Kelahiran Kembali Raja Legendaris

Kelahiran Kembali Raja Legendaris
Membayar Hutang


__ADS_3

"Apa maksudmu Ling?" tanya Chen Lin berpura-pura tidak mengerti.


"Jangan membohongiku lagi, Bu. Keadaan kita sudah tidak seperti dulu," ucap Ling mendesak Chen Lin.


Chen Lin menghela napas. Ia menjawab, "Maaf, Ling. Aku tidak bisa memberitahumu hal ini. Aku sudah berjanji pada seseorang."


Ling mendesah pasrah. Ia mengecek ponselnya. Ia menerima balasan dari A Shui.


[Keluarga Chen di Pulau Yang Tak Boleh Disebut Namanya bergerak ingin mengambil alih Organisasi Tempur. Mereka menyiapkan banyak pasukan untuk menyerang. Namun rencana mereka tidak akan berlangsung sekarang. Sepertinya akan terjadi dalam beberapa bulan lagi.]


Ling mengerutkan dahi. Matanya menatap tidak suka. Ia tak membalas pesan A Shui.


"Aku akan memberitahumu jika masalah-masalah ini sudah selesai," ucap Chen Lin yang merasa bersalah.


"Baiklah, Ibu. Aku akan menunggu," ucap Ling.


Pandangannya beralih ke Bo Minghao.


"Apakah Keluarga Bo mengembangkan akademi ramuan?" tanya Ling pada Bo Minghao.


"Benar. Namun itu berhenti di tengah jalan," jawab Bo Minghao.


"Apakah itu juga menjadi bagian dari warisanku?" tanya Ling lagi untuk memastikan.


"Itu juga menjadi bagianmu. Aku memasukkan akademi ramuan hanya untuk wilayahnya, bukan akademinya," jawab Bo Minghao yang merasa sedikit bersalah karena memberi Ling akademi terbengkalai.


"Tidak apa. Aku akan mengembangkannya lagi," ucap Ling. Matanya sedikit berbinar.


"Kalau begitu, aku akan kembali ke asrama," ucap Ling melanjutkan. Dengan langkah ringan, ia keluar rumah Keluarga Bo. Ia pergi ke universitas dengan mobil Keluarga Bo.


*


Universitas Internasional Kota Bayangan mengadakan rapat tahunan. Mereka mengumpulkan seluruh mahasiswa di aula. Baik senior, maupun junior.


Setiap rapat tahunan akan dipilih satu orang untuk mewakili universitas untuk melakukan pertemuan ke luar negeri. Pertemuan itu dimaksudkan untuk menjalin hubungan baik dengan universitas lain. Namun biasanya hanya mahasiswa baru yang akan terpilih. Karena senior lainnya sudah mendapat giliran dari tahun sebelumnya.


Rombongan Ling duduk di bagian belakang. Mereka bermain game di ponsel. Mereka sama sekali tak mendengar apa yang dibicarakan oleh Rektor Xiang di depan.


"Cepat bunuh monster itu!" teriak Yuan heboh.

__ADS_1


"Ayo! Sedikit lagi!" ucap Liam yang juga tak kalah heboh seperti Yuan.


"Aahhhh ....," Yuan berteriak pasrah. Mereka kalah melawan boss.


"Susah sekali," ucap Liam. Ia merutuki dirinya sendiri.


"Sini," ucap Ling. Ia langsung merebut ponsel Liam.


Dalam game, akun Liam dan Yuan mulai bermain. Namun yang bermain akun Liam adalah Ling. Kali ini kebanyakan Ling yang membunuh monster di setiap ronde. Sedangkan Yuan hanya mengikuti di belakang.


Ling dengan mudah melewati setiap ronde. Ia bermain dengan satu tangan dan satu tangan lainnya dimasukkan ke saku. Setiap serangannya akurat. Yuan tak bisa mengimbanginya.


Ling pun dengan cepat melesat ke ronde terakhir.


"Ayo lawan boss ini!" seru Yuan bersemangat. Ia meregangkan jari-jarinya.


Boss mulai datang. Mereka bekerjasama untuk membunuh boss. Namun terlihat Ling mendominasi pertempuran ini. Ia menyerang dari atas, kanan, kiri, tanpa memberi ampun pada boss monster.


Bam!


Serangan terakhir Ling menjatuhkan boss itu dan mereka menang.


Ling melemparkan ponsel Liam.


"Dengarkan Rektor Xiang," ucap Ling dingin. Pandangannya kembali melihat ke depan.


Dua pria itu sedikit tertegun. Mereka pun menyimpan ponsel mereka dan menuruti perintah Ling.


Ling mengirim pesan pada Tuan Tua Zhuo. Ia meminta data perkembangan akademi ramuan yang ada di pulau pribadinya. Setelah itu, ia kembali memperhatikan Rektor Xiang.


Rektor Xiang sedang membicarakan kemajuan universitas selama bertahun-tahun. Ia juga menambahkan beberapa daftar mahasiswa berprestasi. Isi pidatonya kebanyakan tentang kelebihan dari universitas.


"Karena universitas kita selalu membangun hubungan baik dengan universitas lain, baik dalam negeri maupun luar negeri, jadi kita akan melakukan pemilihan untuk wakil ke luar negeri. Perwakilan harus memiliki wawasan luas. Selain itu, perwakilan harus memiliki bakat yang bisa ditunjukkan pada universitas lain," ucap Rektor Xiang panjang lebar.


"Apakah kalian memiliki rekomendasi?" tanya Rektor Xiang pada barisan mahasiswa baru.


"Rektor, aku mengusulkan Zhao Du. Dia sangat berbakat. Kami sudah sekamar dengannya beberapa bulan jadi kami tagu kemampuannya," ucap salah satu mahasiswa menjawab.


"Benar, Rektor. Zhao Du sangat berbakat. Dia pasti bisa menjadi perwakilan," ucap mahasiswa lain menyetujui.

__ADS_1


Ling melirik ke arah Zhao Du yang terlihat tersenyum bangga. Memang benar akhir-akhir ini Zhao Du terkenal di kalangan mahasiswa. Ia terkenal karena Keluarga Zhao mulai bangkit kembali.


Tiba-tiba Ling teringat sesuatu.


"Di mana Zhao Ran?" tanya Ling pada teman sekamarnya. Ia ingat ia belum benar-benar memastikan keamanan Keluarga Zhao.


"Ia tak pernah kembali sejak libur," jawab Wei Yun yang juga ada di sana.


"Ke mana dia?" tanya Ling lagi.


"Aku tidak tahu. Kak Wei Lang bilang, Keluarga Zhao sudah bukan bagian dari Keluarga Wei lagi. Jadi Zhao Ran tak pernah bersamaku lagi. Terakhir kali aku hanya melihat ia pergi dari rumahku," jawab Wei Yun. Ia tak pernah mencari masalah dengan Ling lagi. Ia benar-benar patuh pada Wei Lang.


"Baik," ucap Ling singkat. Namun aura di sekitarnya terasa dingin sekarang.


"Rektor, aku merekomendasikan Ling. Dia berada di tempat pertama. Dia sangat berbakat," ucap Yuan ikut berteriak.


Semua mata melihat ke arah Ling. Mereka tentu tidak akan lupa dengan hal ini. Ia memecahkan rekor sejarah dan juga menyelamatkan nyawa mereka.


"Apakah kalian setuju jika Chen Ling yang menjadi perwakilan?" tanya Rektor Xiang yang sejak tadi sudah menunggu pernyataan ini.


"Setuju!" teriak Liam, Yuan, Su Wen Ai, si kembar, dan Wei Yun secara bersamaan. Sedangkan mahasiswa lain masih diam. Mereka tahu bakat Ling, tapi selama kuliah berlangsung mereka tak pernah melihat Ling menonjolkan diri.


Kecuali saat siaran langsung di Keluarga Bo. Ia menghajar Bo Hongyun habis-habisan.


Ling tidak melakukan banyak hal. Namun setiap apa yang dia lakukan sangat berkesan.


"Baik. Chen Ling akan menjadi perwakilan dari Universitas Internasional Kota Bayangan. Beri tepuk tangan," ucap Rektor Xiang menggema di aula. Ling yang sejak tadi diam hanya bisa menghela napas pasrah.


Satu lagi tanggung jawab yang tak bisa ia tolak.


*


Keesokan harinya adalah hari keberangkatan Ling. Sebelum pergi, ia menemui Rektor Xiang terlebih dahulu.


"Bagaimana keadaan Anda?" tanya Ling.


"Aku merasa lebih baik," jawab Rektor Xiang sambil tersenyum penuh makna.


"Kau tidak ingin membayar hutangmu?" tanya Rektor Xiang. Ia menatap Ling penuh intimidasi.

__ADS_1


"Aku akan tetap hidup sampai aku kembali dari luar negeri," jawab Ling santai. Ia tak ingin menjelaskan apapun sekarang pada Rektor Xiang.


__ADS_2