
"Kerjasama dengan Nona Mei telah dipastikan. Jika tak ada yang lain, Anda sudah bisa kembali ke pulau," ucap Zhuo Xia.
Barulah saat itu tetua tersadar. Ia tak berani menatap Ling. Ia berkata, "Jet pribadi keluarga akan datang tiga hari lagi. Aku tidak bisa kembali sekarang."
Karena Nyonya Tua mendengar Mei Mengyi sulit ditemui, ia memberi tetua waktu 3 hari. Namun nyatanya masalah ini selesai dalam 3 menit.
"Kalau begitu pergi ke markas dulu. Antar tetua," ucap Zhuo Xia pada penjaga.
Penjaga itu segera tersadar dan mengambil mobilnya.
Sedangkan Ling dan Zhuo Xia juga pergi.
Tetua Zhuo masih menunggu di sana. Kepala Keluarga Song yang melihat ini, mengira tetua juga tak bisa menemui Mei Mengyi.
"Tetua, Anda tak perlu terus menunggu. Semua orang tahu tidak ada yang bisa menemui Nona Mei," ucap Kepala Keluarga Song mencoba menghibur tetua Zhuo.
"Aku baru saja keluar dari sana. Ternyata Nona Mei masih sangat muda," jawab tetua sambil tersenyum.
"Ah, senang sekali Anda bisa menemuinya. Aku baru saja ingin memberitahu Anda untuk menemui Gao Feng," ucap Kepala Keluarga Song.
"Gao Feng? Keluarga Gao?" tanya tetua bingung.
"Ya, mereka sangat beruntung. Gao Feng pernah menyelamatkan seorang murid dari Akademi Bintang. Ternyata murid itu mengenal Nona Mei. Sekarang, semua senjata menjadi tanggung jawab Gao Feng," jelas Kepala Keluarga Song. Ia terlihat iri.
Jika sebelumnya ia tak melihat Mei Mengyi menghormati Ling, ia akan tertarik dengan masalah ini. Namun, sekarang berbeda. Siapa lagi yang mengenal Mei Mengyi? Ia merasa karena Ling mengenalnya, maka yang lain hanya membuatnya penasaran.
Kepala Keluarga Song ingin terus bicara tentang murid itu, tapi tetua sepertinya tidak tertarik. Jadi, ia tak bicara lagi.
Andai saja tetua terus mendengarkan, pasti ia tahu mereka adalah dua orang yang sama.
*
Ling dan Zhuo Xia pergi berjalan-jalan.
Awalnya Chester digendong Ling, tapi saat melihat tatapan tajam Zhuo Xia, Chester segera melompat ke bahunya.
Tak terlalu banyak orang di sini. Ling tertarik melihat kedai teh susu yang memiliki simbol Pulau Yang Tak Boleh Disebut Namanya.
Melihat Ling menatap kedai teh susu itu, Zhuo Xia segera mengantri untuknya. Sebelum Ling sempat bicara, ia telah menghilang di kerumunan.
Ketika ia ingin menyusul Zhuo Xia, seseorang muncul di depannya. Ia tidak asing dengan orang itu. Ia berkata, "Apa itu kau?"
Itu adalah orang yang bersikeras untuk meramalnya.
"Kau masih ingin membaca nasibku?" tanya Ling.
__ADS_1
Orang tua itu menggeleng, "Tidak. Aku telah hidup ratusan tahun. Meramal itu hanya bagian dari takdir. Jika Anda tak mempercayaiku, maka aku tak akan mengatakan apa pun."
"Ratusan tahun?" Ling terkejut.
Namun, tetua itu tak menyadari apa yang dikatakan Ling. Ia lanjut bicara, "Aku ingin meramal nasibmu saat itu bukan karena Anda aneh, tapi Anda terlihat tidak asing. Ada seseorang yang mirip denganmu."
"Tidak asing? Mirip denganku?" Ling mencoba mengingat apakah ia pernah bertemu dengan orang tua itu.
"Tapi, kamu lebih beruntung dari dia ...," gumam orang tua itu.
Pemuda yang terlihat sepertimu tak seberuntung itu. Walau ia ditakdirkan untuk menjadi bangsawan, tapi ia dijebak oleh orang-orang luar negeri dan dibakar hidup-hidup. Saat melihatnya mati, hewan peliharaannya juga tak ingin meninggalkannya. Saat itu aku hanya bisa mengasihani hewan itu. Tunangannya juga sangat kuat. Dia membantai semua musuhnya dan menangis di kuburannya. Saat tunangannya itu ingin mati bersamanya, aku mengasihaninya dan memberinya solusi. Sekarang aku bahkan tak tahu apakah wanita itu masih hidup, orang tua itu menggali lagi ingatan lamanya.
"Tuan, Anda harus hidup dengan baik. Jiwamu masih belum stabil," ucap orang tua itu sebelum pergi meninggalkan Ling.
Setelah ia pergi, Ling membeku.
Jiwanya masih belum stabil? Apa maksudnya? Apa orang tua itu tahu jika dia terlahir kembali? Padahal ini adalah rahasia terbesarnya.
Zhuo Xia memasukkan teh susu ke tangan Ling. Saat tangan mereka bersentuhan, ia menyadari tangan Ling sangat dingin.
"Apa kau kedinginan?" tanya Zhuo Xia.
Ling meminum teh susu yang masih panas itu. Ia merasakan kehangatan mengalir di dalam tubuhnya. Setelah itu, ia menjawab, "Tidak."
Zhuo Xia tak mengatakan apa pun, tapi ia juga tidak melepaskan tangannya, "Paman Bo ada di pulau lain. Jika kau ingin menemuinya, beritahu aku."
"Lusa," Zhuo Xia mengingatkannya.
Ling mengernyit. Bukankah seminggu lagi? Tahun lalu ia melewatkan perayaan ulang tahun Zhuo Xia karena mereka tidak bersama, tapi tahun ini ia ada di sini. Dia ingat jelas kapan ulang tahun Zhuo Xia. Tapi ... Zhuo Xia juga tak mungkin salah ingat, kan? Apa mungkin ia yang salah ingat?
Ling memutuskan untuk tidak bertanya.
*
Ling dan Zhuo Xia kembali ke markas. Saat ini, Han Shuangfu dan Zhuo Ai telah menyelesaikan misi. Mereka sudah menangkap orang yang mereka cari.
"Dia ... level delapan? Nona ...," tetua melotot saat melihat orang yang dicengkeram Han Shuangfu.
Han Shuangfu tersenyum. Ia tentu tak bisa mengalahkan orang itu. Ia berhasil menangkapnya karena memiliki senjata bius tingkat tinggi dari Kota Bayangan. Jadi, orang itu tak memiliki tenaga lagi.
Namun, ia tak mengatakan ini pada tetua.
"Katakan, mengapa kau datang ke luar negeri? Apa kau ingin menghancurkan pulau itu lagi?" tanya Han Shuangfu. Ia menendang orang yang dicengkeramnya.
Orang itu menatap Han Shuangfu dengan jijik. Ia mencibir, "Tangkap saja aku! Saat Raja kami kembali, kalian semua akan mati!"
__ADS_1
"Pfft, Raja? Apa kau pikir ini drama di televisi? Ah, lupakan. Aku tak ingin bicara denganmu lagi. Tetua, bawa dia ke Kota Bayangan," ucap Han Shuangfu.
Tetua tahu jika Han Shuangfu mampu menangkap orang dengan level 8 itu. Jadi, dia menghormati Han Shuangfu.
"Baik, aku akan segera memberitahu mereka," ucap tetua. Ia menelepon orang di Kota Bayangan dan meminta seseorang untuk membereskan orang berbaju hitam itu.
Dari ekor matanya, ia melihat Zhuo Xia dan Ling berjalan masuk. Ia memanggil Zhuo Xia dan hanya menatap Ling yang sedang meminum teh susunya dengan sedotan.
Ia mengingat bekas telapak tangan pagi itu.
Mengapa memangnya jika dia kultivator level lima? Banyak murid seperti itu di Akademi Bintang. Tetua tetap merendahkannya.
"Apa tetua memiliki dendam padamu?" tanya Han Shuangfu pada Ling.
"Ini pertemuan kedua kami," jawab Ling sambil menggeleng.
"Lalu, mengapa dia seperti ini? Sial! Apa dia membenci latar belakangmu?" tanya Han Shuangfu lagi.
"Abaikan saja dia. Aku tak akan bicara dengannya lagi meski dia memohon nanti," jawab Ling sambil tersenyum.
"Baiklah. Tapi aku ingin memberitahumu sesuatu. Ayo pergi ke ruang belajar di lantai atas," ucap Han Shuangfu.
"Oke. Tapi jika kau ingin membicarakan jet tempur, aku tak punya waktu untuk itu," ucap Ling. Ia menatap Zhuo Xia yang sedang bicara dengan Zhuo Nan.
"Bukan tentang jet tempur. Aku dengar Nona Mei berada di sini. Aku ingin mengajakmu menemuinya," ucap Han Shuangfu.
Ling hanya menatapnya datar.
"Apa ada yang salah?" Han Shuangfu bingung.
"Tidak. Ayo ke atas," ucap Ling. Ia meremas cangkir teh susunya. Mereka berjalan ke atas.
Sedangkan tetua membawa pria berbaju hitam itu ke penjara di markas. Namun, pria itu tiba-tiba melompat menjauh. Dengan belati di tangannya, ia langsung melompat untuk menusuk leher tetua.
Di markas, tak ada yang bisa bertindak cepat. Han Shuangfu juga tak menyangka efek bius itu akan hilang.
Pria itu level delapan, sedangkan tetua hanya level tujuh. Perbedaan kekuatan mereka sangat jauh. Memang tetua berhasil mengelak, tapi tidak sepenuhnya.
Namun, saat ini terdengar suara tusukan. Tiba-tiba matanya terasa silau. Tetua tak bisa melihat apa itu. Ia hanya melihat seberkas cahaya melintas. Jelas itu lebih cepat dari pria berbaju hitam
Setelah itu, terdengar suara tusukan pisau dengan daging beradu.
Semua orang melihat belati pria itu tertancap di dinding. Saat pria itu mengambil kembali belatinya dengan tangan kanan, belati itu terjatuh dari cengkramannya.
Saat ini, tangan pria itu tertusuk sedotan teh susu.
__ADS_1
Tetua dan yang lainnya tercengang. Saat mereka berbalik, mereka hanya melihat sosok elegan berjalan menaiki tangga.