
"Shhiiiiiiit, aku nggak boleh ninggalin dia gitu aja," aku berlari ke arah kamar pak Karan.
Segalak apapun pak Karan aku nggak mungkin biarin dia sendirian di hotel berhantu ini.
Aku balik lagi menuju kamar hotel yang dipesan pak Karan.
Dengan ditemani suara musik seriosa yang membuat suasana malam ini semakin mencekam. Aku menyusuri lorong hotel.
Bagaimanapun, aku masih punya hati nurani buat nggak ninggalin tuh orang.
Lampu lorong mendadak menyala kemudian padam kayak lampu yang mau njeblug.
"Paaaakkk?" aku gedor-gedor kamarnya pak Karan.
Dan
Kriieeeet...
Ternyata kamar itu tidak terkunci dengan sempurna seperti kecantikan seorang Reva Velya yang ulaaaalaa manjaaah.
Seketika ada bunyi kedebog, eh kedebug.
Bruuukkkkkkk.
Brrrruukkkk
Tanpa pikir panjang aku langsung tendang itu pintu.
Brrrrraaaaaaaakkkkkk!
"Hiyaaaaaaaaaaaaattt!" aku menerobos masuk dengan kuda-kuda berbekal pengalaman les karate jaman SMP.
Dan aku melihat pak bos lagi melayang di udara oleh sesosok makhluk yang menggerakkan tangannya sambil terus tertawa.
"Hahahaha ... errrrhhhhh..."
"Lepaskan dia!" aku teriak bak pahlawan kemalaman.
Dan makhluk itu menghempaskan tubuh pak Karan dari ketinggian.
Bruuukkk!
Pak Karan terkapar.
"Aaarrrgh, uhukkkk ... pergi Reva, cepat!" pak Karan mengeluarkan darah dari hidung dan mulutnya.
"Aku akan pergi jika denganmu, Pak!"aku drama banget, kaki mau maju tapi susah apalagi makhluk itu kini melihat ke arahku.
"Jangan aneh-aneh, cepat pergi!" suara pak bos serak.
__ADS_1
"Aku takut, Pak! tapi aku lebih takut kalau Bapak meninggoy disini, aku nggak mau Bapak gentayangin aku, Pak!"
Makhluk yang berbeda, bukan sosok yang aku temui di kamar Nyonya Ilena. Sosok ini memakai gaun merah dengan rambut yang lurus ada satu titik hitam di tengah matanya yang didominasi warna putih. Pak Karan mencoba berdiri namun sosok itu segera menggerakkan tangannya membuat pak Karan kembali menyentuh langit-langit kamar, lalu dijatuhkannya begitu saja.
"Aaaarrrghhh! s-selamatkan d-dirimu, Reva!"
"Nggak, Pak. Saya nggak bisa, kita datang bersama. Kita keluar juga harus bersama, Pak..." aku mencoba mendekat pada pak Karan.
Tapi sosok wanita itu tiba-tiba mendorongku hanya dengan gerakan tangannya.
"Aaaaakkkkh!" tubuhku dibanting.
"Reva!" pak Karan langsung bangkit dan berjalan terhuyung mendekatiku, tapi baru beberapa langkah pria itu ambruk. Dia berusaha untuk berdiri.
"Aaargk," pak Karan mengerang kesakitan. Darah keluar lagi dari mulutnya, "Uhukkk,"
"Pak Karaaaaaannn!" aku berusaha mendekat pada pak Karan tapi niat aku yang suci yang mulia itu dicegah oleh suara ringikan makhluk ini.
"Haahahahahahahah, tidak semudah itu..." dia tertawa jahat membuat sekumpulan angin bergerak yang membuat aku terlempar ke arah pintu.
Braakkkkk
Badanku jatuh di lantai, "Aakh, sakiithhhh..."
"Reeev..." pak bos mencoba bangkit.
Sedangkan aku mendongak melihat wajah wanita itu yang sepertinya nggak asing.
Kakinya melayang dan secepat kilat dia bergerak ke arah pak Karan yang kini sudah berdiri.
"Aku tidak akan membuatnya mudah," dia mencengkram rahang pak Karan. Sedangkan pria itu menggerakkan tangannya, memintaku agar aku cepat pergi.
Aku takut, tapi sekali lagi. Aku nggak bisa meninggalkan pak Karan disini, disiksa kayak gini. Dia bisa pindah alam dalam waktu yang singkat.
"Bodoh!" lirih pak Karan.
Dan seketika wanita itu mendorong pak Karan ke tembok, dengan tangannya yang kini berpindah ke leher pak bos.
"J-jangan, sakiti dia, Belevia!" aku berteriak saat melihat wanita itu sudah mau mengangkat tangannya ke atas.
Dia menghentikan aksinya, dan menoleh ke arahku dan melepaskan pak Karan begitu saja.
"Uhukkkk," pak bos terbatuk, dia memegang lehernya..
"Kau mengenaliku?" bukan hanya menoleh tapi dia kini mendekat. Aku nggak kuat melihat wajahnya, kulit putih pucat itu kini hanya berjarak satu senti dari wajahku.
"Ya lewat internet, kamu Belevia pemilik hotel ini. Tolong kita berbeda alam, biarkan kami pergi!" jawabku gemetaran.
"Kau pasti wanita yang sudah menggoda Karel ku rrrrghhhhh! ternyata kau yang sudah merebut calon suamikuuuu! perempuan kotor" dia membantingku seketika.
__ADS_1
"Revaaaaa!" teriak pak bos.
"Aaaaaaaarrghhhh!" tulang belulangku diadu dengan dinding. Pak Karan berlari melindungi badanku yang rasanya ancur-ancuran.
"Revaa? uhukkk, kamu nggak apa-apa?"
Astaga pertanyaan bodoh macam apa itu. Ya jelas apa-apa lah, Pak. Lah wong badan saya yang seksoy ini di banting kayak gini, kok.
"Hahahahahha, aku tidak sukaaaa kau menyentuuuhnya Karel!" sosok wanita itu murka gengs. Dia menggerakkan kedua tangannya ke atas, menerbangkan beberapa barang menghantam kami berdua.
Aku merasakan jidat nong-nong ku ini benjut, dan keluarlah darah di sudut bibirku.
"Tunggu tadi dia nyebut pak Karan itu Karel? ini hantu fix salah orang," aku berucap dalam hati.
"Pak ... aarghh, Bapakh namanya Karan apa Karel?" aku bertanya pada pak bos.
"Pertanyaan bodoh! kamu mau saya pecat? bisa-bisanya kamu tidak tau nama pemilik perusahaan tempat kamu bekerja!"
"Jangan keras-keras, Pak! ntar dia denger..." aku menahan sakit di kepalaku.
"Bapak punya hubungan apa dengan wanita ini, Pak! kasih kejelasan, Pak. Biar kita selamat..." aku nyambung omongan tadi.
"Hahahahhaha..." lah dia malah ketawa, aing nggak ngerti sumpeh.
"Hey, kau salah orang! saya ini Karan bukan Karel..." kata pak bos.
"Jangan coba-coba membodohiku, sama seperti yang kamu lakukan padaku, Karel! aku mencintaimu, tapi kau malah memilih wanita lain!"
"Mbaaaakkk, please kita udah bonyok daritadi. Beneran ini bukan Karel, ini pak Karan bos saya yang galaknya sejagad raya! aing maung aja kalah," aku nyoba jelasin.
"Reva saya pecat kamu!"
"Bapak kalau nggak bisa jelasin sama nih perempuan lebih baik Bapak tutup mulut, deh! ini perkara salah paham, Pak! saya ngerti sih gimana rasanya sakit hati, Pak! Bapak tuh nggak tau karena Bapak orang paling dingin sedunia!" aku susah payah ngomong sambil pegang dadaku yang rasanya sakit banget.
Dan badan kita melayang lagi di udara, emang ini setan nggak puas-puas udah bikin kita kayak bola yang bisa dilempar-lempar. Atau mungkin dese marah mendengar percekcokan antara aku dan pak bos.
"Aku akan membuatmu pergi bersamaku, Karel!" teriak si wanitah bergaun merah. Dia mendekat pada kami berdua, mencengkram rahang kita dengan masing-masing tangannya.
"Please, jangan! kamu salah orang, dia bukan makarel!" aku teriak.
Ups, makarel mah sejenis ikan ya, bun! Ya ampun disituasi genteng begini kok aku ingetnya ikan yang dikemas pakai kaleng, ya. Apa karena daritadi aku kelaparan?
"Aargk!" aku sulit bernafas, aku menengok ke samping melihat wajah pak Karan yang juga sama pucatnya.
"Paaakkkh?" aku bersuara dengan susah payah.
Dan dengan tanpa diduga.
Braaaaaaaaaaaaaaakkkkkkkkk!
__ADS_1
...----------------...