
Ketika Ling bangun, hari sudah lusa.
Saat Zhuo Ai mengetuk pintu untuk ketiga kalinya, barulah saat itu suara Ling terdengar.
Dengan hati-hati, Zhuo Ai mendorong pintu hingga terbuka. Ia melihat sosok berdiri di dekat jendela. Jendelanya terbuka dan sinar matahari menyinarinya. Orang itu mengenakan jaket hitam dan punggungnya menghadap ke arahnya. Dari pandangan belakang seperti ini, orang bisa merasakan aura dingin di tubuhnya.
Zhuo Ai meletakkan barang-barang di tangannya, "Tuan Muda Chen, Anda akhirnya bangun!"
Ling berbalik untuk melihat Zhuo Ai, "Ya, di mana Zhuo Xia?"
"Aku tidak tahu. Sepertinya dia sudah keluar," jawab Zhuo Ai.
Akhirnya ia bisa menghela napas lega dan tersenyum, "Tapi, untungnya dia keluar. Beberapa hari ini, dia membuat kami takut setengah mati. Dia bersikeras untuk membubarkan penjaga. Jika dia mengamuk, para tetua tidak bisa melakukan apa pun padanya. Jika Anda tidak segera bangun, orang-orang di sini pasti akan mati membeku."
"Oh, ngomong-ngomong mengapa Yuan dan yang lainnya tidak datang bersama Anda kali ini? Aku dengar dari Ketua Dai jika Kalian pergi ke Keluarga Bo bersama," tiba-tiba Zhuo Ai teringat masalah ini.
Ling duduk di kursi, "Apakah kau merindukan Yuan dan yang lainnya? Atau kau ingin bermain kartu dengan mereka?"
__ADS_1
Zhuo Ai melebarkan mata dan menegakkan punggungnya, "Main kartu? Aku bukan orang seperti itu!"
Ling hanya meliriknya dan tidak mempercayainya. Kemudian ia berkata, "Mereka akan segera datang."
Mata Zhuo Ai berbinar.
Ling tidak makan banyak dan hanya pergi ke ruang kerja Zhuo Xia. Dia tidak ada di sana, tetapi ada seorang lelaki tua berjanggut putih. Ketika ia mendengar suara, ia perlahan berbalik.
Ling juga berhenti dan menyipitkan matanya, "Itu kau ...."
Dia mengenal lelaki tua ini. Sebelumnya, mereka pernah bertemu beberapa kali. Ia adalah lelaki tua aneh yang ingin meramal nasibnya.
Lelaki tua itu mengambil labu kecil di pinggangnya dan duduk di kursi untuk minum. Rambutnya memang putih, tetapi wajahnya masih muda. Ia kelihatan agak misterius dan Ling sangat waspada.
"Jangan seperti ini. Apa kau tidak ingin tahu kemana Zhuo Xia pergi?" lelaki tua itu melirik Ling dan tersenyum.
Tangan Ling masih di pintu. Ia tetap terlihat tenang, "Apa kau akan memberitahuku?"
__ADS_1
"Tentu saja. Mungkin dia sudah dekat dengan kematian. Apakah kau tidak ingin menyelamatkannya?" lelaki tua itu menatap Ling dengan matanya yang cerah.
"Kau pikir aku akan mempercayaimu?" saat mendengar kata 'kematian', jantung Ling berdetak kencang. Namun, ia menganggap lelaki tua itu berbohong padanya. Menurut perkiraan Tuan Shangxuan, sekarang belum waktunya. Ling masih punya waktu untuk menyelamatkannya.
"Tidak masalah apakah kau percaya padaku atau tidak. Aku hanya memberitahumu apa yang aku tahu. Ini bukan pertama kalinya kau meninggal. Lebih tepatnya, ini yang kesembilan kalinya kau meninggal. Tentu saja, kau tidak akan mengingatnya. Namun, kau ingat kehidupanmu sebelumnya, kan? Apakah kau tahu mengapa kau dilahirkan kembali?" lelaki tua itu memandang Ling. Ekspresi wajahnya rumit, tidak dapat terbaca.
Ling terguncang ketika dia mendengar kata 'dilahirkan kembali'.
"Karena Zhuo Xia merusak takdir, tapi ia juga harus membayarnya dengan harga tertentu. Ia sudah membayarnya dengan sesuatu ...," lelaki tua itu menggelengkan kepalanya.
"Chen Ling, jika kau ingin menyelamatkannya, datanglah ke Keluarga Zhuo dan temukan lampu lentera itu. Kemudian, pergi ke altar dan nyalakan lampunya," jelas lelaki tua itu.
Ling terdiam sejenak dan menatapnya, "Itu saja?"
"Tidak hanya itu. Kau akan diberikan pilihan. Mereka berdua tidak pernah akur. Keluarga Wu juga mencari altar itu. Keluarga Wu ingin dunia hancur dan dibangun kembali. Sedangkan Zhuo Xia ingin kau dilahirkan kembali. Chen Ling, kau tidak punya banyak waktu lagi," jawab lelaki tua itu.
Kemudian, ia menuruni tangga. Zhuo Ai, Yuan, Liam, dan Su Wen Ai yang berada di ruang tamu seolah tidak melihatnya.
__ADS_1
Ling berdiri di tangga dan mengawasi kepergian lelaki tua itu. Ia menunduk dan melihat ponselnya yang masih menyala. Yuan mengirimnya pesan, menanyakan kapan dia pergi.
Ling hanya membaca pesan ini. Setelah beberapa saat, ia mematikan ponselnya. Ia melirik orang-orang di lantai bawah dan berbalik untuk memasuki ruangan.