Mendadak Dikejar Setan

Mendadak Dikejar Setan
Ditunggui Para Demit


__ADS_3

Iya, makhluk kerempeng bertanduk itu datang. Dia memamerkan senyumnya yang mengerikan.


"Maasssssss?!!" aku menjerit histeris.


"Tenang, Sayang. Ada aku?!" ucap kangmas seraya memelukku, melindungi aku. Bu Bidan menutupi kakiku dengan kain jarik. Dan si Mbok lari keluar mencari bantuan.


"Kami semua menunggumu, hahahahah..." ucap makhluk tadi.


"Omong kosong! aku tidak akan membiarkan makhluk sepertimu mengganggu istriku!" ucap kangmas.


"Pergiiii...?!! pergiiiii, aku bilang sana pergiiiii....?!!" aku menjerit.


Baru juga Ridho melafalkan doa-doa, nggak lama pak Sarmin datang diikuti dengan si Mbok, dan si makhluk tadi tiba-tiba saja menghilang.


"Kata si Mbok kalau ada makhluk lain yang berani masuk ke dalam kamar ini," ucap pak Sarmin yang menelisik setiap sudut kamar.


"Iya, Pak Haji..." ucap kangmas.


"Aaaaaaaarghhhhhh, sakiiit...! aaaaaeerrghh," aku mencengkaram tangan Ridho. Rasa sakit itu datang kembali.


"Hahahahah ... hihihi," suara tawa menggema. Keadaan malam ini semakin mencekam dengan berbagai suara tawa meringik yang seakan saling bersahut-sahutan. Tawa itu membuat rasa sakit itu datang lebih cepat dengan durasi yang lebih lama.


"Ada apa ini, Pak Haji?" kangmas panik.


"Reva? kamu tidak apa-apaa?" kini pak Karan yang datang dengan raut wajah cemas.


"Sebenarnya ada apa, Pak Haji?" tamya kangmas.


"Kelahiran putra kalian dinantikan oleh para dedemit, Ridho. Diluar sana, banyak sekali makhluk yang mengelilingi rumah ini. Mereka semua menantikan kelahiran anak kalian, karena ada seseorang yang menginginkan anak itu,"


"Lakukan apapun, Pak. Tolong istri saya, saya tidak mau terjadi sesuatu dengan Reva maupun anak kami Pak!" kali ini Ridho nampak panik.


"Kita akan melakukan pengajian di depan kamar ini. Dampingi istrimu, dan beri dia semangat. Yakin kalian berdua bisa melewati malam ini," ucap pak Sarmin.


Satu jam, dua jam, tiga jam. Waktu rasanya bergerak lama banget. Rasanya aku pengen nyerah aja.


"Aaarrghhh, huuuwh, huuwhhh sakit," aku memekik lagi sambil menarik nafas dan membuangnya perlahan.


"Aku nggak kuat, Mas..." ucapku.


"Nggak, nggak. Kamu kuat, Sayang. Jangan bilang kayak gitu. Aku disini, kita lewatin semuanya bareng-bareng, ya?" ucap Ridho, dia meneteskan air matanya.


Sementara di luar kamar terdengar suara orang membaca ayat-ayat suci alqur'an.


"Bu Bidan sampai kapan anak kami bisa lahir?" tanya kangmas.


"Saya periksa lagi," ucap bu Mila.


Sementara si Mbok udah komat kamit aja daritadi.


Yassalam, berapa kali lagi aku harus ngerasain pemeriksaan yang sangat menyakitkan ini.


"Sudah buka 7," ucap bu Mila.

__ADS_1


"Kita tunggu sebentar lagi," lanjutnya.


Ridho ngelus keningku, "Kamu dengar kan? bu Bidan bilang sebentar lagi, jadi kamu harus kuat ya?"


Aku menggeleng, "Aku capek, Mas. Aku ngantuk..."


"Nggak, nggak. Reva ... kamu harus sadar, Sayang?" tangan Ridho menggenggam tanganku kuat.


Dan dorongan itu kembali datang kali ini aku seperti menduduki sebuah balon berisi air dan balon itu pecah bersamaan dengan cairan yang terasa hangat.


"Keluar..." ucapku pada Ridho.


"Keluar? apa yang keluar?"


"Air..." ucapku.


Bu Mila yang mendengar penuturanku dengan sigap memeriksa lagi.


"Bukaan lengkap!" ucapnya.


"Ibu ... ibu yang tenang, saya akan pandu ibu..." ucap bu Mila.


"Atur nafas, ketika saya bilang dorong, ibu harus mengejan sekuat mungkin. Dan ketika saya bilang tahan, ibu harus tahan ya? ibu mengerti?" tanya bu Mila.


Aku mengangguk.


"Kamu pasti bisa, Sayang," ucap Ridho. Dia terus membelai keningku.


"Ayo, dorong yang kuat?!" seru bu Mila.


Dan ketika aku mencoba mengejan, suara-suara tawa para makhluk itu terdengar sangat keras. Sementara suara lantunan ayat-ayat suci itu juga semakin lama semakin kencang saja.


Bisa dibayangkan bagaimana mencekamnya malam ini. Banyak suara-suara yang ditangkap oleh telingaku, mulai suara meringik, suara orang menyanyikan kidung dan suara orang yang mengaji di luar.


Dan sekarang aku merasakan ada sosok lain yang hadir di tengah-tengah kita saat ini.


"Aaaaaaarrggghhhh!!" aku mencoba untuk mengejan lagi.


"Ayo, dorong yang kuat?!"


"Aaaaaerrrghhhhhh?!" aku memegang tangah kangmas dengan kuat.


"Ya seperti itu, ayo sedikit lagi, kepalanya sudah kelihatan!"


"Hahahahahahhahaha..." ada suara tawa yang melengking.


"Aaaaaaaargghhhhhh, huuuwh huuwww," aku mendorong bayi itu agar cepat keluar.


"Oeeeeeeeekkk!" dan suara bayi melengking bersamaan dengan aku yang sudah lemas dan tak lagi bertenaga.


"Alhamdulillah, selamat Bu. Ibu sudah melahirkan bayi laki-laki yang sangat tampan" ucap bu Mila, dia memperlihatkan wajah anakku.


"Awaaaaaaaasss?!" ucapku menunjuk arah belakang bu Mila.

__ADS_1


Ridho yang melihat itu bangkit dan memegang makhluk yang berusaha meraih bayiku. Makhluk kerempeng, keriput yang mempunyai tanduk rusa dikepalanya. Hampir saja tangannya menyentuh anakku.


"Aku tidak akan membiarkan makhluk sepertimu menyentuh anakku," Ridho mendorong makhluk itu menjauh.


Bu Mila segera membersihkan bayi itu, membungkusnya dengan kain. Dia akan membawanya keluar. Sementara si Mbok, menyelimutiku dengan kain yang lebar.


"Mau dibawa anakku? mau dibawa anakkuuuu?!! berhentiiiiii!"" aku teriak histeris.


"Tenang, tenang, Bu. Saya akan membawa bayi ini keluar, disini tidak aman," ucap bu Mila.


"Tolong, bayiku!! Masssss?!!" aku teriak lagi, saat ini aku nggak bisa percaya pada siapapun. Kecuali bu Ratmi dam pak Sarmin.


Bu Ratmi yang mendengar kegaduhan di luar pun segera masuk.


"Ada apa? ada apa?" tanya bu Ratmi.


Dia melihat bayi dalam gendongan bu Mila, "Sudah lahir, Bu?"


"Sudah, ini bayi ibu Reva..." ucap bu Mila.


"Astaghfirullah, Paaaaak. Bapaaaakkk?!!" bu Ratmi teriak histeris.


Pak Sarmin datang dan mendapati Ridho yang mengeluarkan darah dari mulutnya. Dia menengok ke arah kami. Aku yang melihat itu rasanya lemas.


"Tolong bayikuuuuuu..." ucapku lirih dan mencoba menggapai bayi mungil itu.


"Berikan bayi itu," ucap bu Ratmi yang dengan segera


"Pergi dan jangan ganggu cucuku! Dia bukan makananmu, cepat pergi?!" ucap Pak Sarmin.


"Tidak bisa, Bayi itu milikku. Aku akan menjadikannya pengikut setiaku. Bayi itu milikku sekarang, aku akan membawanya pergi!" ucap makhluk itu yang ditahan oelh Ridho.


"Tidak bisa, kembalilah pada orang yang melakukan persekutuan denganmu, pergi dari sini?!" ucap pak Sarmin seraya menyentuh makhluk itu dan sesaat dia berubah seperti asap putih.


Bayiku menangis, suara ringikan makhluk itu berhenti. Hanya ada suara-syara orang melantunkan ayat-ayat suci.


"Ridho, kamu tidak apa-apa?" tanya pak Sarmin, Ridho menggeleng.


Dia dengan susah payah mendekat ke arahku.


"Kamu terluka?" aku menyeka darah yang yang ada di sudut bibirnya.


Ridho menggeleng, "Aku nggak apa-apa. Aku akan adzani anak kita, setelah itu aku akan kembali kesini," ucapnya.


Aku mengangguk, aku lega saat bayiku berada dalam gendongan bu Ratmi. Begitu banyak orang yang kami sangka baik, ternyata kelakuan mereka ngeri-ngeri. Nggak jauh beda sama iblis.


Pintu di tutup lagi, dan bu Mila melanjutkan pemeriksaannya.


"Alhamdulillah tidak ada robekan, jadi tidak perlu dijahit," ucapnya.


Setelah membereskan semuanya, aku juga udah digantiin baju dan lain-lainnya. Bu Mila pun pamit pulang. Dan ketika bu Mila pergi, ada satu sosok yang melihatku dari ambang pintu.


"Adek sepupu?" lirihku.

__ADS_1


__ADS_2