
Keesokan harinya, kebanyakan anggota Keluarga Zhao sudah sadar. Luka-luka mereka juga mulai pulih. Ini karena perawatan Lingxi dan Ling.
Para tetua Keluarga Bo sudah tidak menggangu Ling lagi. Bahkan pimpinan tetua yang awalnya sangat menolak, ia malah yang paling diam. Kini ia hanya bisa pasrah hidup dengan satu tangan.
Ling mengunjungi kamar Tuan Tua Zhao. Pria tua itu sudah sadar. Di sebelahnya, ada Zhao Ran yang sedang memberinya obat. Padahal jika dilihat dari luar, luka Zhao Ran sangat parah. Namun ia tetap bisa bergerak dan melakukan aktivitas.
"Chen Ling," ucap Tuan Tua Zhao dengan suara serak.
"Kakek, istirahat saja lebih dulu," ucap Ling menghampiri Tuan Tua Zhao.
"Terimakasih karena telah membantu keluargaku," ucap Tuan Tua Zhao. Ia sangat tulus saat mengatakan itu.
"Jangan terlalu sungkan," jawab Ling sambil tersenyum. Ia berjalan ke sebelah meja dan mulai meracik obat yang hampir habis.
"Chen Ling, aku ingin memberikanmu hadiah. Menurut saran Zhao Ran, ia ingin memberikanmu potongan kertas itu. Potongan kertas itu akan membahayakan kami sampai kapanpun. Lagipula itu akan lebih aman jika bersamamu," ucap Tuan Tua Zhao. Ia mengambil sebuah potongan kertas dari sarung tangan khusus.
"Sebenarnya tidak perlu, Kakek," ucap Ling sedikit ragu.
"Ambil saja. Aku tidak berharap kau mengumpulkannya. Namun jangan sampai ini jatuh ke tangan orang yang tidak tepat," ucap Tuan Tua Zhao meletakkan kertas itu di genggaman tangan Ling.
"Terimakasih, Kakek," ucap Ling. Ia menyimpan kertas itu ke dalam saku dimensinya.
Sekarang ia sudah mempunyai empat potongan kertas. Ia akan menggabungkannya nanti. Namun kertas-kertas ini berada di luar kendalinya. Ia tak pernah berencana untuk menyatukan potongan itu, tapi setiap potongan malah datang sendiri kepadanya. Belum lagi potongan kertas dari Rektor Xiang.
Jika memang potongan itu ada enam sesuai perkiraannya, maka ia hanya perlu mencari satu lagi. Karena sudah begini, lebih baik ia mengumpulkan semuanya. Ia juga menjadi penasaran sebenarnya apa yang terdapat dalam kertas itu.
Setelah beberapa saat berbincang, Ling keluar dari kamar.
Namun, saat ia membuka pintu, matanya menatap langsung sepasang mata yang tidak asing lagi. Sepasang mata ini sedikit menggoyahkan hatinya.
"Kau di sini?" tanya Zhuo Xia. Ia sedikit mendongakkan kepalanya karena sekarang Ling lebih tinggi darinya.
Sebenarnya Ling cukup terkejut karena melihat Zhuo Xia di sini. Namun ia segera menyembunyikannya. Ia melihat wajah Zhuo Xia sangat lelah. Sepertinya ia sudah lama tidak tertidur nyenyak.
"Mengapa kau di sini?" tanya Ling balik.
__ADS_1
"Kau akan ke mana?" tanya Zhuo Xia lagi alih-alih menjawab pertanyaan Ling. Ia menatap lama wajah tampan itu.
"Aku akan kembali ke asrama," ucap Ling cuek. Ia berjalan melewati Zhuo Xia dan turun ke bawah. Sedangkan Zhuo Xia masih diam dan menatap punggung belakang Ling.
Saat Zhuo Xia turun ke tangga, ia bertemu dengan Chen Lin.
"Zhuo Xia, ayo kita makan bersama," ucap Chen Lin sambil tersenyum ramah. Ia selalu senang saat melihat Zhuo Xia.
Apalagi Zhuo Xia, ia lebih merasa bahagia melihat ibu Ling sangat menerimanya. Ia menjawab, "Baik, Bibi."
Zhuo Xia menyusul Chen Lin dan duduk di meja makan. Sudah ada Bo Minghao di sana. Walau Bo Minghao tahu jika Zhuo Xia sangat menghormati Chen Lin, ia tetap tak berani bersikap biasa saja di depan Zhuo Xia. Ia lebih sopan dari biasanya.
"Tuan Besar, bagaimana dengan perjanjian pernikahan antara aku dan Tuan Muda dari Keluarga Bo?" tanya Zhuo Xia di sela-sela makan.
Bo Minghao hampir saja tersedak. Padahal seingatnya, Zhuo Xia sudah pernah menolak perjanjian ini. Namun bukan terkejut karena tidak suka, ia terkejut karena Zhuo Xia dengan sendirinya bertanya tentang hal ini.
"Tentu saja kalian bertunangan," jawab Bo Minghao terus terang.
Zhuo Xia menyembunyikan senyum tipisnya.
*
"Bagaimana si kembar selama aku pergi?" tanya Ling pada tiga orang temannya.
"Mereka masih sama saja," jawab Yuan.
"Hanya saja mereka jarang pulang ke kamar," lanjut Liam.
Su Wen Ai tak menjawab. Lagipula Yuan dan Liam sudah memberikan jawaban yang tepat. Di antara mereka, Su Wen Ai lah yang paling diam.
"Bagaimana keadaan Su Qiang?" tanya Ling yang melihat Su Wen Ai hanya diam.
"Aku baru saja meneleponnya kemarin. Dia baik-baik saja. Sekolahnya juga lancar," jawab Su Wen Ai apa adanya.
"Apa dia akan kuliah di sini juga?" tanya Ling.
__ADS_1
"Sepertinya tidak. Aku takut tidak bisa menjaganya," jawab Su Wen Ai sambil menghela napas pelan. Ia masih belum kembali ke kamarnya. Ia masih ada di asrama pria.
Saat mereka baru saja sampai, si kembar masuk. Namun raut wajah mereka sangat kaget saat melihat Ling kembali.
"Ling!" seru Shi Weiheng dan Shi Wenhua bersamaan.
"Ada apa?" tanya Ling tak peduli. Ia berbaring di kasur dan menopang kepalanya dengan tangan.
"Ada apa?" tanya Liam yang ikut menatap curiga ke arah mereka berdua.
"Tidak, tidak. Kami akan pergi dulu," ucap Weiheng buru-buru. Ia segera menarik tangan Wenhua.
Liam, Yuan, dan Su Wen Ai hanya menatap kepergian mereka.
"Mereka kenapa sih?" tanya Yuan sedikit kesal.
"Lebih baik kalian berlatih," ucap Ling sambil memejamkan mata.
"Dalam waktu dekat, aku akan membawa kalian ke suatu tempat," Ling melanjutkan. Ia menambah rasa penasaran tiga orang itu.
Saat beberapa lama menutup mata, Ling tersentak. Sontak, ia memegang kalung di lehernya. Ling segera bangkit dan menuju meja belajar.
Ia mengeluarkan buku kunonya dan potongan kertas. Ia mencoba menyambungkan potongan itu.
Semua percobaan sudah Ling lakukan. Ia menggabungkan empat potongan kertas, tapi setelah menggabungkannya beberapa kali, kertas itu tak juga terhubung.
"Apakah tidak hanya enam potongan?" gumam Ling. Ia tak punya gambaran tentang apa yang ada di kertas itu.
Jika itu peta, tidak ada petunjuk jalan. Jika itu lambang kuno, artinya itu hanya sebuah gambar. Ia tak tahu apa gunanya gambar itu.
Ling memilih membaca buku kuno. Namun sama saja, tidak ada gambar apapun di buku ini. Buku tebal ini hanya berisi kalimat-kalimat yang sedikit dimengerti oleh Ling.
Saat fokus membaca, ponselnya berbunyi. Ada satu pesan masuk dari A Shui.
[Chen Namgung bergerak. Ia ada di Pulau Yang Tak Boleh Disebut Namanya. Ia mengepung markas Organisasi Tempur.]
__ADS_1
Ling menggenggam erat ponselnya saat membaca pesan itu.
Ia menutup buku dan bangkit dari duduknya.