
Di kamar Bo Minghao.
Bo Minghao yang sedang berbaring di kamar tiba-tiba pucat dan tubuhnya berwarna ungu. Ia terlihat seperti mayat. Ling membeku. Matanya yang hitam pekat dipenuhi hawa dingin.
"Tuan? Apa yang terjadi dengan Tuan?" tanya pimpinan tetua yang juga sangat terpukul saat melihat Bo Minghao.
Lin Guxi juga mengikuti dari belakang. Selama ini ia hanya mendengar informasi tentang Bo Minghao. Sekarang dia melihatnya sendiri. Ia tak menyangka jika keadaan Bo Minghao lebih buruk dari yang ia dengar. Karena itu ia sangat terkejut.
"Nona! Anda Nona Lingxi, kan? Bukankah Anda teman Tuan Muda kami? Tolong bantu dia," ucap pimpinan tetua sambil menatap Lingxi.
Lingxi tercengang. Apa ia berani menyebut dirinya sebagai dokter legendaris di depan Ling?
"Apa? Dia adalah Lingxi?" anggota Keluarga Bo yang lainnya tercengang. Mereka tahu Lingxi adalah teman Ling yang baru saja tiba. Namun, mereka tidak pernah menyangka jika dia adalah dokter nomor satu yang legendaris itu.
Kini mereka semakin merasa hormat dengan Ling.
"Tabib dari keluarga kami akan tiba besok pagi," ucap penjaga rahasia itu. Mereka juga berwajah muram. Mereka bisa ada karena Bo Minghao. Jika terjadi hal seperti ini pada Bo Minghao, mereka rasanya tidak ingin hidup lagi.
Lin Guxi memandang orang-orang itu. Ia berkata, "Salah satu anak buahku ahli ramuan. Ia berasal dari Akademi Dewa Ramuan. Jika kalian membutuhkannya, aku akan segera memanggilnya."
Lin Guxi langsung mengirim pesan pada anak buahnya.
"Apa? Akademi Dewa Ramuan? Terimakasih banyak Tuan Lin Guxi," ucap penjaga rahasia. Mereka tentu tahu seberapa hebat orang-orang di Akademi Dewa Ramuan itu. Keadaan Bo Minghao saat ini tidak baik. Dengan adanya ahli ramuan dari Akademi Dewa Ramuan, setidaknya mereka masih bisa mengulur waktu sebelum tabib dari keluarga utama datang.
Pimpinan tetua tidak terlalu terlihat khawatir. Ia lebih tenang dari yang lainnya.
Sedangkan saat ini Ling duduk di sebelah Bo Minghao. Ia melihat keadaan Bo Minghao dengan ekspresi muram. Saat yang lain melihatnya, ia sedang memasukkan jarum ke beberapa bagian di tubuh Bo Minghao.
Semua orang terkejut.
Kondisi Bo Minghao benar-benar parah. Sebelumnya ia pernah memiliki luka dalam. Saat ini seseorang malah menghancurkan energi dan tulang-tulangnya. Bahkan pembuluh darahnya juga pecah. Orang yang melakukan ini jelas sekali ingin Bo Minghao menderita.
"Tuan Muda, apa yang kau lakukan?" tanya penjaga rahasia itu terkejut saat melihat Ling dengan santai menusukkan jarum.
"Apa kau buta? Apa kau tidak lihat aku sedang menyelamatkan Ayahku?" tanya Ling. Ia masih dengan santai menusukkan jarum-jarum itu.
Menyelamatkan Ayahnya? Ia bilang menyelamatkan Bo Minghao? Bahkan Lin Guxi juga terkejut saat mendengar hal ini.
Kecuali pimpinan yang sudah sangat percaya pada Ling, ia terlihat lebih tenang.
__ADS_1
"Keselamatan Tuan Bo bukan lelucon," ucap penjaga rahasia itu. Ekspresi mereka berubah. Mati dan hidup Bo Minghao berkaitan dengan mereka. Jadi mereka tidak punya pilihan selain menjaganya dengan baik.
Seorang tabib dari Akademi Dewa Ramuan yang pernah mereka lihat, setidaknya semua rambutnya sudah memutih. Saat ini Ling masih begitu muda, jadi mereka tidak mempercayainya.
Saat mereka ingin menghentikan Ling, Zhuo Xia maju. Meski tatapannya hanya ke arah Ling, mereka tetap merinding saat mendengar suara Zhuo Xia.
"Jangan bergerak," ucap Zhuo Xia sambil mengeluarkan senjata cakar dari jarinya.
Ketika mereka melihat kembali, sebagian jarum perak Ling telah diambil. Ling telah mempelajari akupuntur dari liontin giok kunonya. Ia berbakat dan sekarang keahliannya sangat luar biasa. Bahkan seseorang yang tidak mengerti akupuntur akan melihat keajaiban pengobatannya.
Penjaga rahasia yang awalnya cemas, menjadi syok. Begitu pula dengan Lin Guxi dan tetua lainnya. Mereka langsung menegakkan tubuh untuk melihat lebih jelas.
Lin Guxi melirik Zhuo Xia yang hanya berekspresi datar. Ia seperti tak terlihat terkejut sama sekali. Tidak hanya Zhuo Xia, bahkan Lingxi juga terlihat biasa saja.
Setelah itu, tabib dari Akademi Dewa Ramuan datang.
Sekarang, para penjaga rahasia tahu jika Ling memiliki beberapa trik. Namun saat melihat tabib itu, mereka menepis pikiran mereka. Ia berkata, "Tuan Muda, tabib dari Akademi Dewa Ramuan telah datang. Tolong biarkan dia merawat Tuan Bo."
Lin Guxi melirik orang tua itu. Orang tua itu segera berkata dengan hormat, "Tuan Muda, biarkan aku membantumu."
Sebagai orang dari Akademi Dewa Ramuan, mereka biasanya selalu sombong. Namun tabib itu pernah mendengar nama Ling dan kehebatannya. Jadi ia tidak berani berbuat kurang ajar.
"Tuan Muda pasti belum pernah mendengar tentang Akademi Dewa Ramuan sebelumnya," ucap tabib itu sambil tersenyum.
Saat membicarakan ini, orang tua itu sedikit sombong sekarang. Ia menjelaskan, "Akademi Dewa Ramuan adalah akademi terbaik nomor satu di luar negeri. Akademi ini telah dibangun sejak ribuan tahun lalu. Semua murid di akademi ini mahir dalam membuat ramuan."
"Akademi terbaik nomor satu? Akademi Dewa Ramuan?" tanya Ling meremehkan. Ia menyimpan jarum-jarum peraknya.
"Benar sekali. Dia adalah penguasa Akademi Dewa Ramuan. Dia juga tamu di Keluarga Lin. Tuan Muda bisa memintanya untuk membantu memeriksa Tuan Bo. Mungkin itu akan membantu," ucap Lin Guxi yang mengira Ling tertarik dengan ini.
"Cih! Serahkan barangku," ucap Ling kepada Lingxi.
Lingxi mengeluarkan plakat kayu dari tasnya. Ia melemparkan itu pada Ling.
"Apa kau mengenal plakat ini?" tanya Ling sambil menunjukkan plakat kayu itu.
Orang itu melihat detail pola di atas plakat. Ia sangat terkejut.
"Jika kau adalah penguasa Akademi Dewa Ramuan, aku ini apa?" tanya Ling santai. Namun kata-katanya begitu menusuk.
__ADS_1
"Tabib, apa maksudnya ini?" tanya Lin Guxi. Ia sangat akrab dengan tabib ini. Ia juga tahu orang-orang dari Akademi Dewa Ramuan sangat sombong. Jadi saat melihat tabib itu diam, Lin Guxi sangat heran.
Karena Lin Tian, tabib itu selalu menghormati Lin Guxi, tapi sekarang dia mengabaikannya. Ia lebih memilih untuk melihat lebih jelas plakat kayu Ling. Orang di ruangan itu juga melihat Ling dan tabib itu dengan heran. Mereka saling bertukar pandang.
"Tabib?" panggil Lin Guxi. Karena melihat tabib itu mengabaikannya, ekspresinya berubah. Ia maju sedikit lebih dekat ke arah tabib itu.
Barulah saat itu tabib itu tersadar. Ia menangkupkan tangannya ke arah Ling. Kemudian ia berbalik ke arah Lin Guxi dan berkata, "Karena Tuan memiliki seorang ahli di sini, mengapa masih harus memanggilku?"
Setelah mengatakan itu, tabib itu pergi. Orang-orang yang melihat ini masih kebingungan. Apa maksud tabib tadi seorang ahli? Apa dia sedang membicarakan tentang Ling?
Saat ini, tabib itu benar-benar mengatakan jika Ling adalah seorang ahli?
Lin Guxi menatap Ling dan menyadari jika dia telah meletakkan jarum perak itu lagi. Namun sekarang, di ujung jarum itu terdapat sedikit cahaya redup. Saat ia ingin melihat lebih dekat, matanya malah bertemu dengan mata tajam Zhuo Xia.
Ia membelalak kaget.
*
"Apa Tuan Bo baik-baik saja?" tanya Bo Shin yang baru saja kembali ke Keluarga Bo.
"Tuan Muda dan Nona Zhuo masih ada di dalam. Sulit bagiku untuk menjelaskannya. Aku menyarankanmu untuk tetap berhubungan baik dnegan Tuan Muda di masa depan," jawab pimpinan tetua yang berdiri di depan pintu.
Bo Shin menyipitkan mata. Meski ia sudah mengetahui hal ini, ia tetap terkejut melihat sikap pimpinan tetua. Ia bertanya, "Tetua, apa aku tidak salah dengar?"
Pimpinan tetua hanya diam dan tidak menjawab.
Lin Guxi masih di sana. Ia melihat Lingxi sedang duduk di taman belakang. Para tetua di belakangnya berdiri dengan hormat. Selain itu, para penjaga rahasia juga mengelilinginya.
Lin Guxi selalu berpikir jika Ling memiliki ahli ramuan di belakangnya. Ia juga berpikir jika Bo Shin dan yang lainnya mengikutinya karena hal ini. Memikirkan ini sekarang, bagaimana bisa orang besar seperti Bo Shin dan Mei Mengyi begitu menghormati Ling?
Setelah beberapa waktu, dia pun memutuskan untuk kembali ke luar negeri. Ia mencari tabib yang tadi datang dan bertanya, "Tabib, apa sebenarnya plakat kayu yang ada di tangan Tuan Muda?"
"Tidak ada masalah dengan plakat itu. Apa kau tahu siapa orang nomor satu di Akademi Dewa Ramuan sekarang?" tanya tabib itu.
"Apakah Zhuo Xia?" tanya Lin Guxi.
"Zhuo Xia tidak pernah menonjolkan dirinya di luar negeri. Jika aku tadi tidak datang, aku juga tidak akan tahu jika sebenarnya dia berasal dari Kota Bayangan," jawab tabib itu.
Ia melanjutkan, "Zhuo Xia adalah penerus plakat phoenix. Sedangkan kita memiliki Zhuo Shiaonian sebagai penerus Akademi Dewa Ramuan. Ia juga seharusnya mewarisi plakat naga. Zhuo Xia satu-satunya orang yang diakui. Kini plakat phoenix sudah menunjukkan bentuknya. Namun apa kau sudah tahu bagaimana plakat naga itu? Itu sama persis seperti yang kulihat di buku dan milik Tuan Muda Chen."
__ADS_1