
Setelah mengambil uang, Liam dan Yuan meminta Ling untuk mentraktir makan. Mereka pun pergi ke gerai ayam yang ada di gang kecil yang pernah mereka datangi.
Ling dengan malas mengikut mereka di belakang. Sedangkan Liam dan Yuan sibuk berbincang di depan.
Namun tiba-tiba suara mereka terhenti.
"Su Wen Ai?" Yuan terkejut dan menjatuhkan tasnya.
Su Wen Ai terlihat sedang dikepung oleh banyak pria kekar.
Salah satu yang paling besar berkata, "Kau masih harus bekerja untuk beberapa bulan. Jika kau tidak ingin bekerja lagi, kau harus membayar seratus juta pada Tuan Yue di Kasino Kota Urban. Namun jika kau masih saja memberontak, siap-siap saja menerima mayat Su Jiang di depan rumahmu."
Setelah itu, ia pergi dengan anak buahnya.
Saat kerumunan itu menyebar, terlihat Sheng Man dan Su Wen Ai masih berdiri di sana. Ia menatap kaget dengan kehadiran Ling.
"Mengapa kau masih di sini?" tanya Liam.
Sheng Man segera berlutut. Ia berkata dengan nada penuh penyesalan, "Maaf, Tuan Muda. Aku tidak tahu jika Su Wen Ai adalah teman kalian. Aku bersumpah aku tidak pernah memerasnya."
Su Wen Ai yang melihat ini ikut terkejut. Tadi Sheng Man terlihat sangat sombong.
"Cukup," suara Ling mengintimidasi mereka. Ia berjalan lurus dan berhenti di samping Sheng Man. Ia membuka jaketnya dan melemparkan itu pada Su Wen Ai. Saat dia melakukan ini, Liam dan Yuan segera sadar jika pakaian yang dipakai Su Wen Ai sangat minim. Mereka segera mengalihkan pandangan.
"Mengapa orang di kasino mencari Su Wen Ai?" tanya Ling pada Sheng Man.
Suaranya santai, tapi Sheng Man bergetar hebat. Dia langsung saja berterus terang bahwa ayah Su Wen Ai adalah pecandu judi. Jadi dia berhutang pada kasino untuk tetap bisa bermain.
Karena dia tak bisa membayar, Su Wen Ai harus bekerja untuk melayani para pejudi untuk mencicil hutang.
Su Wen Ai mencengkram erat ujung jaket Ling. Ia hampir saja menangis saat itu. Ia tak mengira akan ada yang membantunya.
"Terimakasih," ucap Su Wen Ai membungkuk. Ia segera pergi meninggalkan mereka.
"Tunggu! Apa kau ingin pergi ke kasino? Kami akan ikut," ucap Yuan menghentikan Su Wen Ai.
"Walau kau sedikit sombong, teman dari temanku juga temanku," ucap Liam.
__ADS_1
Ling membeku mendengar perkataan Liam.
Dia juga teringat seorang pria yang wajahnya terlihat lebih tua dari umurnya datang ke kediaman Chen. Ia membawa satu kartu kredit dan beberapa makanan.
Keluarga Qi adalah orang biasa. Mereka harus bekerja lebih keras dari orang lain, tapi mereka mendapat hasil yang lebih sedikit. Ayah Yuan memberikan seluruh tabungannya untuk membantu Chen Company. Mereka tidak mengetahui apa pun tentang Keluarga Chen seperti Liam. Mereka terlihat tulus dan tidak memiliki motif apa pun.
Dulu, Ling lebih sering menggunakan kata 'rekan' daripada 'teman'.
"Ayo pergi," ucap Ling.
"Pergi kemana?" tanya Yuan sedikit linglung.
Bagaimanapun, ia tahu Ling sangat dingin dan tak peduli dengan masalah orang lain. Jadi dia tak akan menyangka jika Ling akan pergi ke kasino.
"Ke Kasino Kota Urban," ucap Ling. Ia mulai berjalan meninggalkan tiga orang yang membeku.
Kota Urban tidak sehebat Kota Bayangan. Namun apa yang ada di dalamnya sangat rumit sehingga kota ini tidak langsung berada di bawah kendali pemerintahan.
Kasino Internasional adalah dimana orang dari setiap negara bermain. Sementara Kasino Kota Urban adalah kasino yang paling nyata untuk membuat kesepakatan di negara ini.
Tidak ada yang tahu siapa bos di kasino itu. Sudah bertahun-tahun lamanya berdiri, tidak pernah ada masalah yang di dapat. Mereka tetap berdiri tegak di permukaan. Jadi beberapa orang menyimpulkan bahwa bos kasino ini memiliki kekuatan besar.
Mendengar itu, Su Wen Ai ingin maju. Namun Ling sudah lebih dulu melangkahkan kakinya. Ia mengambil kartu bintangnya di tas dan menunjukkan itu pada mereka.
Ekspresi para penjaga segera berubah saat melihat kartu itu. Mereka berkata dengan hormat, "Silahkan masuk tamu terhormat kami."
"Ling darimana kau mendapat kartu itu?" tanya Liam setelah mereka masuk ke kasino.
"Aku mencurinya dari orang lewat," jawab Ling santai.
Saat itu, suasana kasino sangat menyeramkan bagi mereka. Mereka sedikit berhati-hati ketika berjalan. Namun Ling tetap dengan sikap tenangnya.
"Su Wen Ai, Tuan Yue mencarimu," ucap seorang pria. Ia membawa Su Wen Ai pergi.
Saat Liam dan Yuan ingin menghentikan mereka, Ling menghentikannya.
"Apa yang akan kita lakukan?" tanya Liam. Dia mempercayai Ling yang menyuruh mereka berhenti.
__ADS_1
"Lebih baik mencaritahu tentang kasino ini," ucap Ling. Ia mengamati seluruh meja kasino. Ia melihat para pemain yang gila judi. Dia sesekali menghampiri untuk melihat lebih dekat. Jalannya penuh ketenangan.
Setelah selesai mengamati seluruh kasino, ia berkata, "Ayo kita cari Su Wen Ai."
*
Di lantai kedua kasino. Di sebuah ruangan yang sangat tertutup.
"Wen Ai selamatkan aku. Mereka ingin membunuhku," ucap Su Jiang memohon. Ia melihat Su Wen Ai seperti melihat malaikat penyelamat.
Su Wen Ai mengabaikan Su Jiang. Ia sudah mencengkram erat jaket Ling dan berjalan ke arah Tuan Yue.
"Tuan Yue, kau ingin aku melakukan apa baru membiarkan kami pergi?" tanya Su Wen Ai sedikit takut.
Saat mendengar ini, Tuan Yue membalikkan badannya. Ia tertawa terbahak-bahak. Saat ia melihat paha mulus Su Wen Ai, air liurnya hampir menetes.
"Mudah saja. Puaskan aku," jawabnya dengan penuh gairah.
Su Wen Ai bergetar. Rasa takut dan jijik bercampur menjadi satu. Dia dengan berani menjawab, "Tidak akan. Lebih baik kita berjudi."
Tuan Yue sedikit berpikir. Kemudian dia tersenyum menyeringai.
"Baik. Kita akan berjudi. Taruhannya nyawa Su Jiang dan tubuhmu," ucapnya tertawa terbahak-bahak diikuti oleh bawahannya.
Su Wen Ai semakin erat mencengkram jaket. Ia tidak pernah berjudi sebelumnya. Ia tidak tahu menahu tentang judi. Apalagi taruhannya begitu mengerikan. Selain kehilangan ayah, ia juga akan kehilangan kesuciannya.
Brak!
Saat itu pintu terbuka paksa. Seorang pria dengan seragam sekolah memasuki ruangan. Bawahan Tuan Yue segera terhempas keluar seolah ada yang melemparnya.
Tuan Yue mengangkat kepalanya dan melihat pria tampan itu. Saat melihatnya, keningnya mengerut.
Pria itu sedang memegang kerah manajernya. Ia mengangkat manajernya sampai tidak menyentuh lantai lagi. Dengan satu ayunan, dia melempar manajernya keluar.
Ruangan menjadi hening. Saat pria itu berjalan, langkah kakinya menggema di udara. Ia mendatangi Tuan Yue.
"Biarkan dia pergi," ucap Ling yang dimaksudkan pada Su Wen Ai dan Su Jiang.
__ADS_1
"Aku akan berjudi denganmu," lanjut Ling bicara. dengan tegas.