
"Hah? kamu ngomong apa sih, Dho? aku takut nyasar hhh ... hhh ... balik lagi aja, yuk? lagian kamu tuh kenapa, sih? jalannya cepet banget udah kayak lagi dikejar utang!" aku membungkuk, masih ngos-ngosan.
Capek banget sumpeh. Udara nya dingin nggak karuan, dan makin menusuk ke pori-pori bahkan mungkin ke tulang belulang.
Nah, pas nggak sengaja senter yang ada di hapeku mengarah ke kaki Ridho, aku mendadak pucet.
"Busetttttt, dah!" gumamku sambil mejamin mata sebentar, berharap aku salah lihat. Tapi nggak, penampakannya masih sama, kaki itu nggak nginjek tanah. Udah sih, sampai sini udah nggak perlu dijelasin, udah fix dia itu syaithonirrojim.
Aku coba tegakin badan, nggak berani natap. Mataku jelalatan liat kemana aja, biar nggak grogi eh.
"Ehm, ka-lau gitu. A-ku balik sendirian aja ya, Dho! aku takut dicariin sama mbak Luri!" perlahan aku mundur, karena aku tau sosok yang di depanku ini ternyata bukan manusia yang sesungguhnya.
"Kenapa tidak jadi ikut? bukankah kamu ingin selalu bersamaku?" tanya sosok yang menyerupai Ridho, dia masih di posisinya.
Elah, aku harus jawab apa ini. Dia nggak boleh curiga. Bego banget sih, bisa-bisanya aku nggak bisa bedain mana Ridho dan mana yang makhluk jadi-jadian. Ya ampun, Reva yang pinteran dikit napa!
"Mikir cepetan Reva!" aku dalam hati.
"Aku mau ke warung tenda, ehm maksudku ... aku mau ke tenda, emh ... aku ... aku mendadak laper, Dho! aku balik duluan, ya? kamu lanjutin aja jalannya sendirian. Awas masuk angin. Dadah Ridho...!" kataku yang segera ambil kaki seribu alias kabuuuuuuuurr.
Tap!
Tap!
Tap!
Aku lari sekenceng mungkin. Pokoknya aku nggak boleh ketangkep dan nggak banget kalau aku juga disandera para makhluk ini. Aku mau nyari orang dan nggak lucu kalau aku ikutan ilang untuk yang kesekian kalinya.
Sayangnya, kondisi hutan yang gelap dengan hape yang masih menyala tapi nggak fokus buat nyenterin apa, bikin aku kesrimpet akar pohon atau tumbuhan liar.
Braaaakkk!
Aku tersungkur ke tanah.
"Aaawhhhhh!" kakiku terkilir.
"Gilaaaa, sakiiit banget!" aku menahan nyeri.
Tapi aku nggak nyerah, sekuat tenaga aku bangun dan berlari walaupun dengan kaki yang harus diseret-seret segala. Pokoknya nggak bisa lari, ngesot pun jadi.
"Aaaakkkkkkh!" semakin aku paksa rasanya semakin sakit. Aku nggak kuat.
Apa aku nggak cuma terlilir ya, karena ada perih-perihnya gitu. Maklum ini hutan emang gelap, cahaya dari hapeku nggak cukup terang beda dengan senter beneran.
Daripada aku pingsan karena nahan sakit yang semakin menjalar di kaki.
Akhirnya aku pun berhenti sejenak buat duduk, ditempat yang dirasa aman. Dan sepertinya jelmaan Ridho tadi nggak ngejar aing sampai kesini.
__ADS_1
Ternyata mencari mbak Sena itu nggak semudah yang aku bayangkan. Bener-bener butuh perjuangan banget, padahal aku udah dibantu banyak orang tapi lagi-lagi nasib sial nggak bisa aku hindari dan bahkan selalu deketin, itu yang bikin aku kesannya nyusahin. Padahal kan nggak, ya!
Sungguh terlalu, citraku sebagai cewek mandiri runtuh seketika dan berganti jadi cewek yang katanya nyusahin sejuta umat. Fitnah yang sangat keji ya sodara-sodara.
"Aaawh, kenapa bisa terkilir segala, sih! nyebelin!"
Aku coba urut-urut dikit nih pergelangan kaki, ya walaupun rasanya sakit sampai ke ulu hati. Tapi katanya kalau nggak diurut sembuhnya bisa lama.
Dan lagi sibuk dengan urusan perkakian, aku mendengar sesuatu.
Tang ting tung!
Tang ting tung!
Tang ting tung!
Sayup-sayup terdengar suara dangdutan. Eh, tapi setelah diperhatikan lagi dengan seksama itu bukan suara dangdutan melainkan suara yang mirip-mirip gending jawa gitu.
"Ya ampun siapa yang hajatan? jam segini speakernya kenceng amat! biar apa sih? biar ngundang orang buat kondangan?" aku ngedumel nggak habis pikir dengan warga yang punya gawe kok ya bisa jam segini itu kang speaker kagak di tegur.
Eh, tunggu. tunggu!
Aku kan lagi di hutan ya. Apa iya suara orang hajatan bisa nyebrang sampai kesini?
Aku coba ngelongok kesana-kemari, nyari-nyari kali aja emang ada rumah warga. Tapi nihil. Kanan kiri depan belakang semua gelap.
"Lama-lama merinding," aku mengusap tengkukku.
Plukkk!
"Batu?" aku mengernyit.
Plukkk!
Aku kejatuhan batu lagi, ukurannya kira-kira segede biji salak.
"Apa iya malem-malem ada hujan batu? aneh!" aku buang batu yang tadi sempat mengenai kepalaku.
Plukkk!
Untuk yang ketiga kalinya benda keras itu mengenai kepalaku yang sangat berharga ini.
"Ihhhhh, apaan sih?" aku mencoba mendongak ke atas.
Dan coba tebak apa yang tertangkap oleh kedua bola mataku yang sangat indah ini sodara-sodaraaaaaa?
Yap!
__ADS_1
Ada satu sosok yang duduk di atas dahan pohon dengan kaki yang terjuntai ke bawah. Dia menyeringai sambil melempariku dengan batu lagi dan lagi.
"Hihihihihihihi," dia tertawa melengking.
"Aaaaaaaaaaaaaaakkkhhh!"
Sedangkan aku ngejerit karena apa yang aku lihat saat ini begitu menyeramkan. Rambut panjang wajah pucat, senyuman yang mengerikan. Please, aku lagi nggak mau di gondol lagi. Tolooooooooongin aaaaiiing!
Dalam situasi terjepit, yakinlah kalau kita bisa ngelakuin segala hal yang dirasa mustahil. Seperti saat ini, aku berlari padahal kakiku sakitnya bukan main.
"Hah ... hah ... hah! nggak bolekh ketangkeppph!" sesekali aku melihat ke belakang.
Bersukur jalanan yang aku lewati tadi nggak begitu bikin pusing. Maksudnya nggak ada jalan yang bercabang, hanya jalan setapak yang di penuhi rimbunan pohon-pohon gede.
"Ntar lagi kalau ketemuuuh orangggh, harussh liatttinh kakihnyaaah, Revaaah!" aku memperingatkan diriku sendiri.
Nggak sia-sia punya otak yang encer. Aku ngeliat tenda dari kejauhan.
"Aaawwwhhh! udah dekettth, ayo kamu bisa Revaaaah!" aku menyemangati diri dengan napas yang ngos-ngosan kayak habis marathon.
"Aaarrrrrghhhh!"
Aku cuma bisa nyeret kakiku. Tapi setelah didekati tenda yang aku lihat ternyata hanya ilusi. Nggak ada.
"Whaaaaaattt?!!!!!! tadiiiii disiniii, kenapa bisa gone begituu sajaaaaa???"
"Nggak, nggak mungkin! tadi ... barusan, ya barusan ada kok disini. Kenapa jadi nggak ada!!!!!!"
"Ridhoooooooooooo!" aku terjatuh lemas.
Bahuku naik turun dan itu artinya aku lagi nangis bombay. Masa aing ilang lagi sih.
"Hikkkkssss ... hikkkkssshhh!" aku tutup mukaku dengan tangan.
Tapi sesaat kemudian aku segera menyeka air mata dugong yang udah terlanjur merembes.
"Aku harus cari jalan keluar, aku nggak akan terjebak untuk yang kesekian kalinya! aku harus keluar dari sini..." ucapku.
Namun...
Sreeerekkk!
Sreeeeeekkk!
Aku nggak berani nengok ke belakang. Aku mematung sejenak, biarin aja udah aku lagi nyamar jadi manekin.
Hanya bola mataku yang melirik ke kanan dan ke kiri, waspada.
__ADS_1
"Siapapun tolongin aingggg!" aku teriak dalam hati.
...----------------...