Mendadak Dikejar Setan

Mendadak Dikejar Setan
Kode Akses


__ADS_3

"Halo? kamu sudah sampai di apart?" tanya adek sepupu di telepon.


"Udah..." aku jalan lagi ke meja rias buat bersih-bersih muka. Oles-oles krim malam dan serum supaya besoknya muka bisa alus kayak ketek bayi.


"Baguslah kalau begitu. Makan dan istirahatlah," kata adek sepupu.


"Ya ... kamu juga," aku menutup telepon.


Aku udah nggak manggil Bapak lagi. Karena dia protes bae. Pernah waktu itu aku jalan, makan di resto. Terus aku bilang gini, 'Bapak mau pesen apa?' dan pelayan itu pun mengernyit dan naikin alis. Mungkin dikiranya aku simpenannya pak Karan. Soalnya kan dari umur jelas tuaan dia, dan dari segi tampilan pun lebih berkelas pak Karan, makanya dia ngelarang aku manggil dia Bapak, pak bos, pak Karan dan semacamnya, kecuali kalau lagi khilaf.


Hujan di luar awet banget, sama kayak luka di hati aku yang nggak berkesudahan. Wajah setan nebeng kembali terngiang, oh No! Bukan, tapi wajah orang yang dua tahun ini menghilang entah kemana.


Orang yang ninggalin aku gitu aja, orang yang dulu, argh aku nggak sanggup buat inget-inget lagi masa-masa absurd aku sama dia. Tapi kenapa? ketika hidupku mulai membaik, aku malah dihadapkan pada masa lalu yang pengen aku kubur dalem-dalem?


Aku masuk ke dalam selimut dan mulai merajut mimpi. Anggaplah pertuan malam ini cuma bunga mimpi yang besok bisa aku lupain.


.


.


.


Pagi harinya. Ada yang udah gratakan di apartemenku. Koceng garong atau apaan aku nggak paham, yang jelas aku masih ngantuk.


Untung kamar selalu aku kunci, jadi kalau ada setan dan sejenisnya aku tinggal buka jendela dan gedor unit sebelah lewat balkon.


Kebetulan yang tinggal di samping unitku ada cowok ganteng, nggak tau udah kawin apa belom. Pernah papasan satu kali doang sih di depan waktu dia masuk mau ke unitnya. Tapi tenang aja, aku mah bukan cewek kegatelan yang liat cowok bening langsung pecicilan dan main drama supaya bisa pedekate.


Sekali lagi ya, aku itu lagi nggak minat buat menjalin hubungan dengan siapapun. Aku belum siap buat terluka buat kesekian kalinya.


Tok!


Tok!


Tok!


Nah, loh. Kamarku diketok. Nggak bisa banget sih ya ngebiarin aku hidup dengan tenang dan sentosa. Nikmatin sisa waktu buat molor bentar.


Tok.

__ADS_1


Tok.


Tok.


"Ampuuuuun deh, aaahhh!" aku sibak selimutku dengan kasar.


Dengan kaki yang diseret males, aku buka nih pintu.


Ceklek!


Alisku naik satu, "Pak Karan?" lirihku.


"Cepat mandi, ini sudah jam 8 pagi!" katanya yang kemudian ngeloyor pergi.


Aku yang kaget langsung ngekorin dia yang jalan ke meja makan, "Eh, tunggu!"


"K-kenapa, Bapak bisa masuk ke unitku?" alu minta penjelasan


"Sekali lagi kamu panggil saya Bapak, saya colet muka kamu dengan selai ini!" ucap pak Karan nunjukin selai strawberry yang ada di tangannya.


"Ya, kenapa bisa. Kamu masuk kesini? hah?!" aku mendekat ke pak Karan yang mulai ngambil roti.


"Astagaaaa, kepala kamu semalam kebentur pohon atau habis jatuh dari tempat tidur?" pak Karan malah ngomong nggak jelas.


Aku mengangguk, "Ya, lalu?"


Pak Karan menghela napas, "Ya sudah,"


"Ya sudah bagaimana? bagaimana bisa kamu masuk kesini?"


"Aiiishhh, paswordmu terlalu mudah untuk diingat! otakku ini terlalu pintar hanya untuk mengingat pasword unitmu ini. Salahkan saja jarimu itu yang terlalu lambat ketika menekan kode akses!" kata pak Karan.


"Sudah terlalu siang untuk bicara hal yang tidak penting, sekarang kamu mandi! kita sarapan bersama!" kata pak Karan menggerakkan dagunya, nyuruh aku pergi.


Aku pun putar badan, balik kamar. Mau jam 8 kek jam 9 kek aku mah nggak begitu riqeuh kaya dulu. Ya kan aku bukan staf, ada Arlin yang bisa ngeback up perusahaan.


Hari ini aku siap dengan rok hitam dan blazer abu-abu. Rambut aku curly dikit, biar agak messy-messy gimana gitu. Tanganku nyamber tas merah yang katanya bikin dompet kejang-kejang. Aku nggak tau harganya, aku dapat ini dari siapaaaaa? betul, dari adek sepupu yang lagi baik hatinya.


Karena aku nggak begitu suka menghamburkan duit yang aku dapet dengan susah payah cuma buat beli barang beginian, tapi kata adek sepupu penampilanku harus diubah sedikit buat personal branding. Apa yang aku pakai, akan berpengaruh pada kepercayaan client pada perusahaan.

__ADS_1


Yang kayak gitu-gitu yang aku nggak ngerti. Tapi ya udah, aku manut aja. Selama itu demi kemajuan perusahaan, aku bakal lakuin.


Selesai beraiap, aku keluar dari kamar buat nyamperin pak Karan, eh Karan maksudnya. Lupa bae nih mulut nyebut 'Pak, Pak' mulu.


"Duduklah, aku baru saja mengeluarkan ini dari microwave!" ucap Karan menunjuk Lasagna yang dia beli dan sudah ditaruh diatas piring, ada roti selai juga di piring yang berbeda.


"Nggak ngantor? pagi-pagi udah kesini bikin aku shock tau, nggak?" ucapku.


"Kamu ditelfon susah sekali! kakiku sudah pegal menunggu diluar, jadi aku masuk saja!" ucapnya membela diri.


"Oh ya, nanti malam aku akan terbang ke Jerman untuk urusan bisnis. Kau mau ikut?" tanya adek sepupu.


Aku menggeleng, "Aku lagi males terbang, nanti sayapku rontok!"


Adek sepupu menjitak jidat nong-nongku dengan jari telunjuknya, "Memangnya kamu burung?"


"Aku bukan burung, aku bidadari yang nyasar dari langit!" ucapku nyengir.


"Aiiihh, jadi mau ikut tidak?" Karan kesal dengan jawabanku.


"Nggak, capek! duduk dipesawatnya kelamaan!" kataku.


"Ya sudah, tapi selama aku tidak ada jangan berbuat yang aneh-aneh," dia memperingatiku.


Astaga, aku udah kayak istri yang mau ditinggal suami pergi dinas. Pakai diancem nggak boleh aneh-aneh segala.


"Nggih, ndorooooo!" jawabku sambil mengatupkan kedua telapak tangan, persis kayak abdi dalem yang lagi ngadep rajanya.


Jam 9 kita baru selesai sarapan, awalnya dia nawarin buat nganter aku ke kantor. Tapi aku menolak, karena aku ntar bingung gimana baliknya kalau aku nggak bawa kendaraan sendiri. Ya udah, akhirnya kita bawa mobil sendiri-sendiri dan berpisah di basement apartemenku.


Aku cuma butuh waktu 45 menit buat nyampe di kantor. Lumayan lengang sih jalanan, cuma akunya aja yang males-malesan nyetirnya.


Aku masuk ke ruanganku dengan gaya bak supermodel. Arlin yang tau aku udah dateng langsung masuk ngekorin aku.


"Maaf, Nona. Hari ini anda ada jadwal bertemu dengan perusahaan---"


"Kamu wakilkan saja, Lin!" aku memotong ucapan Arlin sembari duduk di kursi kebesaranku.


"Bagaimana ya, Nona. Tapi ini project yang sangat penting dan mereka ingin anda langsung yang menemuinya," kata Arlin.

__ADS_1


"Aiiihh, ribet banget sih mereka? oke, jam berapa?"


"30 menit dari sekarang, Nona!" jawab Arlin.


__ADS_2