
Ridho menjarak tubuh kami, "Kamu nggak apa-apa?"
"Aku anterin kamu ke kamar kamu, ya?" kata Ridho.
"Nggak, aku nggak kenapa-napa. Aku mending sama kamu aja..." aku menolak.
"Tapi tangan kamu luka, nih..." Ridho nunjukin tanganku yang berbalut sapu tangan.
"Dirawat kamu aja biar cepet sembuh!" kataku ngegombel.
"Halah, aku bukan dokter, bukan perawat. Yang aku bisa cuma ngerawatin cinta kita biar nggak layu dan pupus, gimana dong?"
"Iiihhhhhhhh, abaaaaanggg!" aku pukul-pukul pelan dada kangmas.
"Aawhhh! sakit!" aku memekik.
Aku lupa kalau tanganku ini ada lukanya.
"Makanya, nih tangan jangan pecicilan!" Ridho ngeraih tanganku supaya nggak mukul sembarangan.
"Kamu kan habis terkurung dalam sangkar, maksudnya dalam lift. Kondisi kamu masih lemah, lebih baik kamu dirawat dulu. Biar cepet sehat lagi. Nanti Mona biar aku dan Bara yang jagain, lagian ada banyak perawat juga, kan?" ucap Ridho lembut dia curi-curi satu kecupan di pipi.
"Aku udah nggak apa-apa beneran," ucapku.
"Ya udah, tapi kalau pusing atau lemes bilang ya? jangan di tahan..." kata Ridho.
Aku ngangguk, dan kangmas bawa aku lagi di gendongannya.
"Kenapa kita nggak pakai lift aja?" tanyaku penasaran.
"Kamu habis terjebak disana, aku takut kamu masih trauma," sahut Ridho.
"Kalau sama kamu sih nggak..."
"Berarti nggak apa-apa nih kita naik lift?" tanya Ridho.
"Nggak apa-apa..."
"Astaga, tau gitu tadi aku naik lift aja, ya! ngapain susah-susah naik tangga darurat, gempor juga nih kaki bawa bayi gajah!" Ridho nyeletuk.
"Enak aja bayi gajah!" aku kencengin tanganku yang ngelingker di lehernya.
"Uhuuuukkk! Reva aku bisa metong ini kalau di cekek kayak begini? kamu mau jadi janda sebelum waktunya?" ucap Ridho.
__ADS_1
Aku pun ngelonggarin tanganku, "Makanya jangan ngledekin!"
Dan ya di lift ini bukan hanya kita berdua aja. Ada beberapa pasang mata yang memangdang ke arahku dengan tatapan yang nggak mengenakkan.
"Iri bilang, Bu! Ibu pasti nggak pernah di gendong sama suaminya ya..." aku ngeledek si ibuk dalam hati.
Kalau Ridho mah nyantai aja, dia kayaknya masa bodo dengan tatapan-tatapan yang mengarah pada kita berdua.
Setelah sampai di lantai yang tuju, aku keluar dengan tetap berada dalam gendongan kangmas.
"Dhooooo!" aku tepok punggung Ridho.
Ya, ada sosok pria yang berdiri di depan ruang rawat Mona. Pria yang sempet nolongin aku keluar dari lift yang mendadak macet.
Tapi Ridho tetep santuy, bukannya nurunin aku dia malah benerin gendongannya supaya aku nggak melorot. Aku yakin abis ini Ridho mendadak encok deh karena kelamaan ngegendong akikah.
"Kamu darimana saja Reva?" tanya pak Karan setelah Ridho berjalan mendekat dan berada tepat di hadapannya.
"Bukan urusan, Bapak!" kataku.
"Ikut aku kembali ke dalam ruang perawatanmu!" suruh adek sepupu.
"Nggak mau!"
"Kamu itu belum sembuh, atau kamu ingin aku hubungi tante Ivanna dan mengatakan kalau putrinya habis terjebak di dalam lift selama berjam-jam?" ancam pak Karan.
"Nanti aku kesana..." kata Ridho lagi.
"Ya udah, deh!" aku turun dari gendongan kangmas dan sekarang gantian digandeng pak Karan pergienuju ruang oerawatanku yang sempat aku tinggalin.
Beberapa kali aku nengok ke belakang, ngeliat Ridho yang menatapku dengan tatapan sendu.
"Aku bisa jalan sendiri!" aku tepis tangan pak Karan.
"Tidak bisa nanti kamu kabur-kaburan!" Pak Karan genggam tanganku lebih kencang dari sebelumnya.
.
.
.
Matahari udah nggak keliatan lagi, sekarang cuma ada bintang-bintang di langit. Daritadi aku denger pak Karan kasih instruksi ke asistennya. Kalau aing mah sabodo amat dia mau ngobrol sama siapa juga, yang jelas aku males ngeliat mantan bosku itu. Tangan udah dipasang infus lagi, tentu aja dengan drama-drama takut disuntik. Aku yang udah gede, bikin riweuh para perawat karena aku yang over takut sama jarum suntik.
__ADS_1
"Kamu belum makan," kata pak Karan yang masukin hapenya ke dalam saku.
"Nanti kalau saya lapar, nanti saya juga makan!" jawabku ketus.
Dia narik kursi di samping ranjang, "Kamu tau kemarahanmu itu sangat tidak beralasan!" kata pak Karan yang numpangin satu kaki di kaki lainnya.
"Tidak beralasan!" aku menarik satu sudut bibirku ke atas.
Bisa-bisanya dia bang kemarahanku tidak beralasan! Gimana nggak marah, ternyata dia itu biang keladi dari semua kejadian teror di rumah kontrakan. Pantesan aja, waktu ketemu pak Karan si Gadis kayak orang yang takut gitu. Ternyata dia udah mencium-cium niat jahat dari seorang Karan Perkasa.
"Dengarkan saya, Reva. Memang benar saya menyuruh orang untuk mengawasi rumah kamu--"
"Udah, udah, cukup Pak! saya nggak mau denger pembelaan Bapak! udah cukup saya dibodohi oleh orang kaya dan sombong kayak Bapak!"
"Astaga, hahahahahah ... mulut kamu itu pedas juga ya ternyata!" pak Karan bukannya marah dia malah tertawa.
"Saya sudah bilang dari awal, kalau rumah itu sepertinya tidak aman..."
"Iya karena Bapak yang sengaja bikin tidak aman. Duuh Bapak pikir saya tidak tau dan tidak mendengar ucapan Bapak dengan Arjun? stop membodohi saya seolah-olah Bapak mau melindungi saya. Tapi nyatanya Bapak itu dalang dari semua kekacauan yang terjadi di rumah itu!" aku bicara menggebu-gebu, udah kayak orang lagi demo di depan gedung pemerintahan.
"Haduh, otak kamu isinya apa, sih?" pak Karan ngetukin jarinya di pelipisku, tapi secepat kilat aku tepis.
"Orang kalau hanya mendengar hanya setengah-setengah ya begini," gumam pak Karan.
"Kalau Bapak nyuruh saya disini cuma mau berdebat, mending saya keluar dan nggak usah pakai dirawat segala!"
"Loh, yang ngajak berdebat kan kamu sendiri, kok kamu malah nyalahin saya? sepertinya kelamaan terkunci di dalam lift membuat otak kamu sedikit bermasalah. Besok kita chek, ada kerusakan atau tidak dengan fungsi otak kamu itu!" kata pak Karan.
"Bapak ini benar-benar, ya..."
"Diam!" pak Karan menaruh satu telunjuknya di depan bibirnya sendiri.
"Hari ini kamu terlalu banyak bicara, sekarang gatian saya yang bicara dan kamu yang mendengarkan!" ucap Pak Karan.
"Apa yang mamu dengar itu tidak sepenuhnya salah, tapi tidak juga benar 100%..." ucapnya.
"Memang, saya menyuruh orang untuk mengawasi rumah kontrakan itu setelah saya datang di malam kamu bersepakat dengan hantu itu..."
Pak Karan langsung menatapku dengan serius ketika mulutku udah siap-siap mangap mau ngomong.
"Dengarkan dulu, jangan menyela ucapanku! saya belum selesai," kata pak Karan.
"Aku menyuruh orang mengawasi, saya memang sengaja tidak menangkap pelakunya. Karena saya pengen kamu tau kalau rumah itu tidak aman untuk ditinggali, tapi bukan berarti saya itu dalang dari semua teror yang kamu alami! kamu salah besar!" ucap pak Karan.
__ADS_1
"Saya memang tau jika mereka memasukan cacing-cacing itu ke dalam kontrakanmu, tapi itu bukan berarti berarti saya ikut andil dalam rencana itu. Tidak! orang-orangku akan bergerak jika mereka sudah mengancam keselamatanmu, dan selama itu tidak terjadi maka tugas mereka hanya mengawasi..." ucap pak Karan.
"Lalu hantu itu...?" aku mencoba mengorek lebih dalam info apa saja yang pak Karan ketahui.