Kelahiran Kembali Raja Legendaris

Kelahiran Kembali Raja Legendaris
Metodeku Kejam


__ADS_3

Yu Bin memperdalam pandangannya. Ia melirik ke arah Zhuo Xia.


"Aku penasaran dengan wajah orang itu. Setelah dia meninggal, tidak ada lagi aktivitas dari Organisasi Tempur," ucap Yu Bin.


Ia sangat penasaran dengan penampilan orang itu karena banyak orang yang mempercayainya.


"Kita tidak punya fotonya," jawab Zhuo Xia.


Ia memutarkan ponselnya. Putaran itu sangat cepat hingga menjadi buram.


"Dia tidak suka difoto," lanjut Zhuo Xia.


Yu Bin masih dalam keadaan linglung. Tiba-tiba seorang wanita berpakaian militer masuk.


"Bos, Profesor Luohai akan menemui kita," ucap wanita itu.


Zhuo Xia segera bangkit dan meninggalkan ruangan.


"Ayo pergi," ucap Yuan Ming. Ia menepuk bahu Yu Bin untuk menyadarkannya. Setelah itu mereka berjalan bersama.


Profesor Luohai adalah seorang ahli kimia dari Kota Bayangan. Ia mendapat tugas untuk berpartisipasi dalam pembuatan senjata di Kota Urban.


Karena sedang banyak buronan berkeliaran, misi Zhuo Xia adalah membawanya pulang ke Kota Bayangan dengan selamat. Selain itu, mereka takut buronan itu akan menyalahgunakan senjata yang akan dibuat Profesor Luohai. Jika sampai senjata itu jatuh ke tangan para buronan, akan terjadi bencana besar.


Pintu laboratorium terbuka.


Seorang wanita keluar. Ia melepas baju pelindungnya dan menunjukkan baju putihnya. Ia bertanya, "Apa ada masalah?"


Zhuo Xia yang berdiri di sampingnya menatap dalam Profesor Luohai. Bajunya yang seputih salju sangat kontras dibandingkan pakaian hitam Yu Bin.


"Kapan Profesor bisa kembali?" tanyanya.


"Muncul masalah dalam penelitian ini. Setidaknya aku butuh satu atau dua bulan lagi," ucap Profesor Luohai. Ia memijat pelipisnya.


"Baiklah aku kembali dulu," Profesor Luohai pun kembali ke laboratorium.


Zhuo Xia yang melihat ini mengangguk paham. Ia tahu profesor sangat sibuk.


"Satu atau dua bulan? Laboratorium ini sangat mudah ditemukan. Akan terlalu bahaya untuk Profesor," ucap Yu Bin khawatir.

__ADS_1


"Aku akan mencari A Shui. Kau lindungilah Profesor di sini," ucap Zhuo Xia. Ia membuka pintu dan melangkah pergi.


"Mencari A Shui? Kalaupun dapat ditemukan apakah dia mau membantu? Bukankah A Shui hanya menuruti perintah dari satu orang?" tanya Yu Bin keheranan.


Saat menatap pintu tempat terakhir Profesor Luohai berdiri, Yu Bin menyadari sesuatu.


"Apa ada masalah dengan Profesor? Mengapa ia memakai pakaian serba putih? Untuk apa juga pita putih di tangannya?" Yu Bin kembali bertanya.


Itu adalah pakaian yang menunjukkan bahwa seseorang sedang berduka.


"Apa kau tidak menyadarinya? Orang besar Kota Bayangan yang muncul di berita juga memakai pakaian seperti itu lengkap dengan pita putih," jawab Yuan Ming di sebelahnya.


"Bukankah Nona Zhuo Xia juga tak memakai seragam hitam favoritnya?" tanya Yuan Ming yang membuat Yu Bin menyadari hal lain.


Hanya satu orang yang bisa membuat semua orang bertindak seperti itu.


*


Seminggu berlalu begitu cepat.


Ling masuk ke sekolah seperti biasa. Ia turun dari mobil dan menuju kelas. Tak lupa ia memakan roti dan meminum susu yang tadi ia bawa dari rumah. Ia tak sempat sarapan di rumah karena dia lupa waktu saat membuat ramuan, sehingga dia kesiangan.


Ia sampai di kelasnya yang ada di lantai tiga. Suasana kelas berisik seperti biasa. Ia berjalan melewati Su Wen Ai yang menatapnya sejak ia melangkah masuk.


Ling hanya mengabaikannya. Ia menuju tempat duduknya di bagian belakang. Namun Su Wen Ai malah memutar kepalanya untuk tetap melihat Ling.


Kini ia duduk di sebelah Yuan. Ia memberi tatapan tajam ke Su Wen Ai agar ia berhenti menatapnya. Akhirnya ia pun mengalihkan pandangan dari Ling.


"Ling aku sudah memutuskannya," ucap Yuan tiba-tiba. Ekspresinya begitu serius saat ini.


Ling mengeluarkan buku-bukunya. Ia bicara tanpa melihat Yuan, "Aku akan mengingatkanmu lagi jika mungkin kau lupa. Metodeku kejam. Aku tak akan melepaskanmu kecuali kau mati."


Kata 'mati' membuat Yuan bergetar. Ia hampir mundur karena satu kata itu. Ia pikir Ling akan mengajarinya dengan damai walau sedikit kejam. Ia tidak menyangka Ling dengan santai mengucapkan kata-kata itu.


Namun saat ia berpikir kembali mengenai buronan yang mereka temui terakhir kali, ia yakin apa yang dilakukan Ling tidak bisa dilakukan oleh orang normal. Seolah ia telah melewati latihan puluhan tahun.


"Ling aku yakin akan hal ini. Aku tidak akan mundur," ucap Yuan setelah memantapkan tekadnya. Kini ia sadar Ling benar tak bermain-main. Ling tak sesederhana dulu. Karena hal itu, ia akan tetap maju.


"Baik," Ling menyusun bukunya dengan rapi.

__ADS_1


Yuan tak menyangka bahwa Ling akan setuju dengan cepat. Awalnya ia sudah menyiapkan rencana untuk menunjukkan tekadnya.


"Kenapa kau ...," Yuan ingin bertanya mengapa Ling setuju dengan cepat. Namun Ling memotong ucapannya.


"Matamu," jawab Ling. Kini ia bersandar di kursi dengan menyilangkan tangan.


"Mata seseorang tak bisa berbohong. Aku melihat tekad itu di matamu," jawab Ling melanjutkan.


"Benarkah? Kalau begitu ayo kita latihan. Kau bisa lebih dulu menentukan teknik yang cocok untukku. Lebih baik kita ke perpustakaan," ucap Yuan dengan mata berbinar. Ia menarik lengan baju Ling untuk mengajaknya keluar kelas.


Namun Ling mengangkat alis. Ia masih duduk di tempatnya. Ia melepas tangan Yuan dari bajunya. Kemudian dia mengambil buku lain di tasnya.


"Buat catatan dari buku itu," ucap Ling melempar buku matematika pada Yuan.


"Yah, aku tahu akan berakhir seperti ini," ucap Yuan. Ia duduk dengan lesu. Walau begitu, ia tetap membuat catatan.


"Apakah Liam sangat sibuk latihan hingga dia tidak masuk sekolah? Aku akan tertinggal jauh darinya kalau begitu," ucap Yuan berbicara asal.


Ling memperdalam pandangannya. Ia menatap lurus ke depan. Ia sudah merencanakan akan membuat ramuan yang lebih baik untuk Liam.


Setelah kelas hari ini berakhir, Ling sedang menunggu mobil Keluarga Chen di depan gerbang. Ia menunduk untuk menghindari sinar matahari yang terik.


Saat itu ada yang memanggilnya dari arah belakang, "Kakak."


Ling membalikkan tubuh. Ia melihat Wuzhou berjalan menghampirinya.


"Aku tahu kau tidak akan mengabaikanku," ucap Wuzhou semakin mempercepat langkah. Kini ia sudah berada di hadapan Ling.


Ia menurunkan suaranya kemudian berbicara, "Aku hanya ingin memberitahumu bahwa tidak ada gunanya Ibu mencari Lu Yan. Aku tidak akan membiarkan Chen Company bergabung dalam Proyek L ini."


Setelah itu, Wuzhou pergi seolah tak terjadi apapun diantara mereka.


Ling tidak merubah ekspresinya. Ia tetap tenang seperti biasa. Ia sudah memegang ponsel dan menelepon paman Qian.


"Di mana Ibuku?" tanya Ling dingin.


"Tuan Muda, kau lebih baik pulang dulu," jawab paman Qian di seberang telepon. Dari caranya bicara, Ling tahu ada yang tidak beres.


"Di mana Ibuku?" tanya Ling lagi. Ia memperdalam suaranya. Sekarang nadanya lebih dingin dari yang tadi.

__ADS_1


__ADS_2