
"Dia bukan manekin, dia ini manusia jangan main tarik-tarik begitu!" kata Ridho nggak terima, pacarnya dibekep-bekep. Kangmas pacarku, uhhh aku padamuuu.
Pak Karan malah ngelipet tangannya di depan dada, dia natap Ridho tajem. Sementara pak Karan muka juteknya, si Ridho nalah ngexekin muka aing
"Kamu nggak apa-apa, kan?" tanya Ridho.
"Nggak apa-apa, cuma napas tadi agak tersendat dikit,"
"Jangan berlebihan!" pak Karan protes.
"Pipi aku sakit tau," aku nunjuk pipi kanan.
"Mana? nggak merah kok," Ridho malah nguyel- nguyel pipiku, katanya biar nggak pegel.
"Kalung aku, Dho..." aku memelas.
"Kamu naronya gimana? tadi ngasih sama siapa?"
"Aku titipin sama pegawai yang namanya Wina. Dia pakai seragam pink..." Aku bersikukuh dengan jawabanku, karena emang aku dengan sadar nitipin kalung itu sama perempuan yang diklaim bukan pegawai di klinik kecantikan itu.
"Atau jangan-jangan Wina itu bukan manusia, Dho...?" aku mendadak merinding.
Baru juga Ridho mau mangap, buat ngejawab eh malah pak Karan main nyerobot aja.
"Cepat masuk ke mobil, masalah kalung itu nanti orang saya yang akan cari. Jadi tidak usah ribut dan tolong kondisikan hidung kamu supaya tidak perlu kembang kempis seperti itu!" kata adek sepupu yang bossy banget. Dia main narik aku ngekuah dari Ridho, tapi lagi-lagi mas pacar ngelepasin tangan pak Karan.
"Maaf, Pak. Kayaknya kita tidak ikut mobil Bapak. Kita mau pergi, kita ada acara sendiri. Iya kan, Va?" Ridho yang tadinya natap pak Karan sekarang natap aku dengan wajah yang ngah-ngoh kayak orang bego.
"Dia harus ikut, karena ... karena ayah saya ingin bertemu dengan keponakannya!" jawab pak Karan.
"Kamu ingat kan terakhir kali bertemu dengan ayahku, dia menyuruh kamu untuk datang ke rumah?" pak Karan sekarang ngomong sama aku.
Aku nengok ke Ridho sebentar dan kembali liat pak Karan. Bingung aing kalau kayak gini. Ya Allah, susahnya jadi orang cantik direbutin sana-sini. Semoga aku bisa tabah menghadapi cobaan ini, ya tuhan.
"Baik saya ikut..." kataku, pak Karan otomatis narik satu sudut bibirnya ke atas.
"Tapi sama Ridho juga," lanjutku, sambil nynjuk Ridho pakai dagu.
__ADS_1
Dan ya, senyum terbit dari kangmas. Muka masam yang sempat tercetak beberapa detik yang lalu, sekarang lenyap seketika.
"Ya sudah kalau begitu! cepat masuk!" pak Karan galak lagi.
Nggak kebayang istrinya nanti bakal gimana ngadepin suami model begini. Marah-marah bae, penasaran sama tekanan darah nih orang deh jadinya.
Aku nggak mau ada pertumpahan sirop cocopandan diantara kita, jadi ya udah aku ikut aja nih mantan bos yang juga saudara sepupu, dia maunya gimana. Tapi tetep, aku lebih sreg dan tenang kalau ada Ridho ya. Karena kalau berdua sama pak Karan aja, pasti ada aja kesialan yang menimpa diriku. Dan aku lagi capek kena sial mulu.
Ya udah seperti posisi sebelumnya, Ridho sama pak Karan duduk di depan dan aku duduk di kursi penumpang belakang. Dan dari kaca spion, aku ngerasa ada yang aneh. Kok aku ngeliat ada baju seragam pink yang kayaknya nempel di bajuku, maksudnya kayak ada seseorang yang emang duduk disebelah aku. Ih gimana sih jelasinnya!
"Dhoooooo..." suaraku nggeter.
"Udah tau, kamu diem aja... tenang, jangan panik!" jawab Ridho.
"Ada apa memang?" sekarang pak Karan yang kepo.
"Ada yang lagi numpang mobil Bapak yang super mewah ini," kata Ridho.
"Dhoooo..." aku panggil Ridho sembari ngeliat kaca spion yang masih terlihat ada lengan seseorang yang berbaju pink yang masih anteng disamping sini.
"Tenang, Va..."
"Dho, aku mau pindah depan aja..." aku lirih.
"Nggak mungkin, Va. Kamu bukan balita yang bisa aku pangku di depan sini..." jawab Ridho nggak kalah lirih.
"Sebentar lagi sampai. Kamu anteng saja disitu!" kata pak Karan.
Ini lagi satu, bukannya mobil berhenti terus aku ditolongin. Malah aku disuruh anteng coba. Aku nggak mau ngeliat spion. Soalnya aku nyoba ngelirik ke samping tuh nggak ada sosoknya, tapi kalau di spion tuh keliatan ini ada lengan orang di deket aku. Dan aku cuma bisa ngefreez kayak patung.
Yang bikin kesel daritadi pak Karan tuh bilangnya sebentar-sebentar bae. Tapi nih mobil nggak nyampe-nyampe. Please, jangan ngompol!
"Masih aman, Va" Ridho tiba-tiba bersuara.
"Kebetulan aku masih napas, walaupun susah payah!" aku agak ngegas dikit.
"Dia udah nggak ada kok, Va. Udah turun tadi di pengkolan..." kata Ridho.
__ADS_1
"Nggak usah ngadi-ngadi, nggak lucu!"
"Emang kamu nggak kerasa? dia udah beneran turun barusan," Ridho akhirnya nengok ke belakang.
Aku yang daritadi udah keringet dingin coba beraniin diri buat liat kaca spion. Dan beneran nggak ada. Aku sontak melihat ke samping kiri, dan ya emang nggak ada. Tapi tanganku nemuin sesuatu di jok mobil.
"Kalung?" aku mengernyit.
"Jadi dia yang kamu titipin kalung? kayaknya dia sengaja ikut buat balikin tuh kalung. Hantu juga ogah dituduh maling, Va..." kata Ridho, fia lalu ngadep ke depan lagi.
"Ck, siapa juga yang nuduh dia maling!" gumamku.
Aku ambil kalung itu dan bener ada inisial R, aku masukin di tas.
"Baik juga nih hantu, atau emang bener kata Ridho, kalau nih hantu nggak niat buat bawa kabur kalung punyaku..." ucapku dalam hati.
"Kita sudah sampai," kata pak Karan yang nggak memperdulikan percakapan aku sama Ridho.
Kita bertiga keluar saat mobil udah berhenti dengan sempurnahhh dan paripurnahh.
Ya udah nggak usah dijelasin lagi, rumahnya orang kaya mah udah pasti bagus dan estetik. Aku dan Ridho jalan dibelakang langkah tegap pak Karan.
Dalam hati sebenernya aku penasaran, kenapa pulang dari hutan aku masih diganggu makhluk goib. Aku pengen nanya sama Ridho tapi kayaknya sekarang bukan waktu yang tepat.
"Kenapa?" Ridho tiba-tiba nanya.
"Ada yang mau aku tanyain tapi nanti aja," ucapku berbisik.
"Oke," jawab Ridho singkat.
Dan pintu utama terbuka lebar untuk si ahli waris dari keluarga super kaya ini. Aku nggak silau dengan semua yang terpampang di depan mata, karena emang aku bukan cewek matre yang uget-uget kalau liat barang-barang mahal.
"Ayah dimana?" tanya pak Karan pada salah satu pelayan pria, yang sepertinya orang kepercayaan yang ada di rumah ini. Karena apa, karena nih pelayan bukan sembarang pelayan. Karena apa? pelayannya pakai jas di dalam rumah, rapi.
"Maaf, tapi Tua besar sedang berada di rumah nenek anda, Tuan..."
"Saya tidak punya nenek, nenek saya sudah meninggal!" kata pak Karan dengan tatapan menghunusnya.
__ADS_1
...----------------...