Mendadak Dikejar Setan

Mendadak Dikejar Setan
Yang Mahal Biaya Ngobrolnya.


__ADS_3

"Alhamdulillah napak," batinku.


"Bu ada teh air mineral?"


"Yang ada manis-manisnya, Mas? atau yang murni dan terlindungi?" tanya si ibuk penjaga warung.


"Ya ampun ibuk hapal banget iklan air minum, tinggal sebut merek aja kan gampang,"


"Kalau diendors sih tak sebutin, Mas. Berhubung nggak diendors ya kita sebut pake kode-kodean aja. Jadi mau yang mana?"


Si Ibuk nyodorin dua merk air minum yang berbeda.


"Daripada ntar ribut, kita beli dua duanya, Bu. Sekalian saya dan istri mau numpang duduk,"


"Jangan cuma numpang duduk aja, Mas. Pesen gorengan atau minimal beli nasi bungkusnya!" ucap si ibuk mrepeeet aja kayak knalpot bocor, dia ambil nampan yang isinya gorengan tempe dan tahu.


"Oh iya, buk. Saya beli nasi bungkusnya satu sama ini eehm, gorengan tempenya..."


"Ini piringnya, Mas..." si ibuk ngasih piring buat tempat tuh gorengan.


"Pake japitan, masih panas!" lanjut si ibuk lagi.


Baiklah, Bu. Karena ras terkuat di planet bumi adalah emak-emak. Ridho nggak berani ngelawan, kangmas cuma 'iya bu iya bu aja' takut kena semprot dia. Pantesan warungnya sepi, ternyata si ibuk yang jual mulutnya kayak cabe setan


Ridho lumayan repot itu bawa nasi, bawa air minum plus piring yang isinya gorengan anget.


"Katanya kamu haus?" Ridho bukain satu botol air.


"Liat dulu kadaluarsanya," bisikku.


Ridho pun ngecek botol yang ada di tangannya, "Masih lama kok. Nih minum dulu, Yank..." ucap kangmas.


Aku nerima tuh botol dan membasahi bibir dan kerongkonganku yang udah kering kerontang berasa kayak di gurun sahara.


Kangmas bukain nasi bungkus yang ternyata isinya nasi kuning, orek tempe sama telur dadar yang diiris tipis.


Ridho nyuapin aku pakai sendok bebek plastik, "Kamu makan ya?"


Aku yang lapar pun langsung melahap apa yang disodorkan kangmas.


"Mau gorengan tempenya? enak loh masih anget," Ridho ngarahin tempe goreng ke mulutku.

__ADS_1


Dengan telaten, Kangmas nyuapin aku. Sampai dia lupa buat sekedar ngisi perutnya.


"Jangan aku terus yang makan tapi kamu juga, Mas. Kamu beli nasinya cuma satu bungkus aja?" aku nanya, karena seharusnya uang kita cukup buat beli sarapan untuk dua orang.


"Kita nggak tau harganya berapa. Dan sebisa mungkin kita irit dulu uang yang ada, buat jaga-jaga aja di jalan,"


"Ya udah kita makan barengan aja, Mas..." kataku.


"Kamu dulu aja makan yang kenyang. Kamu kan makan buat dua orang," Ridho sempet-sempetnya ngekus perutku


"Nanti kalau ada sisa, baru aku makan. Ya?* lanjutnya.


Yasaalam, mau cari dimana modelan suami kayak gini. Sejenak pikiranku pun melayang pada kecurigaanku yang nggak berdasar.


Aku ambil sendok dari tangan Ridho, "Sekarang kamu yang makan," kataku yang melayangkan satu suapan ke arah mulut kangmas.


"Kamu aja, Yank. Kamu aja makannya baru sedikit,"


"Kamu juga butuh makan, Mas. Apalagi kamu dari tadi kan gendong-gendong aku," ucapku yang nahan tangis.


Nggak tau deh, sikap Ridho yang mengutamakan aku malah bikin aku pengen mewek. Terhura banget aku sebagai istri yang solekha dan menawan ini.


Setelah kita berdua saling berbagi makanan, aku buka casing hape dan nyodorin selembar uang seratus ribuan sama kangmas, "Mas, ini uangnya buat bayar..."


"Itu juga untungnya ada, udah bayar dulu aja. Takut lupa..." ucapku lemes.


"Bentar ya?" Ridho ngelus pipiku sekilas.


Ridho yang semula duduk, sekarang berdiri dan berjalan menghampiri si ibuk yang lagi riweuh natain barang dagangannya.


"Istrinya pucet banget, lagi sakit apa gimana, Mas?" tanya si ibuk.


"Ehm, iya. Eh, nggak maksudnya dia cuma kecapean aja..."


"Lagian Masnya darimana emang? subuh-subuh udah sampai daerah sini? dan dengan pakaian seperti itu juga," si Ibuk malah tanya-tanya. Tatapan matanya kayak aneh ngeliat pakaian Ridho yang berantakan. Ridho yang lagi pegang duit, sakuin lagi tuh lembaran merah.


Belum Ridho jawab si ibuk udah ngomong lagi, "Kayaknya Masnya bukan orang sini ya? kalau orang sini nggak bakalan tuh berani ngajak istri yang lagi hamil lewat jalan sekitar sini. Apalagi hamil gede kayak gitu,"


Ridho ngeliat ke arahku sekilas, dan lanjut ngeliat ke arah si ibuk,"Iya saya bukan orang sini. Dan hanya kebetulan lewat saja, Bu..."


"Dan kebetulan juga sempet nyasar ke rumah sakit yang ada di sekitar sini,"

__ADS_1


"Rumah sakit?" si Ibuk berjalan ke arahku yang lagi duduk, kemudian dia duduk disampingku.


"Jangan bilang kalian masuk ke rumah sakit angker itu?" si ibuk menatapku dan Ridho secara bergantian.


Ridho yang penasaran ikut duduk di depanku.


"Kalian beneran masuk suk masuk kesana?" si ibuk penasaran.


"Iya, Bu..."


"Wedyaaaaaaannnn tenan?! ck ck ck, masih untung istrimu tidak kenapa-napa?!" Si ibuk menatap kangmas tajam.


"Asal kalian tau saja, ada sepasang suami istri yang sedang perjalanan dari luar kota. Mereka masuk ke rumah sakit itu, karena katanya istrinya yang hamil besar akan melahirkan. Dari luar, rumah sakit nampak seperti rumah sakit pada umumnya. Tapi ternyata yang mereka masuki rumah sakit yang sudah lama terbengkalai, dan kalian tau? persalinan wanita itu nyaris dibantu oleh para dedemit, ucap si ibuk.


Kemudian dia melanjutkan ceritanya, "Si suami menyadari kalau perawat dan dokter yang dia hadapi itu bukan manusia ketika dia tidak sengaja menjaruhkan kunci mobil dan ketika dia menunduk untuk mengambil, dia melihat kaki dokter dan perawat itu menggantung. Nah, dengan susah payah dia keluar dari rumah sakit itu dan mencari bidan terdekat untuk membantu persalinannya. Masih untung nyawa istri dan bayinya tertolong, Mas. Saya yang denger saja ngeri. Karena bukan hanya satu dua orang yang mengalami, tapi banyak. Terutama bagi para pengendara yang dari luar kota,"


"Wah, ngeri juga ya, Bu..." ucap Ridho. Padahal kita juga hampir sama mengalami kejadian yang diceritakan si ibuk. Tapi Ridho nggak mau cerita lebih lanjut.


"Karena kalian sempat nyasar ke rumah sakit itu juga. Sebaiknya kalian cepat ke dokter untuk cek kandungan, untuk memastikan anak kalian masih ada atau tidak. Bisa jadi kalian memang selamat, bisa keluar dari sana. Tapi kalian tidak pernah tau, mereka sudah berhasil membawa roh anak kalian atau tidak,"


"Ibuk, ibuk jangan nakut-nakutin kita!" aku panik dan berusaha ngerasain apa ada gerakan dari si dedek atau nggak.


"Masss?" aku liat ke arah kangmas.


"Tenang, Sayang. Anak kita pasti masih ada," ucap Ridho yang memegang tanganku, ngasih aku kekuatan.


"Apa ada bidan atau dokter kandungan di daerah sini, Bu?" tanya Ridho.


"Ada bidan Nela. Rumahnya sih lumayan jauh tapi itu yang paling dekat. Dia bidan di puskesmas. Ketok saja rumahnya," ucap si ibuk yang berdiri dan berjalan ke dalam bilik warungnya.


Kemudian dia kembali dengan membawa secarik kertas, "Ini alamat rumahnya," ucap si ibuk.


Ridho menerima kertas itu, "Terima kasih banyak bu..."


"Oh ya, berapa semuanya, Bu? tadi saya ambil gorengannya 3 biji, nasi kuning satu sama air mineralnya dua," Ridho menunjuk makanan yang ada di meja.


"50 ribu saja, saya kasih diskon..." ucap si ibuk.


Buseeeet, makanan begini aja harganya 50 rebu? Ck ck ck, dia bilang diskon pula. Ya Allah nih mulut gatel banget pengen komplain.


"Ehm, mahal juga ya, Bu..." ucap Ridho seraya kasih si ibuk uang seratus ribuan.

__ADS_1


"Yang mahal bukan makannya, Mas. Tapi biaya ngobrolnya. Ini gara-gara ngobrol sama Mas dan Mbaknya saya kan jadi mundur waktu masaknya?!!" ucap si ibuk yang tetep nggak mau disalahin.


"Dikira lagu dengdot kali," batinku.


__ADS_2