Kelahiran Kembali Raja Legendaris

Kelahiran Kembali Raja Legendaris
Lautan Darah


__ADS_3

Cahaya kerinduan terpancar jelas di mata A Shui. Ia menatap lekat pesan Raja, seolah ingin terus membacanya. Kemudian dia menarik napas dalam dan mengetik balasan.


A Shui mengecek forum. Ternyata, Raja tak mengirim pesan ke seluruh orang. Hanya dirinya saja yang mendapat pesan.


Jika Raja benar-benar masih hidup, dia pasti tak akan meninggalkan mereka sendiri. Jika Raja benar-benar masih hidup, dia pasti tak akan membiarkan Pulau Yang Tak Boleh Disebut Namanya kacau.


Namun, Raja tak kembali meski ia masih hidup. A Shui berpikir, tak mungkin dia lari dari tanggungjawab. Ia pasti mendapat masalah yang belum dia selesaikan.


A Shui tak mendapat balasan. Ia menarik napas kecewa.


Dia kembali membuka forum. Ia mengetik sesuatu di sana.


[Maaf, aku pergi terlalu lama. Aku berterimakasih kalian masih setia pada Raja. Aku yakin Raja kita tak akan meninggalkan kita begitu saja.]


Ia menyematkan postingan itu.


Setelah lima menit memposting, ia tak mendapat komentar apa pun. Ia pun paham karena forum itu memang sudah lama tidak aktif dan hanya menyisakan beberapa ribu anggota. Ia meninggalkan forum dan menutup browser.


Saat ia pergi, baru masuk ratusan komentar. Yang paling banyak menuliskan hal ini.


[Kami percaya pada Raja!]


[Kami akan menunggu Raja!]


[Raja pasti kembali!]


*


Di lantai bawah.


A Shui menemui Yu Bin di ruang kerjanya. Ternyata ada Zhuo Xia juga di sana. Ia menatap punggung wanita itu. Ia kemudian teringat perkataan Zhuo Xia kemarin.


'Aku tidak tahu harus mempercayai siapa di Organisasi Tempur. Namun aku bisa mempercayaimu saat ini.'


Memikirkan ini, ekspresinya menjadi suram.


Zhou Xia memutar kursi dan menatap A Shui. Rambut panjangnya dikucir kuda sehingga memperlihatkan leher jenjangnya. Ia berkata, "Apa kau sudah mendapatkan informasinya?"


A Shui mengeluarkan satu flashdisk. Ia memberikan itu pada Zhuo Xia.

__ADS_1


Jari ramping Zhuo Xia menerima itu. Ia menyimpannya di tas kecil. Ia kembali berkata, "Apa kau yakin akan pulang ke Pulau Yang Tak Boleh Disebut Namanya dengan Profesor Luohai?"


"Kau ingin pulang? Aku dengar pulau itu sedang kacau?" tanya Yu Bin terkejut.


A Shui tersenyum tipis. Ia sudah membulatkan tekad. Apalagi saat Raja yang menyuruhnya pulang, ia pasti tak akan ragu. Ia membenarkan kacamatanya dan berkata, "Ya, karena pulau itu kacau jadi aku akan pulang."


"Baiklah. Tim Area A akan mengawal kalian," ucap Zhuo Xia santai.


Kemudian ia keluar dari ruangan.


*


Hari minggu pagi.


Ling bangun cukup siang tak sepagi biasanya. Ia ingin memulihkan kekuatan dan menenangkan pikiran. Pulang jogging tadi, ia kembali tidur.


Ia segera mandi dan membersihkan diri. Ia juga memasukkan ramuan yang memiliki efek penenang. Masalah akhir-akhir ini begitu rumit.


Setelah itu, Ling berpakaian dan duduk di depan komputer. Ia membuka situs web khusus Pulau Yang Tak Boleh Disebut Namanya.


Ia menerima satu pesan dan membukanya.


[Aku akan menunggu Raja pulang ke Pulau Yang Tak Boleh Disebut Namanya.]


Orang yang tak mengenalnya akan memanggilnya Ling X. Jika orang yang tahu namanya, akan dengan hormat memanggilnya Tuan Chen.


Namun hanya orang yang ada di Pulau Yang Tak Boleh Disebut Namanya, yang mempercayainya, yang memanggilnya Raja.


Ia membaca forum dan melihat postingan yang disematkan oleh A Shui. Ia juga membaca komentar-komentar di sana.


[Kami percaya pada Raja!]


[Kami akan menunggu Raja!]


[Raja pasti kembali!]


Ia tersenyum tipis. Namun seketika ekspresinya berubah lagi. Belum saatnya untuk muncul kembali. Kekuatannya masih jauh seperti yang dulu. Belum lagi masalah tentang Keluarga Chen.


Ia menutup browser dan meninggalkan komputer. Ia membuka pintu kamar.

__ADS_1


Saat itu, paman Qian sudah berdiri di depan pintu dengan memeluk seekor kucing berbulu oranye yang lebat. Kucing itu terlihat tenang.


Walau sekilas kucing itu terlihat menggemaskan, tapi tenaganya sangat kuat. Ia tak menyangka paman Qian dapat menangkapnya dan menenangkannya.


"Tuan Muda, apakah ini kucingmu?" tanya paman Qian mengelus kepala kucing itu.


"Ya, Paman. Chester, kau harus patuh pada paman Qian," ucap Ling ikut mengelus kepala kucing itu.


Chester adalah nama yang diberikan Ling pada kucing itu.


Di lantai bawah, Chen Lin dan Luo Feng sedang duduk di sofa. Ling melihat ini seperti de javu.


"Tandatangani ini," ucap Chen Lin dingin. Ia mendorong sebuah surat kepada Luo Feng.


Tanpa ragu lagi, Luo Feng menandatangani surat cerai itu. Ia sudah tak takut pada Keluarga Chen. Pendukungnya lebih kuat dan berasal dari Kota Bayangan. Apalagi Wuzhou sangat jenius. Ia bahkan menjadi murid Tuan Han.


Dengan beberapa goresan, ia selesai menandatangani surat itu.


"Luo Feng. Kau akan menyesal karena perbuatanmu hari ini. Jangan pikir kau melepas kami maka kau akan aman," ucap Ling dia sudah mencengkram kerah baju Luo Feng dan mengangkatnya.


Emosi terpancar jelas dari mata hitam Ling. Beberapa orang akan tidak tahu diri jika dibantu, bahkan ada yang melawan penolongnya. Luo Feng contohnya. Ia benar-benar tidak mentolerir orang yang tidak tahu berterimakasih. Orang seperti ini tak perlu dihormati.


Ia melempar keras Luo Feng bersama dengan surat cerai.


Ia berkata dengan tajam, "Jangan tunjukkan wajah Keluarga Lu-mu lagi di depan Ibu dan Kakekku."


Ling kembali ke kamarnya. Saat itulah Luo Feng baru bisa sadar dari keterkejutannya. Melihat Ling seperti tadi sangat mengerikan menurutnya.


"Ling! Kau akan memohon padaku suatu hari nanti!" teriak Luo Feng. Ia segera bangkit dan meninggalkan kediaman Chen.


Di dalam kediaman Chen.


"Aku lihat Luo Feng menjadi semakin berani. Ia banyak berubah," ucap Chen Qi melihat ke arah pintu keluar.


"Yang kudengar, dia memiliki dukungan kuat di belakangnya. Bahkan orang itu menjadikan Wuzhou sebagai murid," jawab Chen Lin. Ia bisa menghela napas lega karena perceraiannya sudah resmi.


Saat Ling masuk, ia mendengar perkataan Chen Lin. Ia segera menambahkan, "Ibu, Kakek. Aku sudah berjanji pada kalian akan membawa Keluarga Chen ke Kota Bayangan. Janjiku pasti kutepati."


Kalimatnya sangat tenang. Ia mengatakan itu dengan penuh percaya diri seolah Kota Bayangan adalah hal kecil baginya. Jika bukan karena auranya yang mendominasi, seseorang tak akan percaya sedikit pun padanya.

__ADS_1


Chen Qi masih menatap Ling. Ia tak menyangka Ling akan mengatakan hal ini lagi. Ia berkata dengan lirih, "Ling ...."


Ling berhenti di anak tangga pertama. Ia kemudian berbalik untuk menatap Chen Qi. Dia berkata dengan suara yang tegas dan dalam, "Kakek, saat raja hutan kembali ke singgasananya, hutan akan segera menjadi lautan darah."


__ADS_2