
Markas pelatihan militer ini cukup luas. Tempat ini dibangun oleh Keluarga Yu. Karena itu, Ling mengatakan pada mereka jika ini termasuk aset mereka.
"Kakak Chen!" teriak seorang anak perempuan kecil berlari ke arah Ling.
Anak kecil itu sangat mirip dengan Chen Liu. Hanya saja lebih cantik. Ling bingung harus berbuat apa pada anak kecil. Jadi dia hanya tersenyum.
Su Wen Ai yang melihat ini hanya geleng-geleng. Ia pun mengambil anak kecil itu dan menggendongnya.
"Paman Yu, bagaimana perkembangan mereka?" tanya Ling pada pelatih militer.
"Bagus! Sangat bagus! Mereka cepat sekali menguasai apa yang aku ajarkan," ucap pelatih militer itu yang bernama Yu Fuchen.
"Baiklah kalau begitu. Katakan pada mereka aku akan kembali ke Kota Urban. Jika sewaktu-waktu aku membutuhkan kalian, aku akan menghubungi kalian," ucap Ling menepuk pelan bahu Yu Fuchen.
"Tentu saja, Tuan Muda," jawab Yu Fuchen.
"Buka pendaftaran untuk masuk ke pelatihan militer di Keluarga Chen. Namun harus mereka yang benar-benar setia pada Keluarga Chen," ucap Ling lagi. Kali ini ia mengeluarkan satu botol besar yang berisi ramuan.
"Ambil ini. Aku harap kalian menggunakannya dengan baik. Aku akan sering mengirimnya," ucap Ling memberikan botol itu.
"Terimakasih, Tuan Muda," Yu Fuchen membungkuk hormat. Ia sangat tahu ini adalah ramuan. Saat di Keluarga Yu, dia pernah sekali minum ini. Dia merasa telah menghabiskan seluruh keberuntungan di hidupnya untuk hari ini.
Ling dan teman-temannya pun kembali ke Kota Urban.
*
Zhuo Xia terbatuk-batuk ketika sedang mengerjakan laporannya. Sakitnya semakin parah. Namun sebenarnya ia tak ingin kembali ke Kota Bayangan.
"Nona, apa Anda tidak ingin pulang sekarang?" tanya Yu Bin untuk kesekian kalinya.
"Tidak," jawaban Zhuo Xia tetap sama dari tadi.
Kemudian dia diam sejenak saat melihat komputernya. Matanya menyipit. Lalu ia tersenyum dingin.
"Ayo, ke bandara," ucap Zhuo Xia. Ia memakai jaket tebal.
"Temui Mo Xiayi," ucapnya lagi yang berhasil mematahkan harapan Yu Bin dalam sekejap.
__ADS_1
Mo Xiayi sudah menyiapkan seluruh keperluannya. Ia menggenggam erat cincin yang diberikan Ling. Ia mengirim pesan pada A Shui. Dengan segera A Shui menjawab.
[Kami selalu percaya pada Raja.]
Ia tertampar dengan kata-kata itu. Kini ia sadar, jika ia pergi maka ia akan sulit bertemu Ling. Bukan hanya karena ditahan Zhuo Xia, bisa saja Ling yang tidak mau lagi bertemu dengannya.
Mo Xiayi menatap tiket di tangannya. Ia ingin kabur saat ini, tapi tak mungkin Zhuo Xia meloloskannya. Ia menghela napas. Kemudian menelepon Ling.
Dalam satu detik, panggilannya langsung diangkat. Namun sebelum dia sempat bicara, seseorang mengambil ponselnya.
Klik!
Zhuo Xia mematikan panggilan. Ia berkata dengan sinis, "Kau tidak perlu memohon padanya."
Mo Xiayi hanya bisa tertegun. Ia bahkan tak diperbolehkan menelepon Ling untuk memohon.
Zhuo Xia mengembalikan ponsel Mo Xiayi. Saat terdengar suara pemberitahuan, Mo Xiayi pun segera masuk ke pesawat.
Zhuo Xia melihatnya sampai pesawat menghilang.
"Dasar buta!" umpat Zhuo Xia kesal.
*
Saat ini, semua orang terlihat sibuk membereskan barang-barang dan koper yang sangat banyak. Beberapa juga menyiapkan obat dan makanan.
Zhuo Xia melangkah ke jet pribadi. Saat ia berada tepat sebaris dengan Ling, ia berhenti sejenak.
"Apa kau sudah menebak mengapa aku memanggilmu Z?" tanya Zhuo Xia.
"Otakku buntu," jawab Ling santai.
"Apa kau tidak ingin tahu mengapa aku memanggilmu Z?" tanya Zhuo Xia lagi.
"Apa kau akan memberitahuku?" tanya Ling balik.
"Aku akan memberitahumu saat kita bertemu di Kota Bayangan," ucap Zhuo Xia santai. Kemudian ia melangkah menaiki jet. Tanpa aba-aba, jet itu segera melesat pergi dan menghilang dalam pekatnya malam.
__ADS_1
*
Ujian tertulis untuk masuk ke Kota Bayangan telah selesai. Saat ini adalah pengumuman yang ditunggu-tunggu semua siswa. Kali ini pengumuman disiarkan langsung di internet. Mereka semua melihat dengan harapan lulus.
Sekolah Menengah Guxian menyiapkan proyektor besar dan menonton bersama para siswa. Dari Sekolah Guxian, ada 100 orang yang ikut ujian tertulis ini, termasuk Liam, Yuan, dan Su Wen Ai.
Di dalam proyektor, terlihat Rektor Xiang sedang mengumumkan hasil ujian. Mereka menyebutkan nama secara acak. Orang-orang yang lulus ujian ini juga berasal dari negara-negara lain.
"Su Wen Ai, dari Sekolah Menengah Guxian," ucap Rektor Xiang. Ia membaca ke urutan selanjutnya.
"Zhuo Liam, dari Sekolah Menengah Guxian," ucap Rektor Xiang. Ia kembali membaca ke urutan selanjutnya.
"Qi Yuan, dari Sekolah Menengah Guxian," ucap Rektor Xiang.
Mereka bertiga berada diurutan 25, 26, dan 27 secara berurutan. Nilai mereka juga berbeda tipis. Saat melihat ini, semua siswa yang menonton bertepuk tangan untuk mereka. Tidak hanya satu, ternyata ada tiga orang lagi yang mampu memasuki Universitas Internasional Kota Bayangan.
Mereka berempat lulus. Bahkan Ling juga terkejut. Mereka benar-benar bekerja keras selama ini.
*
"Tuan Yuan, selama aku di sana, aku mohon jaga keluargaku. Ini adalah plakat untuk memanggil pasukan di pulau," ucap Ling dalam telepon. Setelah itu ia kembali menelepon seseorang.
"Kakek Zhuo, apakah aku bisa merepotkanmu?" tanya Ling.
"Tentu saja aku bersedia repot untukmu. Kau sudah membantu cucuku masuk ke universitas terbaik," ucap Tuan Tua Zhuo. Sangat jelas terdengar suaranya begitu bahagia.
"Aku ingin Kakek mengirim beberapa guru untuk mengajar ramuan. Karena aku mendidikan akademi ramuan di sana. Apakah ada guru yang bisa melakukan itu?" tanya Ling secara langsung.
"Ada. Ada. Aku akan mengaturnya. Berapa banyak yang kau butuhkan?" tanya Tuan Tua Zhuo.
"Untuk saat ini aku serahkan akademi ramuan kepada Keluarga Zhuo. Aku menghitungnya sebagai investasi kalian kepada Chen Company," jawab Ling. Setelah itu ia mematikan panggilan.
Tanpa terasa satu bulan sudah sejak mereka diterima di universitas. Selama beberapa bulan ini, Ling dan teman-temannya terus berlatih. Mereka menggunakan orang-orang dari Kota Bayangan yang datang tanpa diundang.
Karena hal itu pula banyak orang-orang dari Kota Bayangan yang tak berani lagi datang ke Kota Urban sesuka mereka. Awalnya mereka ingin menguasai Kota Urban selagi Zhuo Xia tidak ada.
Nyatanya ada sekelompok monster yang sama mengerikannya dengan Zhuo Xia.
__ADS_1
Ketua Dai tetap tinggal di sini sementara untuk mengawasi orang-orang dari Kota Bayangan. Namun nyatanya dia hanya bisa membereskan mayat mereka yang menjadi sasaran Ling dan teman-temannya. Ia hanya menatap kasihan pada mereka yang memiliki musuh seperti Ling.
Keesokan harinya, keberangkatan mereka ke Kota Bayangan tiba. Mereka berada di bandara dengan banyak koper di tangan. Keluarga mereka juga ikut mengantar.