Mendadak Dikejar Setan

Mendadak Dikejar Setan
Berdebat Dengan Karla


__ADS_3

"Va, bangun, Vaaaaa!"


Laki-laki laknat mana nih yang beraninya ganggu aing maung lagi tidur.


"Ya ampun! aku masih ngantuk!" aku tepis ini sejenis tangan orang atau tangan lelembut yang tepokin pipi aing daritadi.


"Kebakaraaaaaaaan...! kebakaraaaaan...!" suara laki-laki yang sama menggema membuat kupingku budeg setika.


"Hahhhhhh! kebakaran?" aku mendadak melek.


"Hahhhhh ... hhh ... mana dimana anak kambing saya? eh, mana yang kebakaran? dimana yang kebakaran? siapapun lontongiiiiin akuuu, eh tolongin akuuuu...!" aku bangun mendadak dengan nyawa yang belum terkumpul sempurna.


Tapi anehnya aku nggak nyium bau asep atau bau sesuatu yang terbakar pun akhirnya menyadari suatu kejanggalan.


Aku puter nih kepala 90 derajat, aku liat ada Ridho lagi duduk di lantai di deket kursi ku sambil cengar-cengir.


"Hahahahhhahaha," dia malah ketawa liat muka aing yang udah panik begindang.


"Ya ampun, Va! lucu banget muka kamu, sumpah! hahahahaha..."


"Oh, jadi kamu yang teriak kebakaran? sengaja ngerjain aku, ya? hah? ngaku...!" aku pelintir kupingnya si Ridho.


"Aaaaadadaddadaa, aaaaaaaaa...! ampun, Vaaa! sakit, Vaaaaaa...!" Ridho ngelepasin tangan aku yang main ngeruwes tuh daun telinga.


Aku lepasin kupingnya si Ridho dan sekarang aku kruwes-kruwes congornya yang nggak beradab itu.


"Ya ampun Va, kejem amat!" kata Ridho yang berhasil nyelametin bibirnya dari kejontoran yang haqiqi.


"Masih untung cuma kuping sama bibir yang aku uwas-uwes! coba kalau yang lain?"


"Yang lain apa Va contohnya?" tanya Ridho.


"Diiiihhhhh, ini mulut kalau ngomooooooong!" aku gemes banget sama Ridho, aku comot lagi bibirnya yang sebenernya udah merah banget.


"Aaaaahh sakit tau, Va! aku salah apa coba? pikiran kamu aja yang kemana-mana! kan aku cuma nanya contohnya apa, lah kok malah bibir ku yang jadi korban?"

__ADS_1


"Siapa suruh ngagetin orang lagi tidur? kalau aku jantungan terus koit gimana?" aku kesel banget pagi-pagi udah diusilin begini.


"Salah sendiri dibangunin nggak bangun-bangun. Aku tuh udah ngeluarin semua jurus buat bikin kamu melek, tapi yang ada kamu itu malah kebluk. Jadi tadi itu ya pilihan terakhir, masa harus aku tium-tium baru kamu mau bangun sih?" Ridho naik turunin alisnya.


"Awas, awas. Aku mau mandi!" ucapku sambil ngeloyor dengan wajah yang udah pasti merah kayak tomat.


Lagi cengar-cengir karena abis digombalin Ridho, eh aku papasan dong sama adek sepupu yang udah ganteng dengan setelan kemeja casual warna cokelat muda yang dia gulung lengannya sampai siku. Vibes nya parlente banget ini orang, tapi tetap di hati ini hanya ada kangmas Ridho. Lagian, kita kan sodaraan ya, nggak boleh itu ada percikan-percikan cinta.


Pak bos ngeliatin aing maung yang udah pasti masih setia dengan style muka bantal.


"Cepatlah bersiap, jangan terlalu lama! atau kamu saya tinggal!" kata pak bos, dengan lirikan khasnya.


"Iya, Pak!" aku ngibrit ke kamar mandi langsung.


Sat set sat set.


Aku mandi asal aja, kalau dasarnya emang udah cantik mah kan cantik aja. Aku buru- buru buka pintu dan...


"Astaghfirllah!" aku ngejerit pas liat nenek Karla ada di depan pintu kamar mandi dengan mulut berwarna merah, dan dia seperti menyembunyikan sesuatu di dalam mulutnya.


"Dasar bocah nakal! kenapa kamu menjerit seperti itu? dasar anak tidak tahu sopan santun!" kata nenek Karla, aku dipukul pakai kemoceng yang kebetulan ada di tangannya.


"Rasakan ini! hah!" nenek Karla ngegebuk nggak kira-kira, beneran dendam kesumat kayaknya sama aing.


"Awas saja kamu kalau berteriak di depanku lagi!" ucap nenek Karla yang kini berbalik dan berjalan sangat lambat menuju kamarnya dan meninggalkan kemocengnya begitu saja di lantai.


"Ya ampun, apes banget kena gebug pagi-pagi. Udah kayak kasur yang dijemur emak-emak kalau hari libur!" aku menggerutu sambil mungut kemoceng yang teronggok mengenaskan di lantai.


Aku taruh tuh kemoceng di atas meja makan, dan jalan ke kamar Karla dengan sesekali mengusap lenganku yang sakit.


Ceklek.


Aku buka pintu, dan aku ngeliat Karla lagi dandan di depan meja riasnya.


"Noh, ada titipan dari pak Karan!" Karla nutup bedak compact-nya dan jalan ke arah ku sambil nunjuk satu papper bag diatas kasur.

__ADS_1


"Buat aku?"


"Bukan, tapi buat setan!" jawab si karet nasi warteg.


"Dih, sewot?" aku bergumam nggak jelas sambil tanganku ngambil tuh papper bag. Baru juga mau aku buka isinya, si Karla ngeliat aku dengan tatapan sinisnya.


"Kamu kayaknya deket banget sama pak Karan, sampai-sampai hal kayak gini aja dia perhatian sama kamu. Menurutku, kamu konsisten aja sama pak bos, jangan kamu deketin pak Karan tapi kamu deketin Ridho juga! jangan serakah kenapa, sih?"


"Gimana-gimana? serakah? siapa? aku?" aku tatap tuh si Karla, nggak takut aing mah.


"Yang serakah itu kamu! ngaca dulu deh kalau mau nge-judge orang. Satu kantor juga udah tau kalau Karla Karenina itu kang php, gebetannya ada dimana-mana. Kalau masalah kamu sama Ridho aku nggak ada urusan ya, lagian aku yang kenal Ridho lebih dulu bukan kamu. Jadi nggak usah sok iye banget jadi cewek!" aku gas aja nih perempuan biar kicep dia.


"Kamu kan udah tau aku suka sama Ridho, jadi jangan nempel mulu sama Ridho bisa nggak?"


"Nggak bisa!" aku jawab pakai senyum ngeledek.


"Kalau Ridhonya nggak mau sama kamu ya udah sih, nggak usah maksa. Kayak nggak laku aja kamu, La!" aku sindir sekalian, aku lagi mempertahankan tahta ku sebagai calon istri kangmas Ridho Menawan.


"Kamu!" dia nunjuk muka ku dengan jari telunjuknya.


"Nggak usah nunjuk-nunjuk!" aku tangkep jari dia terus aku hempaskan begitu aja.


"Kalau Ridho nggak mau sama kamu, ya udah jangan maksa. Kayak nggak ada cowok lain aja, sih! dan aku nggak suka ya kamu ikut campur masalah aku, karena sampai detik ini aku nggak pernah urus sama semua urusan kamu. Oke, aku makasih banget kamu dan ibu kamu mau bantuin aku keluar dari hutan terlarang, dan juga udah dibolehin buat numpang di rumah ini tapi hal itu nggak serta merta bikin aku berhutang budi sama kamu. Hingga kamu bisa maksain kehendak kamu sama aku, ngerti?"


"Aku nyesel bantuin kamu, tau nggak? aku kira kita temen, tapi ternyata..."


"Kita temen selama kamu nggak aneh-aneh. Kalau kamu baper sama perhatiannya Ridho, kamu protesnya ke Ridho bukan malah ke aku! kamu yang ditolak kenapa aku yang disalahin? kamu salah orang tau nggak?" aku coba bikin pikiran cewek bebel ini terbuka.


"Capek ngomong sama kamu!" Karla nyamber tasnya dan pergi dari kamar dengan ngebanting pintu.


Braaaaaaaakkk!


"Astaga, kayaknya galaknya si Karla itu turun temurun dari neneknya, deh..." aku ngelus dada.


Dan perhatianku kini beralih pada papper bag dari pak bos.

__ADS_1


"Baju?" aku mengerutkan kening saat aku mendapati baju dari dalam papper bag.


...----------------...


__ADS_2