
Nggak nyampe di tangga aja mama ngomel ini itu. Entahlah, makin bertambah umur mama makin cerewet aja. Biasanya mama tuh nggak gini-gini amit gitu.
"Kamu dengerin apa yang mama bilang, kan Reva?" mama ngelirik aku pas udah sampe di kamar tamu.
"Iya, Mah..."
Aku nutup pintu, mama duduk di tepi ranjang.
"Mama sih yakin Ridho suami kamu itu tipe yang lempeng-lempeng bae, tapi yang namanya godaan pasti ada, Reva. Kalau kamu kerja nggak tau waktu kayak gini, nanti hubungan kalian jadi nggak bagus, kamu ngerti kan maksud mama?"
"Mah, Ridho tuh udah gede, udah dewasa. Pasti dia tau lah konsekuensi kalau dia sampai belok ke wanita lain..." aku nggak mau kalah.
"Ishh, kamu ini kalau dikasih tau ngejawaaab aja..."
Aku usap lengan mama, " Udah deh mah, nggak usah ngekhawatirin sesuatu yang---" kepalaku mendadak kliyengan.
"Kamu kenapa, Revaaa?" ucap mama.
.
.
.
"Emmh," kepalaku cekot-cekot.
"Kamu udah sadar, Sayang?" suara Ridho nyapa telingaku.
"Ssshhh, aduhh..." aku pegangin kepala mau bangun tapi dicegah sama Ridho.
"Jangan bangun dulu, kamu tiduran aja..."
"Gimana? Reva udah sadar, Dho?" mama masuk.
Aku baru nyadar kalau aku sekarang ada di kamarku, padahal tadinya aku lagi sama mama di kamar tamu.
"Aku kenapa emang?" aku nanya kangmas.
"Kamu tadi pingsan, mungkin kamu kecapean atau lagi banyak pikiran. Tapi tenang aja, aku udah panggil dokter. Paling bentar lagi dateng dokternya,"
"A-apa? d-dokter? aku, aku baik-baik aja kok, Mas..." aku panik.
"Waktu aku sakit kamu aja yang maksa buat periksa ke dokter. Dan sekarang kamu sakit, kamu juga harus diperiksa sama dokter,"
__ADS_1
"Nggak mau ... ntar aku di suntik," aku mau bangun tapi lagi-lagi dicegah sama Ridho.
"Astaga, Reva. Kamu masih aja berpikiran kalau periksa dokter itu disuntik?" mama geleng-geleng kepala.
"Emangnya kemarin waktu aku periksa, kamu liat aku disuntik? nggak kan?" Ridho mencoba menenangkan aku yang udah pengen kabur aja dari tempat tidur.
"Sabar ya, Dho. Emang Reva agak trauma sama yang jarum-jarum gitu, kalau ada imunisasi di sekolah dulu aja, dia harus dipegangin sama mama dan ibu gurunya, baru bisa berhasil, kalau nggak Reva bisa lari dari kelas dan lompat pager sekolah..." kata mama buka aibku.
Sementara Ridho nggak berani ngetawain, karena mataku langsung melancarkan sinar xxx.
"Ehm, minum tehnya dulu, Sayang. Mumpung masih anget," kata Ridho yang ngambil cangkir dan deketin ke mulutku. Sedangkan mama numpukin bantal supaya punggungku bisa disanggah gitu.
Aku mulai nyeruput tehnya sedikit demi sedikit. Sementara Ridho dapet telepon dari seseorang, "Oh, sudah di depan? ya, sebentar saya turun dulu ke bawah, Dok..." ucapnya.
"Dokternya udah dateng, aku buka pintu dulu," ucap Ridho.
"Mah, nitip Reva..." kata Ridho sebelum keluar kamar.
"Tenang aja, Dho. Mama jamin dia nggak bakalan kabur," sahut mama yang sekongkolan sama mantunya biar aku mau diperiksa sama dokter.
Ridho keluar buat bukain pintu sedangkan aku harap-harap cemas di dalem kamar sama mama.
"Mah, Reva nggak sakit. Udah sembuh ini loh, udah nggak pusing juga. Nggak usah lah diperiksa," aku nego sama mama.
Mataku mengarah ke arah pintu yang masih tertutup, "Tapi, Mah---"
"Nggak ada tapi-tapian, udah kamu tiduran aja yang anteng sampai dokter nanti dateng kesini. Lagian, kamu boleh kerja tapi jangan sampai kelelahan kayak gini dong, Sayang. Kalau kamu pingsannya di kantor gimana coba? iya kalau di kantor, kalau pas nyetir mobil gimana? kan bahaya,"
"Ya ampun, Mah. Lebay banget deh," aku pegangin kepala.
"Tuh kan kamu masih pusing,"
"Ya ampun, ini cuma pegangin kepala doang, Mah..." aku berusaha buat jelasin ke mama.
Dan perdebatan kita terhenti saat pintu kamar dibuka oleh kangmas.
"Ini istri saya, Dok. Tiba-tiba dia pingsan," ucap Ridho.
"Sayang, ini Dokter Verlitha. Aku tinggal dulu, biar dokter yang periksa kamu, ya?" ucap Ridho.
"Mama juga keluar dulu, awas jangan kabur?!!" ancam mama.
"Masss...?" aku panggil Ridho yang jalan ke arah pintu.
__ADS_1
"Pak, Ridho..." panggil dokter Verlitha.
"Kamu temenin Reva," kata mama.
Ridho jadi balik lagi, nemenin aku. Dokter Verlitha nanya-nanya tentang keluhan yang aku rasain. Dan dia juga nanya kapan aku dateng bulan.
"Untuk lebih jelasnya, istri anda harus periksa ke dokter kandungan, Pak..." ucap dokter Verlitha.
"Maksudnya gimana, Dok? ada masalah dengan rahim saya gitu? saya nggak ngerasa yang aneh-aneh kok, cuma telat aja. Itu juga baru beberapa hari," aku menepis anggapan dokter Verlitha. Aku nggak mau ya harus dibedah di dokter kandungan. Ogah banget, pokoknya.
"Iya, itu baru dugaan saja. Besok anda bisa cek dengan alat ini pagi-pagi sebelum makan atau minum apapun. Atau jika dengan alat ini kurang jelas atau masih ragu-ragu anda bisa langsung ke dokter kandungan untuk memastikan kalau anda hamil atau tidak, begitu..." dokter Verlitha ngasih testpek.
"Hamil?"
"Iya, tapi ini baru pemeriksaan sementara, untuk pastinya harus melalui pemeriksaan USG, dan itu hanya dioles gel dan diusap-usap dengan alat saja," ucap dokter Verlitha.
"Jadi kemungkinan istri saya lagi hamil, Dok?" tanya Ridho antusias, dia ngusap perut aku yang rata.
"Semoga ya, Pak..." ucap dokter Verlitha.
"Kalau begitu saya, permisi..."
"Aku antar dokter Verlitha ke bawah dulu ya, Sayang?" kata Ridho sebelum pergi.
Setelah dokter dan Ridho pergi, dalam hati aku bertanya-tanya. Masa iya sih aku hamil?
Setiap pasangan suami istri pasti menginginkan keturunan, tapi apakah ini waktu yang tepat buat aku dan Ridho punya anak?
"Astaghfirullah, kenapa aku berpikir kayak gitu ya? huuufhh," aku menghela nafas.
Sejujurnya sekarang aku nggak tau harus seneng, atau gimana. Yang jelas pikiranku langsung kemana-mana. Takut gimana hamilnya, lahirannya. Beuuh aku langsung overthingking.
Ridho balik lagi ke kamar, dia datang dengan wajah yang berbinar.
Dia ngusap lagi perutku, "Semoga apa yang dokter prediksi itu bener ya, Sayang?" dia meluk aku.
"Hem, ya semoga..."
"Aku bakalan seneng banget kalau iya ternyata kamu beneran hamil, Sayang..." Ridho menciumi wajahku, dan sekarang meluk aku lagi dengan erat.
"Besok pagi kita langsung periksa ke dokter kandungan ya, biar jelas..." kata Ridho.
Tadi dokter Verlitha bilang periksanya kan cuma dioles-oles, jadi ya udah besok aku coba buat nurutin apa saran dokter. Dan mama udah pasti girang banget denger hasil pemeriksaan dokter. Mama langsung heboh membayangkan gimana lucunya cucu-cucunya nanti. Aku auto puyeng malam ini.
__ADS_1