
"Apa Tuan Muda?" tetua ketujuh meragukan pendengarannya.
Namun, tidak ada cara lain sekarang, Tuan Tua sudah diambang kematian. Untuk menghubungi Asosiasi Dewa Ramuan juga sudah terlambat. Mereka harus mengantri lama. Tuan Tua harus segera diselamatkan. Jika tidak, Keluarga Bo akan runtuh. Tapi tetua pertama dan yang lainnya pasti tidak akan setuju jika Ling menyelamatkannya.
Tetua ketujuh berpikir sejenak. Kemudian ia berkata, "Baik, datanglah setengah jam lagi."
Setengah jam kemudian, Tuan Yao, Guru Cai, tetua pertama dan yang lainnya pergi mengunjungi Nyonya Bo. Hanya tetua ketujuh yang menjaga Tuan Tua.
"Tuan Muda, Tuan Tua ada di dalam," ucap tetua ketujuh membukakan pintu untuk Ling.
Karena itu adalah tetua ketujuh, penjaga di sana tak menghentikannya. Namun, saat melihat Ling, ia agak heran. Ia pun berbisik sesuatu kepada temannya.
Saat itu temannya segera pergi.
"Apa yang dikatakan dua ahli ramuan sebelumnya?" tanya Ling sambil berjalan menuju tempat tidur.
Ingatan tetua ketujuh sangat bagus. Ia mengatakan semua yang dikatakan Tuan Yao dan Guru Cai. Ling mengangguk mendengarkan jawabannya.
Ia mulai duduk dan memeriksa denyut nadi Tuan Tua.
"Pisau belati," tangan Ling menengadah ke Zhan Yu.
Zhan Yu segera memberikan pisau belati yang selalu siap di sakunya. Itu adalah senjata yang diberikan Ling padanya. Tapi, tetua ketujuh merasa itu bukan senjata biasa.
"Cangkir kosong," ucap Ling lagi.
Seolah pelayan, Bo Angling segera memberikannya.
Ling menyayat jari Tuan Tua Bo dan menampung darah ke cangkir hingga terisi setengah. Saat itu tetua ketujuh menyadari jika darahnya hampir hitam. Karena ia ingat ucapan dua ahli ramuan sebelumnya yang cocok dengan apa yang Ling lakukan, ia semakin mempercayai Ling.
Tiba-tiba, tetua pertama, Bo Yushen, dan yang lainnya kembali.
"Chen Ling, apa yang kau lakukan?!" melihat belati di tangan Ling dan darah yang terus menetes, Bo Yushen berteriak.
Ling menyimpan darah itu dan menatap Bo Yushen santai. Ia menjawab, "Persis seperti yang kau lihat."
Tetua ketujuh terkejut karena mereka tiba-tiba kembali, "Tuan Muda, jangan sembarangan! Tuan Muda Chen sedang menyelamatkan Tuan Tua!"
Saat melihat ekspresi Tuan Yao muram, tetua pertama tahu ada yang tidak beres. Ia berkata, "Tetua ketujuh, apa kau pikir ini mainan? Tuan Yao dan Tuan Cai telah merawat Tuan Tua. Kau membiarkan orang lain ikut campur? Apa kau ingin melihat Tuan Tua mati?"
Bo Angling segera membela Ling, "Kakak Chen bisa menyembuhkan Kakek!"
Bo Angling mencoba meminta tolong pada Bo Yushen. Mereka pernah berhubungan baik sebelumnya, "Kakak Yushen, tolong aku. Kakak Chen benar-benar bisa menyelamatkan Kakek!"
Bo Yushen mengabaikannya dan berkata, "Tuan Muda Chen, pergilah. Aku akan membujuk guruku agar mengabaikan masalah ini. Yang lainnya juga bubar! Tuan Muda Chen hanya main-main. Dia baru saja datang ke Keluarga Bo dan tak mengerti tentang Keluarga Bo."
Tetua ketujuh merasa bersalah karena ia lah yang membawa Ling ke sini. Ucapan Bo Yushen membuatnya sedikit marah.
"Bawa tetua ketujuh dan Tuan Muda Chen keluar!" perintah tetua pertama.
"Tuan, maafkan aku. Mereka tidak tahu aturan, jadi jangan terlalu diperhitungkan," ucap tetua pertama pada Tuan Yao dan Guru Cai.
Tuan Yao teringat sesuatu saat melihat Ling. Ia segera melirik Guru Cai.
Bo Yushen diam-diam tertawa dalam hati. Tuan Yao pernah bercerita padanya jika Guru Cai ini pemarah dan tak mudah ditebak. Apalagi kali ini Ling melakukan hal fatal, yaitu menyentuh pasien yang sudah dirawat oleh ahli ramuan.
__ADS_1
Bo Yushen segera berkata dengan tulus, "Guru Cai, maafkan aku. Tuan Muda kami tak bermaksud mengacaukan pengobatan yang telah Anda dan guruku lakukan."
Melihat Guru Cai tetap diam, tetua ketujuh panik. Padahal ia ingin mengenalkan mereka berdua pada Ling agar koneksi Ling lebih luas. Akibat kejadian ini, hal itu mustahil dilakukan.
Tetua ketujuh menarik tangan Ling dan berbisik, "Cepat minta maaf dengan tulus. Guru Cai ini sulit ditebak. Ia juga pemarah."
Namun, jawaban Guru Cai kali ini menggemparkan mereka semua.
"Kau benar-benar ikut campur? Aku pikir kau membiarkanku kesusahan kali ini. Kau membuatku malu untuk menemuimu," ucap Guru Cai menghela napas kasar.
"Apa Anda benar-benar malu? Jika begitu, mengapa Anda mengejarku sampai sini?" jawab Ling lembut.
"Dasar murid nakal!" ucap Guru Cai.
Ling menggoyangkan cangkir berisi darah itu. Ia berkata, "Namun, aku baru tahu. Ternyata dalam dunia ramuan memiliki aturan tak boleh menyentuh pasien orang lain. Jika begitu, aku tak akan melanjutkan. Cari aku jika Anda merasa aku sudah bisa ikut campur."
Setelah itu, Ling melangkah pergi.
Guru Cai tertegun dan segera memanggilnya, "Tunggu! Apa kau serius? Mengapa kau masih saja bercanda denganku? Aturan seperti itu memang ada di dunia ramuan, tapi kekuatanmu jelas berada jauh di atasku. Yang kuat dihormati di dunia ramuan. Aturan ini tak berlaku untukmu. Ini hanya aturan untuk para pemula!"
Orang-orang di sekitar mereka terdiam, terutama Tuan Yao. Ia yang paling tahu tentang aturan ini. Jika ada orang yang lebih kuat, maka aturan ini tak berlaku, tapi ... apakah Ling lebih kuat dari mereka?
Ling berhenti, "Jadi, aku bisa melanjutkannya sekarang?"
"Tentu saja," Guru Cai mengangguk. Ia percaya pada kemampuan Ling karena saat itu dialah yang menyembuhkan luka parahnya. Walau ia tidak tahu darimana iblis sepertinya berasal, tapi ia merasa itu adalah anugerah.
"Baik. Siapkan ruan ramuan dan laboratorium untukku. Pindahkan Tuan Tua," ucap Ling.
Namun, tak ada yang bergerak.
Tetua pertama segera tersadar. Ia segera pergi untuk mempersiapkannya.
Namun, saat ia sampai pintu, ia baru ingat. Ia berkata dengan malu, "Maaf, Tuan Muda, kami tidak memiliki laboratorium."
"Tak ada laboratorium?" Ling mengangguk mengerti, tapi ia tak bisa mendeteksi apa yang ada di dalam darah itu jika tidak ada laboratorium.
Ia pun memberi cangkir itu pada Zhan Yu dan menelepon Mei Mengyi.
"Raja?" Mei Mengyi sedikit terkejut.
Ling memasukkan satu tangan ke saku. Ia berjalan dan memberi perintah, "Siapkan ruangan kosong untukku. Seingatku Lingxi ada di sini. Cari dia. Dan untuk misimu selanjutnya, aku sudah mengirimkan pesan."
Kalimat pertama adalah perintah untuk tetua pertama. Kalimat kedua dan seterusnya adalah untuk Mei Mengyi.
"Tetua ketujuh ...," Ling berhenti dan menatapnya. Di bawah pantulan sinar matahari, wajah tampannya terlihat dingin.
Tetua ketujuh tercengang, "Ya, Tuan Muda."
"Pergi ke dermaga pulau. Ada dua jet tempur yang akan datang nanti. Anda hanya perlu membawa orang dan peralatan ke ruangan kosong yang disiapkan tetua pertama," Ling memasukkan kembali ponselnya.
"Baiklah. Tapi ... pulau kita memiliki pasukan udara. Jet tempur asing tak bisa masuk tanpa persetujuan," jawab tetua ketujuh.
Ling meliriknya, "Aku menyuruhmu pergi. Apa lagi yang Anda bicarakan?"
Tetua ketujuh tak berani menjawab lagi. Ia segera membawa beberapa orang bersamanya.
__ADS_1
Ling mulai memberi perintah. Satu persatu tetua dan penjaga mendapat giliran. Saat ini, belum ada yang menyadari jika Ling sudah mendominasi. Dia memiliki aura yang membuat orang tak bisa membantahnya.
"Chen Ling, apa kau butuh bantuanku?" tanya Guru Cai.
"Oh, tidak Guru. Takutnya Anda malah akan memukuliku nanti," jawab Ling.
"Tidak akan!" ucap Guru Cai bersungguh-sungguh.
"Baiklah. Setengah jam lagi tetua ketujuh akan kembali," Ling mengangguk.
Sementara itu, tetua pertama menyuruh beberapa orang menyiapkan ruangan kosong dan beberapa orang lagi memindahkan Tuan Tua.
Barulah saat itu tetua pertama menyadari mengapa ia mendengarkan perintah Ling.
"Kakak Chen, kau bisa menyembuhkan Kakek Bo, kan?" tanya Bo Angling menarik pakaian Ling.
Ling tersenyum padanya dan mengelus kepalanya, "Tentu saja. Aku berjanji akan membawakan Kakek Bo yang sehat padamu."
Bo Angling tersenyum. Ia tahu Ling selalu bisa membalik keadaan.
Lingxi belum sampai. Perlengkapan juga belum ada. Ling berdiri di depan pintu menunggu kehadiran Lingxi.
Bo Yushen dan yang lainnya berdiri di luar pintu. Bo Yushen memandang Ling dengan curiga. Ekspresinya muram saat melihat para tetua mendengarkan perintahnya.
Tak lama setelah itu, tetua ketujuh kembali bersama sekelompok orang.
"Tetua ketujuh, siapa mereka?" tanya tetua pertama. Ia merasa heran melihat orang-orang ini membawa barang yang mirip komputer.
Tetua ketujuh menghela napas berat, "Orang di depan itu adalah Dokter Lingxi. Kau mengenalnya, kan? Dia tokoh terkenal di dunia farmasi. Aku tidak tahu siapa di belakangnya, tapi dua jet yang dia bawa berhasil menembus pertahanan udara kita. Dengan kata lain, markas kita dapat disergap kapan saja oleh mereka."
"Bukankah kau bilang Tuan Muda Chen belum pernah naik jet tempur?" tanya tetua ketujuh kaget. Mengapa Ling bisa memiliki kenalan sekuat itu?
"Entahlah," tetua ketujuh menggeleng.
Saat ini, Lingxi menghampiri Ling, "Bos, aku membawa mereka. Ini adalah Tuan Muda Chen yang sejak lama ingin kalian temui. Baiklah segera pindahkan barang-barang itu."
"Oh, benar, Bos. Bisakah kami menonton di dalam?" tanya Lingxi tanpa malu-malu.
"Baik, tapi hanya dua orang saja yang bisa ikut denganmu. Jika terlalu banyak maka akan repot," jawab Ling mengangguk.
Para bawahan Lingxi telah mendengar tentang Ling darinya. Jadi, karena hanya dua orang yang diizinkan, mereka merekomendasikan dengan tulus.
Akhirnya, yang terpilih adalah seorang pria dan wanita.
Bawahan lainnya memandang iri mereka berdua.
Tetua ketujuh mulai sadar. Ia melihat orang-orang itu menyapa Tuan Yao. Mereka mengenal ahli ramuan itu? Dan mereka semua datang karena panggilan Ling? Siapa sebenarnya mereka?
"Siapa sebenarnya Tuan Muda Chen?" tanya tetua ketujuh.
"Tuan Muda Chen? Hm, bagaimana ya penjelasan yang cocok? Seorang ahli senjata api yang memiliki keterampilan medis luar biasa? Ah, ia sangat sulit didefinisikan. Baiklah aku harus menelepon temanku dulu. Kita bicara lagi nanti," jawab seseorang.
Setelah itu, ia mulai mencari sinyal di berbagai tempat. Setelah berhasil, ia memulai panggilan video. Bahkan ia masih bisa menghela napas, "Tetua Bo, sinyal di Pulau Bo kalian sangat buruk."
Yang lainnya tercengang dan sisanya merasa malu.
__ADS_1