
Aku kira kita bisa makan dengan nyaman dan tenang. Ternyata tidak sodara-sodara. Ayang ditelpon bosnya disuruh ke kantor, bos lucnut emang. Ngasih kado dengan libur extra kek. lha ini malah Ridho disuruh ngantor di jam-jam nanggung kayak gini.
"Aku pergi dulu, ya? kamu habisin makanannya jangan lupa, biar tambah gemoy?!" kata Ridho sambil ngejawil pipiku.
"Ck, ishhhh ... pulangnya jangan malem-malem, aku belum terbiasa disini,"
"Siap, nanti diusahakan ya, Sayang..." ucap Ridho yang kini sudah rapi dengan pakaian kantornya.
Kamfret emang diusahakan, ya harus bisa dong ya.Aku kan masih asing sama nih rumah. Boro-boro kenal tetangga, ini hari aja baru beberapa jam disini.
Habis makan, aku males naik ke atas. Aku duduk aja di sofa di ruang tivi, sambil nyari channel yang ngebahas para artis ibukota.
"Udah sore, Ridho belum balik juga..." kataku dalam hati.
"Aku harus biasain manggil 'mas', gimana pun dia udah jadi suami, inget Revaaaa ingeeet?!" aku bergumam sendiri.
Takutnya aku suka lupa manggil nama kayak biasanya. Nggak enak, nanti dibilang aku istri yang nggak menghormati suami.
"Naik ke atas nggak ya?" aku bimbang.
Tapi udah sore juga, udah pengen mandi. Nggak enak dari perjalanan jauh tapi aku belum ganti baju.
Walaupun nggak ada Ridho, aku nyoba beraniin diri buat naik ke lantai dua, kamar aku dan Ridho.
Aku ke kamar khusus baju-baju dan mulai ngebongkar koperku disana. Aku buka satu-satu lemari. Kira-kira buat nyari dimana aku bakal nemaptin abju-baju yang aku bawa. Dan bener kata Ridho, ada banyak bagian yang masih kosong, baju Ridho emang nggak begitu banyak. Apalagi dia lebih banyam jas verwarna gelap dan juga kemeja kantor.Baju yang semi formal dan casual cuma satu lemari aja.
"Nih orang terlalu ngirit apa emang malea beli sih?" aku komenin baju punya kangmas.
Kelar beresin baju, aku masuk ke kamar mandi dengan bawa handuk dan baju ganti biar sekalian gitu keluar dari kamar mandi udah rapi.
Cuma ada shower, kloset dan wastafel. Tapi kamar mandinya lumayan gede, lumayan bisa buat salto, tapi aku jadi nggak bisa rendeman pakai air anget nih jadinya. Akhirnya harus puas mandi pakai shower air anget. Belum ada meja rias, aku jadi nggak pake adegan keramas. Takut masuk angin kalau rambut basah tapi nggak dikeringin pakai hairdryer.
Maklumin aja, ini kan tadinya rumah cowok yang masih bujangan. Ya mana ada sih meja rias yang identik sama cewek, kalau ada malah kayaknya aneh gitu. Kalau di ruang ganti mah ada kaca gede, sama gel-gel yang buat jambul kangmas tetap on disegala suasana.
"Belum balik juga sih," gumamku sambil nyisirin rambut di ruang ganti, sambil tancap lenongan sana-sini.
Langit udah merambat ke senja, aku coba ngehubungin kangmas, tapi belum ada jawaban spai sekarang. Kebiasaan lamanya kumat lageeeh, jarang ngabarin kalau pulang telat atau gimana. Udah tau aku disini sendirian.
Aku ke bawah buat nyalain lampu-lampu dulu, takut keburu maghrib.
__ADS_1
"Sepenting apa sih urusannya sampai jam segini belum pulang?" aku ngedumel sambil naik tangga.
Nggak tau kenapa kalau aku ada di rumah atau bangunan yang baru rasanya tuh ada hawa-hawa takutnya. Padahal daritadi juga aku nggak ketemu sama Etan gitu nggak. Tapi nggak tau hawanya jadi kurang enak gitu.
Sekarang hapeku bunyi.
"Halo, Sayang? maaf aku pulangnya telat. Ini lagi di jalan, kejebak macet. Kamu yang sabar ya?" ucap Ridho nyerocos bae waktu panggilannya tersambung.
"Iya, jangan lama-lama. Rumah baru, aku takut. Belum biasa," kataku.
"Iya, Sayang. Ini masih deket kantor, tapi jalanan lagi padat merayap, mungkin nyampenya habis maghrib. Biasa kan jam pulang kerja pasti jalanan rame. Aku kan naik mobil, nggak bisa slap-slip," jelas Ridho.
"Iya iya, hati-hati di jalan. Yang penting selamet sampai rumah," ucapku.
Setelah ngomong gitu, aku siap-siap buat sholat maghrib sambil nunggu kangmas pulang.
Alhamdulillah sampai detik ini nggak ada gangguan, bahkan sampai aku selesai sholat. Tau aja ada orang baru jadi nggak diganggu. Karena aku yakin, setiap bangunan pasti ada makhluk ghoibnya, yang bedain tingkat keusilannya aja.
Aku beres-beres kamar, yang sebenernya udah beres. Ya itung-itung killing time aja, nggak guna emang. Kayak ngegaremin air laut.
Dan pas banget, selese ngerapihin kamar. Ridho nelpon.
"Bukain pintunya, dong? aku lupa bawa kunci tadi," kata Ridho.
Aku turun ke bawah buat bukain pintu. dan waktu pintu kebuka aku liat dulu yang di depan mata napak tanah apa nggak.
"Napak," gumamku dan kasih akses kangmas buat masuk.
"Ampun, suami sendiri dikira setan mulu," Ridho nyeletuk.
"Ya kan waspada itu perlu, Mas..." kataku sambil ngikutin Ridho dari belakang.
"Apa tadi kamu bilang?" Ridho berbalik.
"Mas...?" alisku bertaut.
"Enak tau didengernya, daripada kamu kamu kamu lagi..." kata Ridho.
Mukaku langsung bersemu dapet pujian dari suami sendiri.
__ADS_1
"Oh ya, ini aku beliin makanan. Tadi sekalian mampir," Ridho ngasih bungkusan.
"Ya udah, aku siapin di meja makan ya," kataku yang lagi berperan sebagai istri yang solekha.
"Kamu udah sholat belum, Sayang?" tanya Ridho.
"Udah,"
"Beuuh, nggak salah pilih istri emang," puji Ridho.
"Kalau salah pilih emang mau tuker tambah apa gimana?" aku nyindir.
"Ini iatri bukan panci, Sayang. Masa iya tuker tambah. Dah, aku mandi dulu, keburu nggak kebagian waktu sholat," kata Ridho yang buru-buru naik ke atas.
Sembari nungguin kangmas mandi dan menunaikan kewajibannya. Aku langsung bawa bungkusan yabg dibawa Ridho ke meja makan.
"Oh, sop iga..." aky bobgkar muatan. Ternyata bukan cuma sop iga tapi ada mendoan dan amabel kecap, plus kerupuk.
Nggak nunggu lama, aku langsung tempat-tempatin tuh makanan sebagaimana mestinya.
Sekalian naruh nasi yang tadi Ridho beli juga.
"Mana sih teko..." aku nyari-nyari di kabinet kitchen set.
"Nyari apaan, Sayang?" tanya Ridho dari arah belakang. Aku nengok, twrnyata dia udah pakai celana pendek dan kaos santai.
"Nyari apaan?" dia ngulangi pertanyaanya.
"Teko..."
"Buat?" Ridho nanya.
"Buat nyiram kembang! ya buat masak air lah,"
"Ya ampun, aku kan cuma nanya aja, Sayang. Nih disini nih tekonya," Ridho ambil di salah satu kabinet.
"Mau bikin apa? biar aku sekalian nyalain kompornya," lanjutnya.
"Buat bikin teh,"
__ADS_1
"Ya udah kamu duduk aja, ntar aku buatin," kata Ridho.
Padahal kan aku yang mau buatin dia. Kenapa ini malah dia yang bikinin aku.