Kelahiran Kembali Raja Legendaris

Kelahiran Kembali Raja Legendaris
Gunung yang Tertutupi Lapisan Salju


__ADS_3

Ling sudah mendapatkan lentera itu di ruang kerja Keluarga Zhuo. Lentera itu masih menyala di sudut ruangan. Memang masih bercahaya, tetapi cahayanya sangat lemah. Ada sumbu lampu di dalamnya yang sepertinya akan segera padam. Ia masih tidak tahu lentera apa ini, tapi ia tahu bahwa ini sangat penting bagi Zhuo Xia.


Ia tidak tahu seberapa banyak dia bisa mempercayai kata-kata lelaki tua berambut putih itu, tapi setidaknya, kelihatannya dia hanya bisa mempercayainya.


"Tuan Muda Chen? Tetua Bo ingin bertemu dengan Anda," ucap kepala pelayan dari luar dengan hati-hati.


Saat mendengar suara kepala pelayan, Ling tersentak sadar. Ia berbalik menatap kepala pelayan, "Aku akan pergi. Siapkan mobil untukku ke bandara dan belikan tiket ke Kota Urban. Oh, benar, berikan ini padanya."


Kemudian, Ling mengeluarkan sebuah botol dan kepala pelayan menerimanya. Kepala pelayan tidak bertanya apa alasannya dan hanya menerima botol itu begitu saja.


Ling juga menyuruh kepala pelayan untuk menyiapkan ponsel baru untuknya.


Dia sudah menjadi kepala pelayan Keluarga Zhuo selama bertahun-tahun. Ia tetap bisa berpikir ke depan. Ia mematuhi semua perintah Ling dan tidak mengatakan apa-apa. Ia tahu apa yang harus dikatakan dan apa yang tidak boleh dikatakan.


Setelah beberapa saat, Ling tidak memiliki perintah lain dan kepala pelayan berjalan keluar.


Di luar pintu, tetua Bo sudah menunggunya dengan cemas. Ketika melihat kepala pelayan keluar, ia segera bertanya, "Bagaimana? Apakah Tuan Muda Chen mau menemuiku?"


Kepala pelayan menggelengkan kepalanya dan memberikan botol itu kepada tetua Bo. Ia berkata, "Tidak. Ia hanya menyuruhku memberikan ini padamu."


Tetua Bo mengambil botol itu dan kembali ke Keluarga Bo dengan kecewa.


Ketika ia tiba di rumah, ahli ramuan segera menghampirinya dan bertanya, "Bagaimana? Apakah Tuan Muda Chen mau bertemu denganmu?"


"Tidak," tetua Bo menggeleng dan menghela napas.


Ia melanjutkan, "Harapanku terlalu besar. Saat itu, Tuan Muda sudah meninggalkan Keluarga Bo. Bagaimana ia masih mau bertemu dengan kita?"


Para tetua dan yang lainnya menunduk kecewa mendengar jawabannya. Salah satu dari mereka berkata dengan sedih, "Ini salah kita. Lembaga Penelitian dan Universitas Internasional Kota Bayangan juga tidak bisa berbuat apa-apa kali ini. Tuan Muda pun tidak mau menemui kita. Apakah Keluarga Bo kita akan hancur sekarang?"


Hanya ahli ramuan yang memperhatikan botol yang diletakkan tetua Bo di atas meja. Ketika ia melihat ramuan itu, matanya berbinar dan suaranya bergetar, "Tunggu ... ini ... ini adalah ramuan tingkat tinggi! Kita selamat! Kita selamat! Cepat, hubungi Universitas Internasional Kota Bayangan!"


Mereka dengan cepat menghubungi para peneliti dari Universitas Internasional Kota Bayangan.


*


Ling sudah mendapatkan tiket pesawat ke Kota Urban.


Sekarang musim dingin dan waktu liburan telah tiba. Saat ini, banyak orang yang bepergian. Kepala pelayan Keluarga Zhuo membawakannya tiket ini melalui orang dalam. Adapun alasan Ling tidak ingin menggunakan jet pribadi, kepala pelayan juga tidak menanyakan ini.


Ling berdiri di gerbang keberangkatan bandara dan melihat pesawat yang akan membawanya ke Kota Urban. Ia masih memegang boarding pass dan ingatannya menyelam ke masa lalu.


Dua tahun lalu, dia mengambil boarding pass dari Kota Urban ke Kota Bayangan dan menjadi mahasiswa di sini. Sekarang, dia kembali ke Kota Urban dari Kota Bayangan, dan ini adalah tempat yang sama.


Jika dia benar-benar ingin meninggalkan Pulau Yang Tak Boleh Disebut Namanya dan rekan-rekannya, dia akan mengganti identitasnya dan membeli tiket pesawat, lalu tiket kereta api ke tujuan akhir, tempat di mana dia dilahirkan kembali. Dia akan mengakhirinya dari sana.


"Itu Anda?" ketika ia naik pesawat, sekelompok pemuda di sampingnya tiba-tiba menunjuk ke arah Ling dengan heran.


"Raja Chen? Ini benar-benar Anda!" seru anak-anak muda itu.


Dia sudah lama tidak mendengar nama ini. Ling menghentikan langkahnya dan melihat ke arah suara itu. Itu sekelompok pria dan wanita muda. Orang yang berbicara adalah seorang gadis dengan wajah bulat, "Bisakah Anda memberi saya tanda tangan?"


Melihat Ling yang kelihatannya bingung, gadis berwajah bulat itu kembali berbicara dengan wajah memerah, "Aku adalah penggemar berat Anda di Universitas Internasional Kota Bayangan! Aku juga masuk dalam Squad Tempur Anda. Apakah Anda bisa memberiku tanda tangan?"


Tanda tangan? Squad Tempur? Ling masih mencoba mengingat.


Ia tiba-tiba teringat jika seseorang pernah membuat komik tentang aksinya di universitas yang mendapat peringkat pertama. Dari komik itu, namanya semakin populer.


Ling mengambil buku catatan gadis itu dan mulai tanda tangan.


"Squad Tempur adalah kelompok pendukung yang didirikan oleh penggemar pribadi Anda. Raja Chen, apakah Anda tahu? Komikus itu ingin Anda beraksi lagi! Dan kapan Anda akan mengunjungi Universitas Internasional Kota Bayangan?" gadis itu mengambil buku catatannya yang sudah ditandatangani dan menatap Ling penuh harap.


Kelompok pemuda itu yang mengenali Ling, juga langsung mengeluarkan topi atau pakaian mereka untuk ditandatangani oleh Ling.


Melihat mereka semua sudah selesai, Ling segera mengenakan topi bisbolnya dan menunduk.

__ADS_1


Kelompok anak muda itu segera mengerti dan memelankan suara mereka.


Ling tahu komik itu dari Yuan saat mereka mengobrol ringan di malam hari. Saat itu, Ling tidak terlalu memikirkannya, tetapi mengapa begitu banyak orang yang masih mengingatnya? Dan ada Squad Tempur?


Ling hanya bisa menghela napas dan tersenyum. Sekarang, ia merasa memiliki hutang pada para penggemar muda itu.


Ia menatap gadis berwajah bulat itu dan berkata, "Baiklah. Jika ada kesempatan, aku akan mampir ke Universitas Internasional Kota Bayangan."


"Baik, kami akan menunggumu," gadis berwajah bulat itu mengangguk dengan sungguh-sungguh.


Pemuda yang berdiri di sudut berteriak, "Raja Chen, Anda harus bahagia seumur hidup! Kami akan menunggu Anda!"


Saat pesawat akan berangkat, sekelompok anak muda itu tidak lagi membuat keributan. Bahkan mereka juga tidak meminta foto.


Ling duduk di pesawat dan memandang ke luar jendela. Ia memandang gedung-gedung yang terlihat semakin kecil.


Dua jam kemudian, pesawat mendarat. Ling melihat sekelompok anak muda itu lagi. Mereka tidak lagi mengganggunya dan hanya memberi isyarat dengan tangan.


Ling memperhatikan mereka pergi sebelum menurunkan topi bisbolnya. Akhirnya, ia naik bus yang menuju pinggiran kota.


Ling tidak tahu bahwa setelah dia pergi, sekelompok anak muda itu keluar lagi dan seorang gadis memfoto bagian belakang Ling. Ia mempostingnya ke media sosial.


Penggemar berat Raja Chen : [Pertemuan kebetulan dengan Raja kita! Ia mengatakan akan mampir ke Universitas Internasional Kota Bayangan. Kali ini, universitas harus menyiapkan yang terbaik untuk menyambutnya! Raja Chen, kami menunggu Anda kembali!]


Satu jam setelah itu diposting, para penggemar fanatiknya langsung menyadari jika itu adalah Raja Chen mereka. Seketika, postingan itu langsung di repost ratusan ribu kali.


Kebanyakan komentar mereka sama.


[Aku akan mengikuti jejakmu dan pergi ke Kota Urban, Kota Bayangan, Universitas Internasional Kota Bayangan, dan tempat-tempat yang pernah Anda singgahi. Raja Chen, kami akan menunggumu di sini.]


[Raja Chen, aku akan menunggumu di Universitas Internasional Kota Bayangan!]


*


Bus melaju selama setengah jam untuk mencapai tujuan Ling. Setelah turun, Ling berjalan kaki ke gunung tidak jauh dari sana.


Waktunya hampir habis. Ling tidak ragu lagi dan berjalan mendaki gunung. Tepat ketika dia sampai di tengah gunung, ponselnya berdering.


Itu adalah Tuan Tua Zhuo.


Ling tahu bahwa kepala pelayan mungkin tidak akan memberitahu A Shui dan tetua Bo, tetapi ia tidak dapat menyembunyikan ini dari satu orang, yaitu Tuan Tua Zhuo.


Ling mengangkat panggilannya dan mendengar suara cemas Tuan Tua Zhuo, "Ling, kau mengambil lentera itu? Di mana kau sekarang?"


Ling terus berjalan mendaki gunung. Suaranya sangat tenang, "Aku ada urusan."


"Kau ...," Tuan Tua Zhuo jelas terlihat marah.


"Tuan Tua, tenanglah. Aku bukan mengambil harta Keluarga Zhuo," jawab Ling tersenyum.


"Segera kembali!" ucap Tuan Tua Zhuo.


"Sebenarnya, Tuan Tua, apakah Anda tahu kegunaan lentera itu? Apa Anda benar-benar ingin Zhuo Xia mati?" Ling bertanya pelan.


Tuan Tua Zhuo sangat tercengang. Setelah beberapa saat diam, ia bertanya dengan suara agak serak, "Kau sudah tahu?"


Sebelumnya Ling tidak tahu, tetapi sekarang dia sangat yakin.


Namun, Ling tidak mengatakan ini dan hanya menjawab dengan tenang, "Tuan Tua, aku harap Anda tidak memberitahu siapa pun tentang ini. Jika ... Anda bertemu dengan Xia, sampaikan rasa terima kasihku padanya. Aku benar-benar tidak bisa mengatakan itu secara langsung di depannya. Tentu saja, aku juga berterima kasih pada Anda."


"Ling, jangan gegabah. Dengarkan aku ...," suara Tuan Tua Zhuo terdengar semakin serak.


Namun, Ling tidak membiarkannya melanjutkan. Dia hanya menutup telepon dan terus berjalan mendaki gunung.


Dibandingkan terakhir kali dia datang ke gunung, gunung ini telah banyak berubah. Dia masih ingat terakhir kali Yuan mengeluh bahwa tidak ada jalan atau kereta gantung di sini. Gunung ini sangat kuno sehingga tidak terlihat seperti zaman modern. Kali ini, sudah ada jalan setapak di gunung. Walau tidak ada kereta gantung, setidaknya itu jauh lebih baik daripada yang terakhir kali.

__ADS_1


Meskipun semuanya tidak banyak berubah bagi Ling.


Kota Urban jauh lebih dingin daripada Kota Bayangan. Gunung ini masih tertutupi oleh lapisan salju yang belum mencair. Ling menarik jaketnya dan tak bisa menahan diri agar tidak menggigil.


Kali ini, ia tahu jika kondisinya sangat berbeda dengan biasanya. Dulu, ia tidak akan pernah takut dingin. Namun, kali ini, walaupun dia sudah menggunakan jaket tebal, dia masih merasa sangat kedinginan.


Saat dia mencapai puncak, dia melihat sekelompok anak muda. Pemimpin kelompok itu sepertinya juga melihat Ling.


Wajah pemuda itu menunjukkan ekspresi terkejut dan bahagia, "Tuan Muda Chen?"


Ling memasukkan tangannya ke dalam saku berbulu dan menyipitkan mata ke arah pemimpin kelompok itu. Baru kemudian ia menyadari jika itu adalah seseorang yang ia kenal.


"Su Hua?" Ling agak ragu. Pada jarak ini ini, ia tidak bisa melihat wajahnya dengan jelas, tetapi suaranya agak familiar.


"Ya, ini aku, Tuan Muda Chen. Aku tidak menyangka Anda masih mengingatku," ucap Su Hua. Suaranya agak bergetar ketika dia mendengar kata-kata Ling.


Ling hanya mengangguk dan melirik ke pintu gerbang di belakangnya. Desa Keluarga Su memang telah banyak berubah. Pintu gerbangnya pasti baru saja direnovasi dan terlihat jauh lebih mewah dari sebelumnya.


"Apakah kepala suku ada di sini?" tanya Ling.


"Ya, Tuan Muda Chen, aku akan mengantarmu," jawab Su Hua. Ia buru-buru berjalan di depan, tidak berani membuang waktu Ling.


Dia pergi bersama Ling. Sedangkan ada beberapa orang di belakangnya yang tidak mengenal Ling. Mereka bertanya karena penasaran, "Siapa orang itu? Apakah dia bisa menemui kepala suku sesuka hati?"


Pemuda yang tadi berdiri di samping Su Hua mengalihkan pandangannya dari tempat Ling terakhir berdiri. Ia melirik orang yang bertanya dan menjawab dengan lembut, "Ia adalah orang yang sangat penting."


"Seberapa penting orang yang sangat penting itu?" tanya orang itu lagi.


Pemuda itu melihat ke bawah gunung, "Tanpa dia, mungkin suku kita sudah punah sekarang. Menurutmu, seberapa penting itu?"


Orang yang bertanya dan orang lainnya yang mendengar sangat terkejut. Mereka semakin penasaran dengan Ling.


*


Tadinya kepala suku sedang dalam pengasingan. Saat ia mendengar bahwa Ling akan datang, ia buru-buru keluar untuk menyambutnya. Ia adalah orang yang paling hormat padanya daripada orang lain.


Ling tidak banyak bicara padanya dan hanya berkata, "Kepala Su, aku ingin memasuki wilayah sakral keluarga Anda."


Kepala Su merasa terkejut sejenak. Namun, tentu saja dia tidak akan melarang Ling masuk. Tapi ia penasaran dengan satu hal, "Kenapa kalian semua pergi ke sana?"


Ling mengerutkan keningnya, "Siapa lagi yang pernah ke sini selain aku?"


"Nona Zhuo. Ia datang kemarin. Ia berkata ia ingin masuk dan mengambil sesuatu, tapi ia belum keluar sampai sekarang," jawab Kepala Su tersenyum.


Jantung Ling berdetak kencang.


Seperti yang diharapkan, tujuannya sudah benar, "Aku ingin masuk secepat mungkin."


"Tentu saja. Nona Zhuo masuk kemarin dan aku tidak tahu kapan ia akan keluar. Jadi, aku tidak menyegel wilayah itu. Anda bisa masuk ke sana kapan saja," jawab Kepala Su.


Ling mengangguk, "Baik kalau begitu. Ayo kita pergi."


Kepala Su tidak bertanya lebih jauh lagi dan hanya mengantar Ling.


Sebelum masuk, Ling memberikan ponselnya kepada kepala suku, "Jika Su Wen Ai dan yang lainnya datang, bantu aku memberikan ponsel ini pada mereka ketika Anda bertemu dengan mereka nanti."


Kepala Su mengangguk, "Baik. Aku pasti akan melakukannya."


Ling berhenti sejenak dan menambahkan, "Kembalilah sekarang dan suruh seluruh Keluarga Su bersiap untuk pindah. Su Wen Ai dan yang lainnya akan datang ke sini dalam waktu kurang dari setengah hari. Tinggalkan saja mereka. Mereka tahu apa yang harus dilakukan."


Kemudian, Ling masuk ke dalam gua.


Sementara itu, Kepala Su masih berdiri di sana dan memegang ponsel yang diberikan Ling padanya. Karena kata-kata terakhirnya, Kepala Su tertegun untuk waktu yang lama.


Langit sudah berubah menjadi abu-abu muda dan kepingan salju besar jatuh dari langit. Kepala Su melihat kepingan salju di atas kepalanya dan akhirnya mengerti.

__ADS_1


Musim panas yang panjang telah berakhir dan musim dingin akan datang.


__ADS_2