Mendadak Dikejar Setan

Mendadak Dikejar Setan
Aku? Kesurupan?


__ADS_3

Sesuai rencana, minggu pagi kita bakal balik lagi ke rumah kontrakan. Tapi cuma si Ridho, Bara dan pak Karan bersama dengan pak Sarmin yang nggak pergi ke pasar, ups!


Aku dan Mona sementara ditinggal di rumah pak Sarmin bersama dengan bu Ratmi.


Sebenernya aku sama Mona ya pengen ikut, tapi kata pak Sarmin keadaam belum kondusif. Nanti dia menyuruh mas Rahman buat berjaga kalau malam di depan rumah pak Sarmin demi keamanan bersama.


Melalui perdebatan yang sangat alot kayak tulang ayam bangkotan pun, akhirnya kita sepakat buat menuruti apa yang di sarankan pak Sarmin.


"Kamu hati-hati, kalau ada apa-apa cepat kabari..." kata Ridho yang tangannya nemplok di pipiku.


"Mon, Mas pergi dulu sama Bara. Kalau semuanya udah beres kita bakal jemput kamu lagi..." kata Ridho ke adiknya.


Mona meluk abangnya sebentar, "Kalian juga jaga diri..."


Ngeliat Mona meluk Ridho aing juga pengen ikutan deh, itung-itung kan pelukan perpisahan.


"Nanti orang suruhanku akan tetap disini, jika butuh sesuatu bilang saja!" kata pak Karan yang menyentuh kepalaku sekilas. Mungkin dia lupa aku ini kakak sepupunya, walaupun secara umur dia yang lebih tua.


Ya udahlah aku tinggal ngangguk aja, "Iya..." ucapku lirih.


"Mona..." Bara cuma bisa manggil nama Mona.


"Hati-hati, Bar. Kabari kalau udah sampai..." ucap Mona menguatkan sang gebetan.


Sebenernya berat ya melepas kangmas pergi, aku nggak tau bahaya apa yang bakal dia hadapi. Tapi satu hal yang selalu dia bilang ke aku kalau aku jangan tinggalkan kewajibanku, walaupun hanya satu waktu.


Karena yang bisa menolong kita dari keadaan yang di luar jangkauan nalar manusia hanya Allah. Pak Sarmin hanya sebagai perantara saja, sedangkan yang utama itu menjaga kedekatan kita dengan tuhan sang penguasa alam dan seisinya.


Aku ngeliat mobil yang ditumpangi Tidho dan yang lainnya pergi menjauh meninggalkan pelataran rumah bu Ratmi. Kayak ada yang nyesek di dalam sini, iya di dalam hati.


"Kita masuk..." ucap bu Ratmi yang menyuruh aku dan Mona masuk ke dalam.


Berhubung matahari sudah naik ke atas, bu Ratmi bilang kalau dia mau ke pasar dulu. Karena persediaan bahan makanam sudah habis. Aku yang nggak mau modal numpang gratisan pun menawarkan bantuan.


"Bu, ini buat sekedar belanja..." ucapku pada bu Ratmi seraya menyelipkan beberapa lembar uang yang aku selipkan di sela jabatan tanganku dengan istri pak Sarmin itu.


"Tidak perlu, Naaak!" bu Ratmi mengembalikan balik uang yang aku berikan padannya.


"Jangan begitu, Bu. Terima saja, karena saya katanya pamali nolak rejeki. Kata ibu saya, pantangenolak rejeki walaupun hanya sebiji zarah..." ucapku.

__ADS_1


"Betul apa yang dikatakan mbak Reva. Tolong diterima hitung-hitung uang makan kita selama disini..." ucap Mona.


"Baiklah kalau begitu. Padahal sebenernya tidak perlu seperti ini karena Bapak sudah meninggalkan uang untuk keperluan dapur..." jelas bu Ratmi.


"Itu bisa ibu simpan sebagai tabungan, Bu..." kataku meyakinkan bu Ratmi.


"Ya sudah, ibu ke pasar dulu. Kalau kesiangan barangnya takut dapatnya yang kurang bagus


..." ucap bu Ratmi yang membawa satu tas anyaman yang khas banget dipunyai sama warga sini kalau mau ke pasar.


Jadi nggak ada tuh pakai kantong keresek, selain ekonomis juga ramah lingkungan karena ngurangin sampah plastik.


Ternyata bu Ratmi ke pasarnya bareng sama mbak Luri, sedangkan ibunya mbak Luri nungguin rumah sambil beberes gitu, nyapu-nyapu lah segala macem.


Kita berdua, maksudnya aku dan Mona yang notabene tamu jadi nggak enak banget cuma duduk di depan teras kayak gini.


"Itu mereka kagak pegel berdiri kayak gitu ya, Mon?" ucapku ngomentarin dua orang yang disuruh menjaga disini.


"Suruh duduk disini aja, Mbak..." kata Mona yang udah lumayan bertenaga.


"Bentar ya, Mon! kamu tunggu disini," ucapku.


"Mas, Mas ... duduk disana aja, kaki bisa pegel berdiri disini terus!"


"Tidak perlu, Nona. Kami berjaga disini saja..." kata salah satu diantara dua orang yang pakai kemeja hitam ini.


Kenapa gitu ya, harus banget pakai yang item-item. Apa mereka nggak boleh pakai kemeja warna-warni gitu?


"Disana aja! duduk yang anteng, kalau nggak mau nurut saya laporin pak Karan kalau kalian---"


"Jangan Nona!" kata pengawal yang mukanya udah mulai panik.


"Ya makanya, duduk disana


Kalian berdiri disini selain mengganggu pemandangan juga jadi bahan gunjingan orang lewat!" kataku.


Akhirnya mereka pun mau mengikutiku buat duduk di teras rumah pak Sarmin. Aku dan Mona masuk ke dalam, udah selese kita cari angin segernya. Di dalem Mona udah mau nyari sapu sama pengki.


"Mau ngapain kamu, Mon?" tanyaku pada Mona yang masih asing dengan rumah ini.

__ADS_1


"Mau beres-beres,"


"Biar Mbak aja udah. Kamu duduk, kamu kan abis sembuh dari kesurupan!" kataku.


"Kesurupan?" Mona ngernyit. Kita duduk di ruang tamu yang masih ada gelaran karpetnya.


"Iya kesurupan, emang kamu nggak kerasa?" tanyaku.


Mona gelengin kepala, "Nggak, cuma kayak orang abis bangun tidur tapi badan capek semua. Lemes gitu..."


"Jadi nggak kerasa? bener-bener nggak kerasa?" aku masih nggak percaya.


"Nggak, Mbaaak..." kata Mona.


"Lah itu kamu nyakar-nyakar Bara, nggak inget berarti ya? mpe compang cping begitu bajunya,"


"Aku nyakar? Bara?"


"Nggak liat itu muka dia pada bocel di tempelin plester?" ucapku.


"Aku belum sempet nanya sih, kenapa dia kok kayak begitu mukanya. Tapi dia ilfeel nggak ya, Mbak sama aku?" Mona cemas.


"Nggak lah, dia paling maklum. Kan waktu itu kamu lagi kemasukan jin kamfret!" kataku.


"Dih, Mbak Revaaaa!"


"Ya emang bener, Mon! sumpeh, ngeri-ngeri sedap juga aku liatnya. Masih untung ya sasarannya si Bara, coba kalau aku? hadeuuuh, yang ada harus bolak-balik permak muka ke klinik buat ngilangin baret di muka aja lumayan riweuh. Masa iya mau ditambah lagi dengan hasil karya kamu?!" aku nyerocos nunjukin muka yang udah alus lagi tanpa bekas.


"Ya tinggal minta sepupu, Mbak buat bayarin!" kata Mona enteng.


"Beuuuhhh, nggilani! Mas kamu bisa merong-merong, Mon! dia kan cemburuan banget,"


Bukannya beres-beres kita malah ngerumpi di ruang tamu sambil glosoran.


"Mbak pakai ilmu apa sih? sampe mas Ridho kayak gitu? jujur aja dia tuh bukan tipe orang yang bisa nunjukin kemesraannya di depan umum, apalagi di depan aku!"


"Ya kan dulu kamu masih bocil, sekarang kan udah ngerti pacaran!" kataku.


Mona hanya nyengir, "Berarti aku udah gede, ya?"

__ADS_1


"Menuruuuuuutttt looooooooooooe?" suaraku melengking.


__ADS_2