
Suwer dah. Kaki aing udah gempor tapi kita tuh nggak nyampe-nyampe. Malahan kok masuk ke hutan-hutan kayak gini, coba.
"Pak, ini fix kita nyasar, Pak!" kataku sambil nunduk pegangin dengkul yang udah gemeter kedinginan.
Aku rogoh hape ternyata udah jam 4 subuh, bararti kita udah jalan sekitar satu jam buat nemuin rumah penduduk. Tapi kok ya nggak ada tanda-tanda ada rumah atau apa gitu.
"Paaaak!" aku teriak karena si bos malah ninggalin aku yang udah ngos-ngosan.
"Jangan berisik, Reva..." kata pak Karan yang berhenti dan menoleh ke belakang, ada bidadari Reva yang lagi nyusulin dia.
"Ya Allah, Pak. Tungguin napa, Paak ... hhhh sayah tuh capekkh, kakih sayah juga pegel..." ucapku susah payah.
"Mau istirahat dimana? kita tidak bisa sembarangan duduk. Bisa jadi ada binatang melata atau sejenisnya, malah berbahaya. Sudah tahan saja capeknya, sekarang lanjut jalan..." kata pak bos.
"Tapi sayah nggak kuath, Paaak! Pak Kaaran!" aku kesel karena pak bos main ninggalin aja. Coba aja tersesat bareng Ridho, pasti aku udah digendong kalau capek kayak gini. Eh, belum tentu juga sih. Dia harus kesurupan hantu baik dulu baru mau gendong akikah yang manjah ulalah inih. Aku berhenti sejenak, baru aku kejar pak bos lagi.
"Astaghfirllah, kepala benjol kaki gempor. Lengkap sudaaahh penderitaan Reva Velya yang cantik paripurna tiada tara. Emang kalau hari apes itu nggak ada di kalender, ya?" aku ngomel di belakang pak bos.
"Kamu bisa diam tidak, Reva?" pak bos komentar, ups ternyata kupingnya tajem juga.
"Ya bagaimana saya mau diem, Pak! kita jalan nyungsruk-nyungsruk tidak jelas begini. Mana rumah warga? ini kita malah masuk ke hutan loh, Pak" aku mengeluh dengan jalanan yang aku lewati. Aku gandengan tangan pak bos, atut gengs.
"Astaga, Reva..." giliran pak bos yang ngeluh, karena aku tangan aku yang melingker di lengan kekar pak bos. Berhubung kita lagi tersesat bareng boleh lah ya, gandeng begini. Kalau di kantor mah, nggak berani kali.
"Pak, suwer ini kaki saya udah sakittttthh banget loh," kataku memelas. Perutku juga udah nggak kuat nahan laper. Minimal kita bisa duduk dulu sambil makan roti gitu, loh.
"Ya sudah, kita duduk disana," pak bos ngajak jalan lagi.
Aku pasrah ngikutin dia, asap keluar dari mulut pak bos kalau dia ngomong. Beuuh damage mature-nya kenak banget kalau pas ngomong kayak tadi, tanpa gas dan tanpa ngurat.
Okray sodarah-sodarah, kita berdua duduk diatas batu kecil. Aku langsung selonjorin kaki.
"Dingin?" tanya pak bos tiba-tiba.
"Iya, tapi lebih dingin sikap Bapak..." aku nyeletuk sambil senyum.
__ADS_1
"Apa? mau kasih SP? sok atuh lah, Pak. Bapak tuh ngancemnya kalau nggak SP ya pecat, saya tuh sampai hafal diluar kepala," aku nyerobot pas pak bos udah mangap mau ngomong, dan dia sekarang jadi mingkem.
"Makan dulu, Pak. Biar ada tenaganya buat ngomel," aku buka kantong yang aku bawa dan nyodorin satu bungkus roti. Pak bos nerimanya kayak nggak ikhlas gitu, mukanya mendadak asem.
Aku cuma senyum aja liat mukanya pak bos yang biasanya rapi, sekarang ditempelin plester sana sini.
"Kenapa? ada yang aneh di muka saya?" tuh pak Karan nge gas lagi. Deuh si Bapak mah marah-marah bae.
"Bapak ganteng kalau Bapak nggak marah-marah terus..." ucapku nyantai.
Si bos malah batuk di puji begitu, "Uhuuuukkk,"
"Minum dulu, Pak..." aku menyodorkan air pada pak bos.
Glek.
Glek.
Glek.
Dia langsung menenggak air mineral mini yang ada di tangannya. Sedangkan aku yang tadi kelaparan, sekarang udah lumayan kenyang.
"Kenapa?"
"Masih subuh, gimana kalau istirahat dulu saja, Pak? kaki saya masih capek, kita jalan lagi kalau langit udah terang aja gimana, Pak? hoaaam..." aku nawar supaya bisa istirahat lebih lama., aku nguap nutupin mulut pakai tangan.
Pak bos nangkep tanganku, "Dimana cincin ibuku?"
"Ada, Pak. Di dalam tas saya..."
"Kenapa sela jari kamu dipakai plester?" tanya pak Karan.
"Melepuh, Pak. Jadi saya pakein plester..." aku jawab jujur.
"Kamu belajar dari mana kalau tangan melepuh itu harus dikasih plester?" pak bos nautin alis tebalnya.
__ADS_1
"Ya abisnya sakit, Pak. Apalagi kalau kesentuh..." aku menjauhkan tangan aku dari tangan pak Karan, tapi dia menarik tanganku lagi.
"Kenapa sampai melepuh? apa karena cincin itu?" pak bos natap aku.
"Iya mungkin, karena cincin itu bisa terasa seperti bara api,"
Pak bos melepas plester yang ada di sela jariku, "Nggak akan sembuh kalau ditutup seperti ini,"
"Dih, Pak. Kok dilepas sih?" rasanya perih banget pas plester dibuka.
"Biarkan terkena udara, luka ini akan lebih cepat kering. Daripada kamu tutup seperti tadi," pak bos ngebuang plester bekas itu.
Udahlah, iyain aja. Aku melepaskan tanganku dari tangan pak bos, aku tiup- tiup sendiri biar perihnya hilang.
"Kira-kira ada yang nolongin kita nggak ya, Pak? sampai sekarang aja kita belum nemuin adanya tanda-tanda kehidupan manusia,"
"Mungkin ada," jawab pak bos singkat.
Lumayan lama kita berdua terdiam, udara makin lama makin dingin. Aku rapetin tuh jas yang aku pakai. Supaya nggak ada celah angin yang bisa masuk. Suara jangkrik saling bersahut-sahutan, nyamuk juga nggak mau kalah. Dia juga ambil bagian nyedotin darah kita yang habis ngembat roti sebungkus. Aku ngelipet tanganku, nyembunyiin tangan supaya nggak digigit nyamuk-nyamuk nakal, begitu juga pak bos dia ngelakuin hal yang sama.
"Sebelumnya aku nggak nyangka bakal ngalamin hal di luar nalar kayak gini loh, Pak. Hidup saya yang ayem tentrem gemah ripah loh jinawi, walaupun kalau akhir bulan duit sering abis tapi kan saya masih bisa ketawa-ketiwi, happy," aku ngomong sendiri, nggak tau pak bos dengerin atau nggak yang jelas aku lagi kangen masa-masa hidupku yang dulu.
"Jadi sebelumnya kamu tidak pernah melihat makhluk-makhluk seperti itu?"
"Tidak..." aku menggeleng. Lalu kita sibuk dengan pikiran masing-masing.
Mungkin karena kelelahan, aku pun nggak sadar kalau aku udah ketiduran. Kaki dan semua badanku ini rasanya nggak karuan.
Kepala aku rasanya megleng ke kanan, ditopang sebuah bahu yang kokoh. Rasa hangat menerpa sebagian wajahku saat ini.
"Emmmh," aku buka mata, dan menutup kembali karena cahaya yang begitu menusuk mata, silau.
"Pak, Pak Karan..." aku menengok ke arah pak Karan.
Dese masih merem, hebat banget dia bisa tidur dalam posisi duduk kayak gini. Mukanya lagi tidur aja gantengnya kebangetan kayak gini. Setelah sekian detik mengagumi wajahbganteng pak bos, aku melihat sekeliling dan...
__ADS_1
"Paaaak ... bangun, Pak!" aku menggoyangkan badan pak Karan.
...----------------...