Mendadak Dikejar Setan

Mendadak Dikejar Setan
Drama Banget


__ADS_3

Please kali ini kita udah capek ngurusin setan-setan. Jadi, biarkanlah beberapa waktu ini aku gunain buat ngurusin hidupku sendiri dan mengabaikan mereka yang gentayangan nyari temen.


Kayak sekarang nih, hari dimana gigiku bakal dieksekusi. Sumpeeeh demi apa, aku bakal dibius dan nggak ngerasain apa-apa.


"Dok, itu buat apa?" tanyaku nunjuk alat-alat yang berjejer.


"Itu alat buat operasi hari ini. Tenang saja,"


Kamfret banget bilang tenang aja. Ini yang bikin aku tergeletak di ruangan ini malah nggak boleh masuk. Dia nungguin di luar, hemmm enak banget. Kita disini udah dengan sekuat tenaga nahan rasa takut dan lain sebagainya.


"Itu tang gede amaat!" batinku, nyaliku menciut seketika.


Aku liat perawat masih mondar-mandir nyiapin segala sesuatunya. Sementara jantungku deg-degan nggak karuan.


"Kita mulai sekarang ya?" ucap dokter.


"Wait, mukai apa, Dok?" aku mau bangun tapi dicegah sama perawat.


"Tetap di posisi anda, Nona..." tapi mukanya kok creepy banget.


"Siapkan obat biusnya!" ucap dokter.


"Dok, cabutnya besok-besok lagi aja, deh. Ini gusi saya udah nggak sakit," aku ngeri ngebayangin gusiku bakal di bedah.


Apalagi noh, makhluk pojokan ada yang ngeliatin aing mulu.


"Tenang, Nona. Ini hanya operasi kecil, coba tarik napaaas ... hembuskan," perawat kasih instruksi.


"Mbak saya nggak lagi mau lahiran loh!" aku malah jadi blingsatan. Apalagi mataku nggak bisa lepas dari deretan alat yang bikin aku ciut banget.


"Ayo, Nona. Ikuti saja, tarikk nafasss ... hembuskan..." ucap perawat tadi maksa.


Akhirnya aku pun mengikuti instruksi nih orang, aku tarik nafas dan menghembuskannya perlahan-lahan. Dan kesempatan itu dimanfaatkan dokter buat ngebius kau.


"Kan aku udah bilang nggak mau di-caa-buut!" mataku perlahan mengantuk dan semakin berat aja rasanya buat melek.

__ADS_1


.


.


.


Nggak tau berapa lama pembedahan itu terjadi, yang jelas sekarang aku mulai sadar. Dan udah ada di ruang perawatan. Aku lirik ada si Ridho yang lagi ngerjain kerjaannya.


"Emmh," aku berusaha buat bangun tapi lemes. Mungkin karena pengaruh obat.


Rahang mulutku rasanya nggak nyaman, nggak sakit atau belum sakit yang jelas buat ngomong rasanya agak aneh.


"Udah bangun, gimana? ada yang dirasa?" tanya Ridho, aku gelengin kepala. Males banget rasanya liat myka dia. Kesel, gedeg pokoknya mah.


"Syukurlah kalau kamu udah bangun, oh ya tuh giginya aku simpen. Kali aja mau kamu buat gantungan kunci," ucap Ridho nunjukin 4 gigi yang bikin aku sengsara


"Hemmm," aku cuma dehem karena udah mulai berasa nih nyut-nyutannya.


"Atit, yah?" Ridho ngelus pipiku yang lagi nggak nyaman.


Plaaak!


"Sabar, Sayang. Kan sakitnya cuma bentar, abis itu udah, daripada diambil satu satu, aku yakin kamu sekali doang berhasilnya yang 3 alamat nggak bakalan keambil. Kalau kayak gini kan udah kelar langsung," ucap Ridho ngentengin banget penderitaanku.


Pokoknya aku nggak mau tuh minum obat yang ditelen, semuanya aku minta masuk lewat infus. Dan pas mau buka mulut, beeeuuhhh sakitnya warbiazaaaaahhh.


"Kamu pengen apa? tuh ada bubur dan puding," kata Ridho.


Aku yang udah keroncongan mau nggak mau melahap makanan yang seadanya di ruanganku ini. Dengan keadaan gusi yang abis diobras, makan puding pun berasa sebuah penyiksaan tersendiri.


"Udah?" tanya Ridho sewaktu dia mau nyuapin aku puding tapi aku gelengin kepala. Aku rebahan lagi, menjadi dewasa ternyata sesakit ini. Suwer nggak mau lagi cabut gigi.


Nggak lama, adek sepupu datang.


"Hey, kenapa? kamu sakit apa? kata Arlin kamu lagi dirawat di rumah sakit!" pak Karan ucluk-ucluk dateng nyerocos abil bawa bubga mawar merah. Sedangkan aku, cuma diam seribu bahasa, cuma tangan aja yang nerima tuh buket. Sedangkan Ridho udah pasti mukanya males banget.

__ADS_1


"Kamu sakit apa?" tanya pak Karan lagi.


Gimana kalau aku kita ngobrol lewat telepati aja. Biar nih mulut nggak usah gerak gitu.


"Dia habis cabut gigi," kata Ridho.


"Saya tidak tanya sama kamu!"


"Ya udah, ngomong aja terus sampe berbusa. Revanya juga lagi nggak bisa diajak ngomong!" Ridho ngeloyor ke sofa.


"Kenapa ke rumah sakit ini? kalau kamu mau cabut gigi kan bisa di rumah sakit milik keluarga kita," ucap pak Karan.


Hadeuh, mau ke rumah sakit sebagus apapun. Yang namanya dicabut ya pasti endingnya juga sakit. Lagian keliatan banget manas-manasin Ridho. Tapi tumben loh si calon suami aing, nggak nyautin sindiran dari adek sepupu. Mendinglah, jadi aku nggak perlu ngamuk buat ngeluarin mereka berdua dari sini.


Waktu udah sore, pak Kaean pamit pulang. Katanya sih ada urusan. Tapi sebelum dia pergi, biasalah dia ninggalin makan-makanan yang enak. Segala jus udah lengkap di dalam kulkas. Aku tau Ridho nggak suka dengan apa yang dilakuin pak Karan, tapi lagi-lagi dia milih diem aja. Mungkin kasian sama aku kalau denger irang debat kusir, bisa tambah nyut-nyutan kepalanya.


Aku chat Ridho.


📱Pengen minum jus alpuket!


Ya karena mau ngomong juga a-i-u-e-o nya nggak jelas, jadi mending kirim text aja.


Ridho ngambilin jus lengkap dengan sedotannya, aku bilang makasih tapi tanpa bersuara. Irit ngomong.


"Pelan-pelan aja minumnya," Ridho ngingetjn sambil terus memperhatikan aku yang lagi nyeruput jus yang warnanya ijo dan ada coklat-coklatnya gitu.


Padahal perut pengen banget makan nasi, tapi nggak boleh dan belum bisa. Emang yabkalau satu kenikmatan dicabutatau diambil, ya kayak gini rasanya nggak enak. Itu baru fungsi gigi yang terganggu, coba kalau organ tubuh yang lain.Akh, menjadi sehat emang nggak ada duanya.


Aku sodirin algi sisa jus ke Ridho.


"Udah? atau ada yang lain yang kamu mau?" tanya Ridho. Aku menggeleng.


Dirawat disini cuma sehari aja, one day care. Dan besok aku boleh pulang, tapi tetep pulang juga belum bebas makan apa aja yang aku mau, prefer makanan yang lunak dan dingin. Padahal kan kalau lagi nyut-nyutan makan soto pkus sambel yang banyak kan biaa jadi nikmat ya. Ini mah boleh, pokoknya nggak boleh makan atau minum yng panas dulu, aiish pokoknya riweuh.


Matahari cepet banget balik ke peraduannya. Ridho nggak sedetikpun pergi daru ruangan ini, meskipun matanya nggak jauh dari leptop. Ya namanya juga sang asisten, aku nyoba maklumin aja. Toh dia kerja juga buat segera menghalalkan akuh.

__ADS_1


"Kamu tidur, Va. Udah malem..." Ridho dateng mendekat ke arah ranjang pasien yang aku tempati.


Tanpa basa basi dia membelai rambutku dan mengecup keningku. Tapi sekilas aku melihat sesuatu...


__ADS_2