
Kamar Ling.
Ling meletakkan kontrak ke atas meja. Ia duduk bersandar dengan santai sambil mengetukkan jarinya. Sesekali ia melirik kontrak itu.
"Zhuo Xia ...," gumam Ling.
Keluarga Zhuo.
Ia yakin tidak ada keluarga bangsawan seperti itu di Kota Bayangan. Namun Zhuo Xia yang dilihatnya pasti bukan orang biasa. Dan dia berasal dari Kota Bayangan.
Ia mencoba mencari informasi tentang Zhuo Xia. Ia mengetikkan nama itu di komputer.
Kemudian beberapa artikel yang tak ada hubungannya dengan Zhuo Xia muncul. Ia mencoba mencari lagi. Kali ini ia mengetik 'Keluarga Burung Phoenix'.
Lalu artikel yang tak berkaitan juga muncul.
Ling berhenti. Ia tahu hasilnya akan seperti ini. Informasi orang-orang penting di Kota Bayangan akan di sensor di internet. Misalnya jika orang lain mengetik 'Ling X' di browser, maka artikel yang tak berkaitan dengan itu akan muncul.
Namun baru kali ini ia lihat, bahkan tentang latar belakang keluarga juga di sensor.
Ia mengambil ponsel dan ingin mengetik pesan. Namun saat pesan siap dikirim, ia mematikan ponsel.
Dia menggenggam erat ponselnya. Kemudian turun ke bawah.
*
Di lantai bawah.
Lu Yan memasuki kediaman Chen. Ia masuk tanpa halangan apa pun. Ketika dia melihat paman Qian, ia berkata, "Di mana Presdir Chen?"
Paman Qian tersenyum hangat, tapi dari matanya terpancar aura dingin. Ia menjawab, "Nona Lu, Anda bisa ditangkap karena menerobos rumah orang lain."
"Menerobos? Apa Anda pikir Keluarga Chen masih mulia seperti dulu? Paman Qian, aku sudah pernah mengajakmu untuk bergabung di Lu Company. Anda bisa memiliki jabatan tinggi di sana," ucap Lu Yan memberi senyum mengejek.
"Silahkan pergi," ucap paman Qian. Ia menyuruh beberapa pelayan wanita untuk mengantarnya keluar.
Pelayan itu saling pandang. Mereka tahu kondisi Keluarga Chen saat ini. Meski mereka masih menghormati paman Qian, tapi mereka juga tidak berani mengusir Lu Yan.
Suasana saat itu hening. Kebetulan Chen Lin sedang ada urusan dan Chen Qi sedang berjalan-jalan sore.
Lu Yan tertawa meremehkan. Ia berkata, "Paman, bahkan para pelayan tahu harus berpihak pada siapa."
__ADS_1
Saat Lu Yan menyelesaikan ucapannya, suasana yang tadinya hening tiba-tiba mencengkam. Mereka tahu siapa yang bisa membuat suasana menjadi seperti ini. Jadi mereka reflek melihat sumber aura. Itu adalah Ling yang menuruni tangga.
"Apakah kalian tidak mendengar perintah paman Qian?" tanya Ling mengintimidasi. Ia menatap tajam ke arah Lu Yan.
Saat sampai di anak tangga terakhir, ia berhenti. Ia tak mengatakan apa pun lagi. Namun saat melihatnya, semua orang sangat ketakutan.
Beberapa hari terakhir, Ling memiliki posisi tinggi di rumah. Selain beberapa orang yang sudah mengetahui sejak lama tentang insiden rumput gruv, prestasinya di arena pelatihan membuat para pelayan di rumah memilih mematuhinya. Ia bisa dibandingkan dengan Chen Qi sekarang.
Setelah mendengar perintah Ling, para pelayan segera membawa Lu Yan keluar rumah. Lu Yan memberontak. Saat sampai di depan pintu, ia berhasil melepaskan diri.
"Cukup!" ucapnya kesal.
Ia merapikan gaunnya. Ia menatap mengejek ke arah Ling dan berkata, "Aku akan mengumumkan pemutusan pertunangan kita saat konferensi pers. Aku harap kau tidak menyesali keputusanmu saat itu!"
Lu Yan selalu berpikir Ling masih memiliki perasaan padanya karena Ling menyukainya sejak kecil. Perasaan yang sudah tumbuh sejak lama tidak akan hilang dengan mudah, kan?
"Sudah?" tanya Ling santai. Ia berjalan ke arah sofa. Kemudian mengirim pesan yang tadi sudah diketiknya.
"Mengapa kau masih di sana?" tanya Ling setelah duduk di sofa. Ia menyilangkan kaki dan tangannya. Ponselnya sudah ada di meja.
"Apa perlu aku yang turun tangan?" Ling menatap tajam para pelayan itu. Tanpa rasa ragu lagi, para pelayan menyeret Lu Yan keluar.
Setelah pelayan itu kembali, mereka segera menghadap Ling.
"Paman Qian, hitung gaji mereka bulan ini. Keluarga Chen tidak membutuhkan pelayan seperti mereka!" ucap Ling tegas.
Meskipun terlihat seperti menunjuk secara asal, tapi paman Qian tahu Ling menunjuk orang yang tadi tidak ingin mengusir Lu Yan.
"Baik! Aku akan pergi! Jika bukan karena gajiku bulan ini yang tertahan, aku akan pergi sejak dulu," ucap salah satu pelayan yang ditunjuk Ling.
"Apa kalian tidak akan pergi juga? Cepat ambil gaji kalian sebelum Keluarga Chen benar-benar hancur," ucap salah satu pelayan lagi. Ia melempar celemek begitu saja.
Setelah itu, banyak pelayan yang mundur dari Keluarga Chen.
"Tuan Muda, aku sudah mengurus Nyonya Chen sejak kecil. Aku akan tetap di sini," ucap seorang nenek tua.
"Ya, Tuan Muda. Tuan Tua Chen selalu baik padaku. Aku akan tetap di sini juga," ucap salah satu penjaga yang masih bertahan.
Ling berdiri. Ekspresinya menjadi sangat serius. Ia dengan tenang berkata, "Aku berterimakasih karena kalian tetap setia pada Keluarga Chen. Percayalah kalian tidak akan menyesal."
Dia memasukkan tangan ke saku dan mengangkat dagu. Semua orang yang melihat ini dapat merasakan kepercayaan dirinya.
__ADS_1
"Sudah saatnya Chen Company muncul," gumam Ling.
Ia tahu sudah tiba waktunya untuk melawan. Ia sudah menyingkirkan banyak pengkhianat, seperti Luo Feng, para pemegang saham, dan para pelayan tadi.
Di mata publik, Chen Company sudah berada di ujung tanduk. Mereka adalah perusahaan besar dan masih banyak proyek mereka yang tertunda. Jika ingin bangkit, mereka membutuhkan dana yang besar pula.
*
Di pagi hari. Hari dimana konferensi pers akan diadakan.
Beberapa pemegang saham yang masih tersisa berjalan lesu ke Chen Company. Mereka akan melakukan rapat pagi ini.
Kali ini bukan Chen Lin yang memimpin rapat karena ia sedang menghadiri konferensi pers. Chen Wu yang berada di depan. Ia melihat sudah lebih dari setengah pemegang saham yang mundur dari Chen Company.
"Tuan Chen, mengapa Anda mengadakan rapat pagi-pagi sekali?" tanya salah satu pemegang saham.
Chen Wu menatap pemegang saham yang tersisa. Walau mereka tahu Chen Company akan mengalami kehancuran, tapi mereka tetap bertahan.
Ada juga beberapa staff magang dan staff senior. Mereka yang masih bertahan kebanyakan karena setia pada Chen Qi. Ada juga yang merupakan penggemar berat Chen Sin.
Apapun alasan mereka, yang pasti mereka tetap bertahan sampai akhir.
Setelah melihat ini, ia jadi tahu niat Ling. Ia berusaha menyeleksi orang-orang yang dapat diandalkan untuk Chen Company.
"Bukan aku yang ingin menemui kalian," ucap Chen Wu setelah sekian lama.
"Jadi siapa?" tanya salah satu pemegang saham.
Belum sempat menjawab, Chen Wu menerima pesan dari Ling.
[Aku sudah di sini.]
Chen Wu segera bangkit. Matanya berbinar saat membaca pesan. Beberapa hari ini, ia telah melihat berita negatif yang beredar di internet. Itu sedikit menggoyahkan kepercayaannya pada Ling. Hampir saja dia mundur dari Chen Company. Bagaimanapun Ling hanya bocah kecil yang mengetahui salah satu rahasianya.
Namun saat membaca pesan ini, ia kembali yakin dengan keputusannya.
"Dia sudah tiba," jawab Chen Wu.
Saat itu pintu ruangan terbuka. Semua mata secara otomatis melihat ke arah pintu.
Sosok pria jangkung memasuki ruangan. Ia menggunakan seragam sekolah dan memakai tasnya.
__ADS_1
Dia melihat ke arah mereka. Dan mereka dapat merasakan secercah cahaya harapan dari matanya yang hitam pekat.