Kelahiran Kembali Raja Legendaris

Kelahiran Kembali Raja Legendaris
Membuat Penjaga Khusus


__ADS_3

Ling turun dari kamarnya. Ia meminum sebotol ramuan. Satu tangan memainkan ponselnya. Ia mengirim pesan kepada seseorang.


Saat sampai di meja makan, sudah ada Chen Qi dan Chen Lin. Mereka belum menyentuh satupun makanan di meja. Ketika melihat Ling, wajah mereka terlihat khawatir.


"Apa kau benar akan ke pulau itu?" tanya Chen Lin.


"Ya, Ibu," jawab Ling santai. Ia belum mengambil makanannya juga.


"Itu berbahaya. Kau tak tahu di sana ada apa saja," ucap Chen Lin semakin khawatir.


"Karena itu aku ingin tahu," jawab Ling santai. Ia menyisir rambutnya yang mulai panjang kembali.


"Kakek, apa Keluarga Chen memiliki kerabat yang berpotensi yang bisa dilatih militer?" tanya Ling. Ia akan memulai melatih keluarganya di pulau itu. Ia ingin memberi perlindungan kuat untuk Keluarga Chen sebelum dia benar-benar kembali ke Kota Bayangan.


Chen Qi menyipitkan mata. Ia merasa bingung dengan pertanyaan Ling. Namun ia juga menjawab, "Pamanmu, Chen Liu, ia suka merawat anak berbakat. Sepertinya ia pilihan yang tepat. Mengapa kau bertanya? Apa kau merencanakan sesuatu?"


Ling menyeruput susunya. Ia menjawab, "Aku ingin membuat penjaga khusus untuk Keluarga Chen."


Pernyataan ini membuat mereka berdua terlonjak kaget. Keluarga Chen saat ini memang tidak memiliki penjaga khusus. Penjaga biasa mereka saja sudah pergi semua.


"Jika mereka ingin, katakan pada mereka untuk datang ke pulau. Aku akan berada di sana selama tiga hari. Aku memberi mereka waktu tiga hari," ucap Ling melanjutkan. Para pelayan kembali meletakkan makanan.


"Baiklah. Aku akan menghubunginya dan meyakinkannya," jawab Chen Qi. Ia mulai mengambil makanan. Setelah itu, Chen Lin dan Ling juga ikut makan.


*


"Xia, Tuan Muda Chen ingin meminta seorang pelatih militer," ucap Yu Bin setelah membaca pesan dari Ling. Ia memanggil seperti itu pada Zhuo Xia karena mereka hanya berdua sekarang.


"Benarkah? Kalau begitu berikan saja," ucap Zhuo Xia santai. Ia dalam suasana hati yang baik saat ini. Yu Bin pun dapat merasakannya.


"Baiklah," jawab Yu Bin.


"Ohya, Xia, apa kau sudah bersiap untuk besok?" tanya Yu Bin penasaran.


"Hm," gumam Zhuo Xia. Ia menunduk dan mencoba menahan senyumnya.


"Bukankah pulau itu terletak di tengah pantai? Apa kau tidak membawa baju renang?" tanya Yu Bin. Ia diam-diam tertawa kecil.

__ADS_1


"Apa yang kau pikirkan?" Zhuo Xia menatap tajam ke arah Yu Bin.


"Tidak ada! Tidak ada!" ucap Yu Bin refleks mengayunkan tangannya. Meski begitu, ia masih tetap menahan senyum.


Kemudian, pintu diketuk. Seorang petugas polisi memasuki ruangan. Itu adalah Ketua Dai. Ia berasal dari Kota Bayangan. Ia dibawa oleh Zhuo Xia ke Kota Urban.


"Nona, Tuan Muda Bo tetap memaksa ingin bertemu. Ia bersikeras tinggal di Kota Urban selama beberapa hari," ucap Ketua Dai.


"Usir dia. Katakan padanya untuk kembali ke Kota Bayangan. Jika tidak, aku akan menghabisinya," ucap Zhuo Xia dingin. Ia tak terlihat bercanda saat mengatakan itu.


Ketua Dai segera membungkuk hormat. Kemudian dia pergi bersama bawahannya ke sebuah restoran.


Ini adalah Star Restaurant.


Seorang pria tampan terlihat menggoyangkan anggur di tangannya. Dia duduk sendiri dengan makanan yang sudah tersedia di depan meja. Ia sudah mengosongkan restoran ini untuk janji dengan seseorang.


Tiba-tiba sekelompok polisi menyergapnya.


"Tuan Muda Bo. Aku harap Anda segera pergi dari sini," ucap Ketua Dai yang sudah sampai dengan bawahannya.


"Siapa kau? Dari logo di bahumu, kau terlihat dari Kota Bayangan," teriak Bo Yunxing. Ia melihat pengawalnya sudah pingsan. Ia tak berani berbuat macam-macam sekarang.


"Aku tidak mau pergi. Aku sudah membuat janji dengan seseorang," ucap Bo Yunxing. Ia sudah menyiapkan ponsel di tangannya.


Ketua Dai juga mengambil ponselnya. Ia juga menelepon Zhuo Xia.


"Nona, dia tidak ingin pergi. Apa yang harus kami lakukan," tanya Ketua Dai yang membuat Bo Yunxing berhenti memainkan ponselnya.


Kemudian terdengar suara seorang wanita. Suaranya dingin dan menyeramkan saat di dengar. Ia berkata, "Jika dia tidak ingin pergi, bunuh saja. Aku yang akan bertanggungjawab."


Bo Yunxing bergidik ngeri. Ia tak menyangka ada seorang wanita yang begitu kejam.


Ketua Dai memutuskan panggilan. Ia mengeluarkan pistol dan mengarahkannya ke Bo Yunxing. Melihat ini, para bawahannya juga segera mengeluarkan senjata.


Mereka menatap kasihan pada Bo Yunxing. Ia terlihat lemah tanpa pengawal-pengawalnya. Sangat tidak cocok jika dia disandingkan dengan Zhuo Xia yang tangguh.


Apalagi jika dibandingkan dengan Ling, ia terlihat sangat menyedihkan.

__ADS_1


Bo Yunxing mengangkat tangan. Setelah itu Ketua Dai dan bawahannya menurunkan senjata. Bo Yunxing segera membangunkan pengawalnya dan keluar dari restoran.


Ia kembali ke Kota Bayangan.


*


Ling mempersiapkan barang-barangnya. Ia membawa beberapa pakaian dan bahan peledak yang selama ini dia kumpulkan. Ia juga membawa banyak ramuan yang mungkin berguna untuk pelatihan.


Ia menggenggam liontinnya.


Ia kembali mengingat Zhuo Xia. Namun ia tak mengingat apapun lagi selain pertemuan pertama dengannya.


Saat itu, teman-temannya datang. Mereka berencana menginap di Kediaman Chen. Mereka membawa tas yang sangat besar. Barang mereka sepertinya banyak sekali.


"Apa kalian ingin pindah rumah? Kita hanya pergi selama tiga hari," ucap Ling. Ia sekarang mengelus Chester yang sudah ada di pangkuannya.


"Kami akan berlatih di sana. Pasti kami memerlukan banyak baju ganti," ucap Yuan. Ia meletakkan tasnya di lantai.


"Ling, apa aku boleh membawa Su Qiang? Aku tidak enak meninggalkannya sendiri," ucap Su Wen Ai. Wajahnya terlihat gelisah.


"Boleh saja. Apa dia sudah izin sekolah?" tanya Su Wen Ai.


Ia menggeleng.


"Tidak apa. Aku akan menyuruh orang menjaganya. Aku juga takut perjalanan kali ini tidak sederhana. Ia belum pernah latihan sama sekali," jawab Ling.


Su Wen Ai pun mengangguk. Ia sedikit tenang sekarang.


Ling melempar ke arah mereka masing-masing satu botol ramuan. Tiga orang itu segera meneguk habis semua isinya. Sekarang mereka tak ragu lagi jika Ling memberi mereka ramuan.


"Liam, apa kau tahu apa ini?" tanya Ling menunjukkan sebuah kertas dari Tuan Tua Zhuo.


"Tidak tahu. Apakah Kakek yang memberikannya padamu?" pertanyaan Liam hanya mendapat anggukan dari Ling.


Kini Ling tahu, Liam tak tahu apapun tentang itu. Ia juga tak tahu alasan keluarga mereka diusir dari Kota Bayangan.


"Apa kami boleh bermain game?" tanya Yuan melihat semua permainan Ling. Setelah Ling mengangguk, Liam dan Yuan segera bertarung. Sedangkan Su Wen Ai membaca buku-buku yang ada di sana.

__ADS_1


Kemudian, terdengar suara ketukan pintu. Paman Qian berteriak dari luar.


"Tuan Muda, Tuan Chen Liu setuju untuk mengirim anak berbakatnya ke pulau," ucap Paman Qian.


__ADS_2