
Kompetisi kedua tiba. Mereka akan berburu robot di hutan. Mereka tidak menggunakan anak panah runcing. Mereka hanya menempelkan anak panah tumpul dengan warna cat. Setelah itu, mereka bisa menyentuh sensor di robot untuk mengklaim kepemilikan mereka.
Kompetisi tetap dilakukan secara individu, tapi diharapkan dapat bekerjasama dengan baik dengan teman sekamar. Bagaimanapun ini adalah kompetisi persahabatan. Jadi tidak boleh menyebabkan perpecahan.
Ling dan taman sekamarnya memakai pakaian training biru. Mereka sudah memegang masing-masing panah berwarna biru di ujungnya.
Saat ini, Rektor Xiang tengah memberi pidato singkat. Kemudian ia membagi satu senior untuk mendampingi mereka. Senior untuk kamar Ling adalah sepupu Wei Yun, bernama Wei Zeyun.
"Kakak sepupu, kau benar ada di sini," ucap Wei Yun terlihat bahagia.
"Ya, Kakak Wei Lang yang menyuruhku. Kau jangan berbuat onar lagi," jawab Wei Zeyun.
Wajah Wei Yun kembali muram. Ia berkata dengan lesu, "Baiklah."
Wei Zeyun juga memakai pakaian training biru. Ia memegang panah berwarna biru. Ia adalah sosok wanita cantik. Rambutnya hitam pekat. Bulu matanya panjang dan wajahnya sangat ramah.
Ia adalah senior yang menarik perhatian semua juniornya. Tidak hanya cantik dan cerdas, ia juga tidak sombong. Tipe idaman, bukan?
Wei Zeyun mencuri pandang ke arah Ling. Ia sudah melihat kejadian kemarin, di mana Wei Lang terlihat akrab dengan Ling. Selain itu, ia juga ditugaskan untuk menjaga Ling agar hal tersebut tidak terjadi lagi. Ia juga ditugaskan untuk menjaga Wei Yun agar ia tak berbuat masalah dengan Ling.
"Kompetisi berburu, dimulai!" ucap Rektor Xiang.
Para mahasiswa segera berhamburan masuk ke hutan. Para senior memimpin jalan mereka agar tidak tersesat. Selain itu para senior juga diharapkan untuk menjaga para junior agar mereka tak saling menyerang.
"Ayo kita ke sana," ucap Wei Zeyun memimpin jalan. Mereka hanya berjalan kaki dan diberi perlengkapan pengamanan. Selain itu mereka juga dibekali sebotol air. Namun Ling tak mempedulikan itu. Ia memiliki banyak ramuan di kantung dimensinya.
Ling berjalan sambil menunduk. Sudah 30 menit mereka mengelilingi hutan, tetapi tak menemukan robot satupun. Yuan dam yang lainnya sudah mengeluh.
"Kak Zeyun, mengapa tidak ada robot? Apakah kita salah jalan?" tanya Wei Yun yang sudah ngos-ngosan. Ia sudah bolak-balik meminum air.
"Menurut peta, ini benar," jawab Wei Zeyun. Ia mengeluarkan peta yang sejak tadi ia sembunyikan. Ia tak ingin Ling dan teman-temannya mengetahui peta itu. Namun hal seperti ini terjadi. Mau tidak mau dia harus berdiskusi dengan mereka.
"Bukankah memang ini jalannya?" tanya Wei Zeyun pada Zhao Ran dan Wei Yun.
__ADS_1
"Hm benar," jawab Zhao Ran singkat.
"Kalau memang benar kita jalan saja," ucap Yuan menambahkan. Akhirnya mereka pun jalan.
Ling hanya diam dan mengikuti mereka di belakang. Sedari tadi ia tak berbicara. Yuan sama sekali tak curiga dengan hal ini. Karena ia tahu tadi malam Ling tidak tidur.
"Ada satu robot di sana!" teriak Wei Yun senang melihat robot berbentuk kelinci yang tersembunyi di rumput-rumput.
Ia langsung mengeluarkan panah dan menarik anak panah.
Task!
Target pertama mereka berhasil di dapat. Wei Yun dengan wajah sumringah langsung menghampiri robot kelinci itu.
"Lihat! Di sana ada juga!" teriak Yuan. Ia langsung mengambil anak panah dan membidik robot berbentuk kelinci juga. Setelah mengenai target, ia langsung mengambil kelinci itu.
Zhao Ran berputar. Ia melihat robot rusa tak jauh dari mereka. Dengan kegesitannya, ia langsung membidik robot rusa itu tepat sasaran. Padahal robot rusa itu berlari cepat.
Ling mengangkat kepalanya. Ia melihat Wei Yun tidak ada di tempat. Ia juga melihat Yuan tidak kembali. Saat Zhao Ran akan pergi, ia menarik tangannya.
"Pembunuh bayaran mengincarmu," itu adalah Zhuo Xia. Ia menyesal telat mengetahuinya. Untungnya Ling masih mengangkat panggilannya. Ia bisa sedikit bernapas lega.
"Aku akan segera tiba dengan pasukan. Aku sarankan jangan menggunakan bom, mereka akan membahayakan mahasiswa lain," ucap Zhuo Xia. Setelah itu sambungan telepon terputus tanpa ada jawaban dari Ling.
Ling sudah mengetahui pembunuh ini. Ia sejak tadi diam sambil melempar pisau kecil ke setiap pembunuh yang bersembunyi. Sama sekali tidak ada suara dan tidak ada kecurigaan. Setiap lemparannya juga tepat sasaran. Pembunuh itu langsung mati di tempat karena pisau menusuk di bagian vital mereka.
Ling sudah menjatuhkan hampir setengah dari jumlah pembunuh.
Dia diam-diam mematikan.
Ling menyiapkan pisau-pisau kecil ini untuk berjaga-jaga. Firasatnya tak pernah salah. Namun ia tak menyangka Keluarga Bo membalas dendam secepat ini.
"Ayo bersembunyi," ucap Ling. Ia tahu Zhao Ran memiliki latihan beladiri. Jadi ia pasti akan segera mengikuti perintah Ling. Ia juga tahu Wei Zeyun bisa beladiri. Jika tidak, tidak mungkin dia dipercaya oleh Wei Lang untuk menjaga Wei Yun.
__ADS_1
Mereka bersembunyi ke tempat yang sudah dipilih oleh Ling. Tempat ini aman dari pembunuh. Untuk saat ini Ling yakin mereka tidak akan membahayakan Wei Yun dan Yuan karena terget mereka bukan mereka.
"Sial! Kemana dia?" tanya pembunuh yang keluar dari persembunyiannya. Ia memakai pakaian serba hitam dan topeng kain hitam. Para pembunuh lainnya juga keluar. Saat ini Wei Yun dan Yuan sudah pingsan di tangan mereka. Mereka pasti dibius.
"Mereka tidak berguna! Tinggalkan saja. Mereka akan menggangu misi," ucap pembunuh yang tadi juga berbicara.
Mereka segera pergi dari tempat ini dan meninggalkan Wei Yun dan Yuan.
Setelah memastikan keadaan aman, Ling mendatangi mereka. Ia segera memeriksa nadi mereka. Untungnya mereka benar-benar hanya dibius dengan dosis rendah.
Ling mengambil jarum perak dan menusuk di salah satu bagian tubuh Yuan.
"Ahh ...," Yuan memegang kepalanya yang sakit. Ia merasa pusing.
Kini Ling berpindah ke Wei Yun. Ia juga melakukan hal yang sama seperti yang dilakukan ke Yuan.
Kali ini, Wei Zeyun sudah menutup mulutnya. Ia tahu Wei Yun sangat manja dan tak biasa mendapat rasa sakit.
"Uuuummmm ...," teriakan Wei Yun teredam.
"Ayo bawa mereka. Kita akan bersembunyi kembali," ucap Ling tetap tenang.
Yuan yang segera menyadari bahwa ada bahaya, ia segera paham situasi. Karena kepalanya masih pusing, ia dibopong Zhao Ran untuk berjalan. Sedangkan Wei Yun sudah diancam Wei Zeyun agar dia diam.
Walau tak mengerti apapun, Wei Yun tetap diam saat melihat wajah Ling yang sangat serius.
Mereka meninggalkan jalur ini.
Para pembunuh kembali ke tempat semula.
"Kemana dua orang tadi? Sial! Kita tertipu!" ucap pembunuh itu merasa marah.
"Bos, puluhan pembunuh lain sudah mati," lapor salah satu bawahannya.
__ADS_1
"Apa?!" pimpinan pembunuh itu semakin marah.