Mendadak Dikejar Setan

Mendadak Dikejar Setan
Akal Bulus Karla


__ADS_3

Tangan Ridho menggapai tangan aku yang lagi megangin gelas, "Jangan meleng!"


"Iya, sorry..." kataku karena emang tadi aku sempet ngelirik si karet gelang, takut nih gelas disamber tangan tak beradab dia.


Ridho ngambil gelas dari tanganku, "Buat aku kan?" tanya Ridho.


"Hu'um..." aku ngangguk. Dia nyeruput tuh es buatan siapa nggak tau, yang jelas bukan si Ravel. Dia kan orangnya malesan.


"Makasih, tapi kok nggak manis?" kening Ridho mengerut.


"Masa sih?"


"Iya, soalnya manisnya udah pindah ke kamu semua," gombal Ridho.


Ea ea ea, tiang mana tiang? Aku pengen gelantungan saking senengnya. Udah jangan ditanya, muka aing nggak mungkin nggak merah. Ini bibir rasanya pengen senyum mulu sampe lupa makanan belum dicaplok.


"Lebih baik kamu makan! karena cacing di perut kamu nggak akan kenyang kalau cuma dengerin gombalan!" celetuk orang disamping aing, siapa lagi kalau bukan pak bos. Dia nguping juga ternyata.


Aku cuma noleh sambil ngomong dalam hati, "Iri bilang, Bos!"


"Kenapa? liat-liat?" tanya pak bos yang makan sambil ngomong tapi nggak natap aku.


"Reva, kok kamu nggak makan? kamu nggak suka makanannya, Sayang?" tanya mama.


"Ini Reva mau makan kok, Mah..." jawabku.


Dan ya, kami semua makan dengan tenang tampa adanya pertengkaran atau keributan receh antara aku sama si karet gelang.


Ya aku kira keadaan udah tenang gitu ya, si Karla nggak akan berani tuh gangguin Ridho karena kangmas hanya milik aing seorang.


Kita lagi nyemil kue-kue di ruang tengah, tiba-tiba nih si Karla ngomong.


"Tante, saya mau pamit..." kata Karla yang nyalamin mama.


"Oh, pulangnya naik apa?" tanya mama.

__ADS_1


Lagian mama ngapain nanya-nanya dah. Mau dia naik angkot kek, naik ojek kek, naik elang kek, sabodo amat gitu.


"Oh, saya dianter sama Ridho. Iya kan, Dho?" Karla langsung pasang senyum ke Ridho, nih cewek perlu dicekokin teh basi kayaknya ya. Biar kalau ngomong tuh dipikir dulu pakai otak, kek nggak ada kerjaan aja si Ridho nganterin dia pulang. Mama kayaknya agak bingung ya, karena mama ngertinya Ridho ini kan pacar aing, lah kok nganterin si karet bungkus nasi?


Aku nggak ngomong, males. Aku cuma liatin Ridho dengan mata merah menyala. Dia cuma angkat dua bahunya, fix si Karla emang ngadi-ngadi.


"Iya, kan Dho?" Karla negesin lagi ke Ridho.


"Nggak bareng aja sama pak Karan?" tanya Ridho, nah sontak pak bos melotot tuh ke Ridho.


"Kamu saja. Kan kamu temannya, lagipula saya banyak urusan!" pak bos menolak dengan tegas.


Hadeuh, kalau aku jadi Karla sih ya mending ngojek aja udah daripada nggak ada harga diri, malunya nggak ada obat.


"Gimana?" Ridho nanya ke aku. Aku cuma bisa pasang wajah angker.


"Aku udah capek, Dho. Pengen istirahat di kos," Karla memelas.


"Ya ya udah, aku anterin..." jawaban Ridho bikin aku kecewa sebenernya, tapi ya udahlah.


"Va, aku pergi dulu. Kalau mau nitip apa gitu telfon aja," kata Ridho.


"Hem..." aku jawab pake males.


"Va, aku balik, ya..." Karla negejereng giginya, senyum penuh kemenangan.


"Aku ke kosan dulu, mau ambil motor," kata Ridho sambil berbalik ninggalin Karla.


"Kita bareng!" Karla langsung nyusul dan mereka hilang sudah dibalik pintu yang kemudian tertutup.


Aku mau napas aja rasanya sakit banget inih. Ngebayangin si Karla dibonceng Ridho, pasti tuh wanita bakal cari-cari kesempatan dalam kesempitan.


"Mbak aku ke dalem, ya? capek pengen rebahan..." Ravel pamit ke dalam kamarnya si Mona.


Sedangkan adeknya Ridho yang tadi di daour sekarang nyusul Ravel ke kamar. Kalau si Devan lagi ngejogrog di depan, jadilah kita bertiga di ruang tengah ini.

__ADS_1


"Lah, katanya dia banyak urusan kok ya nggak pulang-pulang?" aku ngebatin.


"Sebenarnya ... hilangnya Reva dan saya, ada hubungannya dengan semua malapetaka yang sudah menimpa ibu dan Om Dave..." tiba-tiba pak Karan bersuara.


"Maksud kamu?"


"Om Dave meninggal karena membantu ibu untuk melepaskan diri dari ikatan cincin terkutuk itu. Dan Kita berdua hilang karena terjebak di hutan terlarang, itu juga ada hubungannya dengan cincin milik ibu. Tapi syukurlah semuanya bisa teratasi dan kami semua bisa kembali..." jelas pak bos.


Kenapa si bos nggak jelasin sekalian kalau sebenernya aku kebawa dalam masalah ini juga karena sengaja dijebak sama dia.


"Waktu itu tante nggak bisa melarang Om kamu, karena bagaimanapun seorang kakak laki-laki akan melindungi adik yang sangat disayanginya, terlebih lagi Ilena seorang wanita..."


"Kenapa Mama nggak cerita sama aku, Mah? kenapa mama nyembunyiin semua ini dari Reva? yang aku inget, papa pergi dengan seorang wanita dan setelah itu papa nggak kembali lagi. Selama ini aku menyangka kalau papa menelantarkan kita, aku nggak tau kalau papa sebenernya udah meninggal..." akhirnya benteng pertahanan hatiku runtuh juga. Aku nggak bisa lagi nahan buat nggak tanya langsung sama mama.


Mama mendekat dan mau menghapus air mata yang baru saja meluncur ke pipiku. Ngomong- ngomong soal pipi, aku bakal minta pertanggung jawaban si bos habis ini.


"Mama salah, mama nggak ngejelasin semuanya sama kamu. Kepergian papa yang tiba-tiba membuat guncangan tersendiri buat mama, terlebih lagi saat itu Ravel masih bayi. Yang mama pikirkan hanya bagaimana caranya bisa bertahan hidup tanpa papa. Mama nggak tega menyampaikan berita duka ini sama kamu, kamu masih sangat kecil. Mama pikir, lebih baik kamu mengira papa sedang pergi, daripada kamu tau kalau papa sebenernya udah nggak ada..." tangis mama pecah, aku peluk mama.


Dengan begini Aku bisa ngerasain gimana tertekannya mama, aku peluk mama sedangkan satu tanganku di genggam pak Karan.


Sekarang dia ngulurin tangannya buat ngehapus air mata yang udah ngucur ke pipiku.


Aku jujur bingung dengan sikap pak bos yang terkadang dia jadi sosok yang hangat, tapi terkadang dia jadi sosok yang dingin dan nakutin.


"Maafin mama ya, Sayang..." ucap mama.


"Maafin Reva ya, Mah. Reva udah nyalahin mama, udah kecewa dan salah paham sama papa juga..." aku sesenggukan.


Mama menjarak badan aku, otomatis pegangan tanganku dan pak Karan pun terlepas.


"Sekarang kamu sudah tau semuanya, apa yang sebenarnya terjadi, tapi ada hal lain yang perlu kamu tau..." kata mama. Dia menangkup kedua pipiku, dihapusnya air mataku dengan ibu jarinya.


"Apa itu, Mah?" tanyaku penasaran, sebenarnya cerita apa lagi yang belum aku ketahui.


"Kamu tau kenapa kamu nggak pernah berjumpa dengan kakek nenekmu? itu karena...." ucap menggantung.

__ADS_1


...----------------...


__ADS_2