Kelahiran Kembali Raja Legendaris

Kelahiran Kembali Raja Legendaris
Jangan Pernah Mengintaiku Lagi


__ADS_3

Di pagi hari, di kediaman Keluarga Chen.


"Apakah Ling belum bangun?" tanya Chen Lin terus menatap ke arah tangga. Wajahnya tak terlihat selelah sebelumnya. Masalah di Chen Company sudah mulai membaik dan beban pikiran Chen Lin sedikit berkurang.


Chen Qi menghela napas dan berkata, "Dia mengurung diri di kamar sejak pulang sekolah kemarin. Mungkin dia mendengar beberapa rumor tentang pembatalan pertunangannya, jadi dia sedih. Biarkan saja dia istirahat."


Rencana pembatalan pertunangan antara Keluarga Chen dan Keluarga Lu dengan cepat menyebar. Chen Qi tahu, Ling akan merasa sedih dengan hal ini. Apalagi dulu dia selalu mengatakan bahwa dia sangat mencintai Lu Yan.


"Kakek, Ibu," sapa Ling. Ia berjalan turun dari tangga dengan langkah malas. Rambutnya dibiarkan berantakan. Ia memakai jaket yang menutupi seragamnya.


Saat melihat ekspresi santai di wajahnya, ia sama sekali tak terlihat sedang bersedih.


Sebenarnya, Ling mengurung diri di kamar karena sibuk membuat ramuan, bukan untuk bersedih karena pertunangannya. Ia juga kurang tidur karena itu.


Kemudian dia berjalan ke arah meja makan. Ia mengeluarkan sesuatu dari tas dan memberikannya pada paman Qian.


"Paman, berikan ini pada Kakek Zhuo," ucapnya yang membuat paman Qian bingung.


"Kakek Zhuo? Kakek Zhuo yang mana?" tanya paman Qian.


Ling mengambil roti dan sekotak susu yang ada di meja. Dia tertawa kecil dan berkata, "Kakek Zhuo yang mana lagi? Tentu saja Kakeknya Liam."


Setelah mengatakan itu, ia pergi tanpa mempedulikan tatapan bingung orang yang ada di meja makan.


"Kakek Zhuo?" tanya Chen Qi heran. Ia saling tatap dengan Chen Lin. Mereka sangat tahu tentang Tuan Tua Zhuo yang pemarah. Sangat sulit untuk memiliki hubungan baik dengan mereka. Bahkan Keluarga Lu belum bisa mendekati mereka untuk mendapat dukungan.


"Sejak kapan mereka menjadi begitu dekat?" tanya Chen Qi semakin bingung.


*


Sekolah Menengah Guxian.


Ling sedang memakan rotinya saat sampai di sekolah. Ia sedang berjalan ke kelas. Saat itu, ia dihentikan oleh seorang wanita.


"Chen Ling," sapa wanita itu. Ia terlihat menunduk malu.


Ling melihat wanita di depannya dengan heran.

__ADS_1


"Ini untukmu," wanita itu menyodorkan sebuah pena hitam dengan hiasan kepala karakter game di atasnya.


Ling masih diam. Kini ia meminum susu setelah rotinya habis.


Wanita itu menjadi canggung saat Ling hanya diam. Dia memberanikan diri menatap Ling.


Ia sedikit membeku saat itu. Ia meneliti wajah Ling yang sangat halus. Walau tatapannya dingin, tapi fitur di wajahnya sangat menyenangkan untuk dilihat. Apalagi saat Ling meneguk susu, terasa menggairahkan.


Wanita itu menelan ludah.


Setelah menghabiskan susunya, Ling membuang itu ke tempat sampah sejauh lima meter darinya.


Puk!


Masuk tepat sasaran.


"Buang itu!" ucap Ling dingin.


"A-apa maksudmu? Apa yang harus kubuang?" tanya wanita itu gugup. Kini ia tak berani lagi menatap Ling.


Bagaimana Ling bisa tahu ia meletakkan kamera pengintai di kepala karakter game? Hanya ia yang tahu. Ia juga tidak pernah menunjukkan pena itu pada temannya.


Ling mengambil pena di tangan wanita itu kemudian menggenggamnya dengan satu tangan hingga patah. Ia menjatuhkan remahan pena tepat di depan wanita itu.


Ling mendekatkan mulutnya ke telinga wanita itu. Wanita itu semakin merinding. Dia dapat merasakan napas Ling yang dingin.


"Jangan pernah mengintaiku lagi. Jika kau masih berani mencobanya, nasibmu akan sama seperti pena itu," ucap Ling santai. Wajah wanita itu semakin suram. Ling menepuk dua kali bahunya sebelum benar-benar pergi ke kelas.


Saat dia sudah di depan pintu, suasana kelas terdengar berisik seperti biasa.


Yuan sedang bertengkar dengan seorang wanita. Wajahnya memerah karena ia sangat marah saat ini.


"Kembalikan kertas itu!" ucap Yuan ingin merebut kertas.


Wanita itu lebih tinggi dari Yuan. Jadi saat dia mengangkat tangannya ke atas, Yuan tak bisa meraih kertasnya.


"Kenapa? Apa aku tidak bisa membicarakan masalah pembatalan pertunangan itu?" tanya wanita itu semakin meninggikan kertasnya.

__ADS_1


"Wuzhou adalah siswa berbakat. Dia bahkan bisa bersaing dengan orang di Kota Bayangan. Bagaimana bisa dibandingkan dengan teman bodohmu itu?" ucap wanita itu dengan nada penuh ejekan.


"Kembalikan!" ucap Yuan. Dia mengabaikan wanita itu dan terus melompat untuk meraih kertas yang dia inginkan. Mereka bertengkar sengit.


"Pelajaran akan segera dimulai. Kalian harus literasi pagi. Harap diam!" ucap Su Wen Ai tegas. Ia berdiri dan menatap dingin seluruh murid di kelas, khususnya Yuan dan wanita yang bertengkar dengannya.


Su Wen Ai adalah asisten guru yang ditempatkan di kelas mereka. Dia adalah murid yang baik dan pintar. Dia sering masuk tiga besar atau sepuluh besar di sekolah. Karena itu, siswa lain akan mematuhinya.


Yuan segera terdiam dan duduk di kursinya. Ia melihat wanita itu memegang kertas dengan penuh kemenangan. Wanita itu tersenyum mengejek.


Tepat saat ia menghadap ke depan, sebuah sosok berdiri di hadapannya. Pria itu menarik kertas yang ada di tangannya.


Pada saat yang sama, Yuan berteriak, "Ling jangan lihat itu!"


Pria itu menunduk dan membaca isi di kertas.


Suasana kelas menjadi hening, karena mereka tahu isi dari kertas itu. Mereka semua menunggu reaksi Ling setelah membaca. Namun tidak ada yang berani bicara.


Ling mengerutkan kening saat membaca isi kertas itu. Kemudian dia tersenyum santai, tapi itu membuat semua orang bergetar ketakutan.


Sedangkan wanita yang tadi sombong saat bertengkar dengan Yuan, ia sudah diam membeku.


Brak!


Ling dengan akurat melemparkan tas ke mejanya yang berada di paling belakang. Setelah itu dia menatap tajam wanita di depannya.


Ling disebut sebagai pria bodoh karena tak mampu menjaga perjanjian pertunangannya. Namun, orang di depannya berbeda dengan rumor. Kehadirannya sangat mendominasi sehingga orang akan bergetar ketakutan.


Wanita itu menatap Ling ketakutan. Tatapannya yang tajam seperti bisa menusuk kulitnya. Apalagi saat Ling meletakkan tangan ke bahunya.


Ling mengubah tatapannya menjadi santai. Ia bertanya, "Jangan takut. Aku hanya ingin bertanya. Darimana kau mendapat kertas ini?"


Suaranya lembut, tapi wanita itu tambah bergetar. Ia menjawab, "I-ini adalah tema utama untuk wawancara. Ini sudah tersebar di mading sekolah."


Ling menarik tangannya. Ia berjalan dengan langkah malas ke mejanya. Kemudian ia mengeluarkan buku untuk mata pelajaran pertama.


Ling sudah biasa melakukan itu. Namun hanya Yuan yang tahu betapa menegangkannya berada di dekat Ling saat ini.

__ADS_1


__ADS_2