
"Definisi orang suka ngeluh dan nyusahin. Jalan nggak mau, nunggu nggak mau, disuruh beli juga nggak mau. Ya ampun, Revaaa..."
"Kamu yang sabar ya, Dho? kamu kan udah berniat sehidup semetong sama aku, Dho. Anggap aja ini latihan, sebelum kamu menjadi suami yang sesungguhnya..." aku nepuk kecil pipi Ridho beberapa kali.
Kita lagi duduk nyantai di saung. Sementara yang beli bunga siapaaaa?
Yap
Pinter!
Kang ojek yang lagi mangkal tadi. Kita plesbek dulu bentar ye.
Awalnya kita berdebat perkara siapa yang bakal ke pasar ngikut abang ojeknya. Karena aku males ke pasar tapi juga takut kalau ditinggal, alhasil kita bikin abang ojeknya puyeng. Sampai -sampai dia jambak rambutnya sendiri karena pusing denger kita berdua ngoceh nggak ada ujungnya siapa yang mau kalah.
"Saya saja yang beli! masnya dan mbaknya tolong diem dan jangan ribut!" kata abang ojek sembari menengadahkan tangan minta duit.
"Duitnya mana?" ucap si abang ojek yang gaya dengan sendal jepit.
"Maap ya, Bang. Ini duitnya, kembang 7 rupa ya, Bang. Melatinya dibanyakin..." ucap Ridho, dia ngeluarin duit warna merah dari dompetnya 3 lembar. Kan Ridho bukan tukang kembang jadi dia nggak bisa ngira-ngira berapa harga kembang hari ini. Begitu juga aku, jadi sabodo amat dia mau keluarin berapa duit juga.
Udahan ya plesbeknya, karena kita lagi selonjoran di saung. Ini abang ojek belum nongol juga.
"Katanya deket? kok lama dia?" aku mulai protes.
"Rame kali pasarnya,"
Ya kali pasar sepi. Yang namanya pasar ya pasti rame, Ridho suka asal ngejeplak aja kalau nyaut.
"Tadi udah pasti orang kan ya, Dhooo?"
Tiba-tiba aja aku ngomong gitu. Ya gimana, kita kan emang lagi di tempat asing.
"Sendal jepitnya napak tanah, Revaaa! kamu itu paranoid banget, sih?"
"Namanya juga waspada!" aku alesan, daripada dituduh penakut lagi sama Ridho.
Dan nggak lama, dari kejauhan nampak seseorang mengendarai sepeda motor. Dia abang ojek yang tadi mangkal disini. Nggak lama dia diikuti satu pengendara lain di belakangnya.
Si abang ojek turun dari motornya dengan membawa beberapa keresek. Kita berdua menatapnya heran.
"Ini Mas pesenan kembangnya!" ucap si abang ojek.
"Ini semua kembang?" tanya Ridho, dia nengok ke aku bentar lalu ngeliatin si abangnya lagi.
"Lah iya! tadi kan mas nya ngasih uang 300 ribu, nah itu kembangnya. Saya sampe muter-muterin pasar loh biar bisa kebeli semua," kata kang ojek yang ikutan duduk di saung diikuti satu pengendara lain yang sepertinya tukang ojek juga.
"Yassalaaaaaaaaammm!" Ridho nepok jidatnya sendiri.
__ADS_1
"Jadi 300 ribu dibeliin kembang semua?" Ridho masih nanya.
"Iya. Emang kurang banyak ya, Mas? harga kembang lagi mahal, dapetnya cuma segitu!"
"Ini mah bisa buat mandi kembang 7 hari 7 malem!" kata Ridho yang geleng-geleng kepala.
"Astaga, saya itu kasih uang 300 ribu bukan buat dibeliin kembang semua, Bang! saya kasih segitu karena saya nggak tau harganya," lanjut Ridho.
"Wah kalau itu saya nggak tau! kan Masnya tadi cuma ngomong suruh beliin kembang 7 rupa!" abang ojek nggak mau kalah.
Aku cuma bisa nahan ketawa, liat muka Ridho yang ampun-ampunan debat sama si abang ojek yang kita juga belum tau siapa namanya.
"Mau diapain kembang sebanyak ini?" Ridho bergumam.
"Yang jelas nggak mungkin dicemilin, Dho!" aku nyamber ucapan Ridho.
"Bang, abang tukang ojek juga?" aku nanya sama orang yang daritadi ada, tapi nggak dipeduliin sama kita.
"Iya, Mbak!"
"Dho, kita balik ke rumah nenek Darmi pakai ojek aja ya? aku nggk kuat kalau harus jalan lagi," aku tunjukin kakiku yang berbalut jeans biru.
"Hemmm!" Ridho berdehem, yang artinya mengiyakan permintaanku.
.
.
"Dho? emang kamu hafal jalannya?" aku iseng nanya.
"Udah aku pinned, lokasinya. Tadi pas lagi nunggu aku sekalian ngehapalin rute," ucap Ridho.
Emang nggak salah aing kemari sama kangmas. Coba kalau aku sama pak Karan? beuuh dia mah bisanya ngomel-ngomel bae!
Jalan yang kita lalui kayaknya agak beda sama yang tadi. Ini jalan lebih manusiawi, maksudnya nggak sepi-sepi amit.
"Dho bener ini jalannya? kok beda?" aku mastiin aja, kali aja salah.
"Iya, emang! tapi yang penting bisa nyampe, Va!" kata kangmas.
Udahlah aku manut aja, lagian dia yang nyetir inih. Dan bener aja, kayaknya awalnya itu kita salah ambil jalan makanya lama. Nah ini kita udah sat set sat set nyampe di rumah nenek Darmi. Mungkin cepetnya karena kita naik motor kali ya, bukan jalan kaki.
Ridho berhentiin motornya di pekarangan rumah nenek Darmi. Kita pun turun dan menghampiri kang ojek yang punya nih motor. Aku kebagian buat bawa satu kantong keresek, yang lain dibawa sama Ridho.
"Makasih, Bang! ini ongkosnya!" Ridho ngasih beberapa lembar uang ke tukang ojek.
Ridho jelasin itu duit buat ongkos yang ke pasar juga, secara kan kita nyuruh dia beli kembang yang ternyata nggak ada uang lebihannya karena dibeliinlah semua uang itu buat beli kembang.
__ADS_1
"Mas sama mbaknya tinggal di rumah itu?" tanya kang ojek.
"Emangnya kenapa, Bang?" tanyaku.
"Rumah itu kan terkenal angker, Mbak! makanya nggak ada yang berani bangun rumah di sekitar sini," jelas si kang ojek.
"Oh gitu ya, Mas...?" aku mepet Ridho, atut.
"Mas sama mbaknya hati-hati aja!" pesan si kang ojek sebelum pergi meninggalkan area rumah nenek Darmi.
"Dhooo, takuut!" ucapku.
"Jangan takut, biasa aja! kan kamu yang pengen kesini? nggak usah dengerin kang ojek tadi. Sekarang kita masuk ke dalam, bu Wati pasti sudah nungguin kita..." kata Ridho.
Sebelum masuk kita ketok pintu dulu, biar jangan dikira tamu tak beradab.
Krieeet!
Pintu terbuka.
"Ya ampun kalian bikin ibu khawatir! kalian pergi lama sekali?" cecar bu Wati.
"Iya bu," ucapku.
"Ayo masuk!" bu Wati menyuruh kita berdua buta masuk ke dalam.
"Ini kembangnya mau taruh dimana, Bu?" tanya Ridho menunjuk barang bawaannya.
Bu Wati berkedip beberapa kali melihat beberapa kantong keresek yang dibawa Ridho.
"Ini semuanya bunga?" tanya bu Wati.
"Iya, Bu. Saya tidak tau berapa banyak bunga yang dibutuhkan, jadi..." Ridho cuma bisa nyengir.
Dan tiba-tiba saja nenek Galak datang menghampiri kami.
"Beli bunga saja hampir membuatku menunggu seharian! kalian ini sebenarnya ingin mengerjaiku atau bagaimana, hah?" nenek sudah darting gaes.
"Maaf, Nek. Kami..." ucapku baru setengah.
"Cepat siapkan semuanya!" potong nenek Darmi.
Astogehh, si nenek emang dendam kesumat banget sama aing. Ini Nenek Darmi persis banget ama cucunya, si Karla yang juga suka merong-merong. Sabarrrr, sabar!
Bu Wati segera menuruti apa yabg diperintahkan ibunya. Dia menyiapkan sebuah bokor yang lumayan besar yang terbuat dari tembaga. Kemudian dia mencampur bunga itu dengan bunga 7 rupa yang sudah kami beli.
Aku dan Ridho duduk bersila menghadap nenek Darmi yang setia dengan rambut gelungnya dan juga kebaya usang beserta jarik berwarna coklat.
__ADS_1
"Sebelum aku kirimkan anak yang tidak tau sopan santun ini ke alam lelembut, aku pastikan dulu orang yang kalian cari itu masih hidup atau sudah berubah wujud!" ucap nenek Darmi.
...----------------...