
Sekolah Menengah Guxian.
Pelajaran hari ini sama membosankannya dengan hari biasanya. Yuan duduk di sebelah Ling dan mendengarkan guru menjelaskan. Sedangkan Ling duduk santai di kursi.
Ling menatap ke arah depan. Ia melihat Su Wen Ai yang tertidur di meja. Tidak biasanya ia tertidur, apalagi saat ada guru menjelaskan. Ia adalah murid jenius di sekolah.
Ling mengetukkan jarinya ke meja. Ia teringat tatapan aneh Su Wen Ai hari itu.
"Su Wen Ai," ucap guru di depan menghampiri Su Wen Ai. Namun Su Wen Ai tak bergerak. Sepertinya tidurnya sangat nyenyak.
"Su Wen Ai," panggil guru sekali lagi. Kini ia menggoyangkan tubuhnya.
Akhirnya Su Wen Ai menggeliat. Ia segera bangkit dan mengucek matanya. Saat melihat guru, matanya yang sedikit memerah melotot.
Ia segera bangkit.
"Maaf, Bu. Maaf, Bu," ucap Su Wen Ai meminta maaf. Ia membungkukkan badannya untuk menunjukkan penyesalan.
"Tidak apa. Apa kau bergadang untuk belajar tadi malam?" tanya guru tersenyum lembut. Su Wen Ai hanya tersenyum sebagai tanggapan.
"Baiklah. Lebih baik kau mencuci muka terlebih dahulu," ucap guru lagi.
Su Wen Ai segera membungkuk sekali lagi untuk menunjukkan rasa terimakasih. Dengan segera ia pergi ke toilet untuk mencuci muka. Ling menyipitkan mata melihat kepergian Su Wen Ai.
*
Sekolah sudah berakhir. Namun tiga orang siswa tak meninggalkan sekolah.
Ling mengajak Liam dan Yuan untuk berlatih. Mereka pergi ke gudang yang berisi peralatan olahraga. Mereka mengambil samsak dan memindahkannya ke halaman belakang. Mereka akan berlatih tinju.
Ling mengajarkan beberapa teknik lagi kepada mereka. Liam dan Yuan mendengar dengan sungguh-sungguh. Mereka sangat menantikan pelatihan ini.
Setelah itu mereka mulai berlatih samsak.
Ling duduk di bawah pohon. Ia mencatat setiap gerakan yang dilakukan Liam dan Yuan. Sesekali ia memainkan ponsel untuk bermain game.
"Ling ... aku sudah lelah," ucap Yuan ngos-ngosan. Ia duduk di sebelah Ling. Ia langsung saja mengambil botol air Ling dan meminumnya habis.
Ajaib!
Lelahnya hilang.
__ADS_1
"Apa ini?" tanya Yuan dengan mata berbinar melihat botol itu.
"Ramuan," jawab Ling santai.
"Wah ternyata begini rasanya ramuan. Sangat lezat. Lelahku sudah hilang," ucap Yuan senang.
"Apa aku boleh minum lagi?" tanya Yuan.
Ling hanya mengangguk sebagai jawaban. Yuan pun mengambil lagi satu botol yang ada di depan Ling. Sepertinya ia sengaja menyiapkannya untuk mereka.
Setelah beberapa menit, Liam juga berhenti. Ia menghampiri mereka berdua. Saat melihat Yuan, matanya terbelalak. Bagaimana tidak, Yuan menghabiskan tiga botol air yang ia tahu isinya adalah ramuan tingkat tinggi.
"K-kau menghabiskan itu semua?" tanya Liam bergetar.
"Ya. Ling sudah mengizinkan," jawab Yuan merasa tak ada yang salah.
"Apa kau tahu apa isi botol itu?" tanya Liam. Nada suaranya meninggi.
"Tentu saja. Itu adalah ramuan, kan? Aku tidak pernah meminum ramuan. Ternyata sangat enak," jawab Yuan dengan wajah polos.
Liam hanya menghela napas pasrah. Ia tak dapat menyalahkan Yuan. Lagipula ramuan itu milik Ling.
"Kau tidak mau?" ucap Ling memberikan ramuan.
"Aku tidak akan mengambil apa yang sudah kuberi," ucap Ling yang tahu pikiran Liam.
Liam cengengesan. Kini ia minum ramuan dengan tenang. Bahkan ia tak ragu untuk mengambil botol ke dua.
"Apakah kau sudah menemukan guci yang kuminta?" tanya Ling pada Liam.
"Kakek bilang guci seperti itu ada di laboratorium. Sangat susah mendapatkan akses ke sana. Namun Kakek akan mengusahakannya untukmu," jawab Liam meneguk habis botol ramuan ketiga.
"Baiklah," ucap Ling.
*
Ling pulang ke rumah di sore hari. Ia turun dari mobil Liam dan berjalan menuju gerbang. Saat pintu terbuka, ia berhenti sejenak. Kilatan tajam muncul dari matanya.
Saat ia masuk ke dalam, ia melihat paman Qian mencoba memanggilnya. Namun ia tak mempedulikan itu dan hanya menatap tajam ke arah ruang tamu.
Ling berdiri di depan ruang tamu. Ia melihat Chen Lin dan Luo Feng di sofa.
__ADS_1
"Karena kau merusak konferensi pers, Wuzhou dan Lu Yan tidak jadi mengumumkan pertunangan mereka. Kau tahu Lu Yan tak pernah menyukai Ling, tapi kau tak pernah bisa menerima kenyataan itu. Apa kau merasa begitu hebat sekarang? Aku benar-benar jijik dengan sikapmu," ucap Luo Feng dengan nada penuh hinaan.
"Luo Feng! Jaga perkataanmu," ucap Chen Lin.
Luo Feng menatap tajam ke arah Chen Lin. Selama ini ia tak berani menatap Chen Lin seperti itu, tapi saat ia tahu dari Wuzhou bahwa Tuan Han sangat hebat, ia tak menganggap tinggi Chen Lin.
"Kau pikir kau siapa? Kau pikir Keluarga Chen masih mulia seperti dulu?" ucapannya membuat suasana menjadi hening.
Ling melihat kedua orang ini seperti bukan suami istri. Chen Lin menatap dingin ke arah Luo Feng, sedangkan Luo Feng menatap meremehkan pada Chen Lin.
Ling berjalan masuk dan melemparkan tasnya ke sofa.
"Jadi Anda mau apa?" tanya Ling. Dia sudah berdiri menyilangkan tangan di depan mereka.
Luo Feng mengangkat kepalanya. Saat ia melihat Ling, amarahnya semakin memuncak. Bahkan wajahnya sudah memerah.
"Kau anak tidak berguna! Beraninya kau masih muncul di hadapanku!" ucap Luo Feng bangkit dari duduknya.
Ling mengabaikannya. Ia semakin mengangkat dagunya seolah menantang Luo Feng.
"Cukup, Luo Feng! Dia adalah putraku! Kau tidak punya hak memarahinya atau kau akan berurusan dengan Keluarga Chen," ucap Chen Lin dengan emosi.
Ia marah besar! Sepertinya baru kali ini Chen Lin terlihat seperti ini. Hal ini sampai membuat Luo Feng bingung.
Ling menyisir rambutnya. Satu tangannya sudah diletakkan di saku. Ia berkata dengan santai, "Bu, ceraikan dia."
Chen Lin dan Luo Feng menatapnya kaget. Mereka tidak menyangka Ling akan mengucapkan hal seperti ini.
"Apa maksudmu?" tanya Chen Lin lebih dulu membuka suara.
"Aku bilang ceraikan dia. Dia adalah pria brengsek yang bertahun-tahun memiliki selingkuhan. Ia bahkan mempunyai anak dan dengan sengaja mencelakaimu. Ia juga menggunakan uang Keluarga Chen untuk merintis perusahaan. Saat perusahaan itu mulai berjalan, mereka malah bekerjasama dengan orang lain untuk menghancurkan Keluarga Chen. Dia adalah orang yang tidak tahu berterimakasih dan tidak tahu malu," ucap Ling. Matanya menatap tajam Luo Feng.
Sekali lagi perasaan malu menggerogoti Luo Feng.
"Cerai? Baiklah. Aku harap kau tidak akan menyesal di kemudian hari," ucap Luo Feng. Ia kembali menatap tajam ke arah Ling.
"Luo Feng, apa kau serius?" tanya Chen Lin. Ekspresinya sedikit melunak.
"Tentu saja," jawab Luo Feng mantap.
"Baik kalau begitu. Aku akan membayar pengacara untuk mengurus perceraian ini," jawab Chen Lin penuh tekad.
__ADS_1
"Aku tidak sabar untuk menceraikanmu. Semoga saat itu kau tidak akan memohon dan berlutut padaku," ucap Luo Feng. Ia membungkuk dan mengambil tas kantornya. Saat di depan gerbang, ia berbalik untuk melihat terakhir kali rumah yang bertuliskan 'Kediaman Chen'.
Ia tertawa meremehkan. Tuan Han sudah mengangkat putranya sebagai murid. Wuzhou pasti akan memiliki masa depan cerah jika berguru dengan orang hebat seperti itu. Jadi, apakah sebanding dengan Keluarga Chen yang menuju kehancuran?