
Aku yang kepergok tidur nyender di pintu pun nggak kalah gelagapan dan bingung juga harus jawab apa. Aku cuma bisa garuk-garuk kulit kepala persis kayak onyet.
"Mbaaaakkk?" Mona masih minta penjelasan.
"Iya kenapa ya, Mon?" aku buru-buru bangun.
"Lah Mbak Reva malah nanya ke aku. Mbak sleep walking, ya?" tuduh Mona.
"Iya kali, Mon!"
Mona bergerak ke arah jendela, kayaknya mau buka korden.
"Jangan, Mon!" reflek aku ngalangin Mona buka tirai.
"Kenapa emangnya, Mbak? ini kan udah pagi. Biar ada cahaya masuk ke dalam rumah..."
"Maksudnya biar, Mbak aja yang buka. Kamu mending gorengin Mbak telor kecap, Mon. Telor kecap buatan kamu kan laziz dan bikin nagih. Mbak udah laper pake banget, daripada Mbak yang masak. Yang ada bukan telor kecap, tapi telor gosong kompor bolong. Dapur kamu bisa amsyong. Mbak minta tolong ya, Mooooon..." aku ngomong tanpa titik koma dengan muka mengharap.
Mona manggut-manggut tapi wajahnya agak kayak orang keder.
"Ya udah, lagian udah mau jam 7 juga. Mbak Reva pasti mau berangkat kerja, kan? Mona ke belakang dulu kalau gitu..."
Selepas Mona pergi, aku bisa bernapas lega. Aku takut kalau Mona buka korden dan ngeliat tuh ada laki-laki yang ketiduran di depan pintu kontrakan, bisa heboh dia.
Dan jeng jeng jeng!
Pas aku nyibak korden atau tirai, eh aku nggak nemu sosok pak Karan dong! lah ngilang dia.
"Semalem itu nyata kan, ya?" aku jadi ragu.
"Masa iya aku ngimpi, sih?" aku ngeliat lagi ke arah luar jendela, emang nggak ada siapa-siapa disana.
"Ah, palingan udah pulang karena nggak kuat digerogoti nyamuk," aku positif thingking dsn meyakinkan diri kalau semalam itu ya sosok pak Karan asli yang nemuin aku.
Ditengah sadar dan nggak sadar, aku sebenernya denger kalau pak Karan ngomong, dia nggak mau kita sepupuan. Nah, itu nggak mau sepupuannya karena aku kere apa gimana dah. Nggak paham.
Ada beberapa percakapan yang antara yakin dan nggak yakin kalau itu keluar dari mulut pak Karan. Dan lebih percaya kalau itu bagian mimpi semalam yang random abis.
Oke, jadi seingetku waktu kita duduk ngobrol bersekat pintu, dia sempet bilang kalau dia pengen kasih beberapa asetnya buat aku. Katanya biar aku nggak hidup susah. Aku emang mata duitan, tapi aku aneh aja dengan pernyataan itu. Apa itu kehaluanku aja karena ngebet jadi horang kaya atau emang itu benar adanya.
Dan yang bikin aku geleng-geleng kepala mulu dari tadi, masa iya aku denger kalau pak Karan ngajakin aku kawin eh nikah maksudnya. Dia janji bakal bikin hidup aku nyaman dan sejahtera. Kalau yang itu fix, otakku halunya kebangetan sih.
__ADS_1
Semua lewat di kuping samar-samar, karena emang aku udah ngantuk berat. Diluar itu beneran atau emang aku yang salah denger, yang jelas semesta mengijinkan kita bertemu dalam bentuk saudara bukan pasangan.
Lagian mana kuat aing ngadepin singa jantan macam pak Karan. Bisa-bisa aing keriput sebelum waktunya, ogah!
Awalnyaemang aku akui, aku tersepona dengan gantengnya emang bikin salah fokus, tapi ternyata ada yang lebih penting dari sekedar ganteng dan harta yang berlimpah, yaitu iman. Bukan Iman yang jaga toko kelontong sebelah ya, bukan. Beda gaes.
"Mbaaaaaaaakkkk! telornyaaaa..." suara Mona ngebuyarin semua hal yang lagi dipikir di otak.
Aku segera nyamperin Mona, dan bilang kalau aku mau mandi dulu baru nanti sarapan. Ada hal yang kurang tapi aku nggak ngerti apaan.
"Ridho..." gumamku.
Ya, Ridho belum ngabarin aku sama sekali. Jam berapa kita mau berangkat ke kpungnya Karla. Awas aja kalau si calon suami ngajakin si karet nasi lagi. Aku bejek-bejek nanti.
Pas aku mau keluar kamar, tiba-tiba aja Ridho nelfon.
"Assalamualaikum," ucap Ridho di seberang sana.
"Waalaikumsalam,"
"Maaf, Va. Semalem aku ketiduran, dan nggak sempet ngabarin..." kata Ridho.
"Oh ya, aku belum dapet mobil. Rencananya aku mau pinjem mobilnya--"
Dia berdesis, "Sssh! ya nggak, lah! kalau kematin kan emang Karla yang minjem, Va. Kenal juga nggak temennya si Karla itu..."
"Terus mau minjem mobil siapa?"
"Makanya dengerin dulu, jangan nyamber aja kayak bensin. Aku awalnya mau pinjem mobilnya si Fikri. Nanti kalau dapet aku kabarin kamu lagi," kata ayang Ridho.
"Oke..." ucapku.
Setelah percakapan di telepon dengan ayang. Aku pergi ke meja makan buat sarapan bareng Mona.
"Nggak berangkat ngampus, Mon?" tanyaku.
"Nggak, Mbak. Aku lagi nggak enak badan..."
"Kecapean kamu, Mon!" kataku sambil menyuapkan nasi panas dan telur yang digoreng dengan kecap.
"Iya kayaknya, Mbak. Ya abisnya gimana ya, aku nyambi juga jadi asdos!"
__ADS_1
"Asdos?"
"Iya Mbak asisten dosen," jawab Mona nyantai.
"Baru tau aku, Mon. Kamu ada sambilan gitu..."
"Aku nggak mungkin ngerepotin mas Ridho terus, Mbak. Kasian, dia harus nanggung hidupku disini dan juga ibu di kampung..." kata Mona.
"Dan mas kamu itu nggak tau kalau kamu ada sambilan begini?"
"Nggak tau dia, Mbak. Aku cerita sama mbak doang ini..." kata Mona.
"Tapi bener ya Mon jadi asdos?" aku natap Mona serius.
"Ya iyalah, Mbak! emang mau jadi apaan? nggak lah, aku masih punya pegangan agama, Mbak. Kalau aneh-aneh, bisa dicoret dari kartu keluarga di rumah," jelas Mona.
"Syukur deh, Mon kalau kamu tau batesan. Karena pergaulan anak sekarang ngeri-ngeri sedap, Mon. Keliatan nya doang luarnya cupu, eh ternyata suhu..." kataku, Mona ketawa.
"Udah jam segini Mbak nggak siap-siap? tumben nih mas Ridho belum dateng?" tanya Mona.
Dan ya, aku bingung harus jawab apaan. Jujur atau nggak.
"Aku ada urusan sama mas kamu, Mon..." ucapku.
"Maksudnya? nggak ngerti..." Mona bingung.
"Hari ini kita nggak ngantor. Kita berdua mau ke luar kota, ada urusan..."
"Enak, yah. Urusan kabtor tapi perginya sama pacar..." Mona naik turunin alisnya.
"Apaan sih kamu, Mon! uda, ah aku mau cuci piring..." aku mending beresin bekas makan kita berdua daripada si Mona nanyanya kemana-mana, yang ada bikin pusing kepala.
Teng ... teng ... teng...
Udah jam 11 siang tapi belum ada kabar dari Ridho. Mona lagi rebahan di kamar, sedangkan aku duduk di ruang tamu sambil pegangin hape.
"Jadi nggak sih kita pergi hari ini? lagi ngapain kamu sih, Dho? nggak ada kejelasan gini..." gumamku, sedangkan Mona daritadi nanya mulu kenapa aku belum berangkat.
Dan lagi blingsatan begini. Tiba-tiba ada yang ngetok pintu.
"Siapa?" aku beranjak dan ngebukain pintu.
__ADS_1
...----------------...