Mendadak Dikejar Setan

Mendadak Dikejar Setan
Bertuah?


__ADS_3

Aku nggak mau cuma dikata numpang makan sama tidur, jadi aku bantuin bu Wati buat nyuci piring kotor. Sedangkan Ridho dan Karla mojok entah dimana. Yang jelas di dapur cuma aku sama bu Wati.


"Sudah selesai, Bu..." ucapku setelah menata piring yang sudah bersih ke rak piring.


"Wah, ternyata kamu gesit juga ya kerjanya. Piring ibu mendadak jadi kinclong semua..." bu Wati memuji kerjaan aku.


"Ya sudah, Bu. Saya ke kamar dulu,"


"Sebentar, Nak..." bu Wati mencekal salah satu lenganku.


"Ada sesuatu yang ingin ibu tanyakan," lanjut bu Wati.


"Tanya apa, Bu?"


"Ehm, maaf bukannya ibu mau mencampuri urusanmu, tapi menurut ibu ini sangat penting. Kalau Nak Reva tidak keberatan, kita bicara di teras saja, ya? sambil cari angin," kata bu Wati yang kemudian berjalan mendahuluiku.


Mau tak mau aku mengikuti wanita itu ke teras depan, duduk di kursi kayu.


"Disini suasananya masih sangat asri ya, Bu?" kataku saat mendengar jangkrik yang saling bersahutan.


Bu Wati tersenyum, "Iya, udara masih sejuk dan semua masih sangat alami..."


"Maaf, Nak ... ibu tidak pandai berbasa-basi, ibu hanya ingin bertanya, apakah Nak Reva sering diganggu akhir-akhir ini?" tanya bu Wati.


"Diganggu?" aku menatap wajah bu Wati, biyungnya si karet nasi.


"Iya diganggu makhluk ghoib,"


"Kenapa ibu bisa..." ucapku belum selesai tapi bu Wati segera memotongnya.


"Nyawa kamu dalam bahaya, percayalah sama ibu. Ibu melihat wajahmu berbeda, dan tanda-tanda di tubuhmu ini menjadi bukti bahwa ada sosok yang telah menyakitimu, ibu beberapa kali diberi mimpi saat ibu tak sengaja melihat wajahmu saat panggilan video dengan anak ibu," bu Wati menunjuk leher dan tanganku.


"Kamu harus tahu, apa yang kamu hadapi bukan sesuatu yang biasa. Sejak kamu menginjakkan kaki di rumah ini, kamu menarik banyak makhluk, mereka seperti terseret oleh magnet yang kamu bawa..." kata bu Wati.


"Ibu hanya ingin berpesan, lepaskan apa saja yang berhubungan dengan mereka, jangan menantang, karena nyawamu bisa menjadi taruhannya," ucap bu Wati yang melihat ke sekeliling rumahnya.


"Ehm, sebenarnya memang ... apa yang Ibu katakan semuanya benar, bahkan semalam aku hampir saja hilang dari dunia,"

__ADS_1


Akhirnya aku berkata jujur, aku nggak ngerti ini tepat atau nggak yang jelas aku rasa bu Wati ini tulus ingin menolongku.


"Makhluk dengan rambut dan kuku hitam yang panjang. Aku melihatnya di dalam mimpiku semalam, dia mencekik lehermu..."


Dan ucapan bu Wati seketika memantapkan hatiku kalau memang benar bu Wati memiliki kemampuan lebih. Karena aku pun belum menceritakan kejadian semalam pada Ridho, jadi apa yang dia katakan nggak mungkin bersumber dari manusia kamfret itu.


"Apakah hal itu memang nyata terjadi?" tanya bu Wati, aku mengangguk.


"Bertobatlah, Nak. Makhluk seperti itu jangan kamu pelihara,"


"Tapi saya tidak pernah merasa memelihara mereka, Bu. Dan saya tidak ada ketertarikan untuk hal-hal seperti itu," aku menjelaskan pada bu Wati.


Bu Wati memautkan kedua alisnya, "Lalu bagaimana dia sangat terikat padamu? makhluk yang sedang kamu hadapi ini bukan makhluk sembarangan, Nak..." bu Wati terlihat sangat khawatir.


"Lalu aku harus bagaimana, Bu?" aku pun merasa takut jika hal buruk terjadi lagi.


"Sebenarnya Ibu tidak bisa banyak membantu, tapi karena kamu selalu masuk ke dalam mimpi Ibu, jadi Ibu punya kewajiban memberitahumu supaya kamu melepaskan benda-benda yang mungkin saja bertuah,." kata bu Wati.


"Bertuah?"


"Apa cincin itu memang bertuah?" aku ngomong dalam hati..


"Ibu yakin, kamu bisa menangkap apa yang ibu katakan tadi. Minta lah perlindungan pada Allah, Nak ... karena tidak ada kekuatan melebihi kekuatan-Nya, pencipta alam semesta ini," bu Wati mengusap lembut kepalaku. Sedangkan jujur aja aku bingung gimana caranya supaya melepaskan keterikatan dengan makhluk itu.


"Jika kamu mau, ibu bisa mengantarkan kamu ke rumah nenek Karla. Mungkin dia bisa mencari solusi untuk masalah ini, karena sejujurnya ibu hanya bisa melihat tapi ibu tidak punya kekuatan lebih untuk membantumu untuk melepaskan ikatan dengan makhluk itu,"


"Pikirkanlah baik-baik, semakin lama kamu memutuskan maka akan semakin terbuka kesempatannya untuk mencelakaimu," bu Wati lalu meninggalkan aku sendirian di teras.


Aku nggak tau apa yang harus aku lakukan sekarang, yang jelas cincin ini bukan sepenuhnya milikku. Dan nggak mungkin aku memutuskannnya sendiri.


"Aaaarghhh, perkara nemu barang malah jadi ruwet begini!" aku mengacak-acak rambutku.


"Ehem," ada suara laki-laki yang berdehem di depan pintu, yang otomatis menghentikan aksiku. Aku merapikan kembali rambutku yang sempat acakadul.


Dia duduk di kursi sampingku, aku sih menganggap dia ada dan tiada ya. Oh, jangan-jangan aku sudah mengambil spot mereka buat mojok?


Oke lah, gaes. Obat nyamuk harus pindah dulu ke dalam. Mungkin ini kamfret lagi mau mojok bareng karet di teras. Mari kita menyingkir sejenak. Mungkin aja pasangan double K ini (karet dan kamfret) mau menikmati keindahan malam yang bertabur bintang-bintang di angkasa raya dengan ratusan gombalan alay.

__ADS_1


"Disini aja," Ridho nahan tanganku saat aku udah berdiri mau ninggalin dia.


"Nggak usah pegang-pegang juga kali," aku menepis tangannyanyang dia pakai buat megang kepalanya Karla waktu di mobil.


"Idiiih, galak banget sih, Buk?"


"Heh, aku belum ibuk-ibuk ya, catet! tolong jangan nurunin pasaran orang!" aku sewot.


"Ya Allah becanda doang kali, Va..."


"Duduk, dong..." Ridho nyuruh aku duduk.


Dengan sejuta kesal dalam hati aku pun duduk lagi, sambil naikin dua kaki diaatas kursi. Aku peluk kedua lutut, sambil mata natap lurus ke depan.


"Tadi ngomong apa sama biyung?" dia nanya.


Tapi nggak aku rewes, aku cuma mikir gimana caranya aku ngomong sama pak bos. Dan buat cangcarimen yang disamping aku ini aku sih, sabodo amat.


"Va? sekarang kamu tuh kebiasaan banget sih kalau ditanyain orang nggak mau jawab?"


"Terserah aku dong, mau jawab kek mau nggak kek," aku nyolot, suwer aku nggak bisa nahan rasa dongkol yang lagi dar dor dar dor di dalam hati.


"Kamu lagi dapet ya, Va? bawaannya sensi mulu deh perasaan," dia nusuk-nusukin telunjuknya di pipiku yang gemoy.


"Ish! bisa diem nggak sih itu tangan laknat?" aku tepis telunjuk Ridho.


"Ya ampuuun, cewek kalau lagi marah nyeremin banget, ya?" Ridho nyindir, aku sih males nanggepin. Mau dia ngomong sampe berbusa juga aing nggak peduli.


Mataku menangkap satu sosok gadis kecil yang bersembunyi di rerimbunan pohon, gadis itu kayaknya ngintipin kita berdua dari tadi.


"Kan kan kan aku jadi merinding gini," ucapku dalam hati sambil mengusap lenganku yang bulunya pada ngejegrig.


"Kamu liatin apa sih, Va?" tanya Ridho. Kayaknya tuh orang nggak ngeh, kalau kita lagi diawasin jurig.


Dan tiba-tiba aja....


...----------------...

__ADS_1


__ADS_2