Mendadak Dikejar Setan

Mendadak Dikejar Setan
Melting


__ADS_3

Setelah menempuh perjalanan yang lumayan jauh, kita sampai juga di kontrakannya Ridho.


Pas kita baru aja nurunin koper dari mobil, pintu rumah dibuka oleh Mona.


"Mbak Reva?" dia mendekat dan melihatku dengan tatapan bingung.


"Nanti mas jelasin. Sebaiknya kita masuk karena udah mau maghrib," kata Ridho.


Kami bertiga masuk ke dalam rumah. Mona yang terakhir masuk pun menutup pintu dan juga tirai jendela.


"Duduk dulu, Mon..." perintah kangmas Ridho.


Mona nurut, dia duduk disampingku yang bersebrangan dengan akang Ridho Menawan.


"Ada apa, Mas? serius banget?" tanya Mona. Tuh kan, bukan aku aja yang ngerasa Ridho tuh agak aneh. Nggak biasanya kan dia ngomong serius?


"Mon, mulai malam ini dan malam-malam selanjutnya, Reva akan tinggal di kontrakan ini sama kamu. Sedangkan mas akan pindah ke kosannya pak Baim. Kalau aku sama kamu kan punya ikatan darah kalau sama Reva kan sodara bukan istri bukan, jadi daripada nanti timbul fitnah mending mas yang pindah,"


"Tapi bukannya kosan punya pak Baim itu lumayan kecil ya, Mas? apalagi pak Baimnya mata duitan? telat dikit aja langsung tendang dari kos," Mona ngomong dengan tatapan bingung.


"Kamu tuh denger dari siapa gosip kayak gitu? jangan terlalu terlalu percaya sama kabar atau berita yang nggak jelas," kata Ridho.


Lalu Ridho melanjukan lagi, "Minimal disana ada pendingin ruangannya dan paling deket dari kontrakan ini. Cuma beda dua rumah, jadi mas bisa tetep ngawasin kalian..."


"Sekarang mas mau ke kamar. Mau beresin barang," kata Ridho yang kemudian bangkit dari duduknya.


Suwer ewer ewer, ini Ridho kerasukan setan bijak darimana, coba? Kalau ada yang bisa trawang menerawang bisa telepon ke nomor di bawah ini, ya?


Aku ngerasa nggak enak. Entahlah, aku ngerasa sikap Ridho sekarang beda banget.


"Mba, Mona ke kamar dulu, ya? mau shalat magrib,"


Aku mengangguk. Dan sekarang aku sendirian di ruang tamu.


"Untuk kali ini kayaknya aku udah kelewatan. Perkara nemu cincin, tapi masalahnya malah melebar kemana-mana. Baiklah, untuk kenyamanan bersama, apa boleh buat?"


Aku keluarin hape dan menekan tombol dial. Kemudian aku memesan mobil di suatu aplikasi. Setelah menentukan titik lokasi penjemputan, aku matikan hape dan menyimpannya ke dalam tas. Dan pikiranku tiba-tiba saja mengawang nggak jelas.


Setelah termenung lumayan lama Aku bangkit dari kursi, dan berjalan menuju kamar Ridho. Aku mengetuk pintu beberapa kali.


"Dho...! Ridho..." aku panggil nama Ridho sambil terus mengetuk pintu.


"Dho, buka Dho pintunya..!"


Pintu pun dibuka secara perlahan.

__ADS_1


"Ada apa?" Ridho membuka sedikit pintunya.


"Ehm, kamu nggak usah beres-beres," aku ngomong dengan susah payah.


Cowok di depanku ini mengernyit heran, " Maksudnya?"


"Ya, maksudku ... kamu nggak perlu pergi dari sini,"


"Aku semakin nggak ngerti. Kalau aku tinggal disini, yang ada para tetangga berpikiran jelek," tangan Ridho masih pegangan handle pintu.


"Nggak akan, tenang aja karena aku yang pergi..." aku ngomong nggak dipikir. Lagian, aku kan emang bukan siapa-siapanya Ridho juga.


Aku langsung meninggalkan Ridho masih berdiri kayak patung. Aku pegang salah satu handle koper, dan menariknya. Tapi sewaktu aku membuka pintu depan, ada tangan yang terulur dan menutup pintu yang baru aku buka sedikit.


Sekarang aku yang diem. Tangan itu kemudian membalik badanku.


"Kamu lagi sakit?" tanya Ridho. Ya tangan tadi ternyata bukan tangan setan melainkan tangan Ridho. Ridho mencoba memegang keningku tapi aku tepis.


"Aku nggak sakit, kok..." jawabku yang berbalik mencoba membuka pintu. Tapi, Ridho menahan daun pintu itu.


Dia memutar badanku sehingga menghadap padanya.


Deg


Deg


Deg


"Maaf, aku tadi nggak maksud bikin kamu ngerasa bersalah. Suasana hatiku lagi nggak enak," Ridho ngomong tanpa melepaskan tatapan maut itu.


"Kamu tinggal sama Mona. Biar aku yang pindah ke kosan sebelah," tangannya menyentuh tanganku yang sedang memegang handle koper.


Entahlah, ada apa dengan Ridho? Sampai dia bisa berbuat hal yang sangat manis. Dan bahasaku yang tadinya ecekebret uwow ulala syalala durindam dam dudi dudidam, berubah jadi puitis nan melankolis kayak gini.


"Nggak usah,"


"Sssttt! untuk saat ini, hanya ini yang bisa kita lakukan," Ridho menaruh satu jarinya di depan bibirku.


Cukup lama kami saling berpandangan sampai ada suara klakson mobil yang terdengar di depan rumah.


"Biar aku yang lihat," Ridho menunjuk pintu dengan dagunya.


Aku yang gugup pun mendadak bingung harus bergerak kemana. Dan kita sama-sama menghalangi pergerakan masing-masing.


Ridho menahan tawanya, "Kamu disini aja," dia menggeser tubuhku, agar memberi akses padanya buat membuka pintu.

__ADS_1


Ridho akhirnya keluar, dan melihat siapa yang datang. Sementara aku memegang dadaku yang rasanya nggak karuan. Aku terduduk kembali di kursi.


"Otak aku fix udah geser!" aku memukul kepalaku sendiri.


Nggak lama, Ridho masuk lagi dan nutup pintu.


"Kamu pesen taksi tadi?" tanya Ridho yang mendekat ke arahku.


"Emh, iya..."


"Tadi udah aku suruh balik lagi. Tapi


udah aku bayar ongkosnya, kasihan juga kalau dibatalin..." kata Ridho.


"Kamu mending ke kamarnya Mona, udah maghrib. Ntar kamu dicukik demit lagi! nah kalau koper biar disini aja dulu," sambung Ridho sebelum pergi ke kamarnya.


Aku hanya geleng-geleng kepala. Si Ridho kayaknya punya kepribadian ganda, deh. Aneh banget!


Tadi sok romantis, sekarang balik sengklek lagi. Mungkin beban hidupnya berat gaes, jadi suka berubah-ubah gitu sikapnya.


Menyadari hari sudah gelap, aku pun masuk ke kamarnya Mona. Si gadis cantik mungil itu baru selesai ibadah.


Aku yang melihat itu mencoba biasa saja. Padahal dalam hati pengen juga melakukan apa yang Mona tadi lakukan. Tapi, aku beneran udah lupa kalau shalat maghrib itu berapa rakaat. Separah itu, permirsah!


Hati yang lagi melting gara-gara sikap sweet Ridho tadi, membuat aku merebahkan diri di kasur empuknya Mona.


"Mbak? jangan marah, ya?" tiba-tiba aja Mona bersuara.


"Marah kenapa, Mon?" aku nanya sambil meremin mata, lumayan ngantuk.


"Emang di kosannya Mbak Reva ada apa?" tanya Mona.


Deg


Mataku yang hampir ngeliyep mendadak langsung seger. Aku bingung harus menjawab apa.


"Emh, itu Mon. Apa ya, emh ... kosanku kan udah mau abis waktunya, dan aku lupa memperpanjang. Eh, taunya ibu kos udah menjual kamar yang aku tempati itu sama orang. Jadi terpaksa aku harus keluar dari sana. Tapi karena terlalu mendadak, aku belum dapat kosan baru. Jadi untuk sementara waktu aku tinggal disini dulu sampai nemu kosan yang cocok," aku mengarang bebas alasan kenapa aku kembali numpang hidup di kontrakan abang adek ini.


Aku bangun dari posisi tidurku, "Maaf ya, Mon. Aku numpang di kontrakan ini buat sementara waktu dan bikin kamu terganggu,"


"Nggak kok, Mbak! aku malah seneng, jadi berasa punya kakak perempuan.." jawab Mona.


Aku pun tersenyum mendengar jawaban gadis kuliahan itu. Seenggaknya aku akan merasa aman untuk sementara waktu.


...----------------...

__ADS_1


__ADS_2