
Malam harinya.
Kita semua udah riweuh, nggak kita sih. Ibu lebih tepatnya. Padahal semua udah ada yang urus. Sengaja aku dan Ridho mengerahkan banyak orang supaya ibu nggak capek. Tapi balik lagi ya, namanya ibu-ibu pasti hebring sendiri ngurus ini itu.
Kebetulan malam ini mbok Surti udah balik, jadi lumayan ada tambahan orang lagi.
Dan lagi liatin orang-orang pada lalu lalang, tiba-tiba ada satu sosok wanita yang datang, siapa lagi kalau bukan Arini dia datang dari depan beraamaan dengan Ridho yang udah gagah pakai baju koko putih dan juga celana panjang.
"Di dalem aja, Rin sama istriku Reva..." kata Ridho, yang aku denger saat berhasil nganterin si Arini masuk.
"Sayang, Arini udah dateng..." ucap Ridho saat ngeliat aku duduk di sofa ruang tengah, dia balik lagi ke depan.
"Hai," sapa Arini.
"Hai juga, duduk...?" aku nawarin dia buat duduk. Aku pakai setelan gamis putih, mendadak beli pas pulang dari pantai. Kan semua acara serba dadakan kayak tahu bulat.
"Aku nggak telat kan?" ucap Arini.
"Nggak kok, acaranya aja belum mulai," sahutku.
Udah, kita nggak ada yang ngomong lagi. Dan krik-krik pun melanda.
"Kenal mas Ridho udah lama?" aku nanya basa-basi.
"Ya, lumayan..."
Dan percakapan kita diinterupsi oleh kedatangan Mona.
"Mbak Arini? ini mbak Arini kan?" tanya Mona.
"Iya...?" jawab Arini.
"Kamu Mona? wah aku sampai pangling," lanjut Arini.
"Gimana kabar, Mbak?" tanya Mona, aku cuma jadi pendengar nggak setia.
"Baik, Mon. Kamu gimana?"
"Aku juga baik. Oh ya, udah kenal mbak Reva? ini istrinya Mas Ridho..." ucap Mona.
"Udah, kok. Kita udah kenalan, iya kan?" kata Arini, aku cuma tersenyum tipis.
"Iya," jawabku singkat.
Acara pun dimulai. Para tamu undangan sudah berkumpul di ruang tamu, kita sengaja mengusung tema lesehan. Disitu ibu Ridho mengumumkan pernikahan aku dan Ridho, dan juga secara official mengumumkan aku sebagai mantunya. Seketika aku merasa bangga, apalagi di depan Arini. Wanita cantik, kalem yang aku yakin punya hubungan sesuatu sama Ridho sebelumnya. Nggak tau, aku cuma feeling aja.
Setelah berdoa bersama, tamu diberikan semacam jinjingan. Pokoknya semua itu udah ada yang ngatur, jadi aku cuma duduk dan pasang muka ramah aja tugasnya.
Banyak yang ngasih selamat, terutama sodara dari pihak Ridho. Lagi-lagi aku pasang muka seramah mungkin.
Setelah acara selesai, giliran Arini yang nyamperin.
"Maaf, aku cuma bisa kasih ini. Sekali lagi, selamat buat kalian berdua..." ucap Arini yang ngasih aku sekotak hadiah.
"Nggak usah repot-repot kayak gitu, Rin. Aku jadi nggak enak loh, aku kan waktu itu nggak sempet dateng di acara nikahannya kamu," Ridho nampakin muka nyeselnya.
"Selow aja kali. Aku pamit ya," kata Arini.
__ADS_1
"Makasih ya," ucap Ridho sekali lagi, aku sih cuma senyum doang.
Jadi, wanita kalem dan cantik ini udah sold out. Hadeeuh, seketika batinku langsung bersyukur. Aku sempet khawatir cinta kangmas akan berpaling dan digondol wanita yang mendekati sempurma itu.
"Loh kok bengong? ada yang lagi dipikirin?" tanya Ridho.
"Nggak ada, aku cuma lagi liatin tamu-tamu yang mulai pada pulang..." ucapku berbohong.
"Ya udah, aku kesana dulu ya?" Ridho nunjuk orang-orang yang kayaknya lagi dikasih jinjingan dan mau pulang. Mungkin Ridho mau nyapa bentar.
Aku milih masuk ke dalem mau ambil minum di ruang makan, dan sayup-sayup aku denger percakapan dua orang.
"Tadi temen Ridho yang kesini namanya siapa, Mon?" suara ibu.
"Namanya Arini. Dulunya, gebetannya mas Ridho itu, Bu..."
"Oh, gebetan itu apa?" tanya ibu.
"Gebetan itu apa ya, dibilang pacar bukan tapi kalau dibilang temen terlalu deket," jelas Mona.
Kan, hatiku langsung deg-deg ser denger pengakuan dari Mona. Apa aku bilang, pasti ada sesuatu dukunya antara Ridho dan Arini.
"Kok diundang?"
"Nggak tau, Bu. Tanya aja langsung sama mas Ridho," ucap Mona.
Aku yang tadinya mau ambil minum akhirnya nggak jadi. Aku balik lagi ke depan, dan pas ngeliat orang udah pada sepi, aku balik lagi ke kamar.
Aneh, tapi ada rasa cemburu ngeliat Arini. Apalagi, setelah denger Arini mantan gebetannya Ridho.
"Tapi aku yang jadi istrinya, jadi aku nggak boleh berpikiran yang macem-macem," gumamku sendiri.
"Lagi ngapain? komat kamit sendirian?" tanya Ridho yang entah kapan datangnya.
"Siapa yang komat kamit? nggak ada,"
jawabku.
"Ya kamulah, Reva...." ucap Ridho yang buka satu persatu kancing tangan baju kokonya.
"Tamunya udah pada pulang?" aku mengalihkan pembicaraan.
"Ya, udah. Yang lain lagi beres-beres. Besok kita balik, jadi istirahat lebih awal ya?" kata Ridho.
"Iya..."
Dan sesuai rencana paginya, aku dan Ridho balik karena acara juga udah selesai.
"Bu, Ridho pamit..." kata Ridho.
"Loh, ndak nginep sehari lagi?"
"Tauk nih, aku kan masih kangen sama mbak Reva. Kita baru juga ketemu," imbuh Mona.
"Nanti kita main-main lagi kesini," ucap Ridho.
"Iya kalau inget, iya kan Bu?" serobot Mona.
__ADS_1
"Ya sudah kalian hati-hati di jalan, jangan ngebut..." ucap ibu.
"Reva pamit ya, Bu?" kataku pada ibu seraya memeluknya.
Begitu juga dengan Mona, "Mbak pulang ya, Mon..."
"Iya, Mbak, hati-hati. Cepet kasih kabar baik ya," ucapnya.
"Inshaa Allah..." kataku melepas pelukannya
"Ya udah, yuk?" ajak Ridho.
Ibu dan Mona melambaikan tangannya mengantar mobil yang kita tumpangi berjalan menjauh dari area pelataran.
Sepanjang perjalanan, aku diem aja. Nggak tau lagi bete aja.
"Kok diem?" tanya Ridho.
"Lagi nggak pengen ngomong aja,"
"Kenapa?" tanya suamiku.
"Ya nggak mood aja, udah nyetir aja yang bener," kataku.
Hening...
Hanya ada suara lagu.
"Va..." tiba-tiba Ridho bersuara.
"Hem,"
"Kita udah nikah,"
"Terus?" aku nanya heran.
"Kita belum mutusin kita bakal tinggal dimana untuk sementara waktu. Nggak mungkin kita tinggal terpisah, kan?"
"Terserah kamu aja," kataku.
"Di rumahku atau di apartemen kamu?" tanya Ridho.
"Mana aja boleh,"
"Kenapa? ada yang bikin kamu nggak mood?" tanya Ridho.
"Nggak ada,"
"Jangan bohong," ucap Ridho maksa.
"Kita suami istri, apa-apa yang ngeganjel di hati sebaiknya diungkapin, sebelum perasaan itu semakin menggunung dan meledak, nggak baik buat hubungan kita," kata Ridho.
"Ternyata Arini mantan gebetan kamu ya, Dho?" tanyaku tanpa basa-basi.
"Kata siapa?"
"Aku denger dari Mona waktu lagi ngomong sama ibu di ruang makan," aku ngelirik Ridho.
__ADS_1
"Cinta monyet, Va! bukan apa-apa, dia juga udah nikah dan aku juga udah nikah, jadi masalahnya apa?" tanya Ridho.
"Nggak ada?!!" ucapku tambah bete.