
Di waktu yang bersamaan, di Bronze Company.
Cai Hao menatap dingin ke arah pamannya dan orang-orang yang ada di sana. Mereka mengadakan rapat dadakan hari ini.
"Kami sudah menasehatimu untuk tidak bekerjasama dengan perusahaan baru. Namun, kau bersikeras tetap melakukan itu. Sekarang apa yang terjadi? Chen Company sudah diledakkan dan diambil alih. Kita tidak hanya kehilangan saham, tapi juga setengah aset perusahaan. Dan kau masih berpikir untuk menghubungi mereka?" tanya Paman Cai Hao sambil menggelengkan kepala.
"Semua orang tahu jika Chen Company pasti menyinggung kekuatan besar. Tidak mudah bagi kita untuk masuk ke distrik B-1, jadi aku tidak ingin kau menghancurkannya. Kau sudah membuat Bronze Company kehilangan 500 juta. Cai Hao, kami dan direktur lain telah memutuskan untuk mencabut jabatanmu sebagai presdir," ucap Paman Cai Hao melanjutkan.
"Saat Chen Company jatuh, kalian malah bersikap seperti ini. Apa kalian lupa siapa yang membantu kalian sampai bisa masuk ke distrik B-1?" ucap Cai Hao sambil memandang rendah mereka.
"Mereka sudah hancur. Sulit bagi mereka untuk bangkit kembali. Cai Hao, lebih baik kau membuat pilihan yang bijak," ucap Paman Cai Hao yang juga mengejek dirinya.
"Baik. Aku akan melepas jabatanku sebagai presdir. Aku juga akan mengambil semua sahamku di Bronze Company. Kerjasama antara Bronze Company dan Chen Company selanjutnya tidak akan ada hubungannya dengan kalian," ucap Cai Hao dengan tegas. Ia berdiri dari duduknya.
Paman Cai Hao hampir tertawa keras. Jika itu dulu, mungkin ia akan keberatan.
"Siapa yang akan ikut denganku?" tanya Cai Hao menatap seluruh orang di ruangan itu.
Sebenarnya ia tak memiliki keraguan apa pun. Ia juga tak tahu di mana Yuan Ming sekarang. Namun, ia tidak akan pernah lupa apa saja masalah yang sudah dibahas antara Bronze Company dengan Chen Company.
Dunia luar juga menakutkan. Chen Company sudah akan setara dengan perusahaan besar lainnya karena mereka memasuki distrik A-1.
Namun, mereka dihancurkan dalam satu malam.
Berita ini mengguncang di Kota Bayangan. Namun, tidak ada seorangpun yang melaporkan hal ini, karena mereka tahu kekuatan apa yang menyerang Chen Company.
Tidak banyak yang berdiri saat Cai Hao bicara. Hanya ada beberapa orang. Hal inilah yang membuat Cai Hao tidak terlalu kecewa.
"Apa kalian yakin ingin ikut dengan Cai Hao? Chen Company sudah hilang. Proyek kerjasama juga ada di tangan mereka. Apa kalian yakin ingin melakukan ini?" tanya Paman Cai Hao yang terkejut saat melihat ada beberapa orang yang berdiri.
"Tuan Muda Cai benar. Saat itu Chen Company membantu perusahaan kita untuk masuk ke distrik B-1," ucap salah satu orang di belakang Cai Hao.
Ia menghela napas dan melanjutkan, "Perusahaan ini telah dibangun sejak lama oleh Tuan terdahulu. Jika dia yang memulai dari awal saja berhasil membuat perusahaan menjadi besar, bukankah kami yang masih memiliki beberapa harta bisa juga membuat perusahaan dari awal?"
"Kalian berlebihan. Apa kalian lupa prinsip bisnis? Kalian sudah bertahun-tahun bekerja dalam bisnis," ucap Paman Cai Hao tidak habis pikir.
Sedangkan Cai Hao hanya diam. Setelah melirik pamannya, ia keluar bersama orang-orang di belakangnya.
"Tuan Muda Cai, apa yang akan kita lakukan sekarang?" tanya salah satu orang di belakangnya.
Tempat tinggal mereka berada di menara di Bronze Company. Jika mereka pergi saat ini, mereka tidak tahu akan ke mana.
Cai Hao tidak menjawab. Dia membawa orang-orang itu pergi dengan mobil.
Ketika mereka melewati layar besar, ada Paman Cai Hao sedang melakukan wawancara.
__ADS_1
Hampir semua orang tahu jika Bronze Company melakukan kerjasama dengan Chen Company. Karena hal itu pula mereka mengalami pukulan besar. Sekarang Chen Company hancur, mereka juga akan hancur. Jadi, mereka memilih bertindak.
Dalam wawancara itu, Paman Cai Hao berbicara, "Chen Company? Aku bersumpah Bronze Company tidak ada hubungannya dengan mereka. Yang bekerjasama dengan mereka hanya keponakanku, Cai Hao. Sekarang dia sudah meninggalkan Bronze Company, jadi kami tidak memiliki hubungan apa pun dengan mereka."
Media juga bertanya mengapa mereka meninggalkan Chen Company pada saat seperti itu.
"Sebenarnya aku sudah merasa aneh dengan kerjasama ini. Chen Company baru saja setahun memasuki Kota Bayangan. Namun, mereka bisa langsung melesat ke distrik A-1. Aku curiga mereka berbuat hal lain di belakang. Sepertinya ada rahasia gelap yang mereka sembunyikan," jawab Paman Cai Hao sambil menghela napas.
"Aku sudah menasehatinya untuk berhenti bekerjasama, tapi dia sangat keras kepala. Namun, jika di masa depan dia mau mengakui kesalahannya, aku akan menerimanya kembali. Baiklah jangan bicarakan ini lagi. Lebih baik kita bicarakan antara kerjasama Bronze Company dengan luar negeri," ucap Paman Cai Hao.
"Tidak tahu malu!" ucap salah satu orang yang duduk di bagian depan mobil.
"Padahal dia yang paling bahagia saat tahu kita bekerjasama dengan Chen Company," ucap orang itu melanjutkan.
Sedangkan Cai Hao hanya diam karena ia sedang menerima telepon. Ia berbicara, "Yuan Ming? Kau masih hidup?"
"Kenapa aku harus mati?" tanya Yuan Ming heran. Saat ini ia berada di Pulau Yang Tak Boleh Disebut Namanya.
"Aku sudah melihat beritanya. Datanglah ke Pulau Yang Tak Boleh Disebut Namanya. Aku pindah ke sini tapi tidak memberitahumu," ucap Yuan Ming melanjutkan.
Cai Hao diam untuk waktu yang lama.
"Aku akan mengirim seseorang di gerbang. Kau bisa masuk nanti," ucap Yuan Ming langsung mematikan panggilan.
"Bagaimana kau menebaknya?" tanya Yuan Ming bingung. Ling sudah lama tidak mengurus masalah perusahaan. Selain itu ia juga selalu berada di Keluarga Bo.
"Tenang saja. Cai Hao akan baik-baik saja," ucap Ling.
"Untuk orang yang melanggar kontrak dengan Chen Company, aku akan mengurusnya," ucap Ling melanjutkan.
Kemudian ia berjalan pergi ke penjara di Kota Bayangan.
*
Wei Lang sedang mengurus para tahanan. Saat ini, ia berada di sel Lu Zhong.
"Apa dia sudah menghubungi Keluarga Lu?" tanya Ling pada Wei Lang.
"Dia tutup mulut. Bawahan lainnya juga tutup mulut," jawab Wei Lang. Ia memegang besi panas di tangannya.
"Berikan ponsel padanya dan suruh dia menelepon," ucap Ling lagi.
Dengan patuh, Wei Lang memberikan ponsel pada Lu Zhong. Namun, dengan segera Lu Zhong menepisnya.
Ponsel itu terhempas.
__ADS_1
"Aku tidak akan menelepon siapa pun. Kalian tidak akan mendapat apa pun karena menahan kami!" teriak Lu Zhong.
Ling hanya menyeringai. Ia berjongkok dan berkata tepat di depan wajah Lu Zhong, "Tidak apa kau tidak ingin ponsel itu. Jadi, kau ingin tangan kanan atau kiri?"
Lu Zhong tercengang. Ia tidak mengerti maksud Ling.
"Apa maksudmu?" tanya Lu Zhong gemetar. Pikirannya hanya mengarah ke satu hal.
Ling kemudian berdiri. Dengan satu kaki, ia menginjak kedua tangan Lu Zhong.
"Arrrgggghhhhhh ...," Lu Zhong berteriak kesakitan.
"Maksudku, kau ingin tangan kanan atau kiri?" ucap Ling mengulang pertanyaannya.
"Aku ... aku ...," Lu Zhong gelagapan. Ia merasakan sakit yang luar biasa di tangannya.
"Kanan ... kanan ... aku ingin tangan kanan ...," jawab Lu Zhong yang sudah tak bisa lagi menahan rasa sakit di tangannya.
Krak!
Krak!
Krak!
Ling menginjak tangan kiri Lu Zhong hingga tulang-tulangnya patah. Sekarang sel itu dipenuhi suara kesakitan Lu Zhong.
Namun Ling tidak peduli, ia kembali pergi untuk menyelesaikan masalah.
***
Oke, untuk hari ini hanya satu bab🙃
Bacain komen kalian buat mood author naik, mau balasin komen tapi belum bisa, jadi di baca dan like aja dulu🙃
Author mau juga kok up banyak, tapi apalah daya waktu belum mengizinkan🙃
Semoga kesibukan ini segera berkurang😬
Jadi bisa up teratur dan berinteraksi lagi dengan kalian di komen🤗
Stay safe, stay healthy, anyway thank u for always waiting me❤️
Terimakasih buat dukungan dan komentar positif kalian❤️
Semoga segala doa dan perbuatan baik kembali kepada kalian❤️
__ADS_1