
"Jaga sikapmu, Karan!" pak Reynold membentak anaknya.
"Andai saja ayah tau semuanya, aku yakin ayah tidak akan menyuruhku untuk diam dan bersikap baik..."
"Jangan kamu dengarkan anakmu ini, kau lihat saja dia meninggalkan perusahaan seenaknya sendiri. Beruntung kita dapat menutupinya dengan sangat rapi..." kata nenek pak Karan.
"Betul yang nenekmu katakan, Karan! dimana akal sehatmu, hah? kau menghilang selama 2 bulan meninggalkan perusahaan. Dimana letak tanggung jawabmu sebagai seorang pemimpin?" pak Reynold geram.
"Kau lihat berapa ratus ribu orang yang menggantungkan hidupnya pada perusahaan kita? dimana otakmu? kau menimbulkan kegaduhan diperusahaan karena ulahmu itu, beruntung kita cepat bergetak dan meredam semua berita yang menyeruak ke permukaan!" lanjut pak Reynold.
"Anakmu ini hampir bertemu dengan malaikat maut, Yah! Seandainya saja aku tau dari dulu mungkin ibuku masih hidup sampai saat ini! dan semua itu akibat ulah dari nenek Gayatri yang terhormat! persekutuanmu dengan setan membuat nyawa ibuku melayang! kau dengar itu! kau bukan nenekku, kau manusia berhati IBLIS!"
"JAGA BICARAMU, KARAN PERKASA!" suara menggelegar keluar dari mulut pam Reynold yang nggak terima dengan ucapan anaknya.
"Aku memang tidak memiliki bukti apapun, tapi satu hal yang perlu ayah ketahui. Ibu meninggal karena memakai cincin terkutuk, cincin yang sengaja dibuat semirip mungkin dengan cincin peninggalan mendiang nenek Althea. Dan semua itu perbuatan dari nenek Gayatri. Cincin milik ibu ditukar dengan cincin yang didalamnya terdapat makhluk yang sangat mengerikan. Dia tidak sakit biasa, tapi dia sengaja dibuat sakit. Karena ibu anda tidak menyukai menantunya..."
"DIAM KAU ANAK JAHANAM!" kali ini nenek berdiri dan menunju pak Karan dengan tongkatnya. Dia berdiri tiba-tiba dan membuat aku kaget dan bersembunyi di balik lengan pak bos
"Apa itu benar, Bu? apa yang dikatakan Karan semuanya benar, Bu?" pak Reynold memandang ibunya.
"Kau mau-mau saja dibohongi oleh Karan! apa kau tidak percaya dengan ibumu sendiri, hah? ibu yang melahirkanmu!"
Pak Karan tepok jidat, eh tepok tangan.
Prokk.
Prokk.
Prokk.
Aku pun yang disampingnya agak bingung ya ini maap aje. Ini pak bos rada-rada konslet apa begimane dah!
Semua mata tertuju pada si bos yang tepuk tangan dengan muka sengaknya.
"Sshhh, untuk actingmu kali ini sangatbluar biasa, Nek! kau bisa membodohi ayahku berpuluh-puluh tahun," kata pak bos.
__ADS_1
Astaga, ada apa lagi ya ampun. Pak bos lagi kesurupan apa gimana sih ini, tolong panggilin pak ustad apa pak kiyai deh. Ini si bos ngomongnya ngalor ngidul nggak jelas.
"Membodohi apa? katakan yang jelas!" pak Reynold kayaknya udah makin sutres melihat perdebatan nenek dan cucu ini.
Pak bos mengeluarkan sebuah amplop berwarna putih dari dalam saku jasnya dan menaruhnya ke atas meja.
"Ayah bisa membacanya sendiri," kata pak bos dengan tenang.
"Kau tidak perlu..." ucapan nenek Gayatri dipotong langsung pak Reynold.
"Diamlah, Bu..."
Jangan ditanya, aku disini walaupun jadi patuh hidup tapi aku juga deg-degan saat pak Reynold ngambil dan ngebuka tuh amplop. Dan seketika raut wajahnya berubah.
Dan kertas itu direbut oleh nenek Gayatri, "Hasil test DNA?" lirh nenek dan matanya sukses melotot ke arah pak Karan. Beuuuh, horornya dapet banget tau nggak!
"Jangan percaya semua omong kosong ini, Reynold!"
"Ayah boleh cek ulang ke rumah sakit lain jika ayah ragu dengan apa yang tertulis di lembaran itu yang mengatakan hasil DNA antara ayah dan nenek, 100% TIDAK COCOK!" kata pak Karan.
Dan pak Karan mengeluarkan beberapa amplop lagi dari dalam saku jasnya.
"Kau ini benar-benar!" nenek Gayatri mendekat dan melayangkan tongkatnya akan memukul pak bos, tapi ternyata tangan pak Reynold menahan tangan ibunya.
"CUKUP, BU!"
Kali ini ini ada raut kecewa dari wajah pak Reynold.
"Aku tidak menyangka, ibu menyembunyikan hal ini..."
"Asal ayah tau, jika nenek Gayatri ini istri kedua dari mendiang kakek. Dan dia menikah dengan kakek tanpa sepengetahuan nenek yang merupakan ibu kandung dari ayah, Asri Kemuning. Beliau meninggal saat melahirkan ayah, setelah nenek Asri meninggal orang jahat ini mengubah semua dokumen dan mengaku bahwa ayah adalah anak kandungnya bersama dengan kakek Barata Perkasa. Dan asal ayah tau, semua saudara mendiang kakek di usir ke luar pulau setelah kakek Barata menghembuskan nafas terakhirnya..." jelas pak bos.
Ternyata konflik keluarganya serumit itu, sampai-sampai otak aku yang biasanya encer jadi lemot buat mencerna apa aja yang dia ucapkan. Nenek Gayatri mendadak terduduk.
"Kenapa, Nek? Nenek tidak menyangka aku akan membongkar rahasia ini? hah?" pak bos melepaskan tanganku dan berdiri dan menghampiri nenek tua dengan wajah yang udah pucet kayak orang yang lagi tipes.
__ADS_1
"Kalau ayah meragukan apa yang aku katakan, ayah bisa mengerahkan semua detektif terbaik di negeri ini untuk mencari tau kebenarannya. Karena tanpa sepengetahuan ayah, aku telah menyelidiki orang ini sudah lama. Dia begitu membenci ibuku, ya karena ibu adalah salah satu penghalang untuknya menguasai semua harta kakek. Ayah menolak perjodohan dengan wanita pilihan orang tamak ini dan memilih menikah dengan ibu, apalagi ayah memiliki aku sebagai satu-satunya penerus keluarga ini..."
Pak Reynold menatap orang yang selama ini ia anggap ibu dengan sorot mata yang tajam, aku bisa melihat kilatan amarah di mata pak Reynold.
"Jadi orang yang aku anggap ibu ternyata hanya iblis yang berwujud manusia?" ucap pak Reynold.
"Hahahahahahaha," nenek Gayatri tertawa.
Terakhir aku ketemu sama nih nenek nggam gini banget, maksudnya dia tetep nenek-nenek tapi hari ini aku ngeliat dia tuh lebih ringkih dari sebelumnya. Tuh pegang tongkat aja, dia gemeteran tangannya.
"Kenapa? kau marah padaku, hah? hahahahaha," nenek Gayatri menatap pak Reynold dengan tatapan yang aneh. Dan aku jadi merinding.
"Pak Karan...!" aku panggil pak bos, aku pengen pergi aja dari sini.
Pak Karan yang ngeliat aku kayak orang yang lagi ketakutan pun akhirnya nyamperin.
"Pak, saya mau pulang..." aku menrik-narik jas di lengan pak bos.
"Sebentar lagi,"
"Seandainya dulu kau tidak menikah dengan Ilena pasti anak kurangajar itu tidak akan lahir ke dunia, dan pasti rahasia ini akan tersimpan rapat selamanya. Aku memang bukan ibumu, tapi tidak bisa kau pungkiri, aku yang menjagamu bukan ibumu yang sudah terkubur dalam tanah itu!"
"Diam, kau!" pak Reynold membentak nenek Gayatri.
"Pak, saya mau pulang..." aku merengek lagi, tapi pak bos malah nyuekin.
"Akkh, uhukkkk!" wajah nenek Gayatri semakin pucat.
Dan ...
Tes....
Darah keluar dari hidungnya, seperti orang mimisan.
Aku yang melihat itu, bergerak cepat mengambil tisu dan mencoba membantu si nenek galak.
__ADS_1
Tapi ternyata...
...----------------...