
Aku membuka kotak P3K yang aku ambil dari laci dashboard. Aku mulai membersihkan luka di wajah pak Karan setelah pak Karan selesai memakai baju gantinya.
"Bajumu kotor, ssshhh," kata pak Karan sambil meringis, perih-perih enyoy.
"Iya kan habis buat ngelapin darahnya Bapak," jawabku.
"Aaakhh, pelan-pelan!" pak Karan kesakitan saat aku memberikan cairan antiseptik.
"Ini juga pelan-pelan kok, Pak. Bapak kan laki-laki sakit sedikit tahan aja," kataku sambil terus mengobati luka di wajah pak Karan.
"Reva..."
"Ya..."
"Maaf, aku udah bawa kamu ke hotel itu," kata pak Karan.
"Dimaafkan tidak, ya?" aku pura-pura mikir, sedangkan pak bos udah pasti kesel.
Aku tertawa kecil, "Baru kali ini saya bersyukur hantu kuku panjang itu datang, Pak. Seenggaknya dia mengulur waktu kita supaya masih bisa ngerasain napas di dunia, Pak..."
"Maksud kamu?"
"Dia itu mengincar jiwaku," kata ku menatap wajah pak Karan.
"Dia tidak akan sampai melakukan itu. Kamu akan selamat, percaya sama saya..." kata pak Karan dengan wajah serius.
"Ya saya tidak tahu, Pak. Apakah kita bisa keluar dan kembali dengan selamat atau kita kembali hanya dengan nama..." ucapku getir.
"Ssssst! jangan bicara tentang kematian, saya yakin kita bisa pulang dengan selamat. Lagipula kenapa kamu memilih liburan ke rumah Karla? rumahnya saja melewati hutan seperti itu, memang kamu sangat dekat dengan dia?"
Ciyeee pak Karan mulai kepo. Aku menutup luka pak bos dengan plester aqua proof, "Saya itu diajak Ridho, Pak. Saya tahu kalau niatnya baik, ingin membantu saya terlepas dari teror makhluk itu lewat ibunya Karla namanya bu Wati. Bu Wati itu bisa melihat sesuatu dengan mata batinnya, dia bisa tahu kalau saya habis dicekik hantu saat berada di kamar ibu anda, padahal saya tidak menceritakan itu pada siapapun termasuk Ridho," aku melihat kedua mata elang milik pak bos.
"Lalu apa yang dia katakan?"
"Katanya, dia hanya bisa melihat namun tidak bisa membantu saya untuk melepaskan diri dari ikatan dengan makhluk itu. Tapi, nenek Karla mungkin bisa..." ucapku.
"Maksudnya? kamu harus bertemu dengan neneknya Karla?" pak bos menautkan kedua alis tebalnya.
__ADS_1
"Ya, begitulah. Bu Wati bilang semakin cepat semakin baik,"
Aku melanjutkan menempelkan satu plester lagi di pelipis pak Karan, "Sudah selesai,"
Aku yang ingin menutup kotak mendadak di tahan pak bos, "Luka mu belum diobati," dia mengambil alih kotak itu lalu mulai membersihkan luka di jidatku dan di salah satu sudut bibirku.
"Saya sendiri saja, Pak..." aku mencoba menolak. Aku takut pak bos dendam kesumat, terus luka aku ini di pencet-pencet tanpa belas kasihan.
"Mana bisa? tadi kan kamu sudah menolong saya, kini giliran saya yang menolong kamu," kata pak bos tersenyum penuh arti. Aku sih mendugong kalau ini pak bos ada niat terselubung, nggak mungkin banget dia mau bantuin dengan tulus dan ikhlas.
"Saya bisa sendiri kok, Pak. Tidak usah repot-repot," aku mulai panik.
"Sudah kamu diam, biar saya tidak salah oles," kata pak bos. Dia mulai membersihkan luka ku dengan cairan antiseptik.
"Aaaaaaakkkhhh, periiiiiihhhhhhh!" aku udah teriakan aja baru juga dibersihin pakai kasa sebentar.
"Tahan dulu Reva. Nanti kalau tidak bersih luka mu ini bisa infeksi," pak Karan menempelkan lagi kasa yang dibasahi antiseptik ke jidatku yang sekarang nggak karuan rasanya. Senat senut sakit pas dipence sama pak bos dan sudut bibirku ini perih karena habis kena sasaran obat tadi.
"Udah, Paaaaakk! saya bisa ngobatin sendiri," aku mengaduh kesakitan.
"Periiihh, uh sakit..." aku mulai menangis. Sementara pak bos mengoleskan obat supaya jidatku ini sembuh dari kebenjolan yang haqiqi.
"Jahat banget anda, Pak! walaupun sedikit, ini sangat perih..." aku menyentuh sudut bibirku.
Pak bos menahan senyumnya dan menyerahkan kotak putih itu padaku lagi. Aku mengambil beberapa plester dan memasukkan ke dalam tas. Kita nggak tau apa yang akan terjadi dalam beberapa menit ke depan, kalau pun terluka minimal bisa di tutup dengan plester itu.
Aku memasukkan kotak ke dalam laci dashboard, dan menutupnya kembali.
"Pak? ini sudah jam 2 pagi..." aku melihat jam di hapeku yang sinyalnya lagi oleng.
"Lalu?
"Kapan kita akan melanjutkan perjalanan? saya takut hantu tadi mengejar kita, Pak..." ucapku sambil mengawasi keadaan di luar.
"Iya sebentar, kepala saya masih pusing..." pak bos memejamkan matanya.
Aku hanya bisa duduk dan mencoba berdoa, agar diberi keselamatan. Aku teringat dengan cincin batu merah yang aku pakai, titik hitamnya bertambah malah semakin besar.
__ADS_1
"Kok nodanya semakin bertambah?"
Pak bos bukan cuma pejamin mata, tapi udah molor kayaknya. Nggak ngerti bisa-bisanya dia ketiduran disaat genteng kayak gini. Iya genteng bukan genting, kalau buat Reva tuh genteng diatas genting. Pusing nggak, tuh.
Aku mencoba melepaskan cincin dari jari manisku, "Aaargh, sakiiit cuy!"
Perih dan sakit, itu yang aku rasakan, saat aku melepas paksa cincin itu, "Gila bisa melepuh kayak gini, fiuuuh ... fiuh..." aku meniup sela jariku.
"Ini cincin kenapa bisa anget bahkan bisa kerasa panas kayak bara," aku memperhatikan cincin berlian yang ada di atas telapak tanganku.
Aku pusing kalau mikirin cincin ini terus, bikin aku pengen jambakin rambut, "Dah lah simpen dulu aja," aku masukin cincin ke pocket kecil di dalam tas.
Aku ngomong sendiri jawab sendiri, aku ngelirik ke arah pak bos yang lagi bobo ganteng.
"Ridho nyariin saya nggak ya, Pak? apa dia malah bersyukur nggak ada saya? jadi nggak ada tuh yang recokin hidup dia lagi?" aku kayak orang sutres ngajak ngomong pak bos yang lagi molor.
Aku mendadak melow, "Disini gelap, kayak hidup saya. Nggak ada arah dan tujuan,"
Mataku yang semula terbuka lebar sekarang perlahan menutup, "Sebaiknya aku beristirahat satu atau dua menit,"
Perlahan mataku yang terpejam sekarang terbuka, aku mendengar suara laki-laki yang sangat familiar.
"Reva, bangun Va..." dia memanggilku.
"Emmmh! ya..." aku mengucek mataku dan mencoba melihat dengan jelas siapa yang sudah membangunkan aku.
"Ridhoooo?" aku memeluknya, erat.
"Syukurlah kamu dateng, Dho. Aku takut banget, huhuhuhu ... aku hampir metong disini, Dho...." aku nangis sambil peluk Ridho, nggak mau lepas.
"Sssttt, ada aku sekarang. Nggak akan ada yang berani menyakiti kamu, Reva..." Ridho ngebales pelukan aku.
"Makanya kalau dibilangin pulang sama aku ya sama aku, jangan bandel. Lagian kamu kenapa sih, Va? aku salah apa, hem? kamu kayak bocil kalau lagi marah,"
"Salah kamu tuh cuma satu, deket-deket sama si karet nasi warteg. Aku tuh nggak suka, Dho. Apalagi kamu tuh perhatian banget sama dia, sedangkan aku yang lebih dulu temenan sama kamu, kamu abaikan gitu aja. Aku kan jadi baper..." kataku menya-menye.
...----------------...
__ADS_1