
Selama sholat, aku sama sekali nggak konsen. Karena kepikiran manusia kutub yang entah magrib-magrib ngelayab kemana.
Setelah mengucapkan dua kali salam, Ridho pun mengubah posisi duduknya menjadi bersila sambil menengadahkan kedua tangannya membaca doa-doa.
Udah jelas, ini kalau jadi suami bisa banget gitu membimbing anak-anak aing ke jalan yang benar. Beuh, tentrem banget nanti hidup aing bersama kangmas Ridho.
Dan lagi enak-enaknya lagi traveling gimana nanti punya anak sama kangmas, eh tiba-tiba aja keinget sama pak bos yang nggak tau dimana orangnya. Aku pun mulai celingukan, ini Ridho mau doa berapa jam lagi dah, aku mulai gelisah.
Apa dia udah balik duluan meninggalkan kita-kita disini apa gimana. Dan akhirnya Ridho selesai juga, buru-buru aku mengusap wajahku dengan kedua tangan mengamini doa apa yang daritadi keluar dari mulutnya Ridho dan setelah itu aku mencopot mukena ku ini.
"Buru-buru banget?" sindir Karla.
Etdah, ini perempuan ondel bisa nggak sih nggak usah komen udah kayak netijen yang budiman aja kerjaannya ngomenin idup orang. Males ngejawab, aku main ngeloyor aja. Dan ketika aku baru beberapa langkah keluar dari mushola itu, suara Ridho mencegah aku.
"Kamu mau kemana, Va?" tanya Ridho yang mungkin ngeluat aku tadi dengan secepat kilat membuka dan melipat mukena yang abis aku pakai.
"Pak Karan dimana, Dho? kok nggak ikut sholat?" tanyaku.
"Jadi buru-buru banget nyariin pak Karan?" Ridho malah nyindir dan jalan ngelewatin aku gitu aja.
Elah, kenape lagi ini orang macem anak perawan yang lagi kedatengan tamu bulanan.
Aku kejar Ridho yang kayaknya mau masuk kamar tamu.
"Ngapain kesini? bukannya nyari pak Karan? nggak di hutan nggak disini, yang dicari pak bos mulu!" kata Ridho dengan mukanya yang nggak biasa.
"Ya nggak gitu, kan kita sholat bareng-bareng dan nggak ada satu orang kan wajar aku nanyain, Dho!"
Dan ketika kita lagi berdebat, eh yang lagi diomongin nongol, dia dateng dari arah teras depan. Ridho yang pundung langsung masuk ke kamar dan main nutup pintu aja. Sedangkan pak Karan udah mandi dan keliatan seger, tapi nggak dengan raut wajahnya yang kayaknya dingin banget dan nggak ada senyum-senyumnya sama sekali.
__ADS_1
Aku yang kebetulan ada di depan kamar Ridho pun menghampiri pak Karan.
"Kok, Bapak nggak ganti baju?" tanya ku karena pakaian yang dipakai pak Karan masih sama, cuma bedanya udah agak keringan gitu.
"Saya nggak biasa pakai baju punya orang!" kata pak bos.
Lah, si pak bos aneh-aneh aja disaat kayak gini masih aja gedein gengsi.
"Terus, bapak dari mana? kok nggak ikut sholat?" aku nanya, eh dia malah balik badan dan jalan ke arah teras depan. Aku yang kepo pun ngikutin. Masalah Ridho ntar abis ini aing rayu dengan sejuta kata-kata mutiara dari motivator terkenal, pasti dia luluh.
Dia duduk di salah satu kursi. Aku nggak ngerti deh kenapa dia malah ngejogrog disini, mana magrib-magrib jangan-jangan si bos yang asli lagi diculik jurig terus yang di depan aku ini siluman macan atau sejenisnya. Aku harus hati-hati, mata langsung liat ke bawah liat kaki pak bos napak apa kagak.
"Kamu curiga kalau saya setan?" pak bos ngerti juga ternyata kalau aku lagi mode waspada.
"Eh, nggak kok, Pak! kan kaki Bapak napak tanah..." aku sekarang duduk di samping pak bos.
"Saya habis menghubungi orang kepercayaanku supaya cepat kemari dan membawakan baju ganti, dan malam ini kita semua akan pergi dari sini..." jelas pak bos yang kayaknya udah ngatur semuanya.
"Ya itu sih terserah Bapak, tapi aku udah kapok, Pak! baru juga napak di dunia manusia masa iya mau nyasar lagi di dunia ghoib? aku sih milih nggak, Pak..." aku bersikeras nggak mau pergi malem ini.
"Ya..." sahut pak bos. Ya walaupun dia jawabnya pakai nada nggak rela, tapi mendinglah kupingnya masih mau dengerin omongan aing ya.
"Oh, ya ... Bapak masih hutang penjelasan loh sama saya. Saya nggak nyangka kalau Bapak itu sengaja banget bikin saya berurusan dengan cincin itu..."
"Nggak ada pilihan," jawab pak bos singkat-singkat.
Etdah, kenapa sih nih orang ngejawabnya nggak kayak biasanya.
"Jawaban Bapak nggak memuaskan," aku kesel lama-lama.
__ADS_1
"Terus saya harus jawab apa?" pak bos nyolot.
Disini kan aing yang dirugikan secara mental dan keselamatan jiwa, kok ya dia yang malah sewot bin nyolot. Kesel banget aku tuh.
"Bapak nggak liat ini? muka saya jadi begini kan gara-gara cincin itu?" aku nunjukin pipiku yang luka.
"Dan saya juga kehilangan papa..." ucap ku lirih, aku jadi keinget kilasan mobil yang ditumpangi papa dan tante Ilena terjun ke dalam jurang.
"Saya juga kehilangan ibu saya!"
"Tapi Bapak tuh masih lebih beruntung, Bapak bisa melihat kepergian orang yang Bapak sayang. Kalau saya? yang saya tau papa saya meninggalkan saya dan keluarga karena wanita lain, yang setelah belasan tahun saya baru tau kalau wanita itu adalah adik papa yang ternyata ibu dari pemilik perusahaan di tempat saya bekerja," aku menatap pak Karan dengan air mata yang udah memupuk dan siap terjun payung.
"Jangan melihatku seperti itu!" kata pak Karan. Aku malingin wajah, air mataku menetes. Kenapa juga harus punya saudara kayak dia. Galak ketus, dan nyebelin.
"Karena saya juga baru tau kalau ibuku ternyata adik dari papa kamu. Kalau saya tau itu mungkin dari awal saya tidak akan..." ucapan pak bos terhenti.
"Tidak akan apa?"
"Tidak akan menyeret kamu ke dalam masalah ini. Tapi semuanya sudah terlanjur, lagi pula mungkin sudah takdir. Dengan kejadian ini, kamu jadi tau kan kalau papa kamu tidak berselingkuh?" ucap pak bos lagi.
Dan ucapan pak bos ini membuatku merasa sangat bersalah karena telah marah dengan tuhan, dan menyimpan rasa benci pada papa karena meninggalkan kami begitu saja. Aku menarik nafas sebelum aku melempar pertanyaan lagi pada pak bos.
"Lalu apa hubungan Bapak dengan hantu kecil bernama Elin?"
"Tidak ada hubungan apa-apa," jawab pak Karan.
"Tidak mungkin, kalau Bapak tidak ada hubungan apa-apa, tidak mungkin Elin begitu patuh terhadap Bapak..." ucapku berani.
"Dia hantu yang tersesat, dan sering berkeliaran di sekitar rumahku. Sejak memegang cincin itu saya bisa melihat makhluk-makhluk berbagai macam bentuk, termasuk dia. Saya hanya sedikit mengancam, supaya dia bisa membantuku menemukan orang yang tepat untuk mengembalikan cincin itu. Dan kalau masalah wajah kamu itu, tidak perlu khawatir karena saya akan membiayai berapapun perawatan yang kamu butuhkan supaya wajah kamu kembali seperti semula," kata pak Karan.
__ADS_1
"Saya pegang kata-kata, Bapak!" ucapku.
...----------------...