Mendadak Dikejar Setan

Mendadak Dikejar Setan
Fakta Baru


__ADS_3

"Kamu emang kalau makan sedikit?" tanya Dilan.


"Iya, nanti kalau kebanyakan jadi kekenyangan malah begah..." sahutku.


"Gimana? udah berapa persen progress persiapan pernikahan kamu dan Ravel?" aku kepo banget, sementara Dilan tersenyum tipis.


"Yang lebih tau Ravel, tanya aja anaknya..." ucap Dilan.


Hadeuh, jawaban Dilan bikin aku curiga kalau sebenernya mereka cuma ngerjain aku soal pernikahan.


"Kamu beneran mau nikahin Ravel apa nggak jadinya?" suaraku naik satu oktaf.


"Astaga, kakak ipar. Tolong suaranya, itu orang ngeliatin ke sini semua..." ucap Dilan.


"Ya habisnya kamu ditanya bertele-tele banget dari tadi. Aku jadi mikir kamu cuma mau mainin perasaan adik aku. Awas aja, aku bejek-bejek kamu Dilan, kalau perlu aku jadiin ayam geprek sekalian!" ancamku.


"Sebenernya, pernikahan kami terkendala sesuatu," ucap Dilan.


"Terkendala apa?"


"Peraturan di kampus, dosen tidak boleh menikahi mahasiswa," ucap Dilan.


"Jadi aku lagi urus buat keluar dari kampus dulu, dan fokus ke bisnis!" lanjut Dilan.


"Terus Ravel udah tau soal ini?"


"Belum, nggak tega aku ngomongnya! pernikahan ini juga terjadi karena desakan ibuku, dan aku juga kasian sama Ravel kalau---"


"Kalau apa?"


"Kalau dia menikah muda," sahut Dilan.


Nah, waras berarti si Dilan. Emang Ravel tuh masih blenyik, mana tau dia arti tanggung jawab sebagai istri.


"Ya jadi, aku bilang ke Ibu akan menikahi Ravel setelah udah mengundurkan diri jadi dosen," ucap Dilan.

__ADS_1


"Atau kamu sebenernya belum yakin sama adekku? jawab yang jujur?!!"


"Pernikahan itu bukan seperti tahu bulat, Reva. Digoreng dadakan dan rasanya gurih juga enak. Pernikahan itu perjuangan seumur hidup. Aku sengaja mengulur waktu, supaya Ravel bisa berpikir lagi. Aku nggak mau dia nyesel," ucap Dilan.


Dewasa juga nih si Dilan, mikirin adekku sampai sejauh itu.


"Jadi aku nggak diprank masalah pernikahan kalian? jadi semua itu nyata adanya?"


"Iya,"


"Oke, kalau pernikahan kalian beneran akan terjadi, terus kenapa Ravel katanya bilang ke Ridho kalau aku yang mau nikah?"


"Ridho?" Dilan naikin alis.


"Yang ketemu di restoran, yang waktu itu Ravel mau nyamperin tapi nggak jadi. Dia itu dulu pacarku,"


"Oh itu..." Dilan cuma ketawa kecil.


"Kenapa? kok malah ketawa, emang ada yang lucu?"


Aku malah terpaku dengan jawaban Dilan. Adekku yang menos-menos kayak kacang sukro itu ternyata belain aku supaya aku terlihat bahagia di depan Ridho. Unch, unch Raveeeeeell. Mana no rekeningmu Naaak. Biar mbak tambahin transferannya.


"Dan kata Ravel, laki-laki itu nelfon ke mamanya buat mastiin kebenaran soal pernikahan kamu. Jadilah, tante Ivanna juga ikutan sekongkolan sama Ravel, mengiyakan berita itu. Kalau kata Ravel sih, toh bohongnya dia bukan untuk sesuatu yang jelek. Dan kalau pun kejadian malah bagus katanya," Dilan ngomong panjang lebar.


Segitu pengennya mama dan Ravel ngeliat aku hidup bahagia sama seseorang.


"Udah jangan melow! dibalik sifat Ravel yang blak-blakan, sebenernya dia sayang sama kamu Reva. Karena dia sering banget nyeritain kamu ke aku, sampai-sampai rasanya aku udah kenal kamu lama padahal kita baru aja ketemu sekali waktu itu," ucap Dilan.


"Aku nggak melow, aku cuma terharu sama apa yang dilakuin Ravel,"


Oke, I see. Kenapa Ravel begitu nyaman dekat dengan Dilan. Ternyata, Dilan ini bukan cowok-cowok yang clamitan. Dia cenderung dewasa dan mikir jauh ke depan.


"Aku ngerestuin kalian, asalkan Ravel bisa nyelesein kuliahnya. Dan tolong jaga adekku itu, Lan. Karena aku sadar, aku nggak mungkin ada buat dia 24 jam.Dia butuh seseorang yang bisa kasih perhatian dan kasih sayang," ucapku pada Dilan.


"Pasti," sahut Dilan.

__ADS_1


Akhirnya sarapan pagi ini membuahkan satu fakta baru. Ya udah, nggak apa-apa kalau emang aku harus dilangkah sama Ravel. Yang penting dia bisa bahagia dan bertanggung jawab atas pilihannya itu.


Dan lagi enak-enak makan salad buah. Aku denger segerombolan cewek-cewek rempong yang lagi ngegosip ditengah acara sarapan mereka.


"Stel, Stelaaa? udah nyari belom?!! gue ogah ya nginep semalem disini lagi!" ucap salah satu cewek yang rambutnya pendek.


"Ya elah, Dena! sabar dikit napa, kita sarapan dulu. Lagian setan nggak ada yang nongol terang-terang kayak gini. Udah deh lo tenang aja, siang ini kita cabut dari sini! okeeey?" ucap perempuan yang dipanggil Stella.


"Lagian booking hotel nggak liat reviewnya dulu apa gimana sih? main pesen-pesen aja!" ucap salah seorang perempuan yang lain lagi.


"Ya ampun, Lia! gue kan udah bilang kalau gue lagi sibuk. Tapi lo kan pada maksa gue yang booking, dan buat nombokin dulu! giliran kayak gini aja gue disalah-salahin," ucap perempuan yang bernama. Stella.


Jadi, bukan aku aja yang diganggu setan semalem. Tapi kamar yang lain juga gitu, sama digangguinnya.


Karena penasaran, aku pun ngebuka sebuah aplikasi buat mesen hotel, dan ngeklik hotel yang aku booking ini. Dan bener dong, aku cuma terpaku sama review bagusnya doang. Tapi pas baca komen keseluruhan, aku baru tau kalau banyak pengunjung yang mengeluhkan soal kehororan hotel ini. Bahkan ada yang bilang, kalau mau pesen hotel ini harus siap mental dulu dan jangan mau kalau dikasih kamar nomor 202, itu kamar hawanya nggak enak.


"Kamar 202, lah itu kan kamarku..." gumamku lirih.


"Kenapa, Reva?" tanya Dilan.


"Oh, nggak! nggak apa-apa. Oh ya, kamu stay disini berapa lama? kamu ngga ada gangguan gitu selama nginep disini?" aku balik nanya.


Dilan nautin kedua alisnya, "Gangguan? gangguan apaan?"


"Ya gangguan apaan gitu, nyamuk kek, kecoa kek..."


"Nggak ada sih," sahut Dilan. Lalu dia nyambung omongan lagi, "Aku stay disini 3 sampai 4 hari lagi, kalau kamu?"


"Kalau aku sampai bosen aja," ucapku tersenyum tipis.


Habis sarapan, alu balik ke kamar. Ternyata kamar Dilan ada di nomor 205. Kami masuk ke kamar masing-masing.


Tujuanku udah jelas, aku mau pindah hotel. Karena aku nggak mau dan nggak rela kalau liburanku kali ini direcokin sama setan-setan biadab. Walaupun badan masih nggak enak, aku tetep paksain diri buat packing. Dan tentunya aku uda booking hotel baru.


"Waktunya out dari sini!" ucapku sambil nutup koper.

__ADS_1


__ADS_2