Kelahiran Kembali Raja Legendaris

Kelahiran Kembali Raja Legendaris
Tak Sesederhana Kelihatannya


__ADS_3

Dua jam lebih berlalu.


Saat ini, pintu ruangan terbuka.


Ling berjalan di depan dan melepas jas putihnya. Orang-orang yang mengikuti di belakangnya menunduk dan mengerutkan kening. Sepertinya mereka tenggelam dalam pikiran mereka.


Jantung tetua ketujuh berdegup kencang. Jika Ling berhasil menyelamatkan Tuan Tua, seharusnya ekspresi mereka tidak seperti itu, kan?


Bo Yushen tiba-tiba berkata, "Tuan Muda Chen sangat kuat. Ia telah memanggil begitu banyak orang dan seharusnya bisa menyelamatkan Kakek, kan? Aku mewakili para tetua berterimakasih kepadamu."


Raut wajah Ling dan orang-orang di belakangnya tak terlihat seperti berhasil menyelamatkan orang. Jika mereka berhasil, seharusnya mereka sudah mengatakan ini sejak tadi. Apalagi penyakit ini tak bisa disembuhkan oleh dua ahli ramuan tingkat tinggi.


Oleh karena itu, Bo Yushen mengatakan itu untuk mempermalukan Ling.


"Tuan Muda Chen, mengapa kau hanya diam?" tanya Bo Yushen. Ia semakin yakin jika Tuan Tua Bo belum sembuh.


Ling mengabaikan Bo Yushen. Ia menghampiri tetua ketujuh dan mengucapkan serangkaian angka. Setelah itu, ia melepaskan jas putihnya dan melemparnya ke Zhan Yu.


"Apa ini?" Zhan Yu terkejut.


"Seragam khusus," jawab Ling.


Kemudian ia kembali melirik tetua ketujuh, "Tetua ketujuh, Anda tidak akan membayarnya?"


Tetua ketujuh masih linglung. Saat ia masih mencerna keadaan, Ling tiba-tiba mengucapkan serangkaian angka. Bagaimana ia tidak semakin linglung?


"Ku bilang, ini nomor kartuku. Jangan lupa transfer 100.000 koin," ucap Ling.


Ling memanggil Zhan Yu yang masih diam, "Untuk apa kau masih di sana? Ayo pergi!"


Barulah saat itu tetua ketujuh sadar, "Tunggu, Tuan Muda. Kau memintaku mentransfer uang. Apa kau benar-benar menyembuhkan Tuan Tua?"


Ling baru mengerti apa yang sebenarnya dipikirkan tetua ketujuh. Ia hanya menjawab, "Aku, Chen Ling. Jangan lupa transfer uangnya."


Bo Yushen dan yang lainnya langsung tersadar.


Tuan Tua benar-benar sembuh?


Tuan Yao menatap Guru Cai, "Cai, ada apa? Tuan Tua sudah sembuh, tapi kenapa kau malah muram? Kupikir terjadi sesuatu."


Bo Yushen mengepal erat tangannya. Ia tidak percaya Ling benar-benar menyembuhkan Tuan Tua.


Guru Cai mengusap wajahnya, "Yao, jika kukatakan kalau Chen Ling benar-benar menyembuhkannya, apa kau percaya padaku?"


Saat itu Ling pergi.

__ADS_1


Guru Cai tak mengatakan apa pun lagi dan melirik tetua ketujuh, "Jangan lupa transfer uang itu. Lebih cepat, lebih baik. Jika tidak, maka kau akan kehilangan kepercayaannya."


"Masuklah dan lihat Tuan Tua. Lingxi masih di sana. Dia akan memberitahu beberapa hal yang perlu diperhatikan," ucap Guru Cai lagi.


Bo Yushen menerobos kerumunan dan masuk ke ruangan. Ada banyak peralatan medis yang sebagian besar tidak dia mengerti. Di tempat tidur, Tuan Tua Bo telah sadar. Meski ia belum bisa bicara, perubahannya terlihat jelas. Warna kulitnya perlahan mulai kembali normal.


"Benar-benar sembuh? Apa sebenarnya hubunganmu dengan Tuan Muda Chen? Apa dia muridmu?" tanya Tuan Yao.


"Muridku? Jika dia muridku, apa aku akan datang ke Keluarga Bo? Sejujurnya, aku datang ke sini untuknya. Aku ingin membujuknya untuk masuk kelas farmasiku. Yao, kau sudah melihat kemampuannya, kan? Tapi apa kau tahu kelas apa yang dia ambil di Akademi Bintang? Dia memilih kultivasi! Dia menolak masuk ke kelas farmasi. Jadi aku tak punya pilihan lain selain mengejarnya sampai ke Keluarga Bo," jawab Guru Cai jujur.


Semua orang kaget. Terutama Tuan Yao. Dari awal ia memang sudah merasa aneh. Guru Cai saja menolak undangan dari Asosiasi Dewa Ramuan, tapi dia mau datang ke Keluarga Bo. Ternyata demi Ling.


"Baiklah kalian lanjut mengobrol saja. Aku ingin bicara dengan Chen Ling," ucap Guru Cai melambai pergi.


"Angling, aku harus berterimakasih padamu untuk hari ini," ucap tetua melirik Bo Angling. Mereka tahu jika Ling mau mengobati Tuan Tua karena Bo Angling.


"Aku memohon pada Kakak Chen karena Kakek Bo. Jika kalian yang meminta, aku juga tak akan memohon padanya. Dan juga jangan berterimakasih padaku. Jika Kakak Chen tidak mau, kalian tak bisa berbuat apa pun padanya," jawab Bo Angling.


Walau jawabannya pahit, tapi itulah faktanya.


Para tetua saling memandang. Mata mereka dipenuhi ketakutan. Mengingat orang-orang yang dikenal Ling, serta dua jet yang bisa dia kendalikan, mereka bertanya-tanya di mana Bo Minghao menemukan putra seperti itu.


Bo Da Xun keluar ruangan dan memandang Bo Yushen. Setelah berpikir beberapa saat, ia mengambil keputusan, "Yushen, mengapa kita tidak meminta Chen Ling untuk menyelamatkan ibumu?"


Tanpa diduga, Bo Yushen meledak, "Ayah percaya padanya dan ingin bekerjasama dengannya? Ayah, apa Ayah tahu posisiku terancam karena kehadirannya? Apa Ayah tak memikirkan situasi kita sekarang?"


Setelah itu, Bo Yushen pergi.


Bo Da Xun terdiam ditempat.


Ia hanya bisa menghela napas dan berkata pada penjaga di sampingnya, "Hubungi Bo Minghao."


Bo Yushen kembali ke kamarnya dengan wajah kesal. Ia menelepon seseorang.


*


Ling berada di halaman kediamannya.


Ia baru saja menerima notifikasi di ponselnya.


"Cukup cepat," gumam Ling.


Kemudian ia menelepon Bo Xue Ning, "Aku akan mentransfer 100.000 koin. Aku harus mencari uang tunai secepatnya. Sisanya akan kubicarakan dengan A Shui."


Bo Xue Ning tak ragu dengan kemampuan Ling mengumpulkan uang.

__ADS_1


"Tapi kita tak bisa terus seperti ini. Kita harus menemukan sumber uang yang stabil. Kita tak bisa selalu menggunakan uangmu," jawab Bo Xue Ning menghela napas.


Mengembangkan sekelompok besar orang membutuhkan banyak dana. Masih agak sulit bagi mereka menstabilkan keuangan.


"Baik. Aku sudah memikirkan caranya," jawab Ling. Ia menutup panggilan saat melihat Guru Cai datang.


"Guru," sapa Ling sambil memasukkan ponselnya.


Melihat ekspresi santai Ling, Guru Cai malah kesal. Ia berkata, "Sudahlah, jangan main-main lagi. Aku tak akan memaksamu lagi sekarang. Jika kau tetap bersikeras, aku tak bisa memaksa. Lagipula jatah liburku sudah habis. Sebelum aku kembali, aku ingin mengingatkan sesuatu padamu."


Ekspresi Guru Cai menjadi serius.


"Katakanlah, Guru," ucap Ling menuangkan teh untuknya.


"Aku tidak tahu alasanmu kembali ke Keluarga Bo, tapi ada satu hal yang harus kau tahu. Bo Yushen ini tak sesederhana kelihatannya. Aku dan Yao adalah teman lama. Ia menerima Bo Yushen menjadi muridnya dua tahun lalu. Ia berkata Bo Yushen sangat berbakat, tapi menurutku bukan itu alasannya. Karena ia telah bersumpah tak akan menerima murid lagi dalam hidupnya. Chen Ling, masalah ini tidak sederhana. Nanti, jika Bo Yushen memintamu untuk menyembuhkan ibunya, lebih baik kau terima saja," ucap Guru Cai.


Ling melamun mendengar ucapan Guru Cai tentang Tuan Yao yang tidak akan pernah menerima murid lagi dalam hidupnya.


Guru Cai bicara panjang lebar, tapi ia menyadari Ling melamun. Ia memukul meja, "Apa kau mendengarkanku?"


"Ya, aku mendengarkan, Guru. Maaf," ucap Ling dengan wajah tulus.


Guru Cai merasa puas.


Tiba-tiba, Zhan Yu masuk, "Tuan Muda, Tuan Bo datang."


Tuan Bo yang dimaksud adalah Bo Da Xun. Ia datang berharap Ling mau menyelamatkan Nyonya Bo karena Guru Cai telah menasehatinya.


Ling berdiri. Ia tersenyum dan menjawab, "Maaf, Paman Bo. Aku tidak bisa menyelamatkan istri Anda kali ini. Anda bisa pergi."


Guru Cai yang berpikir Ling akan setuju, ia tersedak mendengar jawaban Ling.


"Guru, minumnya pelan-pelan saja," Ling menepuk lembut punggung Guru Cai.


"Paman Bo, guruku terlalu cemas," ucap Ling tersenyum pada Bo Da Xun.


Bo Da Xun tahu jika Ling tak akan setuju. Karena itu ia telah menyiapkan rencana lain. Ia mengeluarkan ponselnya dan tersenyum pada Ling, "Kalau begitu, kau seharusnya mendengarkan ayahmu, kan?"


Bo Da Xun menelepon Bo Minghao dan menyalakan speaker, "Bo Minghao, Tuan Muda Chen hanya sendiri di Keluarga Bo sekarang. Istriku kebetulan sakit dan aku ingin dia memeriksanya. Jangan khawatir, tentu saja ini tidak akan gratis. Aku akan memberimu sepetak tanah yang kau incar terkahir kali. Bagaimana?"


Bo Da Xun dengan tenang menunggu Bo Minghao menjawab. Ia sangat yakin Bo Minghao tak akan menolak mendengar tawaran sepetak tanah itu. Meskipun ini adalah tanah yang tak ingin dia lepaskan.


Namun, ia malah mendengar jawaban tak terduga, "Apa maksudmu dia hanya sendiri di Keluarga Bo? Apa kau mengancam putraku? Apa kau memaksakan sesuatu yang tidak ingin dilakukannya? Dengar ini, Bo Da Xun, aku akan segera kembali sekarang. Sebelum aku tiba, jika ada diantara kalian yang menyentuh putraku, aku akan membuat kalian semua menderita!"


Bo Minghao segera mematikan panggilan sebelum Bo Da Xun sempat bicara.

__ADS_1


__ADS_2