Mendadak Dikejar Setan

Mendadak Dikejar Setan
Makan Malam dengan Calon Adik Ipar


__ADS_3

Ditodong pertanyaan kayak gitu, aku juga bingung mau jawab apa. Aku nggak bisa jawab. Karena hatiku belum siap untuk itu. Kehadiran Ridho yang secara tiba-tiba ini membuat pikiranku agak sedikit kacau. Terutama dengan apa yang dilakukan pak Karan selama ini. Dia bener-bener keterlaluan, dia bikin aku pisah sama orang yang aku sayang. Dia bikin aku males berurusan sama cinta.


Nggak sadar, kita udah nyampe aja gitu di resto yang dipesen sama Dilan, pacarnya Ravel. Kita berdua turun dan masuk ke dalam restoran itu.


Mata Ravel dengan cepat menangkap satu sosok yang melambaikan tangan padanya.


"Itu Dilan, kita kesana Mbak!" Ravel narik tanganku buat ngikutin kemana dia jalan.


"Astagaa, Ravel..." ucapku ketika ditarik gitu aja.


Tapi yang namanya bocah lagi bucin, dia antusias banget ketemu sama babang tamvannya itu.


"Maaf, lama nunggunya ya? kita kejebak macet tadi," Ravel nyerocos aja saat ketemu sama pacarnya.


Dilan dengan sopan berdiri dan tersenyum.


"Oh ya, kenalin a ... ini mbak Reva, kakakku..."


"Mbak Reva, ini aa Dilan..." ucap Ravel ngenalin aku sama pacarnya.


Dilan mengulurkan tangannya, "Dilan..."


"Reva..." aku menyambut uluran tangan itu.


Kemudian kita duduk. Ravel duduk di sampingku berhadapan dengan laki-laki yang dari tampangnya sih emang seumuran sama aku.


Mau duduk di samping Dilan dia takut kena sasaran sinar x dari aku kayaknya makanya nih bocah nyari aman.


"Ehem, kamu mau pesen apa, Vel?" tanya Dilan yang terlihat canggung banget.


"Apa aja lah aku mah..." ucap Ravel yang ogah-ogahan baca menu.


Kalau aku sih langsung nunjuk aja apa aja yang mau aku pesen, yang jelas yang nggak terlalu banyak lemak. Karena pas sarapan kan aku udah terlalu banyak makan.


Giliran lagi nunggu makanan datang si Ravel pergi ke ke toilet. Dan kesempatan ini aku pergunakan buat mencecar calon adik iparku dengan berbagai pertanyaan.


"Sejak kapan pacaran dengan Ravel?" tanyaku tanpa basa-basi.


"Hem, lumayan lama..." jawab Dilan.


"Terus sekarang kerja dimana?" tanyaku. Tapi belum sempat si calon adek ipar ngejawab, eh si kutu kamfret lewat dong. Dia jalan sama cewek yang bohay sambil nenteng dokumen. Dia kayak ngomong gitu ke cewek tadi buat duluan salah satu meja yang masih kosong.

__ADS_1


Pelayan datang buat naruh makanan yang kita pesen, tapi baru sebagian. Dan si Ridho dateng nyamperin aku.


"Hai, Va..." Ridho nyapa dengan senyumannya, dia sekilas ngelirik ke arah Dilan.


"Hai," aku nyaut sekenanya aja.


"Nggak nyangka ketemu disini. Kalian lagi makan malam?"


"Ya..." jawabku sambil ngeliat ke arah cewek yang udah duduk dan melambaikan tangannya ke Ridho.


"Dia, Rimar. Asisten pak Bagas juga


Kebetulan kami ada pertemuan penting dengan seseorang. Baiklah kalau begitu, aku duluan, Va..." ucap Ridho yang kemudian berbalik dan berjalan menghampiri si cewek bohay.


"Ehem," Dilan berdehem.


"Ehm, gimana tadi..." aku agak salting karena ketauan kalau aku daritadi ngeliatin ke arah lain.


Ya udah, aku coba tanya beberapa pertanyaan dasar kayak dia kerja dimana, terus gimana orangtuanya sama Ravel. Pokoknya aku nyecer nih orang aebelum akhirnya Ravel dateng dan kita mulai makan malam.


Posisi masih sama, Ravel duduk di sampingku dan Dilan di depan kami berdua. Sedangkan beberapa kali aku ngeliat kalau Ridho ngeliatin ke meja kami.


Ditengah makan malam aku berusaha buat banyak tersenyum, walaupun agak aneh dan nggak nyambung mungkin sama apa yang kita obrolin yang jelas aku bisa ngeliat Ridho nggak bisa memalingkan pandangannya dariku.


"Mbak ngeliatin apa sih, Mbak?" tanya Ravel, yang mungkin ngerasa aku nggak fokus.


"Eh, nggak ada..." aku lanjutin makan.


"Mbak, mbak, itu bukannya mas Ridho ya?" Ravel ngeliat ke salah satu arah.


"Mana? nggak ada. Salah liat kamu, dek! mana mungkin orang yang udah ngilang lama tiba-tiba nongol," aku ngeles padahal emang ada tuh makhluk yang dimaksud si Ravel. Lagi makan sama Rimar yang katanya asisten pak Bagas dan juga ada dua orang lagi yang aku nggak kenal siapa mereka.


"Beneran, Mbak! itu ada mas Ridho, aku samperin yah..." kata Ravel.


"Udah deh, duduk yang anteng..." kataku mencegah Ravel nemuin Ridho.


"Siapa yang mau kamu temui, Vel?" tanya Dilan.


"Itu aa, mas Ridho pacarnya mbak Reva..." kata Ravel.


"Dia duduk di meja sebelah sana, nggak enak kan ketemu tapi nggak nyapa..." lanjut Ravel.

__ADS_1


"Tapi kayaknya dia lagi ketemu orang penting," mata Ravel memicing. Dilan nggak ikut nengok cuma dia nanggepin seadanya.


"Kamu nyapanya ntar kalau mereka udah selesai makan. Nggak enak kalau ganggu, barangkali mereka lagi ngomongin hal yang penting," ucap Dilan.


"Ya udah deh..." Ravel duduk lagi.


Dasar si Ravel, mulutnya ember banget pake bilang si Ridho pacar aku. Kalau kita nggak lagi di tempat umum, udah aku sumpel tuh mulutnya pakai kain lap.


Kita ngelanjutin makan malam dengan tenang. Setelah selesai, Ravel maksa buat jalan malam mingguan sama Dilan.


"Please, Mbaaak. Janji deh nggak pulang kemaleman," ucap Ravel.


"Ini udah malem, Dek! emang ku kira sekarang masih sore?"


"Paling kita mau nyari jajanan aja, Mbaak..." Ravel merengek.


"Ehm, saya akan antarkan Ravel sebelum jam 11 malam," ucap Dilan.


Aku ngeliat jam, sekarang udah jam setengah sembilan, "Ya udah, balikin dia sebelum jam 11 ya," ucapku pada Dilan.


"Siap!" sahut pacar adekku itu.


"Maksih ya, Mbaaaaaakk..." Ravel girang banget bisa jalan sama pacarnya. Mereka tancap gas nggak tau kemana


Sedangkan aku, langsung masuk ke dalam mobil.


"Tuh kan, perasaan nggak enak mulu daritadi..." aku usap tengkukku.


Situasi diluar ramai, tapi di dalam mobilku kayak atmosfirnya langsung berubah gitu. Dingin dan sepi.


Terakhir aku ngeliat Ridho, dia masih terlibat pembicaraan yang cukup serius dengan dua orang di depannya. Syukurlah, jadi aku bisa pergi tanpa harus ketemu sama dia.


Mesin mobil aku nyalain dan injek pedal gas, menyusuri jalanan yang pasti akan ramai spai tengahalam nanti. Aku nyalain musik, supaya situasi agak enakan dikit.


Nggak tau kenapa aku pengennya cepet-cepet nyampe di apartemen, biasanya aku tuh nggak gini juga. Mau nyetir sendirian di mobil juga nggak masalah, tapi malam ini agak beda ya. Apa mungkin ada penumpang gelap yang sengaja bikin aku nggak nyaman?


Akhirnya aku sampai juga di basement. Kondisinya nggak ada orang, cuma ada mobil pada berjejeran. Aku emang masih suka ngeliat hal-hal yang nggak diinginkan, tapi kalau situasi yang kayak gini yang paling aku hindarin, soalnya pasti berujung aku ngeliat sesuatu.


Aku keluar dari mobil, dan berusaha mempercepat langkahku. Tapi tiba-tiba ada yang menarik tanganku hingga punggungku menyentuh badan mobil.


"Awwwhhh!" aku memekik.

__ADS_1


__ADS_2