingin menghempaskan semua kerumunan ini. Namun ia harus sedikit menjaga wajah karena saat ini kepala keluarga besar sedang berkumpul.


"Penjaga! Bawa para wartawan ini keluar. Siapkan jamuan makan untuk para kepala keluarga. Segera lakukan," ucap Bo Minghao tegas dan dingin. Aura kepemimpinannya menguar. Semua wartawan langsung terdiam. Mereka tak mungkin lupa jika Bo Minghao adalah orang paling berpengaruh.


"Tunggu! Tuan Besar, apa Anda takut jika anak Anda terekspos? Bukankah Anda ingin mempublikasikannya?" Bo Hongyun segera menghentikan para penjaga. Ia tak ingin menyia-nyiakan kesempatan ini.


"Bukankah masih ada tes terakhir? Bagaimana kalau tes itu disiarkan secara langsung?" tantang Bo Hongyun. Ia sangat yakin dengan kemampuannya.


"Apa kau ingin membunuhnya? Kau sudah pernah berkultivasi. Dia juga tak memiliki ilmu beladiri. Pertandingan ini sangat tidak adil," ucap Bo Minghao segera menyangkal tantangan Bo Hongyun.

__ADS_1


"Kakak Pertama, apa kau bersedia?" tanya Bo Hongyun mengabaikan Bo Minghao. Ia menatap ke arah Ling yang masih duduk di bangku tesnya. Awalnya ia cukup terkejut karena melihat ekspresi tenang Ling. Namun kemudian ia tersenyum sinis.


Ia sengaja melakukan hal ini karena tahu Ling tak memiliki ilmu beladiri. Padahal selama ini Ling selalu menyembunyikan auranya jadi tidak ada yang tahu. Kecuali orang-orang yang memiliki kekuatan lebih tinggi.


Ling berjalan ke arah Bo Hongyun. Sebelum itu, ia mengangguk pelan pada Chen Lin yang sudah sangat mengkhawatirkannya. Saat wajahnya terlihat jelas, para juru kamera segera menyorotnya.


Video siaran langsung ini ditonton banyak orang. Kini wajah Ling sudah tersebar dimana-mana. Dari sudut manapun dilihat, Ling tetap sangat tampan.


"Aku bersedia," jawab Ling santai. Ia menyeringai dingin pada Bo Hongyun. Baginya Bo Hongyun sama sekali bukan lawannya. Bahkan ia bisa menjatuhkan Bo Hongyun dengan satu jari. Dengan menerima tantangan Bo Hongyun, berarti ia sudah memberi sedikit wajah padanya.


Bo Hongyun tersenyum puas. Ia menatap Bo Minghao yang masih membelalakkan mata ke arah Ling. Ia berkata dengan nada sombong, "Tuan Besar, Kakak Pertama sudah setuju. Anda tidak mungkin mengganggu tes ini kan?"


"Ling," ucap Bo Minghao lirih. Ia sama sekali tak mendengarkan ucapan Bo Hongyun. Ia membawa Ling dan Chen Lin ke sini untuk melindungi mereka. Namun mereka malah mendapat hal seperti ini.


"Tidak perlu khawatir. Jaga saja Ibuku," jawab Ling. Ia menggulung lengan bajunya dan menampilkan otot lengannya.


"Ayo," ucap Ling. Ia berjalan membelah kerumunan. Orang-orang di sana secara otomatis membuka jalan untuknya.


Bo Hongyun mengikutinya dengan kesal. Walau ia memang ingin jawaban ini, tapi ia tak menyangka Ling akan tetap tenang. Apa ia tak sadar posisinya saat ini sangat tersudut? Dia masih saja sombong.


Tes pertarungan berada di ruangan sebelah. Saat ini para penonton dan para wartawan juga pindah haluan. Sedangkan para kepala keluarga sudah dijamu di ruang makan. Bo Minghao meminta salah satu tetua untuk menemani mereka.


"Persyaratan pertandingan sangat mudah. Tidak boleh saling membunuh. Baiklah. Pertandingan akan segera di mulai!" ucap wasit yang sudah diundang.

__ADS_1


__ADS_2