
Baru juga beresin koper, tiba-tiba pintu kamar mandi ada yang ngebanting gitu.
Braaaaaaakkk!!!
"Ya ampuuun, bikin kaget tau nggak sih?!!" Refleks aku mengumpat
Beuh, etan-etan udah pada nggak tau waktu emang. Masih terang benderang kayak gini aja pada berani buat nongol.
Daripada nih aku kekunci di kamar ini karena perbuatan para makhluk jahanam itu mending aku cepetan cabut.
Dan dengan langkah terburu-buru aku keluar kamar.
Dan Bruuukkk!!!
"Aawhh, sorry nggak liat!" ucapku.
"Kamu nggak kenapa-napa, Reva?" itu suara Dilan.
"Eh, Lan?" aku celingukan kali aja ada setan yang ngikutin
"Mau kemana?"
"Eh, ehm .. mau check out!"
"Katanya bakalan stay disini beberapa hari kedepan?" Dilan bertanya-tanya.
"Iya tapi bukan di hotel ini, iya ..ehm, soalnya aku orangnya bosenan!" kataku.
Nggak mungkin aku bilang kalau aku pindah gara-gara di kamarku ada setan. Iya kalau dia percaya, kalau nggak kan cuma diketawain doang dan dianggap cemen. Padahal emang iya.
"Tapi kayaknya kamu lagi nggak sehat," ucap Dilan.
"Nggak, kok Nggak. Aku baik-baik aja..." aku mengelak padahal emang lahi nggak enak badan.
"Ya udah, Lan! aku duluan ya," ucapku pada Dilan.
"Oke, hati-hati..." ucap Dilan .
Aku jalan meninggalkan Dilan dengan hawa yang nggak enak banget. Tapi tujuanku satu keluar dari hotel yang sama sekali nggak recomended ini. Mungkin karrna aku buru-buri berangkatnya, jadi aku nggak teliti main pesen hotel aja. Yang penting liat bintangnya aja 5, tapi review atau komen jeleknya nggak aku baca. Jadilah ke-zonk-an ini terjadi lagi.
Udah selese dengan urusan balikin kunci, aku naik taksi buat menclok ke hotel yang kedua. Tapi badanku tetep nggak enak.
"Maaf, Mbak. Temennya lagi sakit?" tanya supir taksi tiba-tiba.
__ADS_1
"Temen?" aku agak bingung.
"Iya, yang duduk di samping Mbak..." ucap si supir taksi. Aku ogah nengok sih, daritadi q kan fokus ke hape jadi nggak ngeh juga ada apaan disamping. Tapi satu hal yang harus kalian tau, sekarang masih terang benderaaaaang wooooy!
"Oh, ehm. Nggak kok, Pak. Emang mukanya kayak gitu," ucapku.
"Oh, aku kira mas nya lagi sakit, kalau lagi sakit kan bisa melipir dulu ke apotik beli obat! barangkali mau mampir..." ucap si supir.
"Mas?" gumamku.
"Jadi yang disamping aku sekarang hantu laki-laki begitu. Ganteng nggak, Pak?" batinku.
Aiishhh, koplak. Mau ganteng mau nggak hantu tetep hantu Reva. Deuuh ngapain sih tuh hantu, ngintilin segala. Kan aing mau pindaaah hoteeeeeeeell! Gedeg deh.
Pokoknya, aku nggak mau nengok pura-pura sibuk sama hape sendiri, sampai si taksi ini tau-tau udah nyampe di hotel kedua yang aku booking. Dan pas mau ambil duit di dalam tas, nggak sengaja aku ngeliat sepasang tangan pucet yang mungkin milik hantu itu.
"Maaf, Pak. Koper saya di bagasi," ucapku sambil nyodorin duit buat ongkos taksi.
"Siap, Mbak!" si supir terima duit dan buka pintu buat ngebuka bagasi. Dan waktu ngeliat ke arah spion depan, jelas banget itu ada cowok yang duduk di sampingku. Ganteng aih, cuma sayang udah metong.
Apalah daya, aura jomblo ku begitu kuat. Sampai hantu aja tau kalau orang yang dia kintilin belum punya gandengan.
Aku pun keluar dari dalam mobil.
"Oh, dia tadi udah masuk ke dalem," ucapku ngasal. Padahal aku juga nggak tau dia kemana.
"Ini kopernya, Mbak!" ucap bapak supir tadi.
"Makasih, Pak..." kataku yang kemudian masuk ke dalam loby hotel.
Mungkin ini yang bikin aku meriyang nggak jelas. Yang pertama, emang aku habis aakit yang kedua ada makhluk lain yang nempel gitu. Jadi double-double meriyangnya.
Setelah dapet kartu akses, aku pun pergi ke kamar. Berharap hantu tadi nggak ngikutin lah sampai sini. Aku juga pengen istirahat, pengen tenang gitu liburannya.
Dan...
Alhamdulillah, waktu masuk ke kamar nggak ada tuh sosok pucet tadi. Akhirnya, kali jni ada hantu yang mau mengerti kalau aku nggak mau berinteraksi. Kapoklah, belajar dari pengalaman nolongin Rania kemarin. Kita yang nolongin, kita yang repot ujung-ujungnya.
Aku yang emang masih ngerasain badan masih lemes pun duduk dulu di sofa sambil mesen makanan hotel. Walaupun perut rasanya mual, tapi aku harus ngisi lambungku dengan makanan. Disini aku mau liburan bukan mau numpang tiduran.
Aku bergerak ke arah balkon, dan buka tirai. Sengaja biar ruangannya terang dan bisa ngeliat hamparan langit biru itu dari sofa.
Ting!
__ADS_1
Tong!
Ada yang mencet bel. Mungkin makananku udah dateng, tapi masa iya secepet ini?
Dan pas dibuka.
Seseorang langsung memelukku tanpa permisi.
"Kenapa kamu pergi nggak bilang-bilang? aku hampir gila tau nggak nyariin kamu, Va! " ucap pria yang susah payah aku hindari.
"Lepasin atau aku teriak?" ucapku ketus.
Dia mendorongku ke dalam dan menutup pintu dengan kakinya.
Braaakk!!
Suara pintu ditutup.
Dia masih meluk aku, nggak maunlepas. Sampai aku engep banget rasanya, "Ridhooo, lepasss! aku nggak bisa napas tau, nggaaaak?!!"
"Sorry, sorry. Muka kamu pucet, Va!" Ridho menangkup kedua pipiku dengan tangannya.
"Udah deh, nggak usah sok perhatian," aku tepis tangannya dan bergerak menjauh dari Ridho. Kepalaku pusing, jadi aku duduk di sofa. Eh, dia ngikutin.
"Kemana makhluk tadi? kamu diapain sama dia?"
"Apaan sih? darimana kamu tau aku disini? dan ngapain kamu kesini? bukannya kamu lagi sibuk sama Rimar?"
"Ceritanya panjang! yang jelas beruntung aku dateng tepat waktu,"
"Apaan sih, nggak jelas banget jadi orang!" aku bergumam. Sedangkan Ridho yang tadi duduk sekarang ngecekin ruangan ini spai buka-buka kamar mandi segala. Mulai geser nih si Ridho kayaknya.
"Awass aja kalau dia berani sampai---" ucapan Ridho aku segera potong.
"Udah deh, nggak usah aneh-aneh. Kalau kamu nggak mau jawab pertanyaanku tadi, mending kamu sekarang keluar karena aku mau istirahat!" tanganku nunjuk pintu.
"Sekarang minum ini," ucap Ridho yang ngeluarin air darj dalam sakunya.
"Aiih, apaan sih? ini air guna-guna ya? atau racun? ogah, aku nggak mau?!!" aku menolak aur yang ada dalam botol kecil yang kebetulan disimpen di saku celana Ridho.
"Minum, Va! ini bakal bikin kamu agak baikan, kalau kamu diemin twrus yang ada badan kamu makin lemes. Ini bukan racun dan bukan air buat guna-guna. Percaya sama aku," Ridho nunjukin botol kecil yang ada di tangannya.
"Wait, aku harus waspada. Ini Ridho beneran atau Ridho jelmaan!" sontak aku ngeliat ke bawah, ke arah kakinya.
__ADS_1