
"Apa katamu?" tanya Yu Bin terkejut.
"Kau tidak salah dengar. Pemilik akun itu adalah Tuan Muda Chen, Chen Ling. Pemuda yang selama ini dianggap sampah dan berubah menjadi jenius," jawab Yuan Ming.
"Jadi bisakah aku bertemu dengan A Shui sekarang? Aku ingin memastikan sesuatu," tanya Yuan Ming.
Yu Bin masih terhanyut dalam pikirannya.
"Ling X ... Chen Ling?" ia semakin bingung. Ia tidak menyangka nama mereka akan saling berkaitan.
Sosok cantik di sebelahnya juga membeku.
"Yuan Ming jangan bercanda denganku. Bagaimana bisa Chen Ling?" tanya Yu Bin masih tak menerima kenyataan.
Zhuo Xia meletakkan pistol yang dipegangnya. Ia berjalan ke arah Yu Bin dan mengambil ponselnya.
"Katakan dengan jelas," ucap Zhuo Xia dengan nada dingin.
Yu Bin hanya membeku melihat Zhuo Xia. Ia tak tahu apa yang dikatakan Yuan Ming pada Zhuo Xia di telepon. Namun Yu Bin merasa, aura dingin semakin menguat dari tubuh Zhuo Xia.
Setelah beberapa saat, Zhuo Xia mematikan telepon. Ia berkata pada Yu Bin, "Berikan aku kontrak untuk Chen Company."
"Dan bawa A Shui ke sini," lanjut Zhuo Xia. Ia melemparkan ponsel Yu Bin.
Setelah keluar ruangan, mobil hitam dengan logo burung phoenix berhenti di samping Zhuo Xia.
Mobil itu perlahan menuju ke jalan besar.
*
Ling, Liam, dan Yuan sudah berada di kediaman Zhuo. Rencananya Ling akan melatih mereka hari ini.
Tuan Tua Zhuo sudah menunggu mereka di gerbang.
"Aku akan mengirim bahan obat lagi ke kediaman Chen," ucap Tuan Tua Yu. Ia berdiri di depan Ling sekarang.
"Terimakasih Kakek Zhuo," ucap Ling tersenyum.
"Uangnya akan kutransfer ke rekening Liam," lanjutnya lagi.
Saat mendengar itu, Tuan Tua Zhuo mengangkat alisnya. Ia berkata, "Mengapa kau membayar untuk bahan obat?"
"Benar. Ini adalah hadiah dariku. Kau tidak perlu membayarnya," ucap Liam menambahkan.
"Anggap saja ini untuk hal lain," jawab Ling dengan tenang dan santai.
Melihat tekad di mata Ling, Tuan Tua Zhuo tak ingin memaksa lagi. Ia hanya mengucapkan, "Baiklah. Jika kau ..."
Namun sebelum dia menyelesaikan kata-katanya, mobil hitam berhenti di seberang jalan. Suara klaksonnya berdengung di udara. Mobil itu dihiasi dengan gambar burung phoenix.
__ADS_1
Ling membalikkan badan untuk melihat mobil itu.
Pintu mobil terbuka. Sosok wanita ramping turun dari mobil. Meskipun sinar matahari agak terik, tapi wajahnya terlihat seperti giok dingin. Dia menggunakan rok di atas lutut dan kemeja panjang. Dia juga membawa tas kecil yang senada dengan warna pakaiannya.
Dengan matahari menyinari dirinya, ia menatap empat orang di depannya. Wajahnya mulai terlihat jelas. Ling tiba-tiba berdiri tegak saat menatap mata wanita itu.
Mata mereka sama-sama hitam pekat.
Seperti tak terlihat ujungnya.
Zhuo Xia menyilangkan tangan. Ia berkata pada Ling, "Tuan Muda Chen, apakah kau memiliki waktu untuk bicara?"
"Tentu," jawab Ling singkat. Ia berbalik menatap Liam dan Yuan.
"Maaf, aku harus menunda latihan kita hari ini. Kita lanjutkan minggu depan saja," ucap Ling.
Liam dan Yuan hanya mengangguk setuju.
Zhuo Xia masih berdiri di samping mobil. Ia terdiam saat melihat Ling dengan santai berjalan ke arahnya.
"Ayo," ucap Ling. Ia membiarkan Zhuo Xia masuk mobil lebih dulu. Kemudian ia memasuki mobil dan meletakkan tasnya.
"Jalankan mobil," perintah Zhuo Xia pada sopir. Dengan segera, mobil hitam itu melebur bersama keramaian jalan.
*
Ling dan Zhuo Xia duduk berhadapan.
Ling dengan lahap memakan hidangan yang sudah disajikan. Sedangkan Zhuo Xia hanya memutar-mutar ponsel sambil melihat Ling makan.
Setelah beberapa saat, Ling meletakkan sumpit dan mengambil tisu untuk membersihkan mulutnya.
"Bolehkah aku tahu apa tujuanmu menemuiku?" tanya Ling.
Tangan Zhuo Xia membeku. Ia sudah berhenti memutar ponselnya. Ia mencoba menenangkan diri dan berkata dengan santai, "Untuk berterimakasih."
Ling mendorong kursinya ke belakang hingga terdengar suara melengking. Ia berjalan mendekati Zhuo Xia. Ia menundukkan kepala.
Kini jarak mereka sangat dekat hingga Zhuo Xia bisa merasakan napas Ling menghangatkan tubuhnya.
Ling membungkuk dan mengambil dokumen di tangan Zhuo Xia. Kemudian dia kembali ke kursinya untuk membaca dokumen tersebut.
"Kau ingin bekerjasama dengan Chen Company?" tanya Ling setelah selesai membaca dokumen.
"Ya, Chen Company adalah kandidat yang cocok untuk diajak bekerjasama. Lagipula itu akan membantu masa kritis kalian," jawab Zhuo Xia. Ia sudah meletakkan tangannya di atas meja.
"Chen Company dapat bertahan tanpa bantuanmu," ucap Ling sambil berdiri dari kursi.
"Aku tahu. Aku tidak meragukan kemampuanmu. Hanya saja ...," ucapan Zhuo Xia terpotong.
__ADS_1
"Baiklah," jawab Ling dengan tegas. Ia memasukkan dokumen itu ke tasnya.
Ketegasan Ling yang seperti ini mengejutkan Zhuo Xia.
Ling mengulurkan tangannya. Ia berkata, "Semoga kerjasama kita menyenangkan."
Zhuo Xia ikut berdiri dan menjabat tangannya. Tangan Ling terasa dingin.
Setelah itu, Ling melepas jabatan tangannya. Ia keluar restoran dan membawa tasnya di bahu. Zhuo Xia berdiri di depan pintu dan menatap kepergiannya.
Saat Ling tak terlihat lagi, pintu di sebelah ruangannya terbuka.
Sosok ramping dan feminim keluar dari ruangan itu. Mata hazelnya sedikit terhalang kacamata. Saat ia mengangkat kepala, mata hazel itu berkilau.
Zhuo Xia meliriknya.
"Kau telah melihatnya. Bagaimana menurutmu?" tanya Zhuo Xia.
A Shui menyentuh kacamatanya dan masih menatap ke ujung koridor. Ia tidak segera menjawab dan sepertinya Zhuo Xia juga tak memaksanya menjawab.
"Nona Zhuo, bagaimana?" tanya Yu Bin.
Zhuo Xia tak menjawab. Ia hanya melirik ke arah A Shui dengan posisi anggun dan elegan. Sepertinya A Shui belum mau menjawab pertanyaannya.
Karena melihat mereka sama-sama diam, Yu Bin bertanya hal lain.
"Oh ya, apa ada penemuan baru?" kali ini ia bertanya pada A Shui.
"Ketika aku menemukan Ling X, seluruh penelitian untuk Kota Bayangan ikut meledak bersamanya. Bom itu adalah buatannya sendiri. Ia pernah mengatakan padaku akan menggunakan itu, jika sewaktu-waktu ia kehilangan kendali," jawab A Shui. Ini adalah pertama kalinya mereka membicarakan hal rahasia di tempat umum selain markas.
Sekarang A Shui melirik Zhuo Xia.
"Nona Zhuo, aku akan membantumu selama sebulan. Aku harap Anda bisa memberikan jawaban yang memuaskan padaku," ucap A Shui.
"Dan orang yang tadi ...," A Shui memperdalam pandangannya. Meskipun ia telah melihat dengan matanya sendiri mayat Ling X dikubur, tapi saat melihat pria sebelumnya, ia merasakan getaran yang sama.
Mereka terlalu mirip.
"Siapa dia?" tanya A Shui pada Zhuo Xia. Mata hazelnya menatap lekat Zhuo Xia.
Zhuo Xia menyilangkan tangan. Ia menjawab dengan santai, "Chen Ling, tuan muda dari Keluarga Chen."
Saat mendengar jawaban ini, kilauan matanya meredup. Dia pun berbalik pergi. Sebelum itu ia melambaikan tangan hingga pita putih di tangannya ikut terayun.
Yu Bin menatap Zhuo Xia.
Ia kembali berpikir keras. Ling X dengan berani meledakkan penelitian Kota Bayangan. Ia pasti sangat hebat. Dan juga nama mereka mirip ... begitupun kepribadiannya.
"Periksa lagi latar belakang Chen Ling," ucap Zhuo Xia memberi perintah.
__ADS_1