Mendadak Dikejar Setan

Mendadak Dikejar Setan
Kiriman Barang


__ADS_3

"Jangan pingsan, Va! kita nggak ribut kok!" ucap Ridho.


Denger kangmas udah panik pun aku segera buka mata.


"Oke, pingsannya aku pending. Tapi tolong jangan pada ribut, kepalaku pusing banget tau!" kataku yang benerin posisi yang tadinya leyeh-leyeh setengah kayang sekarang berdiri walaupun masih disanggah mamas Ridho.


"Kalau masih pusing tiduran dulu aja," kata Ridho yang nyuruh aku duduk di tempat tidur.


Sedangkan pak Karan bangkit, "Tunggu sebentar, saya akan suruh orang untuk membelikan sesuatu untuk kamu!"


Mantan bos keluar gitu aja tanpa nunggu jawaban dariku. Dan setelah kini hanya ada aku dan kangmas.


"Udah aku bersihin semua tadi. Udah aku pel juga dua kali. Moga aja baunya udah ilang ya," kata Ridho yang duduk di sebelahku di tepi ranjang.


"Siapa yang tega ngelakuin kayak gini sih? ini mah teror manusia yang nggak suka sama aku. Tapi siapa?" aku natap laki-laki super ini dengan tatapan serius.


Ridho pun nampak berpikir.


"Kamu punya musuh?" tanya Ridho.


Aku menggeleng, "Setauku sih nggak..."


"Tapi, mungkin nggak sih Karla yang ngelakuin semua ini?" ucapku aku ragu.


"Karla?"


"Ya, secara Karla kan ngebet banget sama kamu, sedangkan kamu milihnya aku..." aku mencoba menganalisa siapa saja pelakunya.


"Nggak mungkin lah dia tega berbuat kayak gini. Lagian dia tau darimana kontrakan ini? kita kan udah lama nggak berkomunikasi dengan dia, Va..." kata Ridho yang secara nggak langsung ngebelain si Karla.


"Belain banget sih?" ucapku sinis.


"Ya nggak belain, Va. Cuma kan kita nggak punyi bukti yang mengarah pada Karla, kita nggak boleh gegabah nuduh orang," kata Ridho lembut.


"Kita nggak boleh cepat menyimpulkan sebelum kita tangkap orangnya," lanjut Ridho.


"Gimana mau nangkep, orang hantu yang kita suruh aja malah kabur nggak tau kemana. Harusnya kan kalau dia ada, itu orang pasti bisa tangkep rame-rame! ya minimal dia dibikin pingsan dengan penampakannya si Gadis lah!" kataku.


"Iya juga. Kemana dia?" Ridho manggut-manggut.


"Udah mau jam 7, kamu mandi dan siap-siap dulu aja. Hari pertama nggak boleh telat, ntar gerbangnya ditutup pak satpam!" aku tepuk punggung tangannya yang dia taruh diatas pahanya.


"Emangnya sekolahan? Kamu ini ada-ada aja," Ridho mamerin senyumannya.


Dia natap aku dengan lembut, "Kalau aku berangkat, terus nanti kamu gimana?" tanya Ridho.

__ADS_1


"Aku di rumah istirahat. Tenang aja, ntar aku kunci semua pintu dan jendela..."


"Ntar Mona aku suruh buat jagain kamu," kata Ridho.


Aku gelengin kepala, "Nggak usah. Barangkali dia ada kuis di kelas kan kasian kalau sampe ketinggalan..."


"Tapi aku khawatir," Ridho ngebelai wajahku.


"Nggak usah khawatir, aku bisa jaga diri!"


"Terakhir kamu bilang kayak gitu, yang ada kamu malah ilang, Va!" kata Ridho.


"ini bukan hutan. aku nggak bakalan ilang! udah sana siap-siap..." aku setengah ngusir kangmas.


Dengan berat hati, Ridho bangkit dari duduknya.


Namun baru satu langkah dia putar badan dan membungkuk. Pria ini menghadiahkan aku cap cip cup balandar kuncup. Aku yang kaget hanya bisa diam tanpa merespon jelly-jelly kenyel yang mampir sekilas di bibirku, "Aku mandi dulu, ya?" ucap kangmas.


Ridho pun pergi meninggalkan aku yang bersemu seperti udang rebus.


"Suka banget kasih serangan tiba-tiba!" ucapku sambil ngunyel-ngunyel pipiku.


Kurang dari satu jam, orang suruhan pak Karan sudah membawakan begitu banyak makanan. Dia pikir perutku ini segede tempat adukan semen apa ya.


Segala jenis makanan ada di meja, sampai aku jadi bingung mau makan yang mana. Mona mah asik-asik aja, bisa makan gratis plus enak pula, kan rejeki nomplok. Kalau Ridho mah tetep, katanya dia belum laper dan mau cari sarapan di kantor aja.


Aku kembali ke kamarku yang belum ada apa-apa, "Mendadak pengen susu kalengan deh!"


Masih dengan posisi rebahan begini, lagi pewe-pewenya tiba-tiba ada yang bertamu.


"Assalamualaikum!"


Tok!


Tok!


Tok!


Fix itu manusia ya. Karena belum ada sejarahnya setan dateng pas langit masih terang benderang kayak gini dan juga ngucapin salam segala.


"Waaalaikumsalaaaaaaaammm!" aku nyaut dari dalem.


"Siapa lagi, dah!" aku bangkit dan jalan menuju pintu depan.


Sebelum dibuka, biasakan dulu intip dari dalem. Mastiin siapa yang ada datemg kemari.

__ADS_1


Ceklek!


Pintu sengaja aku buka setengah, biar kalau ada apa-apa, aku bisa langsung nutup dengan mudah.


"Dengan Nona Reva?" tanya orang itu yang memakai setelan jas berwarna hitam.


"Kamu Arjun bukan sih?"


"Iya, Mbak!"


"Kan udah kenal? ngapain pakai negesin namaku segala?" aku geleng-geleng kepala dan ngelipet tangan di depan dada, persis kayak nyonya-nyonya sinetron azab.


"Sudah menjadi kebiasaan, Nona!" kata Arjun.


Aku buka pintu lebih lebar, "Kita ngobrol sambil berdiri gini aja ya? soalnya belum ada kursi, lagian di rumah sepi..."


"Tidak apa-apa, Nona ... sebenarnya, saya kesini diperintahkan tuan untuk mengirimkan beberapa barang untuk anda..."


Baru juga Arjun nyebut begitu, ada mobil pengangkut barang datang dengan membawa satu set sofa.


"Maksudnya bagaimana ini?" aku panik dan nunjuk mobil yang datang.


"Maaf Nona ... saya hanya melaksanakan perintah..." ucap Arjun yang memandori orang-orang untuk menurunkan sofa dan menatanya di dalam.


Ternyata bukan hanya sofa yang datang, tapi juga kulkas segede gaban, mesin cuci, dan perlengkapan yang lainnya. Bahkan ada lukisan juga. Ini mah ngalah-ngalahin orang seserahan.


"Tunggu-tunggu, Arjun! ini gimana, kenapa banyak begini?" aku mencoba nanyain Arjun yang lagi sibuk mengatur dimana aja barang-barang itu di taruh.


"Aaaarjuuuuuuun!" suaraku naik 1 oktaf.


"Astaghfirllah!" Arjun ngelus dadanya, kaget dengan suara cempreng aing.


"Makanya, kalau ada orang ngomong tuh dengerin dulu!" aku mencoba mengkontrol suara biar nggak melengking lagi.


"Kalian lanjutkan!" suruh Arjun pada orang-orang yang sedang silih berganti masuk untuk menaruh perabotan.


"Maaf, Nona Reva. Sekali lagi saya hanya mengikuti perintah tuan untuk mengisi rumah ini dengan segala perabotan rumah tangga. Kita juga akan memasang pendingin ruangan supaya anda bisa betah disini," kata Arjun.


Kepalaku mendadak pusing, "Aduh gimana ini! tamatlah riwayatku!" aku pegangin kepala.


"Anda tidak apa-apa?" tanya Arjun.


"Nggak liat nih kepalaku lagi nyut-nyutan?" jawabku kesal.


"Ck, kenapa main kirim-kirim barang begini siiih! aku kan bilang nggak usaaah," aku berdecak.

__ADS_1


"Ini lagi, segala sikat WC dibawain. emangnya aku nggak sanggup beli apa?" ucapku yang nemuin sikat kamar mandi yang masih ada label harganya.


"Sekali lagi, saya tidak tau menahu soal itu. Semua ini tuan yang menginginkan!" kata Arjun yang berulangkali mengatakan kalau semua ini atas perintah bosnya.


__ADS_2