
Chen Sin kembali mendengar suara Ling setelah beberapa minggu. Ia memutuskan untuk kembali ke Kota Urban saat ia sudah menyelidiki orang berjubah putih itu. Mengapa Chen Ling?
Kemarin malam, Chen Sin sedang berada di ruangan operator di Kota Bayangan. Ia melihat video pertandingannya dengan orang berjubah putih. Saat melihat detik-detik orang itu memurnikan ramuan, ia menghentikannya.
"Ketua Dai, ini ...," Chen Sin mengamati video itu dan membandingkannya dengan video kompetisi dua tahun lalu.
Kompetisi ramuan ini tersembunyi. Ini pertama kalinya ia melihatnya. Ia juga tak pernah berpartisipasi.
Di dalam video, ada sepuluh orang peserta dengan guci kuno di depannya. Sembilan orang menggunakan guci yang sama dari panitia, tapi beda dengan satu orang lainnya. Ia menggunakan guci lain yang dia bawa sendiri.
Itu adalah guci khas Dewa Tabib!
Kini kedua komputer menampilkan video dari kedua kompetisi. Satunya adalah kompetisi di Kota Bayangan, sedangkan satu lagi adalah kompetisi di Kota Urban.
Chen Sin memperhatikan setiap gerakan mereka. Semakin dibandingkan, itu semakin mirip.
Kemudian, Chen Lin meneleponnya. Ia berkata bahwa orang berjubah putih itu adalah Chen Ling. Awalnya, ia tak percaya. Namun saat mendatangi mobil Liam saat itu, ia sudah sedikit curiga. Ling menutupinya dengan sangat baik.
Maka, di sinilah dia sekarang. Di Kota Urban.
Saat itu, ponsel Chen Sin berdering. Itu panggilan dari Ketua Dai.
"Sin, Dewi Mo sudah sampai di Kota Urban," ucapnya.
Chen Sin sangat terkejut. Ia hampir saja menjatuhkan ponselnya. Bagaimana tidak. Dewi Mo yang memiliki nama asli Mo Xiayi adalah seorang selebritis ternama yang memiliki banyak penggemar. Saat di depan media dia akan berakting dengan baik. Namun saat dia memasuki markas, ia menjadi penembak jitu yang handal. Hanya sedikit orang yang mengetahui ini.
"Ketua Dai, jangan bercanda," ucap Chen Sin.
"Aku tidak bercanda. Setelah dia melihat video kompetisi dan membandingkannya, ia juga ingin segera pergi ke Kota Urban," jawab Ketua Dai.
"Kau harus ingat, Dewi Mo selalu bisa menarik perhatian kemanapun dia pergi. Kau harus menjaga dan menjamunya dengan baik," ucap Ketua Dai melanjutkan.
"Baik. Aku akan melakukan yang terbaik," jawab Chen Sin setelah sadar dari lamunannya.
Ia pun mematikan panggilan.
__ADS_1
"Paman Qian, berikan semua informasi terbaru tentang Chen Company padaku," ucap Ling. Chen Sin pun menoleh ke arah sumber suara.
Ia melihat pemuda tampan dengan rambut hitam dan mata hitam pekat. Para pelayan dnegan hormat memanggilnya 'Tuan Muda'.
"Bibi, aku sudah kembali," ucap Ling sambil meminum jus buah yang diberikan pelayan.
"Kau benar-benar keponakan kurang ajar! Kau bekerjasama dengan Zhuo Liam untuk menipuku saat itu? Apa kau ingin kuhukum?" Chen Sin langsung meluapkan emosinya. Sebenarnya bukan sepenuhnya emosi. Ia memukul pelan kepala Ling.
Ling tak menghindar. Ia tahu ia berhubungan baik dengan Chen Sin, sebelum Lu Yan datang dan merusak kedekatan mereka.
"Bibi tidak bertanya padaku. Jadi aku berbohong apa?" jawab Ling santai.
Chen Sin pun kembali memikirkannya. Ia memang tak pernah bertanya pada Ling. Walau dia melihat Ling di dalam mobil, tetap saja tak akan ada yang mengira bahwa itu adalah Ling.
"Kau benar-benar semakin berani. Kau ingin menyaingi Bibimu ini? Aku akan membawamu ke Asosiasi Ramuan setelah beberapa masalahku selesai," ucap Chen Sin.
Ling hanya tersenyum dan tak menjawab. Ia memikirkan perkataan Wuzhou sebelumnya. Ia juga yakin Wuzhou tak akan tinggal diam setelah ini.
"Paman, di mana Ibu?" tanya Ling yang tak melihat kehadiran Chen Lin.
"Baiklah nanti malam aku akan menjemputnya," ucap Ling. Ia naik dan masuk ke kamarnya.
Firasat Ling sepertinya tak salah. Ada suatu hal yang tak beres.
*
Ling sudah sampai disebuah hotel tempat jamuan bisnis Chen Lin. Dia sedang berdiri di samping mobil dan menunggu Chen Lin. Ia memakai satu earphone dan berbicara dengan seseorang di telepon.
"Tuan Muda Chen, tujuan Pegasus adalah Kota Urban. Namun ada orang dari Keluarga Lu yang menuntun mereka untuk menyerang Keluarga Chen. Aku sudah mengirim informasi tentang mereka padamu," ucap Yu Bin di telepon.
"Baik aku mengerti," jawab Ling. Ia melihat Chen Lin sudah berada di parkiran.
Saat itu, Chen Lin keluar bersama dengan beberapa wanita pebisnis lainnya. Kebanyakan dari mereka juga merupakan bangsawan. Topik yang dibicarakan juga tak jauh-jauh. Hanya memamerkan suami, kekayaan, kekuasaan, atau anak.
"Sebentar lagi ujian untuk mendapat undangan universitas akan dimulai. Anakku biasanya mendapat peringkat 100 besar. Aku sangat bangga padanya," ucap salah satu wanita.
__ADS_1
"Nyonya Chen, bagaimana dengan anakmu? Apakah dia sudah mendapat bimbingan belajar ekstra?" tanya seorang wanita lagi.
Chen Lin adalah wanita terpandang dalam bisnis. Ia selalu menunjukkan keanggunan wajahnya. Namun akhir-akhir ini ia banyak mendapat masalah. Perselingkuhan, perceraian, penghianatan, semua datang seolah ia bisa menanggung semua. Dia saat ini bisa tersenyum, walau palsu.
Saat ini, ia tak bisa menjawab. Ia tahu betul bagaimana nilai akademik Ling.
Di telepon, Yu Bin bertanya pada Ling apakah dia bersedia ikut menjalankan misi.
"Aku tidak bisa. Ada hal penting yang harus kuselesaikan," jawab Ling. Ia mengambil jaket Chen Lin dan berjalan ke arahnya.
"Aku harus ujian untuk mendapat undangan universitas," Ling lanjut bicara. Setelah itu ia mematikan panggilan dan menyimpan earphonenya.
Para wanita bangsawan itu berhenti bicara saat sosok pria jangkung merangkul bahu Chen Lin. Wajahnya tampan dan sangat menyenangkan untuk dipandang.
"Bu, jangan khawatir. Aku akan mendapatkan peringkat tinggi di ujian itu," ucap Ling.
Chen Lin terkejut saat ia melihat Ling. Rangkulannya sedikit menenangkannys. Ia bisa tersenyum sedikit tulus sekarang.
Para wanita itu melihat Ling memakaikan jaket kepada Chen Lin dengan lembut, seolah tak ingin angin menyentuh Chen Lin. Kemudian ia tak lupa berpamitan, "Selamat tinggal, Bibi."
Ling dan Chen Lin berjalan ke arah mobil. Para wanita baru saja meremehkan Ling. Namun saat melihatnya sekarang mereka malah terpikat.
Para wanita itu kembali bicara setelah mobil hitam Ling melesat pergi.
"Apakah itu benar Chen Ling? Jika aku punya anak setampan dan semanis dia, aku juga akan memanjakannya. Tak peduli walau nilai akademiknya jelek. Kau lihat cara dia memakaikan jaket pada Nyonya Chen? Wah dia sudah mencuri hatiku!" ucap seorang wanita yang tadi memamerkan peringkat 100 anaknya.
Para wanita lain yang mendengar ini mengangguk. Pesona Ling memang tak terbantahkan.
*
Di dalam mobil hitam.
"Kau ingin mendapat nilai tertinggi? Apa kau sudah menjadi penipu sekarang?" tanya Chen Lin pada Ling. Walau begitu, ia tetap merasa bahagia saat Ling melindunginya.
"Bu, tenanglah. Apa yang Ibu pikirkan? Apa Ibu pikir aku akan curang?" tanya Ling.
__ADS_1
Ia menatap lurus ke depan. Ia tak akan berkata-kata lebih jauh lagi. Ia akan membuktikan fakta.