Kelahiran Kembali Raja Legendaris

Kelahiran Kembali Raja Legendaris
Berhutang Penjelasan


__ADS_3

Sorak sorai menggema di aula. Para mahasiswa baru merayakan akhir kompetisi ini. Mereka juga bahagia melihat Ling mendapatkan kembali posisi pertamanya.


Saat ini ia sedang berada di sebuah ruangan bersama Rektor Xiang. Ketiga temannya mengikutinya.


"Ayo, masukkan telapak tanganmu ke sini," ucap Rektor Xiang.


Setiap mahasiswa yang berbakat, memberikan jasa, dan hal lain yang bermanfaat untuk universitas, mereka akan mencetak tangan mereka. Cetakan itu akan dipajang di museum universitas. Cetakan itu sebagai tanda kepemilikan mereka.


Ling sudah pernah melakukan ini dulu. Ia hanya tersenyum tipis.


Saat ia selesai mencetak, mereka masuk ke museum. Ada ratusan cetakan telapak tangan di sini. Rektor Xiang menuju ke cetakan yang paling depan. Ia meletakkan cetakan tangan Ling dekat dengan cetakan tangannya yang dulu.


"Kau berhutang penjelasan padaku," ucap Rektor Xiang sambil tertawa kecil.


"Ling, ayo kita berfoto," ucap Yuan heboh.


"Tidak," jawab Ling singkat.


"Ayolah, Ling. Apa salahnya mengabadikan momen?" Liam ikut bicara.


"Baiklah," jawab Ling lagi. Ia berdiri bersama mereka bertiga. Kemudian Su Wen Ai yang paling depan memegang ponsel untung mengambil foto.


Klik!


"Sudah," ucap Ling yang tak ingin berfoto lagi.


Setelah itu, mereka semua keluar ruangan. Acara di aula juga sudah selesai. Jadi mereka memilih untuk kembali ke kamar masing-masing.


"Sampai bertemu besok," ucap Liam sambil melambaikan tangan.


Ling dan Yuan segera masuk kamar. Di dalam kamar, sudah ada si kembar, Zhao Ran, dan Wei Yun. Wajah si kembar dan Zhao Ran terlihat sumringah. Sedangkan wajah Wei Yun sangat suram.


Tadi ia benar-benar terkejut saat melihat kakaknya membela Ling. Malah mereka terlihat akrab. Wei Yun tahu karakter kakak laki-lakinya. Ia sangat dingin kepada semua orang. Ia juga sangat taat aturan. Namun di depan Ling, ia bisa mengabaikan semua aturan itu.


Sekarang Wei Yun mengerti mengapa Zhao Ran tak pernah mau menyinggungnya. Kelak di masa depan dia mungkin akan lebih baik pada Ling. Jika kakaknya akan membela Ling, kepada siapa dia akan mengadu? Hanya kakaknya yang memiliki kekuasaan tertinggi di rumah.


Ling tak heran melihat Wei Yun seperti ini. Ia pasti takut dengan Wei Lang.


"Ling, kau menerima banyak kado," ucap Weiheng menunjuk ke kasur Ling.


"Kau memiliki penggemar sekarang," sambung Wenhua.

__ADS_1


Ling menggeser kado-kado itu. Yuan yang sudah pernah mengalami ini, langsung mengangkut semua kado ke kasurnya. Sedangkan Ling sudah bermain komputer untuk menyelesaikan desain bomnya.


"Weiheng, Wenhua, ayo kita buka kado-kado ini. Pasti isinya mewah semua," ucap Yuan yang sudah bersiap membuka satu kado.


"Bukankah itu milik Ling?" tanya Weiheng.


"Mengapa kau membukanya?" tanya Wenhua juga.


"Ling tidak menginginkan kado-kado ini. Untuk kota saja," jawab Yuan yang sudah membuka satu kado. Itu berisi DVD game keluaran terbaru.


"Wow aku lihat di iklan, ini sangat mahal. Sungguh royal orang yang memberi ini," ucap Yuan terlihat senang.


"Ayo, bergabung," ajak Yuan ramah.


"Zhao Ran, Wei Yun, ayo bergabung," ucap Yuan lagi.


Zhao Ran hanya menggeleng. Ia memilih membaca bukunya. Sedangkan Wei Yun terenyuh. Padahal ia selalu jahat pada Yuan, tapi Yuan masih saja mengajaknya.


Karena malu, ia menolak dengan alasan lelah.


Desai bom Ling sudah selesai 50%. Kira-kira beberapa hari lagi ia akan bisa bertemu dengan ahli bom. Setelah itu, ia juga bisa merencanakan kerjasama.


*


Yuan Ming, Chen Lin, Chen Qi, dan staff Chen Company yang lain telah sampai di Kota Bayangan. Selama berbulan-bulan sejak lelang, perusahaan mereka bisa masuk ke Kota Bayangan. Saat ini, mereka sedang mempersiapkan berkas-berkas yang harus di urus lagi.


Untuk sementara, mereka tinggal di hotel karena mendapatkan apartemen ataupun rumah sedikit sulit. Yuan Ming masih mencoba menghubungi relasinya untuk bisa mendapat tempat tinggal tetap.


"Ayo, masuk," ucap Yuan Ming. Mereka sedang berada di pusat departemen perusahaan Kota Bayangan. Mereka akan mendaftarkan perusahaan mereka.


Yang pergi saat ini hanya Yuan Ming, Chen Ling, dan Chen Wu.


Saat ini, Chen Lin sangat gugup. Ia tak pernah menyangka ia akan menginjakkan kaki di kota ini. Bahkan ia membawa nama perusahaannya. Ia akan sangat berterimakasih pada Ling yang sudah membawa mereka sampai ke titik ini.


"Nona, kami akan mendaftarkan perusahaan kami di distrik C-1. Kami sudah pernah mengirim pengajuan sebulan yang lalu," ucap Yuan Ming pada resepsionis.


"Baik, mohon menunggu," ucap resepsionis itu.


Chen Lin semakin gugup. Walau ia tidak sendiri, tapi ia merasa hari ini sangat menegangkan. Apalagi saat melihat tatapan pekerja-pekerja yang menatap sinis dirinya. Ia merasa semakin gugup sekaligus takut.


Yuan Ming sudah lima kali bolak-balik ke resepsionis. Mereka sudah menunggu selama satu jam, tapi berkas mereka belum juga selesai.

__ADS_1


"Tidak apa, Tuan Yuan. Kita masih bisa menunggu," ucap Chen Lin. Walau ia tahu kenyataannya ia masih bisa tersenyum. Padahal juga ada beberapa orang kantor yang mengurus sesuatu dan mereka sudah selesai. Namun mereka yang sudah sejak tadi malah belum selesai.


Yuan Ming kembali mendatangi resepsionis.


"Apakah sudah selesai, Nona?" tanya Yuan Ming menekan setiap katanya.


"Kalian harus sabar. Hanya perusahaan di distrik C-1 saja tidak bisa sabar," jawab resepsionis itu ketus.


Chen Lin mendatangi Yuan Ming. Ia tak ingin membuat keributan di sini.


"Sudahlah, Tuan Yuan. Lebih baik kita menunggu saja," ucap Chen Lin. Akhirnya Yuan Ming mundur. Mereka kembali menunggu.


Yuan Ming sudah mengirim pesan pada Ling, tapi ia belum mendapat balasan. Ia tak ingin meneleponnya karena takut menganggu. Jadi ia memilih mengirim pesan lagi.


Setelah dua jam menunggu, akhirnya mereka dipanggil.


"Perusahaan kalian di tolak. Wilayah kalian sudah di sewa oleh Keluarga Bo seminggu lalu," ucap resepsionis itu.


"Kami sudah menyewa sebulan lalu. Itu adalah hak kami," ucap Yuan Ming yang tak bisa menahan emosi lagi.


"Tidak bisa. Ini adalah Keluarga Bo. Jika kalian ingin protes datang saja ke perusahaan mereka," ucap resepsionis itu terlihat tak peduli.


"Anda harus bersikap adil," ucap Yuan Ming lagi. Tangannya mengepal keras.


"Kalian hanya perusahaan baru. Jika dibandingkan dengan Keluarga Bo tentu saja kami akan memilih mereka daripada kalian. Lebih baik kalian segera pergi dari sini," ucap resepsionis.


"Kami tidak akan pergi sebelum kalian memberi keadilan," ucap Yuan Ming lagi.


Resepsionis itu terlihat kesal dengan Yuan Ming yang keras kepala.


Pak!


Ia melemparkan dokumen Chen Company. Ia berkata dengan sombong, "Ambil proposal kalian yang tidak seberapa. Satpam, tolong bawa mereka keluar."


Dengan gemetar, Chen Lin mengambil dokumen itu. Sedangkan Yuan Ming sudah ditarik paksa oleh satpam karena ia memberontak.


"Ayo, ikut kami!" kini satpam juga menarik paksa Chen Lin, padahal ia tak memberontak. Ia sampai meringis kesakitan saat tangannya dipegang sangat erat.


"Lepaskan, Ibuku dan orangku," terdengar suara dingin seorang pria di depan pintu. Setiap orang yang mendengar ini akan bergetar, apalagi jika mereka memang melakukan kesalahan.


"Beginikah standar di Kota Bayangan? Pelayanannya tidak baik, kerjanya lambat, dan tidak menghargai klien. Apakah layak masuk di Kota Bayangan?" langkah pria itu menggema di ruangan yang sekarang terasa sepi.

__ADS_1


__ADS_2